Saat saya mengajar dasar-dasar analisa fundamental ke nasabah-nasabah baru, ada yang bertanya ke saya, "Pak Anton, saya kan trader, apakah saya perlu belajar ini?".
Sudah tradisi di mana-mana jika orang baru datang di dunia saham, pertanyaan dari para senior adalah, "mau jadi investor atau trader?". Jika jawabannya adalah investor maka akan di suruh belajar analisa fundamental, jika trader maka belajar teknikal.
Tapi apakah seorang trader perlu tahu analisa fundamental dan sebaliknya investor perlu tahu analisa teknikal?
Tidak selalu perlu, tapi berdasarkan pengalaman saya, pada akhirnya pemain saham akan mengetahui keduanya. Paling tidak menguasai dasarnya.
Ambil contoh diri saya sendiri, di kantor saya ditugaskan menjadi analis teknikal, tetapi untuk portofolio pribadi, saya seorang investor.
Lho kok bisa?
Awalnya saya trading, tetapi dengan makin bertambahnya nasabah, makin bertambah pula kesibukan. Saat pasar ramai, saya bisa diminta mengerjakan 10 gambar teknikal yang memakan waktu 1 jam, begitu selesai saya sudah ketinggalan momentum atau tidak sempat cutloss.
Kesibukan tersebut tiap hari berulang, membuat saya tidak sempat trading. Akhirnya memutuskan menjadi investor, meski tiap hari masih harus mengerjakan analisa teknikal untuk nasabah.
Pemahaman akan analisis teknikal membantu saya sebagai investor. Jadi tidak hanya sekedar memilih saham berfundamental bagus, tetapi juga bisa menentukan titik masuk, terutama bila harga menyentuh support.
Jika ada floating loss tarikan garis support dapat membantu saya untuk menentukan titik-titik average down. Tetapi memang selama ini saya masih belum membuat sistem money management saya sendiri, seperti berapa target harga rata-rata yang harus dicapai dengan average down dan berapa kali average down harus dilakukan untuk mencapai harga tersebut.
Kembali ke pertanyaan nasabah yang paling awal, apakah analisa fundamental berguna untuk trader? Jawab saya iya, misalkan untuk alokasi trading, jika saham naik dengan perbaikan fundamental maka bisa all out, tetapi jika memang hanya bergerak tanpa kenaikan fundamental atau malah turun, alokasinya sedikit, untuk "cuan kilat" saja.
Melakukan trading dengan memperhatikan price-earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) juga akan membantu menentukan berapa lama kita harus hold saham tersebut. Terkadang saya juga menggunakan Book Value per Share alias PBV 1x sebagai resistance di dalam chart, terutama untuk saham-saham yang PBV nya masih di bawah 1x.
![]() |
| Book Value sebagai Resistance |
Beberapa memang jalan, seperti ELSA di atas yang memantul tepat setelah menyentuh PBV 1x.
![]() |
| Resistance Book Value di BIRD |
Sebagian lainnya tidak, seperti contoh kasus di BIRD di mana harga berbalik arah sebelum mencapai PBV 1x nya.
Terlepas dari perdebatan "analisa mana yang lebih sakti", saya melihat teknik analisa sebagai alat untuk membantu dalam pengambilan keputusan. Tapi berdasarkan pengalaman, saya merasa sebagai pemain saham kita harus luwes karena tidak semua kejadian dan pola dapat dijelaskan dengan satu analisis saja.
--Anton Hermansyah


Tidak ada komentar:
Posting Komentar