Bank digital menjadi fenomenal di pemain saham saat ini dan harganya beterbangan dalam 3 bulan ini, ARTO sudah naik 300%, BANK naik 230%, AGRO naik 92%, BBYB naik 103%, dan yang lebih gila adalah BBHI yang naik 760%, meskipun harga sudah ke awan tetapi orang-orang masih memburu, apakah memang masih belum mahal?
Dengan PBV yang sudah di atas 3x bahkan dobel dan tripel digit, ARTO (101,5x), BANK (54,5x), BBHI (25,2x), AGRO (6,0x), tentunya saham-saham ini tidak akan masuk radar para value investor. Namun bagi para growth investor dengan potensi pertumbuhan yang akan tinggi saham-saham bank digital masih layak koleksi.
Bank digital kemungkinan akan masuk ke pasar Generasi Milenial (kelahiran 1981-1996) dan Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang memang melek teknologi dan sudah punya penghasilan sendiri meski belum besar. Besar populasi dua generasi ini di Indonesia kira-kira 130 juta orang, hampir setengah jumlah penduduk.
Dari segi kebutuhan dana, Generasi Milenial dan Z memang sedang banyak-banyaknya, mulai dari peralatan kerja, kendaraan, sampai rumah. Meskipun kemungkinan, melihat bisnis tekfin dan P2P lending yang ada sekarang, mayoritas akan masuk ke kredit konsumsi dan modal kerja dengan tenor antara tiga bulan sampai dua tahun.
Dari segi pengelolaan, bank digital memang menawarkan efisiensi operasi. Beroperasi tanpa cabang akan memungkinkan untuk menekan biaya operasi.
Tapi kan kreditur di Indonesia suka ngeyel, nanti menagihnya gimana?
Kemungkinan pemberian pinjaman nya sebagian besar akan bekerja sama dengan P2P lending atau marketplace yang sudah punya ekosistem sendiri. Mereka punya orang lapangan atau istilahnya canvasser untuk membina komunitas.
Soal ekosistem, kemungkinan yang akan unggul adalah ARTO yang memang akan terhubung dengan ekosistem Gojek. Apalagi jika isu bergabungnya Gojek dan Tokopedia benar, maka itu akan memperkuat bank ini.
Selanjutnya adalah AGRO yang ditopang oleh rencana masuknya Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) ke dalam BBRI. Pinjaman berbasis gadai dan program Mekaar yang menerapkan sistem Grameen Bank merupakan sistem mikro kredit handal dengan non-performing loan (NPL) rendah.
Kredit konsumsi dan kredit mikro meskipun jumlahnya kecil-kecil tetapi mempunyai tingkat bunga yang tinggi, sekitar 12 persen sampai 20 persen per tahun, lebih besar dari segmen lainnya seperti kredit pemilikan rumah (KPR) atau korporasi yang sekitar 8 persen. Bunga yang tinggi dikombinasikan dengan biaya operasional rendah, tentunya membuat marjin bank digital (akan) lebih tinggi.
Namun pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) adalah hal yang masih saya ragukan karena sifat Generasi Milenial dan Generasi Z yang labil dan gampang berubah-ubah. Lagipula, kemungkinan nasabah membuka akun di bank digital hanya untuk menjadi akun kedua dan jadi "tempat pindah uang" saja.
Kemungkinan skema mendapatkan dana dalam waktu dekat dilakukan dengan cara anorganik yaitu dengan rights issue.
Valuasinya bagaimana? Saat ini sulit untuk menghitung, bisnis bank digitalnya belum mulai, model integrasi dengan marketplace nya belum diketahui seperti apa pembagian fee nya. PER dan PBV saat ini masih sumir karena masih menggunakan laporan keuangan yang lama dan mungkin masih akan rugi yang disebabkan oleh belanja modal.
Yang bisa dijadikan "pegangan" saat semua berubah menjadi digital adalah "manusia" nya. ARTO dipegang oleh orang-orang yang dulu mentransformasi BTPN, sedangkan BBYB dipegang oleh Akulaku yang mendapatkan pendanaan dari Alibaba.
Apakah masih aman untuk masuk sekarang? Pertanyaan sederhana yang jawabnya sulit, justifikasinya adalah bank-bank ini masih perlu tambah modal sehingga masih akan banyak undang investor-investor besar untuk masuk melalui rights issue, selama masih ada "ikan paus" yang mau masuk, saat ini bisa saja dibilang "masih aman".
Apakah saya juga akan ikut masuk? Sepertinya tidak, biarlah menjadi rejeki orang lain saja.
--Anton Hermansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar