Tentang Saya

28 September 2021

Bank Kecil Sebaiknya Bergabung Bukan Rights Issue

Sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan ultimatum bahwa setiap bank di Indonesia harus memiliki modal inti paling sedikit Rp2 triliun di Desember 2021 dan naik ke Rp3 triliun di Desember 2022, saham-saham bank kecil mulai bergejolak, tetapi dapatkah hype ini berujung pada penambahan modal?

Tahun 2021 menjadi tahun bagi saham bank kecil, desakan OJK untuk menambah modal, bersambut dengan kebutuhan fintech yang ingin melebarkan sayapnya di dunia keuangan.

Beberapa sudah bergerak, seperti Akulaku yang hanya tinggal menunggu Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) baru BBYB. Juga SEA Group (Induk Shopee) yang mengakuisisi Bank Kesejahteraan Ekonomi menjadi Seabank, sayangnya belum go public.

Beberapa fintech lain mengambil kepemilikan terbesar kedua di bank-bank kecil seperti Gopay yang memiliki 21% saham ARTO dan Kredivo yang memiliki 24% BBSI. Mereka tidak sampai menjadi Pemegang Saham Pengendali (PSP) di bank tersebut, kemungkinan untuk menghindari keharusan tender offer.

Tetapi berapa lagi fintech yang masih berminat masuk ke dunia perbankan sedangkan ada 20-an lebih bank kecil di pasar? Ke 20-an bank tersebut jika harus memenuhi modal inti Rp3 triliun maka harus ada tambahan dana Rp27 triliun ke pasar.

Modal Inti Bank Kecil
Posisi Permodalan Bank Kecil dan Kebutuhan Tambahan Modal di TW2 2021

Jumlah yang memang sangat besar mengingat pemegang saham minoritas bank-bank kecil didominasi oleh investor ritel. Berbeda dengan bank-bank besar yang saham publiknya juga dipegang oleh pemain-pemain institusi besar baik dari dalam maupun luar negeri.

Masalahnya ada pada tingkat partisipasi investor ritel pada corporate action tersebut. Contoh pada rights issue BEKS di Januari 2021, hanya 10% dari investor ritel yang menebusnya dengan perkiraan dana terkumpul Rp300 miliar.

Sehingga tanpa dukungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten saat itu yang menyetor Rp1,55 triliun, sulit bagi BEKS jika hanya mengandalkan investor ritel semata. Jauh berbeda dengan BBRI di mana jumlah rights yang ditebus mencapai 97%.

Tanpa adanya story dan rekam jejak PSP yang bonafid, sepertinya sulit bagi bank-bank kecil untuk mengumpulkan dana yang besar dari rights issue bahkan sampai triliunan. Bisa mengumpulkan Rp400 miliar saja sudah bagus.

Tetapi OJK bukan kejam tanpa kompromi, mereka juga memberikan alternatif yaitu sistem Kelompok Usaha Bank (KUB). Berdasarkan POJK 12 Tahun 2020, suatu KUB dapat dibentuk apabila ada bank yang bertindak sebagai holding dan ada minimal satu bank di bawahnya sebagai anak perusahaan.

Meski persyaratan minimal modal inti untuk holding tetap Rp3 triliun, namun bank yang ada di bawahnya hanya perlu modal inti Rp1 triliun. Contohnya ada pada BBHI dan Bank Digital BCA yang mengekor ke induknya sehingga hanya perlu modal inti Rp1 triliun.

Sehingga alternatifnya bagi bank kecil adalah menjadi anak perusahaan dari bank-bank yang lebih besar. Nantinya ada pertukaran saham dengan sistem inbreng, sehingga owner lama bank kecil akan memiliki saham dari bank holding dengan persentase tertentu.

Atau bank-bank kecil ini melakukan merger satu sama lain. Sehingga nanti terbentuk bank gabungan yang lebih kuat.

Lebih mudah dikatakan daripada dilakukan memang. Tetapi daripada mengandalkan pasar dan investor ritel yang cenderung fluktuatif?

--
Anton Hermansyah

03 September 2021

Lapkeu Bukalapak TW2 2021 Cadangan Kas Cukup untuk Bertahan Kurang dari 2 Tahun

BUKA Laporan 1H21

Bukalapak (BUKA) akhirnya menerbitkan laporan Triwulan (TW) 2 tahun 2021 nya, selama enam bulan pertama ada beberapa perkembangan dari sisi Laporan Laba/Rugi, meskipun secara cash basis masih belum banyak perkembangan.

Perlu diingat, ini adalah keadaan sebelum IPO. Di mana tambahan dana Rp21,9 triliun baru akan dicatat pada Laporan TW 3.

Dari Laporan Laba Rugi, masih terdapat kerugian Rp767 miliar, tetapi ini sudah menciut 25,2% dibandingkan rugi Rp1 triliun di periode yang sama tahun lalu. Ini karena pendapatan yang meningkat 34,7% Year-on-Year (YoY) ke Rp863,6 miliar.

Pendapatan utama BUKA masih berasal dari segmen marketplace, namun pertumbuhan segmen ini tidak banyak. Pendapatan marketplace hanya naik 4,4% YoY ke Rp529,2 miliar.

BUKA - Pendapatan Segmen 1H21
Pendapatan Segmen BUKA 1H21

Hal yang menggembirakan adalah mulai progresifnya pendapatan dari segmen "Mitra Bukalapak" yang mulai ngebut. Pendapatan segmen ini tumbuh 349,5% YoY ke Rp289,8 miliar.

Tetapi segmen ini masih lebih besar pasak daripada tiang, karena beban segmen Mitra mencapai Rp314,9 miliar, naik 64,7% YoY dibandingkan Rp100,8 miliar di periode yang sama tahun lalu.

BUKA Beban Pokok Segmen 1H21
Beban Pokok Segmen BUKA 1H21

Dari sisi persentase, kenaikan pada beban masih lebih rendah dibandingkan dengan kenaikan pada pendapatan, jika pertumbuhannya konsisten, bisa saja tahun depan segmen Mitra sudah menguntungkan.

Meskipun berkembang secara buku, tetapi secara cash basis Bukalapak masih belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Arus Kas Operasional perseroan masih tetap negatif Rp750 miliar pada enam bulan pertama tahun ini, tidak berbeda dengan periode yang sama tahun lalu.

BUKA Arus Kas 1H21
Arus Kas BUKA 1H21

Ini artinya kas Bukalapak akan terus berkurang sebesar Rp750 miliar dalam 6 bulan atau sekitar Rp1,5 triliun per tahunnya.

Apabila keadaan arus kas ini terus berlanjut, maka cadangan kas Rp2,7 triliun hanya bisa untuk bertahan selama 1,8 tahun, atau jika kita konversi ke format 12 bulan, maka kita akan mendapatkan angka 1 tahun 10 bulan.

Meskipun saat ini sudah ada tambahan "nyawa" Rp21 triliun (yang cukup untuk 14 tahun) semoga memang ada terobosan dari manajemen dalam hal arus kas ini dalam jangka waktu tersebut. Sehingga menambah keyakinan investor untuk hold saham Bukalapak.

--
Anton Hermansyah

30 Agustus 2021

Mengurangi Uang Orang Kaya Cara Tiongkok Menghindari Krisis

Redistribusi Pendapatan Tiongkok

Tidak boleh terlalu kaya di Tiongkok, tema berita-berita ekonomi terakhir saat ini, Presiden Xi Jinping memang berencana melakukan Redistribusi Kekayaan, mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk "memberi" lebih ke masyarakat, demi menghindari risiko ekonomi yang lebih besar.

Wang Jun, Ekonom dari China Center for International Economic Exchanges mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi mengakibatkan konsumsi menjadi stagnan. Sehingga urgensi saat ini adalah untuk meningkatkan pendapatan orang-orang dan fokus pada distribusi pendapatan yang adil.

Tidak usah jauh-jauh untuk membuktikan perkataan Wang, di Indonesia dalam keadaan pandemi saat ini, kalangan menengah ke atas bertahan dengan baik, bahkan ada yang tambah kaya. Sebaliknya kaum menengah ke bawah kesulitan untuk memutar ekonominya, padahal golongan ini populasinya paling besar.

Bukan keadaan yang baik, karena uang menggelembung di atas dan (hampir) tidak ada yang berputar di sektor riil, yang digerakkan oleh golongan menengah ke bawah. Salah-salah gelembung ini pecah, maka akan berpotensi untuk krisis ekonomi.

Krisis Sebetulnya Baik?

Sebetulnya pecahnya gelembung dan krisis ekonomi adalah hal alami di negara-negara dengan mekanisme pasar murni untuk redistribusi pendapatan. Di balik penderitaan krisis akan menumbuhkan perusahaan rising star baru yang lebih kuat, serta memudahkan investor untuk membedakan mana perusahaan bagus dan mana yang jelek.

Krisis ekonomi 1998 adalah momentum awal Chairul Tanjung untuk menjadi salah satu orang terkaya di negeri ini. Bahkan Presiden Joko "Jokowi" Widodo pun bisa jadi tidak akan di tempat seperti saat ini kalau usaha ekspor mebel nya tidak maju pesat setelah krisis.

Tetapi di negara-negara Asia, di mana kebanyakan bisnis-bisnis besar mempunyai koneksi kuat dengan pemerintah, jatuhnya ekonomi akan berisiko pada jatuhnya rezim. Wajar bagi pemerintah setempat untuk mencari solusi yang "Soft Landing".

Alternatif Meningkatkan Konsumsi

Selain Redistribusi Kekayaan, meningkatkan konsumsi masyarakat yang sebelumnya lesu dapat dilakukan dengan cara mencetak uang yang banyak, lalu diberikan kepada masyarakat. Hal ini dikenal dengan istilah "Helicopter Money".

Tetapi sejarah mengatakan bahwa Helicopter Money dapat berujung hiperinflasi dan turun nya nilai mata uang. Hal ini pernah terjadi di Perancis tahun 1795 dan Jepang pada tahun 1881 dan sejumlah negara lainnya termasuk Zimbabwe.

Sudah banyak proposal untuk menggunakan Helicopter Money untuk mengatasi kelesuan ekonomi, terutama setelah krisis finansial 2008. Namun sampai saat ini tidak ada satu pun bank sentral di dunia yang mau melaksanakan.

Sehingga saat ini yang paling umum digunakan adalah Quantitative Easing (QE) di mana pemerintah mencetak utang lalu dibeli oleh Bank Sentral menggunakan cadangan devisa yang ada, bukan uang yang dicetak baru. QE lebih aman, tetapi perlu waktu lebih lama karena ada beberapa kali "tektok" sampai dana segar bisa dikonversi menjadi stimulus.

Jeleknya QE, seringkali dalam implentasinya, uang bantuan tadi sebagian besar tidak bisa "menjamah" kelas menengah bawah. Seringkali "nyangkut di atas" untuk bail out perusahaan-perusahaan yang nyaris bangkrut, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang justru ujungnya perusahaan ini akhirnya jadi "zombie", hidup untuk bayar utang.

Redistribusi Kekayaan di Masa Lalu

Kembali ke Redistribusi Kekayaan, sebetulnya ini juga bukan barang baru sebetulnya, hanya saja di jaman dahulu bentuknya lebih kepada Reformasi Lahan.

Penelitian-penelitian seperti Gersbarch dan Siemers (2010); Aghion, Caroli, dan Garcia-Penalosa (1999); dan Maertens, Deininger, dan Olinto (2000) menunjukkan bahwa redistribusi lahan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Tetapi

Jepang pernah melakukannya tahun 1946-1950, pemerintah membeli lahan dari tuan-tuan tanah, lalu membagikannya kepada para petani pengolah. Reformasi ini dinilai sebagai salah satu yang paling sukses dalam sejarah, meskipun kemajuan bidang pertanian di Jepang lebih banyak dimotori oleh penerapan teknologi bukan dari pembagian tanah tersebut.

Bagaimana dengan Tiongkok? Pada 1946-1953 di saat Mao Zedong menjabat Ketua Partai Komunis, Tiongkok melakukan reformasi lahan. Tetapi memang berakhir brutal, karena banyak tuan tanah menjadi korban pembunuhan kelas petani, sekitar dua juta orang terbunuh, dan banyak sejarawan menyimpulkan bahwa ini hal yang disengaja oleh partai agar kelas petani dapat naik menjadi kelas menengah.

Bagaimana nantinya Redistribusi Kekayaan Tiongkok di era moderen akan terwujud? Masih harus dibuktikan oleh waktu, apabila sukses mungkin akan ditiru negara lain sebagai formula pencegah krisis.

Referensi

Aghion, P., Caroli, E., & Garcia-Penalosa, C. (1999). Inequality and economic growth: the perspective of the new growth theories. Journal of Economic literature, 37(4), 1615-1660.

Azadi, H., & Vanhaute, E. (2019). Mutual effects of land distribution and economic development: evidence from Asia, Africa, and Latin America. Land, 8(6), 96.

Gersbach, H., & Siemers, L. H. (2010). Land reforms and economic development. Macroeconomic Dynamics, 14(4), 527-547.

Maertens, M., Deininger, K., & Olinto, P. (2000). Redistribution, investment, and human capital accumulation: The Case of Agrarian Reform in the Philippines. In Annual Bank Conference on Development Economics, Date: 2000/01/01-2000/01/01, Location: Twhe World Bank, Wasington DC.

25 Agustus 2021

Bank Digital Itu Soal Ekosistem Bukan Lagi Fitur

Saat ini investor memburu saham-saham bank digital, baik yang sudah "resmi digital" atau baru mau dikonversi, mulai dari ARTO, BANK, BBHI sampai BBSI, tapi apakah bank-bank penantang ini akan survive?

Bank digital memang sedang naik daun. Bahkan sales senior di kantor menghubungi saya dan berkata bahwa nasabahnya berniat cutloss di saham UNVR dan menukarnya dengan saham bank-bank digital.

Contoh kisah sukses bank digital adalah Kakao Bank di Korea Selatan. Bank ini berdiri pada 2017 setelah pemerintah mengeluarkan ijin operasi bagi bank digital untuk beroperasi.

Pertumbuhan nya impresif, mencapai satu juta nasabah di tahun pertamanya dan di Mei 2021 sudah ada 16,5 juta nasabah, ini sudah sepertiga penduduk Korea yang total populasi nya di angka 50 juta. Padahal pesaingnya, K Bank, yang sama-sama diluncurkan tahun 2017, "hanya" mempunyai jumlah nasabah 5,4 juta di April 2021.

Kakao Bank memang membawa bendera Kakao Talk, aplikasi messaging terbesar di Korea Selatan, tahun lalu sudah ada 33 juta pengguna di Negeri Ginseng saja.

Tampilan antarmuka yang menyerupai Kakao Talk, kemudahan mengirim uang ke sesama pengguna, fitur patungan antar-nasabah, juga kartu-kartu keluaran Kakao Bank yang menggunakan maskot-maskot lucu aplikasi messaging tersebut adalah faktor penarik bagi nasabah.

Dengan sistem digital tanpa cabang, biaya operasional jadi lebih murah, Kakao Bank dapat menawarkan bunga tabungan lebih tinggi tanpa harus mengorbankan Net Interest Margin(NIM). Tahun 2020, NIM Kakao Bank ada di 1,5% setara dengan bank-bank besar di sana seperti Kookmin, Woori dan Shinhan, di Kuartal 1 tahun 2021 angka ini meningkat lagi ke 1,8%.

Dibandingkan dengan bank di Indonesia yang NIM nya ada di level 5-6% tentu terlihat kecil. Tapi untuk Korea, level 1,5% sudah dianggap sehat.

Jika suku bunga tabungan dan fitur aplikasi merupakan faktor penarik untuk orang menabung di bank digital, bagaimana dengan kemampuan "mencari uang" nya?

Umumnya penghasilan utama bank didapatkan dengan "memutar" Dana Pihak Ketiga (DPK) mereka menjadi pinjaman kepada yang membutuhkan dana atau umumnya disebut "kreditur".

Secara tradisional, kreditur ini dibagi dua, "Korporat" yang berbentuk badan usaha dan "Ritel" yang merupakan perseorangan. Kreditur Korporat meminjam dalam jumlah besar dan dengan bunga yang relatif lebih rendah, sementara Kreditur Ritel meminjam dengan jumlah sedikit tapi biasanya bunganya lebih tinggi.

Bank digital di Korea Selatan murni fokus pada Kreditur Ritel, selama lebih dari 3 tahun beroperasi, Kakao Bank sudah memegang 6% pasar Kredit Tanpa Agunan (KTA) di Korea Selatan.

Kredit Ritel di Negeri K-Pop adalah pasar yang besar, sudah rentan meledak malah, karena pada akhir 2020, angka Utang Rumah Tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah ada di level 103,8%. Indonesia? Masih sangat rendah, di 17,8%.

Meskipun banyak orang yang mengambil pinjaman, tetapi tidak banyak kredit yang bermasalah. Non Performing Loans (NPL) di Korea ajek di angka 0,5%, sebaliknya Indonesia terus naik ke 3,2% setelah pandemi, padahal di Desember 2019 hanya sebesar 2,5%.

Kemungkinan tingkat suku bunga yang rendah di Korea Selatan (rata-rata 2,8% untuk Kredit Ritel) yang menunjang rendahnya NPL tersebut. Karena biaya bunga tidak berat, maka kreditur lebih memilih untuk melunasi utangnya dibandingkan dengan mangkir atau mempailitkan diri.

Bagaimana cara bank-bank digital untuk tetap "menagih" uang kreditnya mengingat "kepatuhan" kreditur yang berbeda dengan di Korea? Strategi belakangan ini adalah menempatkan bank ke dalam bagian ekosistem besar di mana nasabah tidak perlu "keluar" untuk mencukupi kebutuhannya.

Unsur pertama ekosistem ini adalah "Job Market", tempat di mana orang-orang mendapatkan penghasilan, kemudian "Tempat Kebutuhan Hidup" agar orang bisa langsung berbelanja memenuhi kebutuhan hidupnya dengan uang yang dihasilkan. Ketiga adalah "Tempat Investasi" agar orang-orang bisa memasukkan kelebihan uang yang mereka miliki untuk mendapat imbal hasil yang lebih besar dari deposito.

Bank akan diposisikan sebagai "tempat uang lewat" dan penyedia kredit apabila orang-orang di dalam ekosistem tersebut perlu untuk membeli sesuatu yang besar. Pembayarannya nanti tinggal potong pendapatan yang dihasilkan dari Job Market tersebut sehingga mengurangi risiko tidak tertagih.

Ekosistem Bank Digital
Ekosistem Bank Digital

Sejauh ini memang terlihat ARTO masih unggul dari segi kelengkapan ekosistem. BINA (yang kalau memang benar akan masuk ke dalam skema kongsi Salim-Emtek-Grab) akan menjadi penantang kuat, karena grup ini sebetulnya punya "amunisi" yang lengkap.

Belum ada pergerakan lagi dari AGRO, tetapi mengingat jaringan BBRI yang kuat di daerah-daerah (ditambah dengan PNM dan Pegadaian), kemungkinan bank ini akan mempunyai jangkauan paling luas di antara bank digital lainnya.

--
Anton Hermansyah

29 Juli 2021

Pandemi dan Deflasi yang Membuat Investor Tidak Rasional

Bunga Tulip
Bunga Tulip, foto oleh: Catia Climovich (unsplash.com)

Meskipun saya beberapa kali bilang harga saham-saham teknologi maupun yang berbalut teknologi seperti DCII, EDGE, ARTO dan juga yang akan IPO seperti BUKA tidak rasional, tetapi saya tidak bisa bilang harganya akan turun ke nilai wajarnya dalam waktu dekat, penyebabnya adalah deflasi yang dikombinasikan dengan pandemi.

Deflasi adalah penurunan harga barang-barang, tidak hanya satu atau dua barang (kalau itu namanya flash sale) tetapi hampir semua barang secara keseluruhan. Ini merupakan kebalikan dari inflasi, di mana harga barang naik terus menerus.

Sebagai negara berkembang, Indonesia lebih akrab dengan inflasi. Bahkan seringkali hal ini di persepsikan sebagai jahat, uang kita "termakan" terus daya belinya setiap tahunnya.

Karena inflasi digambarkan sebagai jahat, maka saya pun sejak dulu menganggap deflasi itu baik, sampai saya merasakannya sendiri di era Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Ternyata deflasi pun juga jahat, dengan cara yang berbeda.

Kenyataan nya, tidak ada orang yang mau menjual dengan harga lebih murah kecuali sedang BU (butuh uang), dan apabila banyak orang tiba-tiba dalam keadaan BU, maka lahirlah deflasi.

Penjualan aset ini justru dimulai dari kelas menengah atas, mereka menjual aset yang tidak terlalu penting, rumah yang tidak ditinggali, mobil, sampai moge. Tujuannya untuk menyelamatkan uang juga mempertahankan usaha dari kelesuan ekonomi.

Dari data perbankan dapat terlihat Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus-menerus meningkat dengan kecepatan tinggi. Sebaliknya, Kredit Perbankan turun secara konstan dalam beberapa waktu.

Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020
Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020 (Sumber OJK, diolah)

Kenapa Deflasi Malah Membuat Bubble Baru?

Jika merunut kasus Lost Decades di Jepang, sejatinya Deflasi akan membuat harga-harga "kembali" ke normal. Tetapi kenapa kali ini malah membuat beberapa instrumen investasi naik tinggi?

Karena deflasi kali ini dikombinasikan dengan pandemi.

Pandemi membatasi konsumsi segala kalangan baik miskin maupun kaya dengan cara yang unik. Orang-orang miskin kehilangan penghasilan, sementara orang-orang kaya, meski masih mempunyai uang tetapi tidak bisa mengkonsumsi, pusat perbelanjaan sampai tempat wisata ditutup.

Uang yang terlalu berlimpah tersebut akhirnya tidak bisa dibelanjakan. Di satu sisi ekonomi riil sedang tidak berjalan, maka harga aset riil pun tidak segera rebound, apabila di investasikan ke properti misalkan, belum tentu harganya akan naik.

Sehingga paper asset lah yang menjadi sarana untuk spekulasi, apapun yang naik dikejar, saham, forex, sampai crypto.

Institusi keuangan seperti bank dan aset manajemen pun kebingungan karena uang yang berlimpah, sedangkan mereka harus memberikan return kepada nasabahnya.

Jadilah semuanya berbondong-bondong menciptakan bubble dari satu aset ke aset lainnya. Laporan keuangan, valuasi tidak lagi menjadi penting, yang penting di mana uang berputar di situ investor berada.

When I see a bubble forming, I rush to buy, adding fuel to the fire
--
George Soros

Bubble Aset Covid dan Tulip Mania

Gejala bubble saat pandemi ini seperti deja vu ke tahun 1637 di Negeri Belanda, saat harga tulip mencapai puncaknya dan crash akibat spekulasi di pasar berjangka. Kejadian ini dikenal dengan nama "Tulip Mania".

Harga tulip termahal saat itu dapat mencapai 5.000 Gulden. Uang sebesar itu dapat membayar rumah dengan harga tunai.

Pada saat itu, Belanda menjadi negeri yang makmur karena perdagangan rempah-rempah di Eropa. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah 30 tahun lebih berdiri, telah menguasai pusat produksi di Indonesia.

Mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2020, saat itu sedang ada wabah pes (bubonic plague) yang menyebabkan kematian. Orang-orang tiba-tiba mendapatkan warisan dari kerabatnya, sehingga mereka punya "kelebihan uang" untuk belanja tulip (Goldgar, 2008).

Setelah crash apakah terjadi krisis ekonomi? Ternyata tidak, bahkan tidak terdengar cerita orang-orang yang bunuh diri karena bangkrut.

Karena yang "bermain" pada saat itu adalah orang-orang kaya dan mereka "hanya" mempertaruhkan sebagian kecil harta mereka dalam spekulasi Tulip Mania. Sehingga biarpun kehilangan uang, itu bukan masalah bagi mereka.

Begitupun Anthoni Salim, saat membeli 11,1% saham DCII senilai Rp3,6 triliun (dihitung dari harga per saham saat transaksi 31 Mei 2021 di 13750). Uang itu hanyalah 4,2% dari total kekayaan nya yang di estimasi Forbes senilai AS$5,9 miliar (sekitar Rp85,4 triliun).

Siapa yang rentan bangkrut di sini? Investor-investor FOMO yang rela mempertaruhkan seluruh hartanya untuk mengikuti "permainan orang kaya" ini.

--
Anton Hermansyah

Referensi

Goldgar, A. (2008). Tulipmania. University of Chicago Press.

18 Juli 2021

Hal yang Melegakan dan Mengkhawatirkan di IPO Bukalapak

IPO Bukalapak (BUKA) semakin dekat, jika tidak ada kendala maka pada akhir Juli 2021 sudah bisa melakukan pemesanan, banyak investor yang langsung berminat tetapi ada juga yang masih meragukan apakah saham ini akan berhasil.

Apakah IPO ini exit strategy?

Sejauh yang saya baca dari prospektus, 25 miliyar lembar saham BUKA yang dijual pada IPO ini adalah saham-saham baru. Jadi bukan saham existing milik pemegang saham lama.

Seharusnya pemegang saham lama pun akan dilarang untuk menjual sahamnya alias di lock-up selama delapan bulan. Karena dalam setahun sebelum IPO masih ada transaksi jual-beli saham yaitu penerbitan saham Seri G kepada Naver Corp sebesar AS$10 juta pada bulan Mei 2021.

Pada halaman 39 prospektus awal, kita dapat menemukan bahwa dari 55 pemegang saham, ada 32 pemegang saham yang wajib lock-up. Namun ada tambahan 22 pemegang saham yang bersedia untuk melakukan lock-up sukarela.

Sehingga hanya tersisa satu pemegang saham lama yang dapat menjual sahamnya langsung setelah BUKA melantai, yaitu RDPT Batavia Sektoral 1. Reksa Dana ini memiliki 636,7 juta lembar atau sekitar 0,8% dari jumlah saham beredar saat ini di 77,3 miliar lembar.

Kemanakah dana IPO akan digunakan?

IPO bisa menjadi bencana bagi investor publik apabila dana hasil penawaran digunakan untuk membeli aset yang sejatinya masih milik Pemegang Saham Pengendali (PSP) atau masih terafiliasi. Wujudnya bisa berupa aset tetap seperti tanah dan bangunan atau saham di perusahaan lain milik PSP.

Tentunya harga aset ini sudah di mark up sehingga PSP dapat mengeruk keuntungan yang besar.

Di prospektus, BUKA menyatakan 66% dari dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja. Sisanya sebanyak 34% akan digunakan untuk tambahan modal enam anak usahanya.

Sejauh ini dari yang Saya baca, penambahan modal bagi anak-anak usaha tersebut bukan merupakan pembelian kepemilikan dari PSP.

Apakah operasional perusahaan efisien?

Jika melihat Laporan Laba Rugi, Bukalapak memang berhasil mengurangi beban secara signifikan, terutama dari Beban Pemasaran. Tetapi secara Cash-Basis masih mengkhawatirkan.

Laporan Arus Kas Bukalapak
Laporan Arus Kas Bukalapak (Sumber: Prospektus Ringas)

Akun Arus Kas bernama "Pembayaran Kas Kepada Pemasok dan Karyawan" sangat menonjol. Arus Kas Keluar ini bahkan 10 kali lipat lebih besar dari Arus Kas Masuk lainnya.

Hal ini membuat kas Bukalapak selalu defisit apabila hanya mengandalkan operasional. Untuk membuat kas positif kembali setiap tahunnya, perusahaan harus terus disuntik modal, terlihat di akun "Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan".

Bicara soal gaji, memang terlihat Bukalapak sangat royal. Artikel Kontan berjudul "Fantastis, Gaji Direksi Bukalapak Dua Kali Lipat Gaji Direksi Bank BUKU III" menunjukkan bahwa gaji petinggi BUKA lebih tinggi daripada gaji di perusahaan yang setara kapitalisasi pasarnya, dalam hal ini Bank Syariah Indonesia (BRIS).

Bukalapak pun masih melakukan outsource untuk beberapa fasilitas strategis seperti BukaGudang yang bekerjasama dengan PT IDCommerce dan PT Duta Daya Digital (Crewdible). Tidak seperti Shopee yang mempunyai gudang sendiri.

Untuk sistem cloud pun, BUKA menyerahkannya kepada Naver Corp dan "dibayar" dengan Saham Seri G senilai $10 juta. Belum ada keterangan kontrak cloud ini untuk berapa tahun, sehingga bisa saja nanti di "tengah jalan" akan ada biaya yang muncul dari pembaruan kontrak.

Apakah harga IPO nya wajar?

Kata "wajar" di sini memang subjektif, tergantung "mazhab" masing-masing investor. Tetapi paling tidak kita harus melakukan studi kasus dengan perusahaan sejenis.

Saat ini, Ekuitas BUKA ada di Rp1,7 triliun dan jumlah saham beredar sebanyak 77,3 miliar lembar. Sehingga Book Value per Share (BVPS) nya ada di Rp22,1 per lembar.

Harga IPO Bukalapak ditargetkan pada rentang Rp750 sampai Rp850 per lembar. Sehingga apabila kita ambil harga tengah Rp800, maka akan membuat Price-to-Book Value (PBV) nya di level 36,2x.

PBV Historis Amazon
PBV Historis Amazon (Sumber: Google, GuruFocus.com)

Sebagai perbandingan, Amazon, e-commerce terbesar di dunia, pun tidak pernah mencapai PBV setinggi itu. Dalam 13 tahun terakhir, PBV tertinggi AMZN adalah 28,0x.

PBV Historis Coupang
PBV Historis Coupang (Sumber: Google, ycharts.com)

Contoh yang terkini adalah Coupang, e-commerce dengan pangsa pasar terbesar di Korea Selatan ini baru melakukan IPO di Amerika Serikat (AS) bulan Maret 2021. PBV tertinggi CPNG sejauh ini adalah 26,1x.

Pergerakan Saham Coupang
Pergerakan Saham Coupang (Sumber: TradingView)

Itu pun hanya dicapai di hari pertama, karena setelah itu harga saham CPNG turun terus sampai mencapai titik terendah di $30,7 per lembar pada 13 Mei 2021. Sekarang sudah rebound ke $40,2 per lembar tetapi masih lebih rendah 36% dibandingkan harga IPO di $63,5 per lembar.

Saat ini Coupang diperdagangkan dengan PBV 21,3x, sementara PBV Amazon saat ini ada di level 17,4x. Apabila kita mau "realistis" dengan ambil PBV 20x maka seharusnya saham BUKA ada di harga Rp440 per lembar.

E-Commerce Terbesar Indonesia Berdasarkan Trafik
E-Commerce Terbesar Indonesia Berdasarkan Trafik (Sumber: Statista)

Baik Amazon maupun Coupang adalah raja e-commerce di negaranya masing-masing. Apakah Bukalapak dengan status sebagai tiga besar layak dihargai jauh lebih mahal?

Demikian, semoga bisa menjadi pertimbangan baik untuk diri Saya sendiri maupun investor lain.

Disclaimer: Saya sedang dalam proses untuk membeli IPO BUKA dalam porsi kecil, tidak sampai 5% dari Total Portofolio

--
Anton Hermansyah

09 Juli 2021

Tradisionalis vs Futuris di IPO Bukalapak

Presentasi Mitra Bukalapak
Presentasi Mitra Bukalapak di Mini Public Expose

Menjelang target Initial Public Offering (IPO) di akhir Agustus, Bukalapak (BUKA) pun makin terbuka, investor pun sudah bisa mendapatkan prospektus ringkas dan laporan keuangan terakhir, debat pun mulai bermunculan antara investor tradisional yang menganggap harga sudah terlalu mahal, melawan investor futuris yang menganggap bahwa cara menilai perusahan tradisional sudah kuno.

Dalam prospektus ringkasnya, Bukalapak pada Triwulan-I 2021 mempunyai Total Aset Rp2,75 triliun, yang terdiri dari Total Liabilitas Rp1,05 triliun dan Total Ekuitas Rp1,71 triliun. Untuk operasional, Bukalapak mempunyai Pendapatan Rp423,7 miliar dan Rugi Bersih Rp319,7 miliar selama tiga bulan pertama tahun ini.

Bagaimana dengan arus kas? Selama Triwulan-I 2021, Arus Kas Operasional masih negatif sebesar Rp259,2 miliar. Perusahaan masih mengandalkan setoran modal (yang masuk dalam Arus Kas Pendanaan) untuk menjaga kas nya tetap hijau, selama tiga bulan awal, BUKA masih mendapatkan setoran modal Rp418,1 miliar.

Berlanjut ke rasio keuangan, Debt to Equity Ratio BUKA di Triwulan-I 2021 ada di 61,4%, karena berbeda dengan perusahaan tradisional yang dibesarkan dengan menggunakan utang, startup dibesarkan melalui putaran pendanaan berseri. Untuk Return on Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) masih negatif karena rugi bersih, tetapi Gross Profit Margin (GPM) sangat tinggi di 81,0% karena memang ini adalah perusahaan dagang, bukan manufaktur.

Lalu apa yang menyebabkan BUKA masih rugi? Ada satu akun yang paling menonjol di Laporan Arus Kas yaitu "Pembayaran Kas Kepada Pemasok dan Karyawan", yang pada tiga bulan pertama tahun 2021 saja mencapai Rp1 triliun. Apabila disetahunkan, berarti akan mencapai Rp4 triliun.

Dalam laporan keuangan, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai akun ini, sehingga saya hanya bisa berasumsi bahwa uangnya banyak digunakan untuk membayar gaji dan "mensubsidi" para "Pelapak" (begitu cara Bukalapak menyebut merchant mereka) terutama dalam festival belanja.

Yang memicu perdebatan adalah rasio harga, Bukalapak akan menjual 25% kepemilikan atau sebanyak 25,8 miliar lembar saham baru ke publik, artinya jumlah saham beredar akan sebanyak 103,1 miliar lembar setelah IPO. Artinya saat ini jumlah saham beredar sebelum IPO ini sebesar 103,1 miliar dikurangi 25,8 miliar yaitu sebesar 77,3 miliar lembar.

Apabila jumlah saham beredar ini kita gunakan untuk membagi Total Ekuitas, maka kita akan mendapatkan Book Value per Share (BVPS) sebesar Rp22,1 per lembar.

Angka Rp22,1 per lembar ini jauh lebih kecil daripada nilai dasar saham baru yang akan diterbitkan dalam IPO yaitu sebesar Rp50 per lembar. Artinya pemilik lama pun bila harga turun ke gocap masih bisa untung dua kali lipat.

Bukalapak menargetkan IPO bisa terjual dengan harga Rp750 sampai Rp850 per lembarnya, apabila kita mengambil harga tengah, yaitu Rp800 per lembar, maka pemilik lama dapat menjual sahamnya dengan Price-to-Book Value (PBV) fantastis di 36,2x!

(Meskipun nanti setelah IPO ekuitas akan bertambah gila-gilaan sebesar Rp20,6 triliun menjadi Rp22,3 triliun, dan dibagi dengan jumlah saham beredar 103,1 miliar lembar maka BVPS akan meningkat menjadi Rp216,4. Otomatis PBV BUKA akan menjadi "normal" ke 3,7x setelah IPO.)

PBV 36,2x memang merupakan angka yang fantastis dibandingkan saham teknologi yang lain seperti EDGE (15,9x), WIFI (4,8x), KIOS (12,2x), kecuali DCII yang PBV nya sudah selangit di 153,2x.

Lagi-lagi terjadi debat antara kaum tradisionalis dan futuris. Tradisionalis melihat secara logika, harga sudah terlalu mahal, PBV 10x saja sudah terlalu mahal untuk perusahaan di Indonesia. sementara futuris melihat bahwa harga ini wajar mengingat potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Kaum futuris pun berargumen bahwa nantinya apabila Bukalapak berhasil survive dan mengalahkan pesaingnya, maka pertumbuhan akan menjadi semakin pesat dan untung akan datang dengan sendirinya karena sudah tidak perlu "bakar uang".

Apabila melihat fitur, Bukalapak memang mempunyai fitur paling lengkap di Indonesia, selain e-dagang, pembayaran tagihan dan investasi, mereka juga sedang mengembangkan proyek warung digital bernama "Mitra Bukalapak" yang diunggulkan direksi menjadi sumber pertumbuhan selanjutnya.

Pada tahun 2020, kontribusi Mitra Bukalapak ini "baru" 14,7% terhadap total pendapatan, tetapi memang sudah bertumbuh dua kali lipat dibandingkan 2019.

Dengan berlarut-larutnya Pandemi Covid-19, justru menjadi saat yang tepat bagi perusahaan teknologi, apalagi dengan aturan minimalisir kontak, malah membuat transformasi digital semakin cepat. Ini merupakan stori yang tepat bagi pemegang saham BUKA untuk menjual saham mereka dengan harga mahal.

--
Anton Hermansyah

20 Juni 2021

Average Down atau Average Up?

Di saat pasar sedang turun biasanya banyak investor baru yang panik bertanya di forum dan jawaban yang paling sering keluar dari yang "lebih senior" adalah, "average down saja, tambah muatan", yang ternyata saat di praktekkan tidak semudah yang dikira karena melibatkan perhitungan dan mental.

Salah satu nasabah saya setiap bulan pasti bertanya, "apakah sekarang saat yang tepat untuk average down PTPP?". Karena dia tahu saya juga punya saham yang sama, beban saya pun seakan menjadi ganda, harus mencari strategi untuk diri sendiri dan nasabah.

Selain average down ada strategi lain bernama average up, yaitu menambah muatan saat harga sedang naik. Teknik average up dapat dilakukan selama harga masih ada di bawah valuasi kita.

Beberapa investor senior menyebut average up lebih "aman", dan memang, seringkali saya bermasalah saat melakukan average down terutama soal mental.

Saat harga sedang turun seringkali saya terjebak perasaan ingin segera membeli untuk memperkecil floating loss secepat mungkin dan was-was kalau-kalau "periode diskon" ini tidak berlangsung lama nantinya. Akibatnya, karena terlalu cepat average down, esoknya harga masih turun, malah lebih dalam dibanding hari saat saya tambah muatan.

Saya pernah tidak bisa mengendalikan "nafsu" tersebut, terus saja membeli apabila harga turun. Akibatnya saya kehabisan kas padahal esoknya harga masih terus turun.

Pada akhirnya kita harus sama sabarnya baik dalam menunggu harga turun maupun menunggu harga naik.

Kapan?

Saat floating gain sudah berubah menjadi floating loss tentunya kita akan mulai gatal untuk segera menambah muatan. Seharusnya memang tidak usah terburu-buru, Pak Teguh Hidayat dalam artikelnya menyarankan untuk melakukan factchecking terlebih dulu.

Hal yang harus di cek adalah situasi makroekonomi dan berita dari emiten itu sendiri. Apabila makroekonomi memburuk tetapi fundamental emiten masih baik artinya kita bisa tambah muatan, sebaliknya jika makroekonomi masih baik tetapi fundamental emiten memburuk, maka justru kita harus bersiap untuk cutloss.

Sialnya, saat ini kita dihadapkan dengan kondisi makroekonomi yang super galau, yang bahkan membuat gubernur-gubernur bank sentral bingung harus mengambil kebijakan apa. Sedikit kelengahan dalam prosedur kesehatan dampaknya akan berantai, naiknya kasus Covid-19, perlambatan pemulihan ekonomi, stimulus yang harus diperpanjang, bertambahnya defisit anggaran, hingga kenaikan pajak yang ujungnya melemahkan daya beli ke depan.

Perlambatan pemulihan ekonomi dan pelemahan daya beli ini pun ujungnya akan memukul fundamental emiten, yang sayangnya kinerjanya baru bisa kita lihat paling cepat sebulan setelah berakhirnya kuartal.

Untuk yang tidak mengerti makroekonomi bagaimana? Alternatifnya bisa dengan melakukan analisis teknikal pada chart IHSG dan indeks-indeks negara lainnya seperti S&P 500 untuk menentukan keseluruhan pasar sedang bullish atau bearish.

Saat floating loss sudah berapa kita baru mulai lakukan average down? Dari artikel Pak Teguh, saya melihat bahwa saat floating loss sudah sekitar 10%-20% adalah saat kita sudah mulai evaluasi baik untuk average down maupun cutloss.

Bagaimana?

Melakukan average up atau average down paling baik memang dengan cara mencicil. Pembelian bisa dibagi menjadi tiga atau lima kali sesuai kebutuhan, tentunya besaran tambahan muatan harus memperhatikan bobot saham di portofolio setelah pembelian.

Misalkan portofolio Rp100 juta dengan isi delapan saham dan 20% persen kas, maka rata-rata porsi per saham dalam portofolio adalah Rp10 juta per saham atau 10%. Kemudian salah satu saham harganya turun dan akan dilakukan average down dengan kas yang ada, maka usahakan porsi akhirnya di portoflolio maksimal berkisar di 15% sampai 20% atau bertambah sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta.

Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging
Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging

Sebetulnya portofolio tidak harus mempunyai bobot per saham yang serupa, tetapi bobot yang terlalu besar pada saham yang sedang lagging akan berdampak pada pertumbuhan portofolio kita secara keseluruhan.

Nantinya jika saham hasil penambahan muatan tersebut sudah naik dan menghasilkan floating gain yang cukup, porsinya dapat di kembalikan menjadi 10%. Bonusnya adalah kita punya lebih banyak kas setelah penjualan.

Bagaimana dengan orang yang sistemnya menabung saham dan selalu top up RDN per bulan? Kondisi ini artinya akan selalu ada tambahan kas per bulan, teknik awalnya mirip, yaitu dengan bobot penambahan maksimal 10 poin persentase terhadap portofolio.

Untuk normalisasi bisa dengan dua cara, dengan menjual saham apabila sudah naik cukup seperti yang sudah sebelumnya dijelaskan atau dengan cara kedua, yaitu dengan menambah bobot saham lainnya agar bobot rata-rata kembali ke 10% per saham.

Kemungkinan dalam jangka menengah bahkan sampai setahun lebih kita masih akan menghadapi situasi makroekonomi yang banyak ketidakpastian. Semoga teknik average up dan average down ini membantu kita untuk bertahan.

--
Anton Hermansyah

14 Juni 2021

Nama Reksadana di Indonesia Indah Dilihat tapi Tidak Bermakna

Contoh Nama Reksadana Saham
Contoh Nama Reksadana Saham (sumber: Bareksa)

Nama reksadana di Indonesia, terutama reksadana saham, seperti nama anak-anak kekinian, indah, terlihat keren, tetapi sayangnya tidak bermakna apa-apa berbeda dengan di luar negeri yang mencerminkan strateginya.

Saat saya pertama kali menjadi investor reksadana tahun 2011, saya menghadapi bermacam nama, mulai dari "Berkembang", "Atraktif", "Maksima", "Prestasi", juga nama-nama dari pewayangan dan bunga. Saya harus pilih satu, waktu itu reksadana masih belum se-"receh" sekarang, minimal pembelian awal Rp3 juta.

Bagaimana cara memilihnya? Ya pilih yang menang penghargaan "Reksadana Saham Terbaik". Setelah itu saya kirim surel ke manajer investasinya, minta dikirimkan formulir, setelah isi dan kirim balik via pos, saya harus melakukan transfer ke bank kustodian, bukti nya di scan, kirim via surel.

Begitulah cara investasi reksadana 10 tahun yang lalu.

Kembali ke cara memilih, sampai saat ini penghargaan dan juga artikel yang mengulas tentang "reksadana terbaik tahun ini" masih menjadi acuan investor untuk membeli reksadana. Tetapi apabila kita membuka situs luar negeri tentang "the best mutual fund", ternyata sistem kategori nya lebih "ruwet".

Berbeda dengan di Indonesia yang hanya mengkategorikan berdasarkan jenis asetnya yaitu "Saham", "Pendapatan Tetap", "Pasar Uang", dan "Campuran", reksadana di luar negeri mempunyai sub-kategori seperti "Large Cap", "Mid Cap", "Value" dan "Growth".

Kategorisasi Reksadana di AS
Kategorisasi Reksadana di AS (sumber: usnews.com)

Dari sinilah saya mulai mengenal ternyata dalam kategori aset yang sama pun ada bermacam-macam strategi penempatan. Saya akan coba bahas beberapa yang umum.

Small Cap, Mid Cap, Large Cap

Di sini alokasi aset dibagi berdasarkan kapitalisasi pasar. Reksadana yang mengaku sebagai "Large Cap" akan menempatkan dananya di saham-saham berkapitalisasi besar alias blue chip, sementara Reksadanana "Small Cap" akan berisikan saham-saham kecil.

Masing-masing ada keuntungan dan kekurangannya, saham-saham besar tentunya relatif lebih lambat pergerakannya tetapi lebih stabil di saat krisis. Sebaliknya saham-saham kecil naiknya cepat tetapi jika bearish penurunannya jauh lebih dalam dibanding pasar.

Value dan Growth

Saham yang tergolong "Value" adalah saham-saham yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan fundamentalnya. Sedangkan saham "Growth" adalah emiten yang usaha nya sedang tumbuh pesat-pesatnya baik penjualan maupun laba bersih, sehingga sahamnya "naik daun" dan menjadi incaran setiap orang tetapi harganya belum tentu murah.

Selama emiten nya masih konsisten mencetak pertumbuhan, saham "Growth" akan selalu diminati pasar meskipun mahal, tetapi jika cerita pertumbuhannya terhenti (seperti UNVR) maka akan segera ditinggalkan. Sementara saham "Value" sehari-harinya cenderung ajek tetapi saat pasar mengetahui bahwa saham-tersebut "murah" maka akan naik berkali-kali lipat.

Karena itu, bahkan membandingkan sesama reksadana saham pun bisa jadi tidak akan apple-to-apple. Misalkan, return 10% setahun bisa saja sebuah prestasi untuk reksadana "Big Cap" tetapi hal kecil untuk reksadana "Small Cap".

Berbuat curang, misalkan memasukkan saham-saham "Small Cap" ke dalam reksadana "Big Cap" dalam jumlah besar untuk mengerek pertumbuhan, atau dikenal sebagai "Style Drift", adalah pelanggaran.

Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth
Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth (sumber: usnews.com)

Di luar negeri, jenis strategi yang dipakai biasanya dimasukkan ke dalam penamaan reksadana nya. Ini akan mempermudah investor untuk memilih reksadana yang tepat.

Melihat Jenis Strategi Reksadana di Indonesia

Di Indonesia, kita harus melihat di dalam prospektus untuk memastikan strategi apa yang fund manager gunakan. Biasanya keterangan ini ada pada bab "Tujuan dan Kebijakan Investasi".

Uraian Strategi Panin Dana Maksima
Uraian Strategi Panin Dana Maksima

Sebagai contoh, dari prospektus Panin Dana Maksima, kita bisa mengetahui bahwa reksadana ini mempunyai strategy "Value" meski tidak mencantumkan masuk di saham kapitalisasi besar atau kecil. Sehingga reksadana ini lebih cocok untuk disimpan dalam jangka waktu sangat panjang.

Mungkin saat ini memang penamaan reksadana sesuai dengan strategi nya masih belum jamak di Indonesia, karena investor nya pun mungkin masih tidak peduli, "pokoknya yang naik paling tinggi itulah yang saya beli". Mungkin dengan semakin maju nya pengetahuan masyarakat tentang investasi akan membuat Fund Manager berpikir untuk menyediakan reksadana yang lebih spesifik.

--
Anton Hermansyah

10 Juni 2021

Kenangan Lampau: Tahun 1992 Bunga Tabungan masih 20% per Tahun

Bunga Bank Summa 1992

Seperti sudah takdir bahwa semakin lama imbal hasil investasi di Indonesia makin lama makin kecil, bunga deposito 5% per tahun saja sekarang sudah bahagia, tetapi lain cerita di tahun 1992, bunga tabungan mencapai 20%, dan ini bunga tabungan bukan deposito.

Angka 20% memang bukan main-main, dengan imbal hasil sebesar itu, aset kita akan menjadi dua kali lipat dalam empat tahun. Saat ini, imbal hasil tersebut hanya bisa dicapai dengan investasi di saham-saham lapis dua IHSG dan P2P Lending dengan rating "C" ke bawah.

Artikel "Terombang Ambing di Tengah Negosiasi", yang dimuat di Majalah Tempo tanggal 4 Juli 1992, menceritakan tentang perjuangan keluarga Soeryadjaya dalam menangani kasus Bank Summa. Sudah jamak bagi bank yang mau menarik nasabah kembali untuk memasang bunga tinggi, saat itu bunga simpanan Bank Summa mencapai 22-23% setahun.

Sedikit cerita tentang Summa, bank ini didirikan oleh Edward Soeryadjaya, anak pertama dari William Soeryadjaya yang dikenal sebagai pendiri Astra International (ASII). Grup Summa bukan saja bank, tetapi juga mencakup bisnis lain seperti properti, hotel dan leasing.

Summa tumbuh dengan cepat, terlalu cepat malah. Didirikan tahun 1980 dalam tiga tahun sudah memiliki operasional di Filipina, Hong Kong dan Jerman, belum lagi empat buah hotel, salah satunya di Perth, Australia dan berhektar-hektar tanah.

Seperti bank-bank lain yang bermasalah saat itu, Bank Summa banyak mengucurkan kredit ke grup sendiri. Tahun 1991 dari Rp1,5 triliun kredit yang disalurkan, Rp1,1 triliun disalurkan ke Grup Summa

Tahun 1992 kredit bermasalah Summa bengkak ke Rp1,4 triliun dan Rp500 miliar di antaranya bersumber dari Grup Summa.Mengetahui Bank Summa bermasalah, para nasabah pun berbondong-bondong menarik uangnya, yang menyebabkan turunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp200 miliar.

Grup sang anak bermasalah, satu keluarga Soeryadjaya ikut urun rembuk menyelesaikan masalah Summa. Akhirnya, seperti yang kita semua tahu, penyelamatan Bank Summa menyebabkan keluarga Soeryadjaya kehilangan kepemilikan nya di ASII.

Penyelamatan tersebut tidak berhasil, 13 November 1992, Bank Summa kalah kliring Rp79 miliar dan pada 14 Desember 1992, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menutup Bank Summa.

Sebelum ditutup, bank ini mempunyai 82 kantor yang tersebar di 16 propinsi, Total Aset Rp1,3 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp887,4 miliar. Apabila dihitung dengan tingkat inflasi, maka Total Aset dan DPK Summa setara dengan Rp14,4 triliun dan Rp9,8 triliun.

Kira-kira setara dengan Bank BUKU 2 saat ini. Tetapi memang saat itu merupakan jumlah uang yang besar, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru sebesar Rp56,1 triliun, artinya aset Summa hampir 2,5% APBN.

Kembali ke bunga simpanan, tentunya bunga 20% adalah jumlah yang sangat tinggi di jaman sekarang. Bank Bukopin (BBKP), yang pada pertengahan 2020 sempat di rush oleh nasabah-nasabahnya, "hanya" menawarkan bunga deposito sampai 9% per tahun.

Untuk bunga tabungan masih dipegang oleh Jenius (BTPN) dengan 4% per tahun, yang sebentar lagi akan disalip oleh Bank Neo Commerce (BBYB) dengan 6% per tahun. Suku bunga yang "menggiurkan" karena saat ini hanya ada tiga Reksadana Pasar Uang yang imbal hasilnya sanggup melebihi 6% (meskipun data nomor 1 dan 2 Dana Kelolaan nya naik turun dengan cepat).

RD Pasar Uang Yield Tertinggi
Reksadana Pasar Uang dengan Yield Tertinggi (Sumber: Bareksa)

Tetapi memang menabung di bank pada tahun 1990-an itu "perasaan aman" nya sangat jauh dibandingkan tahun 2020-an. Tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menggaransi sampai Rp2 miliar, belum lagi banyak pengusaha bandel yang kredit ke grup nya sendiri melebihi plafon.

Indikator kesehatan bank pun masih belum jelas, meski Basel I, yang melahirkan perhitungan wajib Modal Tier 1-3, Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan (NPL), telah ada sejak 1988, namun Indonesia masih belum menerapkannya di 1990-an. Sehingga mendeteksi gejala bank sakit pun menjadi abu-abu.

Sehingga para penabung saat itu menghadapi risiko yang lebih tinggi, bisa saja sewaktu-waktu bank nya ditutup pemerintah. Selain itu, pada dekade 1990-an inflasi masih ada di level 8-9% sehingga akan memangkas setengah keuntungan yang ada.

--
Anton Hermansyah

02 Juni 2021

Menjadi Jepang Sebelum Waktunya

Jepang adalah panutan bagi negara-negara Asia dalam hal ekonomi, dengan kekuatan industri, negara ini tumbuh luar biasa terutama pada dekade 1970-1980 an, banyak negara mencoba mereplikasi model ekonomi negara ini, tetapi juga harus menghadapi konsekuensinya.

Ekonomi Jepang maju berkat industrinya. Uniknya, dibandingkan negara-negara Barat yang berusaha untuk membuat barang dengan teknologi terkini yang bisa dijual mahal untuk mendapat marjin tinggi, Jepang fokus pada efisiensi produksi.

Sistem Kaizen yang banyak dianut oleh perusahaan Jepang memfokuskan pada perbaikan terus menerus bahkan di hal-hal detil untuk meningkatkan efisiensi. Tujuannya satu, agar dapat memproduksi barang dengan harga semurah-murahnya.

Contohnya adalah peletakan bahan baku perakitan di tempat yang lebih mudah terjangkau oleh operator perakit, sehingga untuk mengambilnya tidak perlu balik badan dan hemat waktu satu detik per operator. Meskipun hanya sedetik, tetapi apabila ada 3600 operator, maka perusahaan akan menghemat waktu satu jam setiap harinya, 30 jam setiap bulannya.

Ekspansi industri ini juga disokong oleh sifat bangsa Jepang yang gemar menabung, Marginal Prospensity of Save (MPC) rumah tangga di Jepang mencapai 20% (Horioka, 1990). Artinya setiap bulannya keluarga di Jepang menabung 20% dari penghasilannya.

Di Asia angka ini tidak spesial, MPC Indonesia pun ada di tingkat 20%, tetapi jika dibandingkan negara-negara barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang hanya di level 8% tentunya ini sangat tinggi.

Dengan kecenderungan masyarakat untuk menabung, bank pun jadi punya banyak uang untuk dikonversi menjadi pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan Jepang untuk mengembangkan bisnisnya.

Model ekonomi yang menitikberatkan pada manufaktur dengan menekan biaya dan akumulasi modal dalam negeri ini pun diadopsi oleh negara-negara tetangga, Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel). Sama seperti Jepang, kedua negara ini pun mengalami pertumbuhan yang luar biasa.

Terlihat dari gambar bahwa kontribusi Investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok dan Korsel konsisten di atas 30% bahkan Tiongkok saat ini ada di atas 40%. Angka ini sama dengan Jepang di tahun 1970 an sampai 1980 an awal, saat negara matahari terbit ini sedang tumbuh pesat-pesatnya.

Struktur Ekonomi Negara Asia
Struktur Ekonomi Jepang, Tiongkok, Korea, AS dan Indonesia (Sumber: World Bank, diolah)

Bagaimana dengan Indonesia? Sama saja, kontribusi Investasi terhadap PDB konsisten di atas 30%, terutama dalam 10 tahun terakhir. Artinya, Indonesia pun sedang mengikuti jejak Jepang.

Metode Jepang memang menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi di balik itu ada harga yang harus dibayar. Jam kerja yang tidak masuk akal sehingga menyebabkan kematian akibat kerja berlebihan atau Karoshi (過労死), masyarakat yang menua karena orang-orang yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak bahkan tidak menikah, sampai desa yang kosong karena orang-orang muda pindah ke kota.

Masalah ini sudah terjadi di Tiongkok dan Korsel, di Indonesia pun mulai muncul satu dua kasus seperti pasangan-pasangan muda yang terang-terangan menyatakan tidak akan memiliki anak, perusahaan-perusahaan dengan jam lembur berlebihan. Pada 2013 terjadi kasus karoshi, Mita Diran (23) seorang copywriter agensi Young & Rubicam (Y&R) yang meninggal setelah lembur 30 jam.

Problematika sosio-ekonomi ini menjadi sulit untuk di selesaikan karena mengakar menjadi budaya, seperti sistem kerja 996 di Tiongkok, kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam 6 hari seminggu. Kasus karoshi sudah ada sejak 1970 di Jepang tetapi baru pada 2005 Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Jepang memberlakukan aturan untuk mencegah lembur berlebihan (Iwasaki, Takahashi, & Nakata, 2006).

Model ekonomi yang memicu manufaktur dengan harga murah juga memerlukan syarat untuk sukses, yaitu adanya negara besar yang dapat menjadi tujuan ekspor. Jepang di tahun 1970-1980 an beruntung mempunyai Amerika Serikat (AS) yang saat itu pasarnya masih sangat liberal dan belum banyak aturan untuk menjegal impor.

Saat ini keadaan sudah banyak berubah, negara-negara dengan penduduk besar banyak menerapkan proteksionisme untuk melindungi industri lokal yang lesu karena gempuran produk asing. India misalkan, menarik diri dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) untuk melindungi industri lokalnya dari produk Tiongkok yang masuk dalam perjanjian dagang tersebut (Benanya, 2019).

Jika negara-negara besar jadi proteksionis, bagaimana jika hasil produksi dikonsumsi bangsa sendiri? Bisa, tetapi di sisi lain manufaktur harus menjaga upah buruh tetap rendah agar kompetitif, sehingga tidak banyak kelebihan penghasilan untuk konsumsi.

Manufaktur yang kelebihan produksi sementara tidak ada pasar ekspor yang menyerap akan mengarah ke keadaan yang lebih berat lagi, pasar gelap. Seperti kasus baja selundupan dari Tiongkok yang terjadi di Indonesia sejak 2008.

Dengan proteksionisme saat itu yang belum seketat sekarang, Jepang berhasil mencatat PDB per kapita AS$28.925 pada 1991 sebelum mengalami stagnasi dalam jangka panjang. Uang tersebut setara dengan $56.311 atau Rp805 juta pada masa sekarang.

PDB per kapita Korea Selatan pada 2020 ada di $31.494 sementara Tiongkok di $10,499. Indonesia? Ada di $3.917, semuanya masih jauh dari pencapaian Jepang pada saat itu tetapi sudah mengalami masalah-masalah sosio-ekonomi yang sama.

Apakah kita tetap harus mengejar bayang-bayang Jepang ataukah ada cara lain untuk memajukan negeri?

Ayah saya bercerita bahwa Kakek, yang bekerja di dekade 1960 an, selalu pulang ke rumah saat jam makan siang bahkan sempat tidur sebentar sebelum kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Mungkin bukan cara untuk maju dalam standar sekarang, tetapi dengan pola seperti itu generasi tersebut mampu menghidupi banyak anak.

Referensi

Benanya, L. (2019). Keberatan India dalam memasuki Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) periode 2012-2019.

Horioka, C. Y. (1990). Why is Japan's household saving rate so high? A literature survey. Journal of the Japanese and International Economies, 4(1), 49-92.

Iwasaki, K., Takahashi, M., & Nakata, A. (2006). Health problems due to long working hours in Japan: working hours, workers' compensation (Karoshi), and preventive measures. Industrial health, 44(4), 537-540.

28 Mei 2021

Kenapa ICBP Mengganti Utang Bank Pembelian Pinehill dengan Obligasi Dolar?

Obligasi Global ICBP

Dari berita yang muncul belakangan, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) akan menerbitkan obligasi global AS$1,5 miliar untuk refinancing sebagian utang bank yang digunakan untuk membeli Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited, apakah ini langkah yang baik?

Pinehill dan Steele Lake adalah entitas British Virgin Island (BVI) yang memegang bisnis manufaktur Indomie di Timur Tengah, Afrika dan sebagian kecil Eropa. Pembelian ini menjadi kontroversial karena Pinehill dan Steele Lake juga dikendalikan oleh Grup Salim dan akusisinya terjadi di valuasi mahal, yaitu PBV 12x dan PER 23x.

Pada bulan Mei 2020, setelah RUPS-RUPS (yang anehnya tidak banyak mendapat penentangan) baik di level ICBP maupun First Pacific, pembelian Pinehill dan Steele Lake disepakati di harga $2,99 miliar. Jumlah tersebut adalah $1,53 miliar untuk 51% saham Pinehill dan $1,47 miliar untuk 49% saham Steele Lake.

Saat ini yang sudah dibayar oleh ICBP sebesar $2,35 miliar sementara sisanya $650 juta akan dibayar pada 30 April 2022. Jumlahnya bisa dikurangi apabila Laba Bersih Pinehill dan Steele Lake (yang diatribusikan pada ICBP) di 2021 tidak mencapai $128,5 juta.

Pembelian ini menggunakan utang dan di laporan akhir 2020, utang bank ICBP meningkat Rp29,07 triliun ke Rp30,77 triliun. Setidaknya ada 21 bank yang baru muncul sebagai pemberi pinjaman di 2020 mulai dari Bank of China, BNP Paribas sampai yang jarang terdengan di Indonesia seperti Norinchukin dan Fubon.

Pinjaman-pinjaman baru tersebut dalam Dolar AS dan sebagian kecil dalam Yen Jepang. Berapa bunganya? Sekitar 2,3% untuk Dolar AS dan 1,7% untuk Yen Jepang, itu bunga rata-rata paling tinggi, tidak termasuk murah tapi juga tidak mahal karena rata-rata bunga pinjaman untuk bisnis di AS berkisar di 2-3%.

Kalau ditukar dengan obligasi apakah bunga nya akan jadi lebih murah?

Di berita disebutkan kalau obligasi ICBP mendapat rating Baa3 dari Moody's dan BBB- dari Fitch Rating. Kita bisa bandingkan dengan kasus yang sama, yaitu pada Indonesia Infrastructure Finance (IIF) di mana mereka menerbitkan obligasi global 5 tahun $150 juta dan mendapatkan kupon 1,5% di bulan Februari 2021.

Pada bulan yang sama, Pertamina juga menerbitkan obligasi global 5 tahun sebesar $1 miliar, namun lebih tinggi satu noktah di atas ICBP yaitu Baa2 dan BBB. Mereka bisa mendapatkan kupon yang lebih rendah dari IIF, karena rating nya lebih tinggi, yaitu 1,4%.

Kuncinya adalah di kupon, apabila ICBP mendapatkan kupon yang relatif tinggi, bahkan di atas 2%, bisa saja dibilang tidak wajar. Jangan-jangan nanti dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri?

Sudah rahasia umum jika emiten sengaja menerbitkan obligasi dengan kupon tinggi, lalu obligasinya dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri adalah salah satu cara bagi PSP untuk kerok uang dari emitennya tanpa mau "bagi-bagi" ke pemegang saham minoritas.

Apabila kuponnya sesuai pasar? Ya saya rasa selebihnya wajar-wajar saja, karena di saat ekspektasi inflasi meningkat, tentunya suku bunga diramalkan akan meningkat dalam jangka menengah, di saat itulah lebih baik kita menukar utang bank yang punya suku bunga floating ke utang obligasi yang punya suku bunga fixed.

Lagipula, untuk Debt to Equity Ratio ICBP sebetulnya juga masih aman di 1,06x meskipun jadi dua kali lipat dibanding sebelumnya di 0,45x pada 2019. Meskipun hal ini mungkin belum bisa "mencuci dosa" yang pertama, yaitu membeli perusahaan sendiri di harga yang kelewat mahal.

--
Anton Hermansyah

27 Mei 2021

KFC yang Ekspansif di Saat Ekonomi Lesu

FAST, emiten pemilik waralaba KFC di Indonesia, selalu masuk dalam watchlist saya dalam 2 tahun belakangan, kas nya kuat, EPS yang selalu bertumbuh sebelum Covid-19 dan bahkan di saat ekonomi lesu, emiten ini tetap aktif berinovasi

Sebelum Covid-19 menyerang, setiap tahunnya Cash to Equity FAST selalu berada di atas 50%, jauh lebih tinggi di atas MAPB yang ada di sekitar 20% dan PZZA yang ada di sekitar 15%. EPS pun selalu bertumbuh dengan rata rata 11,77% setiap tahun nya dari 2014 sampai 2019.

Saat PSBB diberlakukan memang FAST terkena dampak yang parah, kuartal 2 dan kuartal 3 langsung berdarah-darah. Sebagian besar gerai memang berada di mal sehingga tidak bisa "menyambung hidup" dengan pesan-antar seperti pesaing nya McDonald's yang kebanyakan gerainya stand-alone.

Tapi di tengah pandemi emiten ini masih berinovasi, Oktober 2020 membuka "Naughty by Nature" di daerah Senopati, di mana produk ayam standar KFC dikombinasikan dengan makanan sehat. Tidak lama, bulan Desember 2020 mereka membuka gerai Taco Bell pertama di Indonesia, masih di daerah Senopati.

Pada bulan Mei 2021 FAST membuka gerai stand-alone di dekat Taman Melawai, tidak jauh dari gerai lama di Plaza Melawai. Mereka memodifikasi rumah tua menjadi gerai bergaya klasik, dinamakan "KFC Classic Store".

Gerai Taman Melawai ini menjadi satu-satunya tempat untuk membeli menu "Classic Combo", menu asli yang pertama kali ditawarkan oleh Kakek Colonel Sanders saat mendirikan KFC. Isinya satu potong ayam "Original", jagung rebus, coleslaw (salad kol), mashed potato (kentang tumbuk), dan hot roll (roti kecil) yang baunya harum.

Menu KFC 1969
Menu KFC 1969 (Sumber flickr.com)

Saat saya ke sana, gerainya penuh dengan orang-orang. Semuanya memesan "Classic Combo", padahal menu ini harganya tidak murah, yaitu Rp50.000, belum termasuk minum.

KFC Taman Melawai
KFC Taman Melawai

Ketiga gerai baru FAST tersebut memang bukan untuk "sobat misqueen", jika makan untuk dua orang biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp100.000 sampai Rp250.000. Tetapi memang di saat Covid-19, strategi ini benar, menurut saya.

Covid-19 dan lockdown nya memang bias ke atas, kelas menengah ke atas dapat bertahan dengan baik, bahkan pengeluarannya lebih kecil karena work from home (WFH). Sementara kelas menengah ke bawah harus pontang-panting mencari uang karena pasar yang biasanya ada harus ditutup karena pandemi.

Jika daya beli menurun, seperti yang terjadi di kelas menengah-bawah, tentunya kita akan mencari alternatif yang lebih murah, toh ayam goreng "jalanan" seperti Sabana dan D'Besto sudah hampir sama enaknya dengan KFC. Di sini FAST, yang harga ayamnya relatif premium, memutuskan untuk "naik kelas" dengan membuat "gerai-gerai sultan" tersebut.

Ramainya gerai sultan milik FAST juga membuktikan bahwa kelas menengah atas masih punya daya beli, tinggal bagaimana memancing mereka untuk konsumsi. Karena ini pula mungkin PBV FAST masih mahal, bertahan di atas 3x.

Akhirnya belum jadi saya beli.

--
Anton Hermansyah

19 Mei 2021

Trend Following atau Contrarian di Saat Pasar Stagnan Cenderung Bearish?

Teman saya meminta saran untuk nasabah-nasabahnya mengenai strategi yang tepat saat pasar stagnan dan malah cenderung bearish, jawabannya bisa bermacam-macam, tergantung logika dan kondisi masing-masing nasabah.

Ada dua aliran dasar yaitu "Trend Following" dan "Contrarian", keduanya benar, keduanya punya contoh sukses masing-masing tetapi bertolak belakang satu sama lain.

Sesuai namanya, dalam Trend Following pembelian dilakukan saat tren bullish sudah terkonfirmasi, contoh saat harga sudah menembus MA10, RSI di atas 50 dan MACD sudah membentuk Golden Cross. Terlambat? Memang, tapi dengan memastikan bahwa tren sudah terkonfirmasi akan meminimalisir risiko.

Pada dasarnya Trend Following adalah "meledakkan" portofolio di saat terjadi ombak besar. Karena ombak besar tidak terjadi setiap hari, maka sekalinya ada kesempatan seperti pada November-Desember 2020, keuntungan dimaksimalkan dengan menggunakan marjin.

Kalau saya trader syariah? Artinya harus menggunakan sistem pinjaman lain yang sesuai, seperti gadai syariah, begitu cair uangnya langsung dimasukkan RDN.

Pasar yang stagnan bahkan cenderung bearish seperti saat ini seringkali berujung jebakan bagi Trend Follower karena tren tidak berlangsung lama. Setelah naik 2 hari langsung jual, bahkan sering terjadi false breakout yang malah membuat rugi.

Sehingga memang saran terbaik untuk Trend Follower di saat seperti ini adalah rehat dulu, masukkan keuntungan di instrumen-instrumen yang lebih aman seperti Reksa Dana Pasar Uang sembari menunggu ombak selanjutnya. Beberapa pemain senior bahkan mempunyai prinsip "Main satu dua kali per tahun tetapi hasilnya cukup untuk hidup satu tahun".

Penganut aliran Contrarian adalah "Penangkap Pisau Jatuh" beli justru di saat merah dan jual di saat hijau. Pasar yang jatuh seperti ini justru malah membuat Contrarian senang.

Tapi bukan berarti aliran ini "anti nyangkut", Warren Buffett, salah satu Contrarian terbesar di dunia, membeli saham Goldman Sachs yang terjun bebas saat krisis finansial 2008. Buffett masuk pada September 2008 sebesar AS$5 miliar (sekitar 1,87% dari Total Aset Berkshire Hathaway waktu itu $267 miliar).

Saham Goldman Sachs memantul dari titik terendahnya pada bulan November, tetapi ternyata indeks pasar masih terus turun sampai mencapai titik terendah di Maret 2009 yang artinya masih banyak saham-saham murah lainnya setelah itu. Tetapi Buffett sudah terlanjur masuk dengan full power.

Timing Warren Buffett di Goldman Sachs
Timing Warren Buffett di Goldman Sachs

Dalam wawancara dengan CNBC tahun 2018, Buffett bilang, andaikan bisa mengulang, maka dia akan memilih menunggu dulu sampai 6 bulan.

Saat pasar sedang stagnan dan cenderung bearish bagi Contrarian ini saat nya untuk mencicil beli. Sedangkan bagi Trend Follower ini saatnya untuk rehat sejenak dari pasar.

Untuk menjualnya, baik Trend Following dan Contrarian sama-sama mesti menunggu pasar bullish kembali. Bedanya, jika Contrarian menunggu dengan keyakinan bahwa dia telah mendapatkan harga paling murah, Trend Follower menunggu dengan setumpuk cash yang "siap diledakkan".

Kembali ke saran untuk nasabah, karena latar belakang yang berbeda-beda, kita tidak bisa memaksa semua nasabah untuk mengikuti aliran yang sama. Tergantung pada status pekerjaan, ketersediaan dana darurat, dan kesabaran masing-masing.

Saya saat ini nyaman menjadi Contrarian karena masih memiliki pekerjaan tetap dan bisa menyisihkan uang gaji untuk mengisi RDN setiap bulannya. Tetapi saya tidak bisa memaksakan paham Contrarian pada nasabah saya yang pensiunan, cara pengelolaan uangnya sudah berbeda.

Pada akhirnya lebih baik memilih metode yang membuat kita nyaman.

--
Anton Hermansyah

18 Mei 2021

Menakar Cuan IPO Gojek-Tokopedia untuk ASII, TLKM dan BIRD

GoTo

Gojek dan Tokopedia sudah resmi bergabung menjadi GoTo, selanjutnya adalah IPO, jika orang-orang lain membicarakan ARTO, maka saya akan coba membahas dampak kenaikan saham GoTo setelah IPO terhadap emiten-emiten lain yang sudah berinvestasi di Gojek.

Apabila GoTo berhasil IPO dan harga sahamnya melonjak naik sampai dua kali lipat (seperti yang sudah digadang-gadang di sini), maka di atas kertas akan dicatat sebagai capital gain di Laporan Laba/Rugi emiten yang memegang sahamnya (untuk kepemilikan di bawah 50%).

Laba bersih tentu saja akan melonjak, seperti kasus HRUM, yang laba bersihnya melonjak karena harga saham Nickel Mines Ltd melonjak gila-gilaan.

Astra International - ASII

Bermula sejak 2019, sampai saat ini ASII sudah menginvestasikan AS$250 juta atau sekitar Rp3,58 triliun (kurs Rp14.300). Jumlah ini adalah 2,05% dibanding pendapatan ASII tahun 2020 yang sebesar Rp175,05 triliun.

Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) ASII tahun 2020 adalah Rp16,16 triliun, angka ini sudah dibantu oleh penjualan BNLI yang mencatatkan tambahan pendapatan Rp5,88 triliun. Apabila hasil penjualan BNLI dikeluarkan, maka Laba ASII hanya sebesar Rp10,28 triliun.

Dengan demikian, maka Marjin Laba Bersih ASII di 2020 tanpa penjualan BNLI adalah 5,87%. Jika pendapatan 2021 diasumsikan optimis naik 20% (sejauh perkiraan analis yang saya baca di sini menjadi Rp210 triliun, maka Laba Bersih 2021 adalah sekitar Rp12,33 triliun.

Apabila GoTo mampu melesat 2 kali lipat, seperti yang digadang-gadang para analis, maka ASII akan mendapatkan unrealized gain sekitar Rp3,50 triliun. Jika ditambahkan ke Laba Bersih perkiraan 2021 yang sudah di hitung sebelumnya, maka Laba Bersih ASII akan menjadi Rp15,83 triliun.

Secara kertas, Laba ini masih lebih rendah dibandingkan dengan Rp16,16 triliun di 2020, karena memang meski GoTo naik 2 kali lipat pun, capital gain yang didapat ASII masih belum sebesar hasil penjualan BNLI.

Telkom - TLKM

Telkomsel sejauh ini sudah berinvestasi $450 juta di Gojek atau sebesar Rp6,44 triliun. Dibandingkan pendapatan TLKM 2020 yang sebesar Rp136,46 triliun, investasi ini "hanya" sebesar 4,71% nya.

Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) TLKM di 2020 sebesar Rp20,80 triliun. Berarti Marjin Laba Bersih di sini adalah 15,24%.

Para analis di artikel ini memproyeksikan pendapatan TLKM di 2021 ada di kisaran Rp143 triliun atau hanya naik sekitar 4,79%.

Dengan hitungan Marjin Laba Bersih sederhana, maka Laba Bersih 2021 ada di kisaran Rp21,79 triliun. Jika TLKM mendapatkan capital gain Rp6,40 triliun dari GoTo apakah berarti Laba Bersih 2021 akan ada di Rp28,19 triliun?

Tidak juga, karena yang berinvestasi adalah Telkomsel, di mana porsi kepemilikan TLKM hanya sebesar 65%, maka angka capital gain tersebut harus dikalikan dengan persentase porsi TLKM. Sehingga gain nya hanya akan sebesar Rp4,16 triliun.

Dari sini kita mendapatkan Laba Bersih perkiraan 2021 TLKM ada di Rp25,95 triliun atau naik 24,76% dibanding 2020. Angka pertumbuhan yang fantastis untuk TLKM yang memang sudah tergolong matang.

Blue Bird - BIRD

Bagaimana dengan BIRD? Dari berita awal 2020, kita tahu bahwa BIRD memegang 5.941 lembar saham seri P Gojek dengan valuasi sebesar Rp2,97 miliar.

Sayangnya BIRD sedang rugi, sehingga saya tidak bisa memakai rumus Marjin Laba Bersih dan juga belum ada perkiraan target pendapatan 2021 dari analis. Sehingga harus memakai asumsi sendiri.

Dari data keuangan yang sudah ada, pendapatan kuartalan BIRD selama pandemi tidak pernah lebih dari Rp500 miliar, sementara jika normal, emiten ini bisa mendapatkan Rp1 triliun setiap kuartalnya.

Jika kita positif bahwa Covid-19 akan beres di kuartal terakhir, maka Pendapatan Kuartal 4 bisa mencapai Rp800 miliar dengan asumsi masih transisi, sehingga full year menjadi Rp2,3 triliun. Tetapi jika memang tidak tertangani sampai akhir tahun maka asumsi pendapatan menjadi Rp2 triliun saja.

BIRD dapat menekan beban (tidak termasuk pajak) ke level Rp530 miliar tiap kuartal pada saat pandemi yang berarti total beban selain pajak setahunnya ada di level Rp2,12 triliun. Sehingga dengan asumsi pertama BIRD akan menghasilkan Laba Sebelum Pajak di Rp180 miliar dan di asumsi kedua menghasilkan Rugi Sebelum Pajak di -Rp120 miliar.

Untuk beban pajak, emiten akan mendapatkan kompensasi kerugian (loss carryback) jika rugi. Dengan asumsi pajak 30%, maka asumsi pertama akan menghasilkan pajak Rp54 miliar dan asumsi kedua akan mendapatkan kompensasi kerugian sebesar Rp36 miliar.

Finalnya, asumsi pertama akan menghasilkan Laba Bersih Rp126 miliar sementara asumsi kedua akan menghasilkan Rugi Bersih -Rp84 miliar. Apabila ada capital gain dari saham GoTo, maka akan menjadikan Laba Bersih Rp128,97 miliar di asumsi pertama dan Rugi Bersih -Rp81,03 miliar, memang keduanya tidak terlalu signifikan.

Kendala

Perhitungan sederhana tersebut bisa saja meleset jauh, faktor pertama adalah jika kenaikan saham GoTo tidak sesuai harapan, faktor kedua adalah kurangnya informasi publik mengenai saham Gojek yang dimiliki oleh ASII dan TLKM.

Sejauh ini hanya BIRD yang jelas berapa lembar kepemilikan saham nya, untuk ASII, dari total investasi $250 juta, disebutkan bahwa $100 juta dimasukkan lewat Pendanaan Seri F, sisanya tidak diberikan penjelasan apakan dimasukkan ke dalam saham Gojek atau di investasikan di anak perusahan Gojek.

Bagaimana dengan TLKM? Investasi Telkomsel di Gojek tidak melalui putaran pendanaan tetapi melalui pembelian obligasi konversi (convertible bond), tidak ada informasi mengenai tenor dan kapan dapat di konversi menjadi saham. Saya pun tidak paham apakah jika harga saham GoTo naik maka harga obligasi konversi ini akan naik juga.

--
Anton Hermansyah

03 Mei 2021

Berapa Besaran Reinvestasi Dividen untuk Bebas Pajak?

Reinvestasi Dividen Dalam Negeri

Setelah sebelumnya membahas cara melaporkan reinvestasi dividen untuk bebas pajak, saatnya membahas soal besaran dividen yang harus di reinvestasikan, mungkin jadi terbalik-balik, tetapi ini karena saya mencoba mendalami aturannya per kasus yang ditanyakan di grup-grup saham.

Berapa Dividen yang Harus di Reinvestasi?

Untuk dividen dari luar negeri, batas minimal reinvestasi adalah 30% dari laba bersih pada tahun sebelumnya. Jika kita punya saham GOOG dan perusahaan ini membagikan dividen dengan payout ratio sebesar 50% di mana jika diuangkan jumlahnya AS$100, maka yang harus kita reinvestasi adalah sebesar 30%× ($100 ÷ 50%) = $60.

Sekarang, apabila Dividend Payout Ratio nya hanya sebesar 20% di mana jika di uangkan jumlahnya $100, maka dengan rumus yang sama, yang harus kita reinvestasi adalah 30%× ($100 ÷ 20%) = $150.

Loh kok lebih besar dari dividen nya sendiri? Ya itu karena PMK menghitung dari besaran Dividend Payout Ratio terhadap laba bersihnya, bukan dari besaran dividen yang kita terima.

Karena kita hanya bisa reinvestasi maksimal $100, sisa $50 nya bagaimana? Menurut PMK, itu dianggap "nombok", artinya kita harus membayar pajak 10% dari sisa $50 itu, dengan kata lain kita utang pajak $5 ke pemerintah meski kita sudah reinvestasi semua dividen.

Aneh? Ya begitulah isi peraturannya. Silahkan cek Pasal 27 dalam PMK No 18 Tahun 2021.

Reinvestasi Dividen Luar Negeri
Reinvestasi Dividen Luar Negeri

Untuk dividen dalam negeri, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 18 Tahun 2021 malah tidak memberikan besaran minimal. Di Pasal 16, hanya tertulis bahwa selisih dari dividen yang diperoleh dikurangi dengan dividen yang diinvestasikan dikenai PPh sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Reinvestasi Dividen Dalam Negeri
Reinvestasi Dividen Dalam Negeri

Dengan kata lain (menurut interpretasi saya), kita harus reinvestasi 100% dari dividen dalam negeri. Jika hanya sebagian yang di reinvestasi, misalkan 80%, maka sisa 20% nya menjadi objek pajak dan harus kita bayar tahun depannya.

Kapan Paling Lambat Reinvestasi dan Berapa Lama?

Menurut Pasal 36, reinvestasi dilakukan paling lambat pada bulan ketiga tahun pajak berikutnya setelah dividen diterima untuk wajib pajak perorangan dan bulan keempat untuk badan usaha. Artinya apabila diterima pada tahun 2021, maka reinvestasi harus dilakukan paling lambat bulan Maret 2022 untuk perorangan dan April 2022 untuk badan usaha.

Lamanya minimal investasi adalah 3 tahun, baik dividen dalam negeri maupun dari luar negeri.

Batas Akhir Reinvestasi Dividen
Batas Akhir Reinvestasi Dividen

Bagaimana jika dividen tersebut di reinvestasikan ke saham lalu kita dapat dividen lagi? Ya artinya harus buat laporan lagi terus-menerus.

Untuk cara melaporkan dividen dan membayar utang pajak, ada di posting sebelumnya.

Kapan Utang PPh Dividen Harus Dibayar?

Menurut Pasal 40, utang pajak dividen paling lambat dibayar pada tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak dividen diterima atau diperoleh. Artinya kita harus membayar utang PPh dividen yang diterima tahun 2021 paling lambat tanggal 15 Januari tahun 2022

Ralat: pada tanggal 15 bulan berikutnya artinya jika dapat dividen tanggal 20 April 2021 maka pada tanggal 15 Mei 2021 paling lambat kita harus setor PPh terutang ke Kantor Pajak.

Pembayaran Utang PPh Dividen
Pembayaran Utang PPh Dividen

Kesimpulan

Investasi saham jadi makin repot? Jelas, karena investor, baik besar maupun kecil, dipaksa untuk terus menerus membuat laporan penerimaan dan reinvestasi dividen per tahunnya.

Kalau yang hanya fokus di beberapa saham dividen seperti di UNVR, TLKM, ICBP dan PTBA mungkin tidak banyak yang harus dicatat, tetapi jika investasinya menganut aliran Wide Diversification, berapa banyak dividen "perintilan" yang harus dimasukkan ke form?

Poin ganjil lainnya adalah perhitungan reinvestasi minimal dividen luar negeri yang didasarkan pada Dividend Payout Ratio bukan berdasarkan take home pay dividen yang diterima oleh investor.

Belum lagi pembayaran PPh terutang yang harus dilakukan pada bulan Januari, padahal reinvestasi paling lambat dilakukan pada bulan Maret-April, yang masih membingungkan saya.

Pada akhirnya, apabila ada opsi untuk meminta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) potong PPh saja dari dividen seperti sebelum adanya PMK No 18 tahun 2021, saya akan memilih hal tersebut. Lebih baik saya berinvestasi dengan tenang tanpa harus kuatir saya punya utang pajak ke pemerintah daripada diberi diskon tapi harus direpotkan begini.

--
Anton Hermansyah