Ada nasabah bertanya di grup Telegram, lebih baik mana antara menabung jangka panjang di Exchange Traded Fund (ETF) indeks atau fokus di satu saham big caps?
Berdatanganlah jawaban dari nasabah-nasabah lain, semuanya berkata, "hold satu saham saja yang berkualitas baik". Rata-rata menyebutkan saham-saham bank seperti BBCA dan BBRI atau saham barang konsumsi seperti ICBP.
Tidak salah juga sebetulnya, tapi juga tidak benar sepenuhnya. Jika kita ada di tahun 2011, lalu memilih satu dari 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar pada saat itu, kemudian di hold 10 tahun, maka peluang kita adalah 50:50.
![]() |
| Sepuluh Besar 2011 vs LQ45 |
Dari 10 saham terbesar yang ada di saat itu, hanya lima saham yang memberikan return lebih besar dari indeks LQ45 apabila di hold 10 tahun. Bahkan ada tiga saham yang boncos.
Memegang saham dalam jangka panjang, katakanlah 10 tahun, memang bisa menghindarkan kita dari gejolak naik turun nya harga dalam jangka pendek, istilahnya adalah "risiko sistematis".
Tetapi jika dengan satu saham saja, kita masih akan terpapar oleh perubahan yang terjadi di fundamental perusahaan itu sendiri atau yang disebut "risiko non-sistematis".
Misalkan dalam jangka waktu 10 tahun tersebut terjadi perubahan peta industri, seperti yang dialami BIRD dan TAXI yang disaingi oleh Gojek dan Grab. Sekarang BBCA dan BBRI juga akan menghadapi era bank digital.
Perubahan manajemen juga bisa menjadi risiko. Saat ini, Dirut BBCA Pak Jahja Setiaatmadja sudah 64 tahun, apabila mengikuti pendahulunya Pak Djohan Emir Setijoso (saat ini Komut) yang pensiun di umur 69 tahun, maka kemungkinan di 2026 akan ada risiko di BBCA dari pergantian dirut.
Ada juga faktor risiko dari perubahan peraturan pemerintah, seperti kenaikan cukai beberapa tahun terakhir yang membuat HMSP dan GGRM berbalik turun ekstrim. Investor juga berbalik arah dari PGAS yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan subsidi gas.
Risiko non-sistematis secara tradisional dapat di minimalisir dengan melakukan diversifikasi ke sektor-sektor yang berbeda. Sederhananya misalkan harga minyak naik, saham otomotif yang kita pegang turun, tetapi secara portofolio kita masih aman karena ada saham pengeboran minyak yang naik harganya.
Bisa juga tidak diversifikasi, dengan syarat kita sudah tahu kondisi dan siklus usaha dari emiten tersebut dan perkembangannya kita pantau terus. Seperti kata Warren Buffett, Keep all your eggs in one basket, but watch that basket closely
.
Tetapi jika konteksnya adalah nasabah pemula, saya memang lebih menyarankan untuk pegang ETF indeks seperti R-LQ45X atau XIJI karena sudah otomatis terdiversifikasi, di revisi isi nya tiap enam bulan sekali, dan bisa dijual lebih cepat dari reksadana biasa.
Selain itu, saya juga tidak kuatir kalau fund manager nya digantikan orang lain seperti di reksadana biasa, ETF kan tinggal ikut indeks acuannya saja.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar