Belakangan ini pergerakan IHSG tersendat, penyebabnya karena imbal hasil (yield) obligasi yang terus naik, ini pertanda apa dan apa yang mesti kita lakukan?
Saya bukan investor obligasi, bahkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) pun saya tidak punya. Tapi dari hasil baca-baca dan bertanya ke beberapa teman yang memang bergelut di fixed income, kenaikan yield ini artinya pasar berekspektasi inflasi akan naik.
Yield obligasi itu berbanding terbalik dengan harga. Konsepnya sama dengan dividen yield, kalau ada dividen Rp50 per saham dan harga saham nya saat itu ada di 500, maka yield nya adalah 10% (50 ÷ 500) , tetapi jika harga sahamnya naik jadi 800 maka yield nya turun menjadi 6,25% (50 ÷ 800)
Kalau yield naik, artinya harga jatuh, kalau harga jatuh artinya banyak yang jualan obligasi. Pertanyaan berikutnya, kenapa banyak yang jualan obligasi?
Kemungkinan yang banyak menjual obligasi adalah bank, di mana institusi ini biasanya merupakan pemegang obligasi negara terbesar setelah bank sentral. Di Indonesia, bank memegang sekitar 35% obligasi negara yang beredar selama 2020
Obligasi untuk bank adalah "sampingan", pendapatan utamanya ya dari memberikan kredit. Tetapi pada 2020, pertumbuhan kredit tidak bergerak, bahkan menjadi negatif di bulan-bulan akhir akibat Covid-19, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus naik karena orang-orang tidak belanja, mereka simpan uangnya
![]() |
| Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020 |
Di saat bisnis utamanya mandek, bank banyak memegang obligasi negara, agar uangnya tetap berputar dan dapat membayar bunga (bagi hasil untuk bank syariah) kepada para penabung.
Dengan perkembangan saat ini, program vaksinasi mulai berjalan, kasus harian sudah mulai menurun, artinya bisnis-bisnis sektor riil pun akan mulai menggeliat kembali. Bank sudah harus mulai bersiap-siap kembali ke bisnis penyaluran kredit, sehingga mulai berjualan obligasi, hal ini lah yang menyebabkan yield naik.
Inflasi adalah pertanda sektor riil sudah jalan, tetapi bagi para pemain keuangan, meningkatnya inflasi juga berarti meningkatnya suku bunga. Jika suku bunga meningkat para trader harus segera take profit, melunasi marjin sebelum terkena bunga yang lebih besar.
Dapat dilihat belakangan ini di luar negeri, aksi ambil untung sudah terjadi di saham-saham teknologi yang naik ketinggian seperti Tesla sementara saham-saham sektor riil seperti Citigroup mulai naik.
![]() |
| Citigroup dan Tesla |
Bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya perkembangan pemulihan ekonomi di sini masih belum se ekspansif di AS, tetapi sepertinya sudah ada yang mengumpulkan saham-saham sektor riil seperti JPFA, RALS, dan MAPI.
--Anton Hermansyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar