Tentang Saya

15 Maret 2021

IPO Unicorn Darah Baru Bursa Saham atau Exit Strategy Venture Capital?

Rencana IPO para unicorn Asia Tenggara, Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Grab, membuat investor terbelah dua, ada yang senang karena akan membawa "gairah baru" di IHSG dan ada juga yang skeptis karena ini hanya "exit strategy" para venture capital yang sudah lama memutar uangnya di sana.

Setelah anjlok di Maret 2020, Bursa AS cepat pulih dan terus naik karena investor memburu saham-saham teknologi yang dianggap "kebal" lockdown. Sebaliknya IHSG harus merana karena ketiadaan saham teknologi yang oke.

Memang sudah ada saham startup seperti KIOS dan PGJO, tapi ukurannya terlalu kecil, investor besar perlu "makanan" sebesar unicorn, wajar jika IPO Gojek dan Tokopedia ditunggu-tunggu.

Di sisi lain, ada investor-investor yang skeptis. Di balik hingar-bingar nya rencana IPO unicorn ada venture capital yang menunggu untuk keluar.

Umur unicorn-unicorn angkatan Gojek rata-rata mencapai satu dekade tetapi sampai saat ini belum ada berita yang menunjukkan bahwa mereka sudah mencatat laba. Tanpa laba, tidak ada dividen, hal yang dimita oleh investor pasar modal yang relatif lebih konvensional.

Bahkan SoftBank Vision Fund, salah satu skema pendanaan startup terbesar di dunia, memberikan dividen dari uang "capital call". Sederhananya, dividen untuk investor lama dibayar dari setoran modal investor baru.

Persaingan yang terus-menerus muncul membuat unicorn sulit lepas dari strategi "bakar uang". Di saat iklan Bukalapak dan Lazada mulai menghilang di media massa, muncullah Shopee yang menggebrak dengan iklan Blackpink, membuat Tokopedia yang tadinya sudah mulai landai kembali agresif dengan mengontrak BTS, yang pastinya tidak murah.

Invasi Shopee tidak berhenti di marketplace, Shopeepay menjadi dompet digital yang berkembang paling cepat. Frekuensi transaksinya sudah setara dengan Gopay dan OVO (menurut riset Neurosensum yang keluar di Februari 2021).

Belakangan, Gopay pun akhirnya kembali "bakar uang" dengan menawarkan cashback dengan nominal agresif sampai Rp20.000.

Sabtu kemarin saat di jalan saya melihat pengendara sepeda motor dengan jaket bertuliskan "ShopeeFood". Ternyata Shopee sudah mulai memasuki "periuk terbesar" Gojek dan Grab, pengantaran makanan.

Motor ShopeeFood
Motor ShopeeFood

Bisnis makanan memang menggiurkan, karena selain biaya pengantaran, Gojek dan Grab juga memungut "bagi hasil" sebesar 20% dari penjual makanan. Biaya tersebut dibebankan ke pemesan, makanya harga di GoFood dan GrabFood lebih mahal dari di restoran langsung.

Mungkin jika ShopeeFood ini berhasil, dan SEA Group jadi masuk BACA, bisa jadi menambah valuasinya di mata investor.

Tetapi, untuk pemain lama, persaingan yang lebih ketat akan menurunkan marjin dan pada akhirnya mengubah valuasi. Venture capital harus segera menentukan "exit strategy", mumpung animo pasar modal terhadap perusahaan teknologi masih tinggi.

--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar