Sejak 2020 saya sudah memulai ritual baru, yaitu investasi sedikit-demi sedikit, setiap hari saya transfer Rp30.000-50.000 ke Rekening Dana Nasabah (RDN).
Saya menganggap tiap hari punya "uang jajan" sebesar itu untuk membeli kudapan atau kopi. Apabila saya tidak minum kopi, artinya uang tersebut bisa dipakai untuk berinvestasi.
Metode ini saya sebut sebagai "Cappuccino Investing".
Saham memang bukan hal baru bagi saya yang sudah memulai tahun 2017. Sayangnya, saat itu masih belum dibekali pengetahuan apa-apa dan "kesombongan" sebagai Sarjana Ekonomi yang menganggap sudah tahu segalanya soal memilih perusahaan yang baik.
Hasilnya, saham-saham yang saya pilih pun turun 50%. Untung tidak all-out, kalau tidak saya sudah nangis darah.
Semenjak bekerja di perusahaan sekuritas dan ditugaskan sebagai analis teknikal yang juga harus keliling mengajar pada nasabah-nasabah baru, saya pun lebih menseriusi saham. Malu dong, masa jadi trainer tapi sendirinya tidak investasi.
Saya membaca ulang buku analisis teknikal, mengikuti kursus (untungnya dibayar kantor) dan masuk ke komunitas-komunitas saham yang ternyata menjamur di Telegram. Ada banyak yang saya ikuti, mulai dari Investor Saham Pemula, Tetra (Teman Trader), Trikcuan Mbah Giso, Rivan Kurniawan, Teguh Hidayat, dan Analisa Fundamental Saham Indonesia (AFSI).
Di sana rata-rata saya hanya sebagai silent reader tetapi cukup untuk memberikan inspirasi dalam memilih saham dan bermain saham.
Awalnya saya mencoba trading baik trend following berdasarkan analisis teknikal maupun one day trading (ODT) atau lebih populer di Indonesia dengan nyopet. Awalnya lancar, tetapi akhirnya saya menemui kendala.
Trading menuntut keaktifan lebih di saat pasar ramai, tetapi di saat itu pula banyak nasabah yang meminta analisis, bahkan sampai meminta 10 gambar teknikal dalam sehari, menyelesaikan nya saja perlu waktu satu jam. Akhirnya portofolio saya jebol karena tidak sempat cutloss
Akhirnya saya coba beralih ke investasi, bermodal membaca bahan-bahan dari Teguh Hidayat, Rivan Kurniawan dan Swedish Investor. Aneh memang, analis teknikal sekuritas kok investasi? Ya memang keadaan nya tidak memungkinkan untuk saya trading.
Pembelian pun tidak sekaligus, melainkan bertahap, dari situlah saya mulai melakukan transfer uang sedikit-sedikit ke RDN. Bu Sulis dari bagian akuntansi (yang memang salah satu pekerjaan nya mencatat transfer nasabah, termasuk saya) pun tertawa.
"Biasanya aku lihat nasabah transfer satu juta, sepuluh juta, ini tiba-tiba ada yang transfer lima puluh ribu, sudah pasti si Anton nih," kata Bu Sulis.
Mau bagaimana lagi, model transfer seperti itu yang membuat saya lebih nyaman. Pertama, saya tidak merasa "kehilangan" uang dalam jumlah banyak, kedua, kalau misalkan harga sahamnya turun saya tidak begitu menyesal karena besok ada uang untuk beli lagi.
Kelemahannya? Jelas ada, untuk membeli saham-saham yang berharga lebih dari Rp500 per lembar, saya harus menunggu beberapa hari sampai uang saya terkumpul dan perlu waktu lama untuk mengumpulkan saham sampai menjadi bukit.
Yang penting nyaman, bermain saham tidak harus stres.
--Anton Hermansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar