Tentang Saya

02 Juni 2021

Menjadi Jepang Sebelum Waktunya

Jepang adalah panutan bagi negara-negara Asia dalam hal ekonomi, dengan kekuatan industri, negara ini tumbuh luar biasa terutama pada dekade 1970-1980 an, banyak negara mencoba mereplikasi model ekonomi negara ini, tetapi juga harus menghadapi konsekuensinya.

Ekonomi Jepang maju berkat industrinya. Uniknya, dibandingkan negara-negara Barat yang berusaha untuk membuat barang dengan teknologi terkini yang bisa dijual mahal untuk mendapat marjin tinggi, Jepang fokus pada efisiensi produksi.

Sistem Kaizen yang banyak dianut oleh perusahaan Jepang memfokuskan pada perbaikan terus menerus bahkan di hal-hal detil untuk meningkatkan efisiensi. Tujuannya satu, agar dapat memproduksi barang dengan harga semurah-murahnya.

Contohnya adalah peletakan bahan baku perakitan di tempat yang lebih mudah terjangkau oleh operator perakit, sehingga untuk mengambilnya tidak perlu balik badan dan hemat waktu satu detik per operator. Meskipun hanya sedetik, tetapi apabila ada 3600 operator, maka perusahaan akan menghemat waktu satu jam setiap harinya, 30 jam setiap bulannya.

Ekspansi industri ini juga disokong oleh sifat bangsa Jepang yang gemar menabung, Marginal Prospensity of Save (MPC) rumah tangga di Jepang mencapai 20% (Horioka, 1990). Artinya setiap bulannya keluarga di Jepang menabung 20% dari penghasilannya.

Di Asia angka ini tidak spesial, MPC Indonesia pun ada di tingkat 20%, tetapi jika dibandingkan negara-negara barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang hanya di level 8% tentunya ini sangat tinggi.

Dengan kecenderungan masyarakat untuk menabung, bank pun jadi punya banyak uang untuk dikonversi menjadi pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan Jepang untuk mengembangkan bisnisnya.

Model ekonomi yang menitikberatkan pada manufaktur dengan menekan biaya dan akumulasi modal dalam negeri ini pun diadopsi oleh negara-negara tetangga, Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel). Sama seperti Jepang, kedua negara ini pun mengalami pertumbuhan yang luar biasa.

Terlihat dari gambar bahwa kontribusi Investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok dan Korsel konsisten di atas 30% bahkan Tiongkok saat ini ada di atas 40%. Angka ini sama dengan Jepang di tahun 1970 an sampai 1980 an awal, saat negara matahari terbit ini sedang tumbuh pesat-pesatnya.

Struktur Ekonomi Negara Asia
Struktur Ekonomi Jepang, Tiongkok, Korea, AS dan Indonesia (Sumber: World Bank, diolah)

Bagaimana dengan Indonesia? Sama saja, kontribusi Investasi terhadap PDB konsisten di atas 30%, terutama dalam 10 tahun terakhir. Artinya, Indonesia pun sedang mengikuti jejak Jepang.

Metode Jepang memang menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi di balik itu ada harga yang harus dibayar. Jam kerja yang tidak masuk akal sehingga menyebabkan kematian akibat kerja berlebihan atau Karoshi (過労死), masyarakat yang menua karena orang-orang yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak bahkan tidak menikah, sampai desa yang kosong karena orang-orang muda pindah ke kota.

Masalah ini sudah terjadi di Tiongkok dan Korsel, di Indonesia pun mulai muncul satu dua kasus seperti pasangan-pasangan muda yang terang-terangan menyatakan tidak akan memiliki anak, perusahaan-perusahaan dengan jam lembur berlebihan. Pada 2013 terjadi kasus karoshi, Mita Diran (23) seorang copywriter agensi Young & Rubicam (Y&R) yang meninggal setelah lembur 30 jam.

Problematika sosio-ekonomi ini menjadi sulit untuk di selesaikan karena mengakar menjadi budaya, seperti sistem kerja 996 di Tiongkok, kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam 6 hari seminggu. Kasus karoshi sudah ada sejak 1970 di Jepang tetapi baru pada 2005 Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Jepang memberlakukan aturan untuk mencegah lembur berlebihan (Iwasaki, Takahashi, & Nakata, 2006).

Model ekonomi yang memicu manufaktur dengan harga murah juga memerlukan syarat untuk sukses, yaitu adanya negara besar yang dapat menjadi tujuan ekspor. Jepang di tahun 1970-1980 an beruntung mempunyai Amerika Serikat (AS) yang saat itu pasarnya masih sangat liberal dan belum banyak aturan untuk menjegal impor.

Saat ini keadaan sudah banyak berubah, negara-negara dengan penduduk besar banyak menerapkan proteksionisme untuk melindungi industri lokal yang lesu karena gempuran produk asing. India misalkan, menarik diri dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) untuk melindungi industri lokalnya dari produk Tiongkok yang masuk dalam perjanjian dagang tersebut (Benanya, 2019).

Jika negara-negara besar jadi proteksionis, bagaimana jika hasil produksi dikonsumsi bangsa sendiri? Bisa, tetapi di sisi lain manufaktur harus menjaga upah buruh tetap rendah agar kompetitif, sehingga tidak banyak kelebihan penghasilan untuk konsumsi.

Manufaktur yang kelebihan produksi sementara tidak ada pasar ekspor yang menyerap akan mengarah ke keadaan yang lebih berat lagi, pasar gelap. Seperti kasus baja selundupan dari Tiongkok yang terjadi di Indonesia sejak 2008.

Dengan proteksionisme saat itu yang belum seketat sekarang, Jepang berhasil mencatat PDB per kapita AS$28.925 pada 1991 sebelum mengalami stagnasi dalam jangka panjang. Uang tersebut setara dengan $56.311 atau Rp805 juta pada masa sekarang.

PDB per kapita Korea Selatan pada 2020 ada di $31.494 sementara Tiongkok di $10,499. Indonesia? Ada di $3.917, semuanya masih jauh dari pencapaian Jepang pada saat itu tetapi sudah mengalami masalah-masalah sosio-ekonomi yang sama.

Apakah kita tetap harus mengejar bayang-bayang Jepang ataukah ada cara lain untuk memajukan negeri?

Ayah saya bercerita bahwa Kakek, yang bekerja di dekade 1960 an, selalu pulang ke rumah saat jam makan siang bahkan sempat tidur sebentar sebelum kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Mungkin bukan cara untuk maju dalam standar sekarang, tetapi dengan pola seperti itu generasi tersebut mampu menghidupi banyak anak.

Referensi

Benanya, L. (2019). Keberatan India dalam memasuki Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) periode 2012-2019.

Horioka, C. Y. (1990). Why is Japan's household saving rate so high? A literature survey. Journal of the Japanese and International Economies, 4(1), 49-92.

Iwasaki, K., Takahashi, M., & Nakata, A. (2006). Health problems due to long working hours in Japan: working hours, workers' compensation (Karoshi), and preventive measures. Industrial health, 44(4), 537-540.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar