Saat ini investor memburu saham-saham bank digital, baik yang sudah "resmi digital" atau baru mau dikonversi, mulai dari ARTO, BANK, BBHI sampai BBSI, tapi apakah bank-bank penantang ini akan survive?
Bank digital memang sedang naik daun. Bahkan sales senior di kantor menghubungi saya dan berkata bahwa nasabahnya berniat cutloss di saham UNVR dan menukarnya dengan saham bank-bank digital.
Contoh kisah sukses bank digital adalah Kakao Bank di Korea Selatan. Bank ini berdiri pada 2017 setelah pemerintah mengeluarkan ijin operasi bagi bank digital untuk beroperasi.
Pertumbuhan nya impresif, mencapai satu juta nasabah di tahun pertamanya dan di Mei 2021 sudah ada 16,5 juta nasabah, ini sudah sepertiga penduduk Korea yang total populasi nya di angka 50 juta. Padahal pesaingnya, K Bank, yang sama-sama diluncurkan tahun 2017, "hanya" mempunyai jumlah nasabah 5,4 juta di April 2021.
Kakao Bank memang membawa bendera Kakao Talk, aplikasi messaging terbesar di Korea Selatan, tahun lalu sudah ada 33 juta pengguna di Negeri Ginseng saja.
Tampilan antarmuka yang menyerupai Kakao Talk, kemudahan mengirim uang ke sesama pengguna, fitur patungan antar-nasabah, juga kartu-kartu keluaran Kakao Bank yang menggunakan maskot-maskot lucu aplikasi messaging tersebut adalah faktor penarik bagi nasabah.
Dengan sistem digital tanpa cabang, biaya operasional jadi lebih murah, Kakao Bank dapat menawarkan bunga tabungan lebih tinggi tanpa harus mengorbankan Net Interest Margin(NIM). Tahun 2020, NIM Kakao Bank ada di 1,5% setara dengan bank-bank besar di sana seperti Kookmin, Woori dan Shinhan, di Kuartal 1 tahun 2021 angka ini meningkat lagi ke 1,8%.
Dibandingkan dengan bank di Indonesia yang NIM nya ada di level 5-6% tentu terlihat kecil. Tapi untuk Korea, level 1,5% sudah dianggap sehat.
Jika suku bunga tabungan dan fitur aplikasi merupakan faktor penarik untuk orang menabung di bank digital, bagaimana dengan kemampuan "mencari uang" nya?
Umumnya penghasilan utama bank didapatkan dengan "memutar" Dana Pihak Ketiga (DPK) mereka menjadi pinjaman kepada yang membutuhkan dana atau umumnya disebut "kreditur".
Secara tradisional, kreditur ini dibagi dua, "Korporat" yang berbentuk badan usaha dan "Ritel" yang merupakan perseorangan. Kreditur Korporat meminjam dalam jumlah besar dan dengan bunga yang relatif lebih rendah, sementara Kreditur Ritel meminjam dengan jumlah sedikit tapi biasanya bunganya lebih tinggi.
Bank digital di Korea Selatan murni fokus pada Kreditur Ritel, selama lebih dari 3 tahun beroperasi, Kakao Bank sudah memegang 6% pasar Kredit Tanpa Agunan (KTA) di Korea Selatan.
Kredit Ritel di Negeri K-Pop adalah pasar yang besar, sudah rentan meledak malah, karena pada akhir 2020, angka Utang Rumah Tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah ada di level 103,8%. Indonesia? Masih sangat rendah, di 17,8%.
Meskipun banyak orang yang mengambil pinjaman, tetapi tidak banyak kredit yang bermasalah. Non Performing Loans (NPL) di Korea ajek di angka 0,5%, sebaliknya Indonesia terus naik ke 3,2% setelah pandemi, padahal di Desember 2019 hanya sebesar 2,5%.
Kemungkinan tingkat suku bunga yang rendah di Korea Selatan (rata-rata 2,8% untuk Kredit Ritel) yang menunjang rendahnya NPL tersebut. Karena biaya bunga tidak berat, maka kreditur lebih memilih untuk melunasi utangnya dibandingkan dengan mangkir atau mempailitkan diri.
Bagaimana cara bank-bank digital untuk tetap "menagih" uang kreditnya mengingat "kepatuhan" kreditur yang berbeda dengan di Korea? Strategi belakangan ini adalah menempatkan bank ke dalam bagian ekosistem besar di mana nasabah tidak perlu "keluar" untuk mencukupi kebutuhannya.
Unsur pertama ekosistem ini adalah "Job Market", tempat di mana orang-orang mendapatkan penghasilan, kemudian "Tempat Kebutuhan Hidup" agar orang bisa langsung berbelanja memenuhi kebutuhan hidupnya dengan uang yang dihasilkan. Ketiga adalah "Tempat Investasi" agar orang-orang bisa memasukkan kelebihan uang yang mereka miliki untuk mendapat imbal hasil yang lebih besar dari deposito.
Bank akan diposisikan sebagai "tempat uang lewat" dan penyedia kredit apabila orang-orang di dalam ekosistem tersebut perlu untuk membeli sesuatu yang besar. Pembayarannya nanti tinggal potong pendapatan yang dihasilkan dari Job Market tersebut sehingga mengurangi risiko tidak tertagih.
![]() |
| Ekosistem Bank Digital |
Sejauh ini memang terlihat ARTO masih unggul dari segi kelengkapan ekosistem. BINA (yang kalau memang benar akan masuk ke dalam skema kongsi Salim-Emtek-Grab) akan menjadi penantang kuat, karena grup ini sebetulnya punya "amunisi" yang lengkap.
Belum ada pergerakan lagi dari AGRO, tetapi mengingat jaringan BBRI yang kuat di daerah-daerah (ditambah dengan PNM dan Pegadaian), kemungkinan bank ini akan mempunyai jangkauan paling luas di antara bank digital lainnya.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar