Tentang Saya

09 Juli 2021

Tradisionalis vs Futuris di IPO Bukalapak

Presentasi Mitra Bukalapak
Presentasi Mitra Bukalapak di Mini Public Expose

Menjelang target Initial Public Offering (IPO) di akhir Agustus, Bukalapak (BUKA) pun makin terbuka, investor pun sudah bisa mendapatkan prospektus ringkas dan laporan keuangan terakhir, debat pun mulai bermunculan antara investor tradisional yang menganggap harga sudah terlalu mahal, melawan investor futuris yang menganggap bahwa cara menilai perusahan tradisional sudah kuno.

Dalam prospektus ringkasnya, Bukalapak pada Triwulan-I 2021 mempunyai Total Aset Rp2,75 triliun, yang terdiri dari Total Liabilitas Rp1,05 triliun dan Total Ekuitas Rp1,71 triliun. Untuk operasional, Bukalapak mempunyai Pendapatan Rp423,7 miliar dan Rugi Bersih Rp319,7 miliar selama tiga bulan pertama tahun ini.

Bagaimana dengan arus kas? Selama Triwulan-I 2021, Arus Kas Operasional masih negatif sebesar Rp259,2 miliar. Perusahaan masih mengandalkan setoran modal (yang masuk dalam Arus Kas Pendanaan) untuk menjaga kas nya tetap hijau, selama tiga bulan awal, BUKA masih mendapatkan setoran modal Rp418,1 miliar.

Berlanjut ke rasio keuangan, Debt to Equity Ratio BUKA di Triwulan-I 2021 ada di 61,4%, karena berbeda dengan perusahaan tradisional yang dibesarkan dengan menggunakan utang, startup dibesarkan melalui putaran pendanaan berseri. Untuk Return on Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) masih negatif karena rugi bersih, tetapi Gross Profit Margin (GPM) sangat tinggi di 81,0% karena memang ini adalah perusahaan dagang, bukan manufaktur.

Lalu apa yang menyebabkan BUKA masih rugi? Ada satu akun yang paling menonjol di Laporan Arus Kas yaitu "Pembayaran Kas Kepada Pemasok dan Karyawan", yang pada tiga bulan pertama tahun 2021 saja mencapai Rp1 triliun. Apabila disetahunkan, berarti akan mencapai Rp4 triliun.

Dalam laporan keuangan, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai akun ini, sehingga saya hanya bisa berasumsi bahwa uangnya banyak digunakan untuk membayar gaji dan "mensubsidi" para "Pelapak" (begitu cara Bukalapak menyebut merchant mereka) terutama dalam festival belanja.

Yang memicu perdebatan adalah rasio harga, Bukalapak akan menjual 25% kepemilikan atau sebanyak 25,8 miliar lembar saham baru ke publik, artinya jumlah saham beredar akan sebanyak 103,1 miliar lembar setelah IPO. Artinya saat ini jumlah saham beredar sebelum IPO ini sebesar 103,1 miliar dikurangi 25,8 miliar yaitu sebesar 77,3 miliar lembar.

Apabila jumlah saham beredar ini kita gunakan untuk membagi Total Ekuitas, maka kita akan mendapatkan Book Value per Share (BVPS) sebesar Rp22,1 per lembar.

Angka Rp22,1 per lembar ini jauh lebih kecil daripada nilai dasar saham baru yang akan diterbitkan dalam IPO yaitu sebesar Rp50 per lembar. Artinya pemilik lama pun bila harga turun ke gocap masih bisa untung dua kali lipat.

Bukalapak menargetkan IPO bisa terjual dengan harga Rp750 sampai Rp850 per lembarnya, apabila kita mengambil harga tengah, yaitu Rp800 per lembar, maka pemilik lama dapat menjual sahamnya dengan Price-to-Book Value (PBV) fantastis di 36,2x!

(Meskipun nanti setelah IPO ekuitas akan bertambah gila-gilaan sebesar Rp20,6 triliun menjadi Rp22,3 triliun, dan dibagi dengan jumlah saham beredar 103,1 miliar lembar maka BVPS akan meningkat menjadi Rp216,4. Otomatis PBV BUKA akan menjadi "normal" ke 3,7x setelah IPO.)

PBV 36,2x memang merupakan angka yang fantastis dibandingkan saham teknologi yang lain seperti EDGE (15,9x), WIFI (4,8x), KIOS (12,2x), kecuali DCII yang PBV nya sudah selangit di 153,2x.

Lagi-lagi terjadi debat antara kaum tradisionalis dan futuris. Tradisionalis melihat secara logika, harga sudah terlalu mahal, PBV 10x saja sudah terlalu mahal untuk perusahaan di Indonesia. sementara futuris melihat bahwa harga ini wajar mengingat potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Kaum futuris pun berargumen bahwa nantinya apabila Bukalapak berhasil survive dan mengalahkan pesaingnya, maka pertumbuhan akan menjadi semakin pesat dan untung akan datang dengan sendirinya karena sudah tidak perlu "bakar uang".

Apabila melihat fitur, Bukalapak memang mempunyai fitur paling lengkap di Indonesia, selain e-dagang, pembayaran tagihan dan investasi, mereka juga sedang mengembangkan proyek warung digital bernama "Mitra Bukalapak" yang diunggulkan direksi menjadi sumber pertumbuhan selanjutnya.

Pada tahun 2020, kontribusi Mitra Bukalapak ini "baru" 14,7% terhadap total pendapatan, tetapi memang sudah bertumbuh dua kali lipat dibandingkan 2019.

Dengan berlarut-larutnya Pandemi Covid-19, justru menjadi saat yang tepat bagi perusahaan teknologi, apalagi dengan aturan minimalisir kontak, malah membuat transformasi digital semakin cepat. Ini merupakan stori yang tepat bagi pemegang saham BUKA untuk menjual saham mereka dengan harga mahal.

--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar