Tentang Saya

10 Juni 2021

Kenangan Lampau: Tahun 1992 Bunga Tabungan masih 20% per Tahun

Bunga Bank Summa 1992

Seperti sudah takdir bahwa semakin lama imbal hasil investasi di Indonesia makin lama makin kecil, bunga deposito 5% per tahun saja sekarang sudah bahagia, tetapi lain cerita di tahun 1992, bunga tabungan mencapai 20%, dan ini bunga tabungan bukan deposito.

Angka 20% memang bukan main-main, dengan imbal hasil sebesar itu, aset kita akan menjadi dua kali lipat dalam empat tahun. Saat ini, imbal hasil tersebut hanya bisa dicapai dengan investasi di saham-saham lapis dua IHSG dan P2P Lending dengan rating "C" ke bawah.

Artikel "Terombang Ambing di Tengah Negosiasi", yang dimuat di Majalah Tempo tanggal 4 Juli 1992, menceritakan tentang perjuangan keluarga Soeryadjaya dalam menangani kasus Bank Summa. Sudah jamak bagi bank yang mau menarik nasabah kembali untuk memasang bunga tinggi, saat itu bunga simpanan Bank Summa mencapai 22-23% setahun.

Sedikit cerita tentang Summa, bank ini didirikan oleh Edward Soeryadjaya, anak pertama dari William Soeryadjaya yang dikenal sebagai pendiri Astra International (ASII). Grup Summa bukan saja bank, tetapi juga mencakup bisnis lain seperti properti, hotel dan leasing.

Summa tumbuh dengan cepat, terlalu cepat malah. Didirikan tahun 1980 dalam tiga tahun sudah memiliki operasional di Filipina, Hong Kong dan Jerman, belum lagi empat buah hotel, salah satunya di Perth, Australia dan berhektar-hektar tanah.

Seperti bank-bank lain yang bermasalah saat itu, Bank Summa banyak mengucurkan kredit ke grup sendiri. Tahun 1991 dari Rp1,5 triliun kredit yang disalurkan, Rp1,1 triliun disalurkan ke Grup Summa

Tahun 1992 kredit bermasalah Summa bengkak ke Rp1,4 triliun dan Rp500 miliar di antaranya bersumber dari Grup Summa.Mengetahui Bank Summa bermasalah, para nasabah pun berbondong-bondong menarik uangnya, yang menyebabkan turunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp200 miliar.

Grup sang anak bermasalah, satu keluarga Soeryadjaya ikut urun rembuk menyelesaikan masalah Summa. Akhirnya, seperti yang kita semua tahu, penyelamatan Bank Summa menyebabkan keluarga Soeryadjaya kehilangan kepemilikan nya di ASII.

Penyelamatan tersebut tidak berhasil, 13 November 1992, Bank Summa kalah kliring Rp79 miliar dan pada 14 Desember 1992, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menutup Bank Summa.

Sebelum ditutup, bank ini mempunyai 82 kantor yang tersebar di 16 propinsi, Total Aset Rp1,3 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp887,4 miliar. Apabila dihitung dengan tingkat inflasi, maka Total Aset dan DPK Summa setara dengan Rp14,4 triliun dan Rp9,8 triliun.

Kira-kira setara dengan Bank BUKU 2 saat ini. Tetapi memang saat itu merupakan jumlah uang yang besar, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru sebesar Rp56,1 triliun, artinya aset Summa hampir 2,5% APBN.

Kembali ke bunga simpanan, tentunya bunga 20% adalah jumlah yang sangat tinggi di jaman sekarang. Bank Bukopin (BBKP), yang pada pertengahan 2020 sempat di rush oleh nasabah-nasabahnya, "hanya" menawarkan bunga deposito sampai 9% per tahun.

Untuk bunga tabungan masih dipegang oleh Jenius (BTPN) dengan 4% per tahun, yang sebentar lagi akan disalip oleh Bank Neo Commerce (BBYB) dengan 6% per tahun. Suku bunga yang "menggiurkan" karena saat ini hanya ada tiga Reksadana Pasar Uang yang imbal hasilnya sanggup melebihi 6% (meskipun data nomor 1 dan 2 Dana Kelolaan nya naik turun dengan cepat).

RD Pasar Uang Yield Tertinggi
Reksadana Pasar Uang dengan Yield Tertinggi (Sumber: Bareksa)

Tetapi memang menabung di bank pada tahun 1990-an itu "perasaan aman" nya sangat jauh dibandingkan tahun 2020-an. Tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menggaransi sampai Rp2 miliar, belum lagi banyak pengusaha bandel yang kredit ke grup nya sendiri melebihi plafon.

Indikator kesehatan bank pun masih belum jelas, meski Basel I, yang melahirkan perhitungan wajib Modal Tier 1-3, Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan (NPL), telah ada sejak 1988, namun Indonesia masih belum menerapkannya di 1990-an. Sehingga mendeteksi gejala bank sakit pun menjadi abu-abu.

Sehingga para penabung saat itu menghadapi risiko yang lebih tinggi, bisa saja sewaktu-waktu bank nya ditutup pemerintah. Selain itu, pada dekade 1990-an inflasi masih ada di level 8-9% sehingga akan memangkas setengah keuntungan yang ada.

--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar