Tentang Saya

28 Maret 2021

Kenaikan Pajak Biden Bisa Buat IHSG Naik Lagi?

Pajak Biden

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sudah mulai membuat proposal kenaikan pajaknya, apakah setelah sah akan membuat dana asing berbondong-bondong masuk Indonesia lagi?

Rencana tersebut memang sudah dikemukakan sewaktu kampanya pemilihan presiden tahun lalu. Setelah Biden dinyatakan menang awal November 2020, terjadi pembelian asing dalam jumlah besar.

Menurut proposal yang beredar sekarang, pajak badan usaha akan naik ke 28 persen, dari saat ini di 21 persen. Masih lebih rendah dari periode sebelum dipotong Donald Trump, yaitu di 35 persen.

Ada juga berita yang menyebutkan bahwa kemungkinan partai Republik akan "menawar" di level 25 persen.

Selain badan usaha, pajak perorangan juga akan naik ke 39,6 persen dari level saat ini di 37 persen. Pajak perorangan ini juga termasuk capital gain, bukan hanya cuan di saham namun juga di instrumen investasi lainnya termasuk properti. Tetapi selama instrumen tersebut tidak dijual, maka tidak akan dikenakan pajak.

Biden berjanji bahwa kenaikan ini akan berlaku untuk orang-orang kaya saja, yaitu mereka yang berpenghasilan di atas AS$400.000 setahun. Namun masih belum jelas apakah batas ini berlaku untuk individu atau untuk pasangan (gabungan penghasilan suami-istri).

Dalam skema Trump, pajak 37 persen dikenakan pada pendapatan tahunan di atas AS$518.401 untuk individual dan $622.051 untuk pasangan suami-istri yang gabung harta. Artinya, dengan batas yang lebih rendah, skema Biden akan mencakup lebih banyak orang.

Seberapa banyak orang yang akan terdampak? Di AS, hanya 1,8 persen rumah tangga menghasilkan $400.000 ke atas setahunnya, menurut survei Internal Revenue Service (IRS) alias Direktorat Jenderal Pajak pemerintah AS.

Lembaga Tax Policy Center memperkirakan pemerintahan Biden akan meraup tambahan pemasukan negara $2,1 triliun selama satu dekade ke depan dari naiknya pajak.

Tambahan yang akan meringankan anggaran yang sampai Februari 2021 sudah defisit $1,05 triliun setelah lima bulan tahun anggaran (di AS tahun fiskal dimulai pada Oktober).

Dampaknya untuk korporasi? menurut laporan Goldman Sachs, kenaikan pajak korporasi akan menurunkan laba bersih perusahaan S&P 500 sebanyak 9 persen. Riset dari UBS menyebutkan jika kenaikan pajak badan usaha bisa "ditawar" menjadi 25 persen, maka penurunan laba bersih akan sebesar 4 persen.

Riset Goldman Sachs juga menyebutkan jika memang terjadi kenaikan pajak, maka akan ada aksi ambil untung di saham untuk kemudian masuk ke obligasi. Alasannya, dengan meningkatnya pendapatan, maka pemerintah AS tidak perlu mengeluarkan surat utang banyak-banyak, sehingga yield obligasi akan jadi lebih stabil.

Apakah akan ada dana yang akan "lari" ke Indonesia?

Kemungkinan akan ada, mengingat bahkan saat Biden menang saja ada dana asing yang sudah "curi start" ke Indonesia. Besar atau tidak arusnya nanti akan ditentukan pada persentase pajak yang akan dinaikkan.

Faktor kedua, pemerintah Indonesia saat ini melakukan hal yang bertentangan dengan AS, yaitu menurunkan pajak, yang dapat menarik investasi ke dalam negeri. Salah satunya adalah pajak dividen 0 persen (sebelumnya 10 persen untuk perorangan dan 15% untuk badan usaha).

Kapan kenaikan pajak ini di sahkan menjadi undang-undang?

Kita harus kembali ke 1993, di mana Presiden Bill Clinton terpilih dan membuat proposal kenaikan pajak di bulan Januari untuk mengatasi defisit anggaran warisan Ronald Reagan dan George Bush Senior. Aturan yang bernama "Omnibus Budget Reconciliation Act of 1993" ini sah pada bulan Agustus di tahun yang sama.

Akankan terjadi "keajaiban" di bulan Agustus? Kita lihat saja.

--
Anton Hermansyah

24 Maret 2021

Lebih Baik Hold Jangka Panjang di ETF Indeks atau Fokus di Satu Saham?

Ada nasabah bertanya di grup Telegram, lebih baik mana antara menabung jangka panjang di Exchange Traded Fund (ETF) indeks atau fokus di satu saham big caps?

Berdatanganlah jawaban dari nasabah-nasabah lain, semuanya berkata, "hold satu saham saja yang berkualitas baik". Rata-rata menyebutkan saham-saham bank seperti BBCA dan BBRI atau saham barang konsumsi seperti ICBP.

Tidak salah juga sebetulnya, tapi juga tidak benar sepenuhnya. Jika kita ada di tahun 2011, lalu memilih satu dari 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar pada saat itu, kemudian di hold 10 tahun, maka peluang kita adalah 50:50.

Sepuluh Besar 2011 vs LQ45
Sepuluh Besar 2011 vs LQ45

Dari 10 saham terbesar yang ada di saat itu, hanya lima saham yang memberikan return lebih besar dari indeks LQ45 apabila di hold 10 tahun. Bahkan ada tiga saham yang boncos.

Memegang saham dalam jangka panjang, katakanlah 10 tahun, memang bisa menghindarkan kita dari gejolak naik turun nya harga dalam jangka pendek, istilahnya adalah "risiko sistematis".

Tetapi jika dengan satu saham saja, kita masih akan terpapar oleh perubahan yang terjadi di fundamental perusahaan itu sendiri atau yang disebut "risiko non-sistematis".

Misalkan dalam jangka waktu 10 tahun tersebut terjadi perubahan peta industri, seperti yang dialami BIRD dan TAXI yang disaingi oleh Gojek dan Grab. Sekarang BBCA dan BBRI juga akan menghadapi era bank digital.

Perubahan manajemen juga bisa menjadi risiko. Saat ini, Dirut BBCA Pak Jahja Setiaatmadja sudah 64 tahun, apabila mengikuti pendahulunya Pak Djohan Emir Setijoso (saat ini Komut) yang pensiun di umur 69 tahun, maka kemungkinan di 2026 akan ada risiko di BBCA dari pergantian dirut.

Ada juga faktor risiko dari perubahan peraturan pemerintah, seperti kenaikan cukai beberapa tahun terakhir yang membuat HMSP dan GGRM berbalik turun ekstrim. Investor juga berbalik arah dari PGAS yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan subsidi gas.

Risiko non-sistematis secara tradisional dapat di minimalisir dengan melakukan diversifikasi ke sektor-sektor yang berbeda. Sederhananya misalkan harga minyak naik, saham otomotif yang kita pegang turun, tetapi secara portofolio kita masih aman karena ada saham pengeboran minyak yang naik harganya.

Bisa juga tidak diversifikasi, dengan syarat kita sudah tahu kondisi dan siklus usaha dari emiten tersebut dan perkembangannya kita pantau terus. Seperti kata Warren Buffett, Keep all your eggs in one basket, but watch that basket closely.

Tetapi jika konteksnya adalah nasabah pemula, saya memang lebih menyarankan untuk pegang ETF indeks seperti R-LQ45X atau XIJI karena sudah otomatis terdiversifikasi, di revisi isi nya tiap enam bulan sekali, dan bisa dijual lebih cepat dari reksadana biasa.

Selain itu, saya juga tidak kuatir kalau fund manager nya digantikan orang lain seperti di reksadana biasa, ETF kan tinggal ikut indeks acuannya saja.

--
Anton Hermansyah

21 Maret 2021

Saat The Fed Membiarkan Pasar Modal Menentukan Nasibnya Sendiri

Pernyataan Federal "The Fed" Reserve pada hari Rabu 17 Maret 2021 membuat saya bingung, bank sentral AS ini menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023, namun tetap membiarkan inflasi naik tinggi, akomodatif tetapi seolah bicara "silahkan tentukan nasibmu sendiri".

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya di "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?", yield obligasi, terutama yang tenor panjang, belakangan ini mengalami kenaikan terus menerus.

Penyebabnya kenapa?

Ekspektasi pemulihan ekonomi dalam waktu dekat makin meningkat. Sehingga perbankan, yang biasanya memegang porsi obligasi negara terbesar, mulai menjual obligasi yang mereka pegang untuk kembali menyalurkan kredit.

Memegang obligasi negara adalah "bisnis alternatif" untuk bank karena saat ekonomi tidak jalan, maka kredit juga tidak jalan, malah gagal bayar. Saat ekonomi kembali pulih, tentunya mereka akan kembali ke bisnis utamanya yang lebih menguntungkan, yaitu penyaluran kredit.

Sedangkan bagi pelaku pasar, kenaikan yield obligasi merupakan tanda bahwa inflasi akan naik. Jika inflasi naik, maka nanti suku bunga juga akan ikut naik.

Apabila bunga akan naik, logika nya biaya pinjaman akan jadi lebih mahal. Jika kita bermain dengan marjin, artinya kita harus cepat-cepat take profit dan lunasi utang marjin nya sebelum kena dobel petaka, harga saham turun dan bunga marjin juga naik.

Apa yang sebetulnya pelaku pasar harapkan dari The Fed? Secara garis besar ada dua, pertama, menegaskan bahwa suku bunga tidak akan naik, yang kedua, melakukan operation twist.

Operation twist adalah perpindahan fokus pembelian obligasi negara ke tenor-tenor panjang dari yang sebelumnya ada di tenor-tenor pendek. Dengan adanya operasi ini, kenaikan yield obligasi di tenor panjang dapat diredam.

Pada pernyataan nya di hari Rabu kemarin, The Fed memang menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023. Tetapi tidak ada petunjuk sama sekali mengenai rencana operation twist.

Malah The Fed juga tidak akan memperpanjang aturan Supplementary Leverage Ratio (SLR), yaitu aturan yang membuat perbankan dapat memegang obligasi negara lebih besar daripada tingkat modal mereka, aturan ini akan berakhir 31 Maret 2021. Artinya perbankan akan terus menjual obligasinya dan yield akan terus naik.

Ini seolah The Fed mengatakan pada pelaku pasar, silahkan kalian melanjutkan pembelian marjin dan meningkatkan harga saham juga bitcoin, kami akan mendukung dengan mempertahankan suku bunga. Tetapi, kalau mau take profit dan melunasi marjin juga silakan, karena kami akan membiarkan yield obligasi meningkat.

Sehingga pelaku pasar akan "lirik-lirik tetangga" sebelum mengambil keputusan. Ibarat pemilu, suara terbesarlah yang akan menang.

Bagaimana dengan pasar modal Indonesia?

Mengutip kata Pak Chatib Basri, ke depanya adalah perlombaan pemulihan ekonomi. Jika Indonesia terlambat pulih dibanding AS, maka dana asing akan "pulang" dahulu.

The Fed memproyeksikan ekonomi AS akan naik 6,2% di 2021, lebih tinggi dari perkiraan tiga bulan lalu di 4.2%. Angka Indonesia setidaknya harus sama, jika tidak ingin ada capital outflow di IHSG.

Pemulihan ekonomi juga berarti akan ada rotasi ke saham-saham sektor riil. Saya melihat sudah ada pergerakan di saham-saham seperti ASII, ICBP, RALS, dan JPFA yang memang masih belum banyak bergerak sebelumnya karena pandemi Covid-19.

--
Anton Hermansyah

18 Maret 2021

Lebih Baik Menggoda Pembeli Fortuner Daripada Pembeli Avanza

Toyota Fortuner 2021
Toyota Fortuner 2021

Saat pemerintah mengumumkan akan memperluas pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ke kapasitas mesin 2.500 cc saya termasuk setuju, karena di segmen inilah justru banyak orang yang harus dipancing untuk konsumsi.

Di segmen sampai 2.500 cc ini terdapat dua mobil produk ASII yang sudah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 70% ke atas, yaitu Toyota Kijang Innova dan Toyota Fortuner. Dengan harga Rp340 juta ke atas, pembeli mobil ini tentunya berasal dari kalangan menengah-atas, selain itu banyak juga digunakan untuk mobil dinas dan kantor (fleet).

Mengutip perkataan Pak Chatib Basri, "lockdown itu bias". Di saat pembeli Avanza (menengah-bawah) kebingungan mencari uang karena banyak tempat publik yang tutup, pembeli Fortuner (menengah-atas) malah berlebihan uangnya karena tidak bisa traveling, fine dining, dan kegiatan konsumtif lainnya.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank yang tinggi selama 2020, seperti yang sudah pernah saya bicarakan dalam artikel "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?". Tidak mungkin kenaikan DPK ini berasal dari kelas menengah-bawah yang tahun lalu banyak diwarnai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pastinya sebagian besar dari menengah-atas.

Tanpa adanya konsumsi dari kelas menengah-atas maka kelas menengah-bawah pun kelimpungan, tidak ada tamu restoran yang dilayani, hotel sepi karena tidak ada seminar, sampai tidak ada orang yang naik taksi.

Di sisi lain, bursa saham, yang identik dengan orang-orang banyak duit, mengalami kenaikan yang signifikan karena diserbu segala kalangan. Kelas menengah-atas, yang memang punya pengalaman dan dana lebih banyak, mempunyai kesempatan untuk meningkatkan uangnya dengan signifikan.

Uang ini perlu dibelanjakan di sektor riil untuk memutar ekonomi kembali dan membuat kelas menengah-bawah "bernafas" lagi. Dengan memperluas insentif ke 2.500 cc akan memancing uang ini untuk "keluar".

Efeknya bagaimana ke saham?

Mungkin akan ada sebagian orang yang akan take profit di saham untuk membeli mobil. Tidak apa, karena jika sektor riil berjalan maka nantinya fundamental emiten akan makin baik dan makin banyak orang yang berinvestasi saham, sehingga bursa akan pulih dengan sendirinya.

Bubble yang kempes sedikit demi sedikit lebih baik daripada yang tiba-tiba pecah seperti roller coaster tanpa pengaman

--
Anton Hermansyah

16 Maret 2021

Kenapa Saham Holding Seperti SRTG Tidak Banyak yang Beli?

Portofolio SRTG Februari 2021
Portofolio SRTG Februari 2021

Ada nasabah bertanya ke saya, SRTG kan bisa disebut sangat undervalue, PBV nya di bawah 1x bahkan belum sampai 0,5x, berkinerja baik pula dengan ROE hampir 30%, tetapi kenapa transaksinya sedikit?

SRTG adalah saham holding, pendapatannya berasal dari investasi di saham-saham perusahaan lain, dividen, dan bunga, artinya tidak ada operasional di sektor riil. Membeli SRTG dan saham-saham holding lainnya seperti PNIN, SMMA, EMTK dan BMTR mirip dengan membeli reksadana, ada aset dibungkus aset, "isi" di dalam nya sudah ditentukan dan seringkali berubah dalam waktu singkat.

Skema aset yang sudah terbungkus ini mengurangi kebebasan investor untuk menyesuaikan isi portofolio dengan strateginya. Lagipula, tidak semua saham yang dipegang oleh perusahaan holding mempunyai kualitas yang sama dan terkadang ada yang berkinerja buruk.

Pengecualian terjadi apabila holding tersebut mempunyai akses ke perusahaan non-publik yang kuat. ASII contohnya, meskipun holding, tetapi investor masih mau pegang karena lini otomotifnya -yang merajai pasar Indonesia- tidak melantai di bursa.

Apa yang terjadi jika anak perusahaan andalannya di lepas ke publik alias di carve-out? Ya investor akan beralih ke anak perusahaan nya, seperti cerita di ICBP yang valuasinya konsisten lebih mahal dari INDF setelah IPO tahun 2010.

Kenapa perusahaan holding di atas kertas kinerja keuangannya bagus?

Karena tugasnya hanya memegang portofolio, perusahaan holding hanya punya sedikit karyawan, tidak sampai 100 orang, bahkan ada yang tidak sampai 50 orang. Dengan biaya operasional yang minim, marjin nya juga besar, sehingga profitabilitas relatif tinggi.

Begitu juga dengan level utang yang memang rata-rata rendah, sehingga jika hanya membaca laporan keuangan kita pasti akan mengira perusahaan ini masuk ke dalam kriteria "salah harga". Contoh PNIN, dengan ROE 5,5%, DER 24,3%, dan PBV super rendah di 0,2x, kurang "value investing" apa saham ini?

Tidak salah memang melakukan investasi di saham holding namun karena kurangnya minat pasar ke saham-saham seperti ini, reli sangat jarang terjadi dan kita harus siap dengan sideways lama. Saham-saham ini pun juga tidak merespon terhadap berita sektoral karena isi di dalamnya yang terdiversifikasi.

Jadi boleh pegang atau tidak?

Pegang jika perusahaan tersebut punya eksposur ke sektor tertentu yang potensial dan tidak ada alternatif perusahaan publik lain. Syarat kedua, siapkan kesabaran tingkat dewa, karena saham-saham ini jarang sekali bergerak.

--
Anton Hermansyah

15 Maret 2021

IPO Unicorn Darah Baru Bursa Saham atau Exit Strategy Venture Capital?

Rencana IPO para unicorn Asia Tenggara, Gojek, Tokopedia, Traveloka dan Grab, membuat investor terbelah dua, ada yang senang karena akan membawa "gairah baru" di IHSG dan ada juga yang skeptis karena ini hanya "exit strategy" para venture capital yang sudah lama memutar uangnya di sana.

Setelah anjlok di Maret 2020, Bursa AS cepat pulih dan terus naik karena investor memburu saham-saham teknologi yang dianggap "kebal" lockdown. Sebaliknya IHSG harus merana karena ketiadaan saham teknologi yang oke.

Memang sudah ada saham startup seperti KIOS dan PGJO, tapi ukurannya terlalu kecil, investor besar perlu "makanan" sebesar unicorn, wajar jika IPO Gojek dan Tokopedia ditunggu-tunggu.

Di sisi lain, ada investor-investor yang skeptis. Di balik hingar-bingar nya rencana IPO unicorn ada venture capital yang menunggu untuk keluar.

Umur unicorn-unicorn angkatan Gojek rata-rata mencapai satu dekade tetapi sampai saat ini belum ada berita yang menunjukkan bahwa mereka sudah mencatat laba. Tanpa laba, tidak ada dividen, hal yang dimita oleh investor pasar modal yang relatif lebih konvensional.

Bahkan SoftBank Vision Fund, salah satu skema pendanaan startup terbesar di dunia, memberikan dividen dari uang "capital call". Sederhananya, dividen untuk investor lama dibayar dari setoran modal investor baru.

Persaingan yang terus-menerus muncul membuat unicorn sulit lepas dari strategi "bakar uang". Di saat iklan Bukalapak dan Lazada mulai menghilang di media massa, muncullah Shopee yang menggebrak dengan iklan Blackpink, membuat Tokopedia yang tadinya sudah mulai landai kembali agresif dengan mengontrak BTS, yang pastinya tidak murah.

Invasi Shopee tidak berhenti di marketplace, Shopeepay menjadi dompet digital yang berkembang paling cepat. Frekuensi transaksinya sudah setara dengan Gopay dan OVO (menurut riset Neurosensum yang keluar di Februari 2021).

Belakangan, Gopay pun akhirnya kembali "bakar uang" dengan menawarkan cashback dengan nominal agresif sampai Rp20.000.

Sabtu kemarin saat di jalan saya melihat pengendara sepeda motor dengan jaket bertuliskan "ShopeeFood". Ternyata Shopee sudah mulai memasuki "periuk terbesar" Gojek dan Grab, pengantaran makanan.

Motor ShopeeFood
Motor ShopeeFood

Bisnis makanan memang menggiurkan, karena selain biaya pengantaran, Gojek dan Grab juga memungut "bagi hasil" sebesar 20% dari penjual makanan. Biaya tersebut dibebankan ke pemesan, makanya harga di GoFood dan GrabFood lebih mahal dari di restoran langsung.

Mungkin jika ShopeeFood ini berhasil, dan SEA Group jadi masuk BACA, bisa jadi menambah valuasinya di mata investor.

Tetapi, untuk pemain lama, persaingan yang lebih ketat akan menurunkan marjin dan pada akhirnya mengubah valuasi. Venture capital harus segera menentukan "exit strategy", mumpung animo pasar modal terhadap perusahaan teknologi masih tinggi.

--
Anton Hermansyah

12 Maret 2021

Bank Digital yang Fenomenal apakah belum Mahal?

Bank digital menjadi fenomenal di pemain saham saat ini dan harganya beterbangan dalam 3 bulan ini, ARTO sudah naik 300%, BANK naik 230%, AGRO naik 92%, BBYB naik 103%, dan yang lebih gila adalah BBHI yang naik 760%, meskipun harga sudah ke awan tetapi orang-orang masih memburu, apakah memang masih belum mahal?

Dengan PBV yang sudah di atas 3x bahkan dobel dan tripel digit, ARTO (101,5x), BANK (54,5x), BBHI (25,2x), AGRO (6,0x), tentunya saham-saham ini tidak akan masuk radar para value investor. Namun bagi para growth investor dengan potensi pertumbuhan yang akan tinggi saham-saham bank digital masih layak koleksi.

Bank digital kemungkinan akan masuk ke pasar Generasi Milenial (kelahiran 1981-1996) dan Generasi Z (kelahiran 1997-2012) yang memang melek teknologi dan sudah punya penghasilan sendiri meski belum besar. Besar populasi dua generasi ini di Indonesia kira-kira 130 juta orang, hampir setengah jumlah penduduk.

Dari segi kebutuhan dana, Generasi Milenial dan Z memang sedang banyak-banyaknya, mulai dari peralatan kerja, kendaraan, sampai rumah. Meskipun kemungkinan, melihat bisnis tekfin dan P2P lending yang ada sekarang, mayoritas akan masuk ke kredit konsumsi dan modal kerja dengan tenor antara tiga bulan sampai dua tahun.

Dari segi pengelolaan, bank digital memang menawarkan efisiensi operasi. Beroperasi tanpa cabang akan memungkinkan untuk menekan biaya operasi.

Tapi kan kreditur di Indonesia suka ngeyel, nanti menagihnya gimana?

Kemungkinan pemberian pinjaman nya sebagian besar akan bekerja sama dengan P2P lending atau marketplace yang sudah punya ekosistem sendiri. Mereka punya orang lapangan atau istilahnya canvasser untuk membina komunitas.

Soal ekosistem, kemungkinan yang akan unggul adalah ARTO yang memang akan terhubung dengan ekosistem Gojek. Apalagi jika isu bergabungnya Gojek dan Tokopedia benar, maka itu akan memperkuat bank ini.

Selanjutnya adalah AGRO yang ditopang oleh rencana masuknya Pegadaian dan Permodalan Nasional Madani (PNM) ke dalam BBRI. Pinjaman berbasis gadai dan program Mekaar yang menerapkan sistem Grameen Bank merupakan sistem mikro kredit handal dengan non-performing loan (NPL) rendah.

Kredit konsumsi dan kredit mikro meskipun jumlahnya kecil-kecil tetapi mempunyai tingkat bunga yang tinggi, sekitar 12 persen sampai 20 persen per tahun, lebih besar dari segmen lainnya seperti kredit pemilikan rumah (KPR) atau korporasi yang sekitar 8 persen. Bunga yang tinggi dikombinasikan dengan biaya operasional rendah, tentunya membuat marjin bank digital (akan) lebih tinggi.

Namun pengumpulan dana pihak ketiga (DPK) adalah hal yang masih saya ragukan karena sifat Generasi Milenial dan Generasi Z yang labil dan gampang berubah-ubah. Lagipula, kemungkinan nasabah membuka akun di bank digital hanya untuk menjadi akun kedua dan jadi "tempat pindah uang" saja.

Kemungkinan skema mendapatkan dana dalam waktu dekat dilakukan dengan cara anorganik yaitu dengan rights issue.

Valuasinya bagaimana? Saat ini sulit untuk menghitung, bisnis bank digitalnya belum mulai, model integrasi dengan marketplace nya belum diketahui seperti apa pembagian fee nya. PER dan PBV saat ini masih sumir karena masih menggunakan laporan keuangan yang lama dan mungkin masih akan rugi yang disebabkan oleh belanja modal.

Yang bisa dijadikan "pegangan" saat semua berubah menjadi digital adalah "manusia" nya. ARTO dipegang oleh orang-orang yang dulu mentransformasi BTPN, sedangkan BBYB dipegang oleh Akulaku yang mendapatkan pendanaan dari Alibaba.

Apakah masih aman untuk masuk sekarang? Pertanyaan sederhana yang jawabnya sulit, justifikasinya adalah bank-bank ini masih perlu tambah modal sehingga masih akan banyak undang investor-investor besar untuk masuk melalui rights issue, selama masih ada "ikan paus" yang mau masuk, saat ini bisa saja dibilang "masih aman".

Apakah saya juga akan ikut masuk? Sepertinya tidak, biarlah menjadi rejeki orang lain saja.

--
Anton Hermansyah

09 Maret 2021

Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?

Belakangan ini pergerakan IHSG tersendat, penyebabnya karena imbal hasil (yield) obligasi yang terus naik, ini pertanda apa dan apa yang mesti kita lakukan?

Saya bukan investor obligasi, bahkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) pun saya tidak punya. Tapi dari hasil baca-baca dan bertanya ke beberapa teman yang memang bergelut di fixed income, kenaikan yield ini artinya pasar berekspektasi inflasi akan naik.

Yield obligasi itu berbanding terbalik dengan harga. Konsepnya sama dengan dividen yield, kalau ada dividen Rp50 per saham dan harga saham nya saat itu ada di 500, maka yield nya adalah 10% (50 ÷ 500) , tetapi jika harga sahamnya naik jadi 800 maka yield nya turun menjadi 6,25% (50 ÷ 800)

Kalau yield naik, artinya harga jatuh, kalau harga jatuh artinya banyak yang jualan obligasi. Pertanyaan berikutnya, kenapa banyak yang jualan obligasi?

Kemungkinan yang banyak menjual obligasi adalah bank, di mana institusi ini biasanya merupakan pemegang obligasi negara terbesar setelah bank sentral. Di Indonesia, bank memegang sekitar 35% obligasi negara yang beredar selama 2020

Obligasi untuk bank adalah "sampingan", pendapatan utamanya ya dari memberikan kredit. Tetapi pada 2020, pertumbuhan kredit tidak bergerak, bahkan menjadi negatif di bulan-bulan akhir akibat Covid-19, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus naik karena orang-orang tidak belanja, mereka simpan uangnya

Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020
Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020

Di saat bisnis utamanya mandek, bank banyak memegang obligasi negara, agar uangnya tetap berputar dan dapat membayar bunga (bagi hasil untuk bank syariah) kepada para penabung.

Dengan perkembangan saat ini, program vaksinasi mulai berjalan, kasus harian sudah mulai menurun, artinya bisnis-bisnis sektor riil pun akan mulai menggeliat kembali. Bank sudah harus mulai bersiap-siap kembali ke bisnis penyaluran kredit, sehingga mulai berjualan obligasi, hal ini lah yang menyebabkan yield naik.

Inflasi adalah pertanda sektor riil sudah jalan, tetapi bagi para pemain keuangan, meningkatnya inflasi juga berarti meningkatnya suku bunga. Jika suku bunga meningkat para trader harus segera take profit, melunasi marjin sebelum terkena bunga yang lebih besar.

Dapat dilihat belakangan ini di luar negeri, aksi ambil untung sudah terjadi di saham-saham teknologi yang naik ketinggian seperti Tesla sementara saham-saham sektor riil seperti Citigroup mulai naik.

Citigroup dan Tesla
Citigroup dan Tesla

Bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya perkembangan pemulihan ekonomi di sini masih belum se ekspansif di AS, tetapi sepertinya sudah ada yang mengumpulkan saham-saham sektor riil seperti JPFA, RALS, dan MAPI.

--
Anton Hermansyah

07 Maret 2021

Tradevestor Fundateknikal

Saat saya mengajar dasar-dasar analisa fundamental ke nasabah-nasabah baru, ada yang bertanya ke saya, "Pak Anton, saya kan trader, apakah saya perlu belajar ini?".

Sudah tradisi di mana-mana jika orang baru datang di dunia saham, pertanyaan dari para senior adalah, "mau jadi investor atau trader?". Jika jawabannya adalah investor maka akan di suruh belajar analisa fundamental, jika trader maka belajar teknikal.

Tapi apakah seorang trader perlu tahu analisa fundamental dan sebaliknya investor perlu tahu analisa teknikal?

Tidak selalu perlu, tapi berdasarkan pengalaman saya, pada akhirnya pemain saham akan mengetahui keduanya. Paling tidak menguasai dasarnya.

Ambil contoh diri saya sendiri, di kantor saya ditugaskan menjadi analis teknikal, tetapi untuk portofolio pribadi, saya seorang investor.

Lho kok bisa?

Awalnya saya trading, tetapi dengan makin bertambahnya nasabah, makin bertambah pula kesibukan. Saat pasar ramai, saya bisa diminta mengerjakan 10 gambar teknikal yang memakan waktu 1 jam, begitu selesai saya sudah ketinggalan momentum atau tidak sempat cutloss.

Kesibukan tersebut tiap hari berulang, membuat saya tidak sempat trading. Akhirnya memutuskan menjadi investor, meski tiap hari masih harus mengerjakan analisa teknikal untuk nasabah.

Pemahaman akan analisis teknikal membantu saya sebagai investor. Jadi tidak hanya sekedar memilih saham berfundamental bagus, tetapi juga bisa menentukan titik masuk, terutama bila harga menyentuh support.

Jika ada floating loss tarikan garis support dapat membantu saya untuk menentukan titik-titik average down. Tetapi memang selama ini saya masih belum membuat sistem money management saya sendiri, seperti berapa target harga rata-rata yang harus dicapai dengan average down dan berapa kali average down harus dilakukan untuk mencapai harga tersebut.

Kembali ke pertanyaan nasabah yang paling awal, apakah analisa fundamental berguna untuk trader? Jawab saya iya, misalkan untuk alokasi trading, jika saham naik dengan perbaikan fundamental maka bisa all out, tetapi jika memang hanya bergerak tanpa kenaikan fundamental atau malah turun, alokasinya sedikit, untuk "cuan kilat" saja.

Melakukan trading dengan memperhatikan price-earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) juga akan membantu menentukan berapa lama kita harus hold saham tersebut. Terkadang saya juga menggunakan Book Value per Share alias PBV 1x sebagai resistance di dalam chart, terutama untuk saham-saham yang PBV nya masih di bawah 1x.

Book Value sebagai Resistance
Book Value sebagai Resistance

Beberapa memang jalan, seperti ELSA di atas yang memantul tepat setelah menyentuh PBV 1x.

Resistance Book Value di BIRD
Resistance Book Value di BIRD

Sebagian lainnya tidak, seperti contoh kasus di BIRD di mana harga berbalik arah sebelum mencapai PBV 1x nya.

Terlepas dari perdebatan "analisa mana yang lebih sakti", saya melihat teknik analisa sebagai alat untuk membantu dalam pengambilan keputusan. Tapi berdasarkan pengalaman, saya merasa sebagai pemain saham kita harus luwes karena tidak semua kejadian dan pola dapat dijelaskan dengan satu analisis saja.

--
Anton Hermansyah

05 Maret 2021

Berburu Dividen di 2021

Bulan Maret adalah waktunya untuk mulai berburu dividen, di mana emiten-emiten sudah mulai menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) yang nanti menentukan berapa besar dividen yang akan dibagikan

Menjelang RUPS, saham-saham yang biasa membagikan dividen besar harganya akan mulai naik, apalagi setelah besaran dividen diumumkan dan disetujui. Meskipun banyak emiten baru menggelar RUPS pada April dan Mei, investor-investor veteran sudah mulai mengumpulkan saham dividen sejak Maret, sehingga mendapatkan dua keuntungan, yaitu kenaikan harga dan dividen tunai itu sendiri

Gunakan Indeks IDXHIDIV20 Sebagai Panduan

Di bursa sudah ada indeks IDXHIDIV20 yang berisi saham-saham yang secara historis rajin memberikan dividen. Daftar saham ini dapat di unduh di situs IDX bagian indeks saham, pilih IDXHDIV20 lalu unduh file zip nya yang berisi daftar saham indeks tersebut.

Daftar Saham Indeks IDXHIDIV20
Daftar Saham Indeks IDXHIDIV20

Perhatikan DPR dan Dividen Yield

Untuk memilih saham-saham dividen ada dua rasio yang harus diperhatikan, Dividend Payout Ratio (DPR) dan Dividen Yield. Dividend Payout Ratio adalah rasio jumlah dividen terhadap laba perusahaan, sementara Dividen Yield adalah persentase dividen per saham terhadap harga perolehan saham kita.

DPR adalah alat pertama, investor dividen cenderung melihat saham-saham dengan DPR historis yang besar. Berapa minimalnya? Sekitar 50 persen, bahkan ada emiten-emiten yang DPR nya mencapai 100 persen

DPR dapat dilihat di aplikasi RTI di bagian "Key Statistics"

Tampilan Dividend Payout di RTI
Tampilan Dividend Payout di RTI

Dari DPR rata-rata di tahun-tahun sebelumnya, kita dapat memperkirakan berapa besaran dividen di tahun ini setelah data laba bersih keluar. Caranya tinggal mengkalikan DPR rata-rata tersebut dengan Earnings per Share (EPS) alias Laba per Saham nya

Misalkan DPR ICBP rata-rata adalah 49% dan kita memperkirakan EPS tahun 2020 nya ada di kisaran Rp450. Sehingga Dividen per Saham nya adalah sekitar 49% × Rp450 = Rp220,5

Kemudian yang perlu dilakukan adalah membagi Dividen per Saham tersebut dengan harga saham saat ini sehingga didapatkan Dividen Yield. Untuk ICBP, Dividen Yield nya adalah Rp220,5 ÷ Rp8.525 = 2,59%.

Dari sini kita bisa menentukan seberapa "ganteng" dividen tersebut. Patokannya? Ya bunga deposito, sekarang di bank-bank besar ada di kisaran 2,75 sampai 3,00 persen, sehingga 2,59 persen itu ya masih relatif sama dan kurang sedikit dengan bunga deposito

Apakah Dividen Tahun Ini Akan Ganteng?

Menggunakan data historikal dari RTI, saya coba hitung perkiraan dividen yield untuk saham-saham yang ada di indeks IDXHIDIV20. Hasilnya bisa dilihat di gambar di bawah.

Dividen IDXHDIV20
Dividen IDXHIDIV20

Ternyata memang besarannya tidak tinggi. Ada dua kemungkinan, pertama, karena banyak perusahaan mengalami penurunan laba dan kedua, banyak yang harga sahamnya sudah tinggi karena aksi spekulasi.

Selamat berburu dividen.

--
Anton Hermansyah

04 Maret 2021

Investasi Secuil-Secuil

Sejak 2020 saya sudah memulai ritual baru, yaitu investasi sedikit-demi sedikit, setiap hari saya transfer Rp30.000-50.000 ke Rekening Dana Nasabah (RDN).

Saya menganggap tiap hari punya "uang jajan" sebesar itu untuk membeli kudapan atau kopi. Apabila saya tidak minum kopi, artinya uang tersebut bisa dipakai untuk berinvestasi.

Metode ini saya sebut sebagai "Cappuccino Investing".

Saham memang bukan hal baru bagi saya yang sudah memulai tahun 2017. Sayangnya, saat itu masih belum dibekali pengetahuan apa-apa dan "kesombongan" sebagai Sarjana Ekonomi yang menganggap sudah tahu segalanya soal memilih perusahaan yang baik.

Hasilnya, saham-saham yang saya pilih pun turun 50%. Untung tidak all-out, kalau tidak saya sudah nangis darah.

Semenjak bekerja di perusahaan sekuritas dan ditugaskan sebagai analis teknikal yang juga harus keliling mengajar pada nasabah-nasabah baru, saya pun lebih menseriusi saham. Malu dong, masa jadi trainer tapi sendirinya tidak investasi.

Saya membaca ulang buku analisis teknikal, mengikuti kursus (untungnya dibayar kantor) dan masuk ke komunitas-komunitas saham yang ternyata menjamur di Telegram. Ada banyak yang saya ikuti, mulai dari Investor Saham Pemula, Tetra (Teman Trader), Trikcuan Mbah Giso, Rivan Kurniawan, Teguh Hidayat, dan Analisa Fundamental Saham Indonesia (AFSI).

Di sana rata-rata saya hanya sebagai silent reader tetapi cukup untuk memberikan inspirasi dalam memilih saham dan bermain saham.

Awalnya saya mencoba trading baik trend following berdasarkan analisis teknikal maupun one day trading (ODT) atau lebih populer di Indonesia dengan nyopet. Awalnya lancar, tetapi akhirnya saya menemui kendala.

Trading menuntut keaktifan lebih di saat pasar ramai, tetapi di saat itu pula banyak nasabah yang meminta analisis, bahkan sampai meminta 10 gambar teknikal dalam sehari, menyelesaikan nya saja perlu waktu satu jam. Akhirnya portofolio saya jebol karena tidak sempat cutloss

Akhirnya saya coba beralih ke investasi, bermodal membaca bahan-bahan dari Teguh Hidayat, Rivan Kurniawan dan Swedish Investor. Aneh memang, analis teknikal sekuritas kok investasi? Ya memang keadaan nya tidak memungkinkan untuk saya trading.

Pembelian pun tidak sekaligus, melainkan bertahap, dari situlah saya mulai melakukan transfer uang sedikit-sedikit ke RDN. Bu Sulis dari bagian akuntansi (yang memang salah satu pekerjaan nya mencatat transfer nasabah, termasuk saya) pun tertawa.

"Biasanya aku lihat nasabah transfer satu juta, sepuluh juta, ini tiba-tiba ada yang transfer lima puluh ribu, sudah pasti si Anton nih," kata Bu Sulis.

Mau bagaimana lagi, model transfer seperti itu yang membuat saya lebih nyaman. Pertama, saya tidak merasa "kehilangan" uang dalam jumlah banyak, kedua, kalau misalkan harga sahamnya turun saya tidak begitu menyesal karena besok ada uang untuk beli lagi.

Kelemahannya? Jelas ada, untuk membeli saham-saham yang berharga lebih dari Rp500 per lembar, saya harus menunggu beberapa hari sampai uang saya terkumpul dan perlu waktu lama untuk mengumpulkan saham sampai menjadi bukit.

Yang penting nyaman, bermain saham tidak harus stres.

--
Anton Hermansyah