![]() |
| Toyota Fortuner 2021 |
Saat pemerintah mengumumkan akan memperluas pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ke kapasitas mesin 2.500 cc saya termasuk setuju, karena di segmen inilah justru banyak orang yang harus dipancing untuk konsumsi.
Di segmen sampai 2.500 cc ini terdapat dua mobil produk ASII yang sudah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 70% ke atas, yaitu Toyota Kijang Innova dan Toyota Fortuner. Dengan harga Rp340 juta ke atas, pembeli mobil ini tentunya berasal dari kalangan menengah-atas, selain itu banyak juga digunakan untuk mobil dinas dan kantor (fleet).
Mengutip perkataan Pak Chatib Basri, "lockdown itu bias". Di saat pembeli Avanza (menengah-bawah) kebingungan mencari uang karena banyak tempat publik yang tutup, pembeli Fortuner (menengah-atas) malah berlebihan uangnya karena tidak bisa traveling, fine dining, dan kegiatan konsumtif lainnya.
Hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank yang tinggi selama 2020, seperti yang sudah pernah saya bicarakan dalam artikel "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?". Tidak mungkin kenaikan DPK ini berasal dari kelas menengah-bawah yang tahun lalu banyak diwarnai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pastinya sebagian besar dari menengah-atas.
Tanpa adanya konsumsi dari kelas menengah-atas maka kelas menengah-bawah pun kelimpungan, tidak ada tamu restoran yang dilayani, hotel sepi karena tidak ada seminar, sampai tidak ada orang yang naik taksi.
Di sisi lain, bursa saham, yang identik dengan orang-orang banyak duit, mengalami kenaikan yang signifikan karena diserbu segala kalangan. Kelas menengah-atas, yang memang punya pengalaman dan dana lebih banyak, mempunyai kesempatan untuk meningkatkan uangnya dengan signifikan.
Uang ini perlu dibelanjakan di sektor riil untuk memutar ekonomi kembali dan membuat kelas menengah-bawah "bernafas" lagi. Dengan memperluas insentif ke 2.500 cc akan memancing uang ini untuk "keluar".
Efeknya bagaimana ke saham?
Mungkin akan ada sebagian orang yang akan take profit di saham untuk membeli mobil. Tidak apa, karena jika sektor riil berjalan maka nantinya fundamental emiten akan makin baik dan makin banyak orang yang berinvestasi saham, sehingga bursa akan pulih dengan sendirinya.
Bubble yang kempes sedikit demi sedikit lebih baik daripada yang tiba-tiba pecah seperti roller coaster tanpa pengaman
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar