Tentang Saya

19 Mei 2021

Trend Following atau Contrarian di Saat Pasar Stagnan Cenderung Bearish?

Teman saya meminta saran untuk nasabah-nasabahnya mengenai strategi yang tepat saat pasar stagnan dan malah cenderung bearish, jawabannya bisa bermacam-macam, tergantung logika dan kondisi masing-masing nasabah.

Ada dua aliran dasar yaitu "Trend Following" dan "Contrarian", keduanya benar, keduanya punya contoh sukses masing-masing tetapi bertolak belakang satu sama lain.

Sesuai namanya, dalam Trend Following pembelian dilakukan saat tren bullish sudah terkonfirmasi, contoh saat harga sudah menembus MA10, RSI di atas 50 dan MACD sudah membentuk Golden Cross. Terlambat? Memang, tapi dengan memastikan bahwa tren sudah terkonfirmasi akan meminimalisir risiko.

Pada dasarnya Trend Following adalah "meledakkan" portofolio di saat terjadi ombak besar. Karena ombak besar tidak terjadi setiap hari, maka sekalinya ada kesempatan seperti pada November-Desember 2020, keuntungan dimaksimalkan dengan menggunakan marjin.

Kalau saya trader syariah? Artinya harus menggunakan sistem pinjaman lain yang sesuai, seperti gadai syariah, begitu cair uangnya langsung dimasukkan RDN.

Pasar yang stagnan bahkan cenderung bearish seperti saat ini seringkali berujung jebakan bagi Trend Follower karena tren tidak berlangsung lama. Setelah naik 2 hari langsung jual, bahkan sering terjadi false breakout yang malah membuat rugi.

Sehingga memang saran terbaik untuk Trend Follower di saat seperti ini adalah rehat dulu, masukkan keuntungan di instrumen-instrumen yang lebih aman seperti Reksa Dana Pasar Uang sembari menunggu ombak selanjutnya. Beberapa pemain senior bahkan mempunyai prinsip "Main satu dua kali per tahun tetapi hasilnya cukup untuk hidup satu tahun".

Penganut aliran Contrarian adalah "Penangkap Pisau Jatuh" beli justru di saat merah dan jual di saat hijau. Pasar yang jatuh seperti ini justru malah membuat Contrarian senang.

Tapi bukan berarti aliran ini "anti nyangkut", Warren Buffett, salah satu Contrarian terbesar di dunia, membeli saham Goldman Sachs yang terjun bebas saat krisis finansial 2008. Buffett masuk pada September 2008 sebesar AS$5 miliar (sekitar 1,87% dari Total Aset Berkshire Hathaway waktu itu $267 miliar).

Saham Goldman Sachs memantul dari titik terendahnya pada bulan November, tetapi ternyata indeks pasar masih terus turun sampai mencapai titik terendah di Maret 2009 yang artinya masih banyak saham-saham murah lainnya setelah itu. Tetapi Buffett sudah terlanjur masuk dengan full power.

Timing Warren Buffett di Goldman Sachs
Timing Warren Buffett di Goldman Sachs

Dalam wawancara dengan CNBC tahun 2018, Buffett bilang, andaikan bisa mengulang, maka dia akan memilih menunggu dulu sampai 6 bulan.

Saat pasar sedang stagnan dan cenderung bearish bagi Contrarian ini saat nya untuk mencicil beli. Sedangkan bagi Trend Follower ini saatnya untuk rehat sejenak dari pasar.

Untuk menjualnya, baik Trend Following dan Contrarian sama-sama mesti menunggu pasar bullish kembali. Bedanya, jika Contrarian menunggu dengan keyakinan bahwa dia telah mendapatkan harga paling murah, Trend Follower menunggu dengan setumpuk cash yang "siap diledakkan".

Kembali ke saran untuk nasabah, karena latar belakang yang berbeda-beda, kita tidak bisa memaksa semua nasabah untuk mengikuti aliran yang sama. Tergantung pada status pekerjaan, ketersediaan dana darurat, dan kesabaran masing-masing.

Saya saat ini nyaman menjadi Contrarian karena masih memiliki pekerjaan tetap dan bisa menyisihkan uang gaji untuk mengisi RDN setiap bulannya. Tetapi saya tidak bisa memaksakan paham Contrarian pada nasabah saya yang pensiunan, cara pengelolaan uangnya sudah berbeda.

Pada akhirnya lebih baik memilih metode yang membuat kita nyaman.

--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar