Pernyataan Federal "The Fed" Reserve pada hari Rabu 17 Maret 2021 membuat saya bingung, bank sentral AS ini menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023, namun tetap membiarkan inflasi naik tinggi, akomodatif tetapi seolah bicara "silahkan tentukan nasibmu sendiri".
Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya di "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?", yield obligasi, terutama yang tenor panjang, belakangan ini mengalami kenaikan terus menerus.
Penyebabnya kenapa?
Ekspektasi pemulihan ekonomi dalam waktu dekat makin meningkat. Sehingga perbankan, yang biasanya memegang porsi obligasi negara terbesar, mulai menjual obligasi yang mereka pegang untuk kembali menyalurkan kredit.
Memegang obligasi negara adalah "bisnis alternatif" untuk bank karena saat ekonomi tidak jalan, maka kredit juga tidak jalan, malah gagal bayar. Saat ekonomi kembali pulih, tentunya mereka akan kembali ke bisnis utamanya yang lebih menguntungkan, yaitu penyaluran kredit.
Sedangkan bagi pelaku pasar, kenaikan yield obligasi merupakan tanda bahwa inflasi akan naik. Jika inflasi naik, maka nanti suku bunga juga akan ikut naik.
Apabila bunga akan naik, logika nya biaya pinjaman akan jadi lebih mahal. Jika kita bermain dengan marjin, artinya kita harus cepat-cepat take profit dan lunasi utang marjin nya sebelum kena dobel petaka, harga saham turun dan bunga marjin juga naik.
Apa yang sebetulnya pelaku pasar harapkan dari The Fed? Secara garis besar ada dua, pertama, menegaskan bahwa suku bunga tidak akan naik, yang kedua, melakukan operation twist.
Operation twist adalah perpindahan fokus pembelian obligasi negara ke tenor-tenor panjang dari yang sebelumnya ada di tenor-tenor pendek. Dengan adanya operasi ini, kenaikan yield obligasi di tenor panjang dapat diredam.
Pada pernyataan nya di hari Rabu kemarin, The Fed memang menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023. Tetapi tidak ada petunjuk sama sekali mengenai rencana operation twist.
Malah The Fed juga tidak akan memperpanjang aturan Supplementary Leverage Ratio (SLR), yaitu aturan yang membuat perbankan dapat memegang obligasi negara lebih besar daripada tingkat modal mereka, aturan ini akan berakhir 31 Maret 2021. Artinya perbankan akan terus menjual obligasinya dan yield akan terus naik.
Ini seolah The Fed mengatakan pada pelaku pasar, silahkan kalian melanjutkan pembelian marjin dan meningkatkan harga saham juga bitcoin, kami akan mendukung dengan mempertahankan suku bunga. Tetapi, kalau mau take profit dan melunasi marjin juga silakan, karena kami akan membiarkan yield obligasi meningkat.
Sehingga pelaku pasar akan "lirik-lirik tetangga" sebelum mengambil keputusan. Ibarat pemilu, suara terbesarlah yang akan menang.
Bagaimana dengan pasar modal Indonesia?
Mengutip kata Pak Chatib Basri, ke depanya adalah perlombaan pemulihan ekonomi. Jika Indonesia terlambat pulih dibanding AS, maka dana asing akan "pulang" dahulu.
The Fed memproyeksikan ekonomi AS akan naik 6,2% di 2021, lebih tinggi dari perkiraan tiga bulan lalu di 4.2%. Angka Indonesia setidaknya harus sama, jika tidak ingin ada capital outflow di IHSG.
Pemulihan ekonomi juga berarti akan ada rotasi ke saham-saham sektor riil. Saya melihat sudah ada pergerakan di saham-saham seperti ASII, ICBP, RALS, dan JPFA yang memang masih belum banyak bergerak sebelumnya karena pandemi Covid-19.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar