![]() |
| Portofolio SRTG Februari 2021 |
Ada nasabah bertanya ke saya, SRTG kan bisa disebut sangat undervalue, PBV nya di bawah 1x bahkan belum sampai 0,5x, berkinerja baik pula dengan ROE hampir 30%, tetapi kenapa transaksinya sedikit?
SRTG adalah saham holding, pendapatannya berasal dari investasi di saham-saham perusahaan lain, dividen, dan bunga, artinya tidak ada operasional di sektor riil. Membeli SRTG dan saham-saham holding lainnya seperti PNIN, SMMA, EMTK dan BMTR mirip dengan membeli reksadana, ada aset dibungkus aset, "isi" di dalam nya sudah ditentukan dan seringkali berubah dalam waktu singkat.
Skema aset yang sudah terbungkus ini mengurangi kebebasan investor untuk menyesuaikan isi portofolio dengan strateginya. Lagipula, tidak semua saham yang dipegang oleh perusahaan holding mempunyai kualitas yang sama dan terkadang ada yang berkinerja buruk.
Pengecualian terjadi apabila holding tersebut mempunyai akses ke perusahaan non-publik yang kuat. ASII contohnya, meskipun holding, tetapi investor masih mau pegang karena lini otomotifnya -yang merajai pasar Indonesia- tidak melantai di bursa.
Apa yang terjadi jika anak perusahaan andalannya di lepas ke publik alias di carve-out? Ya investor akan beralih ke anak perusahaan nya, seperti cerita di ICBP yang valuasinya konsisten lebih mahal dari INDF setelah IPO tahun 2010.
Kenapa perusahaan holding di atas kertas kinerja keuangannya bagus?
Karena tugasnya hanya memegang portofolio, perusahaan holding hanya punya sedikit karyawan, tidak sampai 100 orang, bahkan ada yang tidak sampai 50 orang. Dengan biaya operasional yang minim, marjin nya juga besar, sehingga profitabilitas relatif tinggi.
Begitu juga dengan level utang yang memang rata-rata rendah, sehingga jika hanya membaca laporan keuangan kita pasti akan mengira perusahaan ini masuk ke dalam kriteria "salah harga". Contoh PNIN, dengan ROE 5,5%, DER 24,3%, dan PBV super rendah di 0,2x, kurang "value investing" apa saham ini?
Tidak salah memang melakukan investasi di saham holding namun karena kurangnya minat pasar ke saham-saham seperti ini, reli sangat jarang terjadi dan kita harus siap dengan sideways lama. Saham-saham ini pun juga tidak merespon terhadap berita sektoral karena isi di dalamnya yang terdiversifikasi.
Jadi boleh pegang atau tidak?
Pegang jika perusahaan tersebut punya eksposur ke sektor tertentu yang potensial dan tidak ada alternatif perusahaan publik lain. Syarat kedua, siapkan kesabaran tingkat dewa, karena saham-saham ini jarang sekali bergerak.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar