Gojek dan Tokopedia sudah resmi bergabung menjadi GoTo, selanjutnya adalah IPO, jika orang-orang lain membicarakan ARTO, maka saya akan coba membahas dampak kenaikan saham GoTo setelah IPO terhadap emiten-emiten lain yang sudah berinvestasi di Gojek.
Apabila GoTo berhasil IPO dan harga sahamnya melonjak naik sampai dua kali lipat (seperti yang sudah digadang-gadang di sini), maka di atas kertas akan dicatat sebagai capital gain di Laporan Laba/Rugi emiten yang memegang sahamnya (untuk kepemilikan di bawah 50%).
Laba bersih tentu saja akan melonjak, seperti kasus HRUM, yang laba bersihnya melonjak karena harga saham Nickel Mines Ltd melonjak gila-gilaan.
Astra International - ASII
Bermula sejak 2019, sampai saat ini ASII sudah menginvestasikan AS$250 juta atau sekitar Rp3,58 triliun (kurs Rp14.300). Jumlah ini adalah 2,05% dibanding pendapatan ASII tahun 2020 yang sebesar Rp175,05 triliun.
Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) ASII tahun 2020 adalah Rp16,16 triliun, angka ini sudah dibantu oleh penjualan BNLI yang mencatatkan tambahan pendapatan Rp5,88 triliun. Apabila hasil penjualan BNLI dikeluarkan, maka Laba ASII hanya sebesar Rp10,28 triliun.
Dengan demikian, maka Marjin Laba Bersih ASII di 2020 tanpa penjualan BNLI adalah 5,87%. Jika pendapatan 2021 diasumsikan optimis naik 20% (sejauh perkiraan analis yang saya baca di sini menjadi Rp210 triliun, maka Laba Bersih 2021 adalah sekitar Rp12,33 triliun.
Apabila GoTo mampu melesat 2 kali lipat, seperti yang digadang-gadang para analis, maka ASII akan mendapatkan unrealized gain sekitar Rp3,50 triliun. Jika ditambahkan ke Laba Bersih perkiraan 2021 yang sudah di hitung sebelumnya, maka Laba Bersih ASII akan menjadi Rp15,83 triliun.
Secara kertas, Laba ini masih lebih rendah dibandingkan dengan Rp16,16 triliun di 2020, karena memang meski GoTo naik 2 kali lipat pun, capital gain yang didapat ASII masih belum sebesar hasil penjualan BNLI.
Telkom - TLKM
Telkomsel sejauh ini sudah berinvestasi $450 juta di Gojek atau sebesar Rp6,44 triliun. Dibandingkan pendapatan TLKM 2020 yang sebesar Rp136,46 triliun, investasi ini "hanya" sebesar 4,71% nya.
Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) TLKM di 2020 sebesar Rp20,80 triliun. Berarti Marjin Laba Bersih di sini adalah 15,24%.
Para analis di artikel ini memproyeksikan pendapatan TLKM di 2021 ada di kisaran Rp143 triliun atau hanya naik sekitar 4,79%.
Dengan hitungan Marjin Laba Bersih sederhana, maka Laba Bersih 2021 ada di kisaran Rp21,79 triliun. Jika TLKM mendapatkan capital gain Rp6,40 triliun dari GoTo apakah berarti Laba Bersih 2021 akan ada di Rp28,19 triliun?
Tidak juga, karena yang berinvestasi adalah Telkomsel, di mana porsi kepemilikan TLKM hanya sebesar 65%, maka angka capital gain tersebut harus dikalikan dengan persentase porsi TLKM. Sehingga gain nya hanya akan sebesar Rp4,16 triliun.
Dari sini kita mendapatkan Laba Bersih perkiraan 2021 TLKM ada di Rp25,95 triliun atau naik 24,76% dibanding 2020. Angka pertumbuhan yang fantastis untuk TLKM yang memang sudah tergolong matang.
Blue Bird - BIRD
Bagaimana dengan BIRD? Dari berita awal 2020, kita tahu bahwa BIRD memegang 5.941 lembar saham seri P Gojek dengan valuasi sebesar Rp2,97 miliar.
Sayangnya BIRD sedang rugi, sehingga saya tidak bisa memakai rumus Marjin Laba Bersih dan juga belum ada perkiraan target pendapatan 2021 dari analis. Sehingga harus memakai asumsi sendiri.
Dari data keuangan yang sudah ada, pendapatan kuartalan BIRD selama pandemi tidak pernah lebih dari Rp500 miliar, sementara jika normal, emiten ini bisa mendapatkan Rp1 triliun setiap kuartalnya.
Jika kita positif bahwa Covid-19 akan beres di kuartal terakhir, maka Pendapatan Kuartal 4 bisa mencapai Rp800 miliar dengan asumsi masih transisi, sehingga full year menjadi Rp2,3 triliun. Tetapi jika memang tidak tertangani sampai akhir tahun maka asumsi pendapatan menjadi Rp2 triliun saja.
BIRD dapat menekan beban (tidak termasuk pajak) ke level Rp530 miliar tiap kuartal pada saat pandemi yang berarti total beban selain pajak setahunnya ada di level Rp2,12 triliun. Sehingga dengan asumsi pertama BIRD akan menghasilkan Laba Sebelum Pajak di Rp180 miliar dan di asumsi kedua menghasilkan Rugi Sebelum Pajak di -Rp120 miliar.
Untuk beban pajak, emiten akan mendapatkan kompensasi kerugian (loss carryback) jika rugi. Dengan asumsi pajak 30%, maka asumsi pertama akan menghasilkan pajak Rp54 miliar dan asumsi kedua akan mendapatkan kompensasi kerugian sebesar Rp36 miliar.
Finalnya, asumsi pertama akan menghasilkan Laba Bersih Rp126 miliar sementara asumsi kedua akan menghasilkan Rugi Bersih -Rp84 miliar. Apabila ada capital gain dari saham GoTo, maka akan menjadikan Laba Bersih Rp128,97 miliar di asumsi pertama dan Rugi Bersih -Rp81,03 miliar, memang keduanya tidak terlalu signifikan.
Kendala
Perhitungan sederhana tersebut bisa saja meleset jauh, faktor pertama adalah jika kenaikan saham GoTo tidak sesuai harapan, faktor kedua adalah kurangnya informasi publik mengenai saham Gojek yang dimiliki oleh ASII dan TLKM.
Sejauh ini hanya BIRD yang jelas berapa lembar kepemilikan saham nya, untuk ASII, dari total investasi $250 juta, disebutkan bahwa $100 juta dimasukkan lewat Pendanaan Seri F, sisanya tidak diberikan penjelasan apakan dimasukkan ke dalam saham Gojek atau di investasikan di anak perusahan Gojek.
Bagaimana dengan TLKM? Investasi Telkomsel di Gojek tidak melalui putaran pendanaan tetapi melalui pembelian obligasi konversi (convertible bond), tidak ada informasi mengenai tenor dan kapan dapat di konversi menjadi saham. Saya pun tidak paham apakah jika harga saham GoTo naik maka harga obligasi konversi ini akan naik juga.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar