Tentang Saya

30 April 2021

Realisasi Investasi Dividen untuk Bebas Pajak Penghasilan

Dua hari belakangan di grup-grup saham banyak beredar postingan soal dividen tahun 2021 yang sudah bebas pajak, tetapi investor harus mengisi laporan re-investasi pada Maret 2022 agar tetap bebas pajak.

Setelah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 18/PMK.03/2021 keluar pada Maret 2021, dividen yang di distribusikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tidak lagi di potong pajak. Tetapi sebagai gantinya, investor harus re-investasi dividen tersebut di Indonesia selama minimal 3 tahun.

Instrumen re-investasi yang disediakan:

  1. SBN RI dan SBSN RI
  2. Obligasi atau sukuk BUMN yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  3. Obligasi atau sukuk lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  4. Investasi keuangan pada bank persepsi termasuk bank syariah
  5. Obligasi atau sukuk perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  6. Investasi infrastruktur melalui kerjasama pemerintah dengan badan usaha
  7. Investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah
  8. Penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  9. Penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  10. Kerja sama dengan lembaga pengelola investasi (LPI)
  11. Penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam NKRI
  12. Bentuk invetasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Dari pilihan-pilihan tersebut, instrumen yang bisa di akses oleh investor receh antara lain Oblogasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (Sukri) seperti di poin 1, deposito seperti di poin 4, dibelikan saham lagi seperti di poin 9, reksadana seperti di poin 10, dan P2P Lending seperti di poin 11. Sisanya saya kira lebih cocok untuk investor besar.

Nah, mulai Maret tahun depan, nanti investor harus mengisi formulir Laporan Realisasi Investasi yang menyatakan bahwa kita telah melakukan re-investasi atas dividen yang telah diterima. Contoh form yang saya sudah buat berdasarkan lampiran di PMK dapat dilihat di sini

Form ini selanjutnya di sampaikan ke kantor pajak, atau alternatifnya adalah membuka situs DJP Online (yang biasa digunakan untuk melapor SPT). Kemudian kita harus masuk ke bagian "Profil" dan masuk ke sub-menu "Aktivasi Fitur Layanan".

Aktivasi eReporting Investasi
Aktivasi eReporting Investasi

Di sub-menu tersebut, kita harus centang "eReporting Investasi" kemudian klik "Ubah Fitur Layanan". Setelah itu harus re-login.

Menu eReporting Investasi
Menu eReporting Investasi

Setelah itu di bagian "Layanan" akan muncul menu "eReporting Investasi" yang bisa kita isi sesuai dengan form Laporan Realisasi Investasi.

Apa yang terjadi kalau investor tidak lapor re-investasi dividen ini? Investor harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) 10% ini secara manual ke Kantor Pajak satu bulan setelah menerima dividen, paling lambat tanggal 15, dengan kode Akun Pajak 411128 dan kode jenis setoran 419.

Rasanya jadi tambah repot? Ya saya juga berpikir begitu, lagipula sebagai investor receh toh saya belum berpikir untuk re-investasi ke luar negeri, tapi masak mau terus-terusan jadi investor receh?

Hitung-hitung belajar untuk jadi orang kaya.

--
Anton Hermansyah

29 April 2021

Tetap Value Investor atau Pindah YPC (Yang Penting Cuan)?

Kematian Charles de Vaulx

Berita Charles de Vaulx bunuh diri semakin membuat goyah pandangan terhadap relevansi value investing di masa sekarang, pertumbuhan aset fundamental tidak seberapa, bahkan kalah dengan "aset modern", apakah harus beralih ke aliran YPC (Yang Penting Cuan)?

Charles de Vaulx adalah Chief Investment Officer (CIO) dari International Value Advisers, LLC, merupakan value investor garis keras dan tidak pernah mencoba gaya lain sepanjang karirnya. Apabila tidak menemukan "saham salah harga", de Vaulx bahkan kukuh menyimpan 40% portofolio nya di uang kas.

Tidak seperti di Indonesia, di pasar Amerika Serikat (AS), setelah jatuh di bulan Maret 2020 indeks langsung rebound dengan cepat dan mencapai titik tertinggi. Nyaris tidak ada barang salah harga dan bubble tak kunjung pecah karena otoritas moneter seperti The Fed cenderung membiarkan (baca: Saat The Fed Membiarkan Pasar Modal Menentukan Nasibnya Sendiri).

Di sisi lain, yield obligasi di AS pun hampir nol, artinya membeli obligasi di sana hampir tidak ada bedanya dengan menyimpan di bawah bantal. Para investor obligasi pun akhirnya terpaksa pindah ke saham, menyebabkan harga semakin tidak masuk akal dibanding fundamentalnya.

Di saat saham sudah mulai melambat, uang pun berpindah ke Bitcoin, sebuah instrumen yang "haram" untuk fundamentalis karena tidak bisa diukur fundamentalnya.

Hal ini membuat value investor terjepit, tidak bisa menemukan saham bagus artinya harus menyimpan lebih banyak kas, risikonya pertumbuhan portofolio jadi melambat. Di lain sisi, aset-aset yang "kopong" telah menghasilkan return gila-gilaan.

Tetapi nasabah tidak peduli proses, mereka mau hasil, akhirnya satu-per-satu modal lari dari de Vaulx. Dana Kelolaan (Asset Under Management - AUM) de Vaulx pun turun drastis dari AS$20 miliar menjadi di bawah $1 miliar.

Pada Maret 2021, de Vaulx melikuidasi fund nya dan sebulan kemudian, seperti yang sudah disebutkan di awal, dia bunuh diri dengan melompat dari kantornya di lantai 10.

Untuk investor yang sudah belajar fundamental, kita tahu bahwa aliran YPC tidak menjamin untuk survive dalam jangka panjang. Tetapi selama stimulus tidak ada habisnya dan suku bunga tetap rendah aset-aset "kopong" akan tetap melaju ke atas.

Epilog: Mati Terhormat atau Terus Hidup Sebagai Penjahat?

Akhir hidup de Vaulx memang tragis, tetapi seumur hidupnya dia tidak pernah tergoda untuk berpindah ke "sisi gelap", seperti yang dilakukan oleh Bernie Madoff.

Mengutip tulisan Bernard Madoff Si Penipu Saham Korban Dua Krisis, awalnya Madoff adalah fund manager yang jujur, namun kejatuhan pasar tahun 1987 mengubah segalanya.

Setelah kejatuhan pasar, Madoff, seperti fund manager lainnya, mengalami kegagalan untuk memenuhi ekspektasi return dari para nasabahnya. Sehingga dia mulai mengatur skema Ponzi untuk memberikan keuntungan yang stabil kepada nasabah, semua demi mempertahankan AUM.

Bisnis Ponzi Madoff runtuh saat pasar krisis tahun 2008, pada Juni 2009, dia dihukum penjara 150 tahun.

Dua anaknya, yang pernah bekerja di perusahaannya, meninggal setelah itu, si sulung Mark gantung diri pada Desember 2010 dan Andrew meninggal September 2014 karena kanker nya kambuh di 2011 akibat stress karena bapaknya dipenjara dan abangnya bunuh diri.

Bernie Madoff meninggal di penjara pada bulan April 2021, dua minggu sebelum de Vaulx bunuh diri.

--
Anton Hermansyah

27 April 2021

Investasi dan Iman

Setelah beberapa lama mempelajari teknik-teknik berinvestasi, pada saham khususnya, saya malah merasa apa yang saya pelajari mirip dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru spiritual.

Seperti investor lainnya, saat pertama kali masuk dunia saham yang saya cari adalah "Teknik Sapu Jagat". Bagaimana memilih saham yang akan menghasilkan return paling tinggi, dengan risiko penurunan paling rendah, dan waktu sesingkat-singkatnya.

Setelah mempelajari analisis teknikal klasik, modern, Fibonacci, valuasi, Graham Number, dan lain-lain, saya mulai bisa melakukan seleksi saham. Tetapi ternyata itu saja tidak cukup. Pengalaman-pengalaman seperti "baru dibeli sore nya turun", "setelah dijual malah naik", "yang naik tinggi malah yang lebih 'busuk'" menghantui perjalanan saya.

Jadi selain teknik-teknik kuantitatif perlu ada aspek kualitatif yang harus dipunyai oleh seorang investor dan menurut saya ini mirip dengan ajaran-ajaran spiritual.

Hindari Utang (Jika Mampu)

Saham adalah instrumen yang tidak bisa ditebak kapan naik dan kapan turun nya sedangkan utang sudah tentu harus dibayar cicilan nya per tahun atau malah per bulan. Jika kita menggunakan fasilitas limit dan marjin dari sekuritas keuntungan kita akan berlipat ganda, tetapi apabila rugi, maka akan berlipat ganda juga.

Charlie Munger dari Berkshire Hathaway mengatakan, "Smart men go broke three ways - liquor, ladies and leverage."

Warren Buffett dalam esai "The Superinvestors of Graham-and-Doddsville" tahun 1984 menceritakan tentang Rick Guerin, pemegang saham Berkshire Hathaway di masa lalu selain Buffett dan Munger. Buffett menceritakan bahwa Guerin sama pintarnya dengan mereka berdua tetapi memilih untuk kaya lebih cepat dengan menggunakan marjin yang berlebihan.

Akibatnya saat pasar saham jatuh tahun 1973-1974, Guerin harus menjual sahamnya di Berkshire untuk melunasi marjin nya.

Dari Indonesia, Pak Lukas Setia Atmaja dalam artikel "Jurus saham juragan beras" menceritakan bahwa Pak Sukarto Bujung, pemilik HOKI, pernah terlilit utang marjin Rp1,5 miliar setelah krisis 1998 yang membuat portofolionya anjlok. Sejak saat itu Pak Karto beralih ke metode value investing tanpa utang.

Sabar

Saham yang bergantian naik turun setiap harinya memang menggoda kita untuk mengutak-atik portofolio dan berganti saham. Tetapi setelah jual dan ganti saham, justru malah saham yang sudah dijual yang naik.

Investasi saham juga akan maksimal apabila kita mendapatkan baik dividen dan capital gain. Sehingga paling tidak, holding period minimal harus satu tahun, kasarnya.

Berpindah saham terlalu sering juga membuat kita luput dari keuntungan besar. Seperti kata Jesse Livermore, "Throughout all my years of investing I've found that the big money was never made in the buying or the selling. The big money was made in the waiting."

Merelakan yang Bukan Rejeki

Memutuskan hold dalam jangka panjang adalah sebuah "komitmen" dan di tengah jalan seringkali hal-hal yang "di luar dugaan" terjadi. Contoh, saya pegang PTPP karena keadaan keuangannya masih bagus di antara BUMN konstruksi (selain WIKA), tapi ternyata malah WSKT yang naik paling tinggi.

Begitupun dengan investor syariah, yang harus merelakan saham-saham bank naik terus dengan stabil dan tidak bisa merasakan gurih nya dividen MLBI.

Sikap Fear of Missing Out (FOMO) justru lebih sering berbalik merugikan, karena bisa saja saat kita memutuskan untuk membeli, ternyata sudah ada di pucuk.

Lo Kheng Hong pun sering berkata, "Berarti bukan rejeki saya, biarlah menjadi rejeki orang lain."

Bukan Rejeki Saya
Bukan Rejeki Saya

Saya rasa mental inilah yang harus dimiliki oleh investor jangka panjang di tengah "godaan-godaan" market. Apakah mirip dengan yang diajarkan guru spiritual kita? Menurut saya sedikit banyak mirip.

--
Anton Hermansyah

28 Maret 2021

Kenaikan Pajak Biden Bisa Buat IHSG Naik Lagi?

Pajak Biden

Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sudah mulai membuat proposal kenaikan pajaknya, apakah setelah sah akan membuat dana asing berbondong-bondong masuk Indonesia lagi?

Rencana tersebut memang sudah dikemukakan sewaktu kampanya pemilihan presiden tahun lalu. Setelah Biden dinyatakan menang awal November 2020, terjadi pembelian asing dalam jumlah besar.

Menurut proposal yang beredar sekarang, pajak badan usaha akan naik ke 28 persen, dari saat ini di 21 persen. Masih lebih rendah dari periode sebelum dipotong Donald Trump, yaitu di 35 persen.

Ada juga berita yang menyebutkan bahwa kemungkinan partai Republik akan "menawar" di level 25 persen.

Selain badan usaha, pajak perorangan juga akan naik ke 39,6 persen dari level saat ini di 37 persen. Pajak perorangan ini juga termasuk capital gain, bukan hanya cuan di saham namun juga di instrumen investasi lainnya termasuk properti. Tetapi selama instrumen tersebut tidak dijual, maka tidak akan dikenakan pajak.

Biden berjanji bahwa kenaikan ini akan berlaku untuk orang-orang kaya saja, yaitu mereka yang berpenghasilan di atas AS$400.000 setahun. Namun masih belum jelas apakah batas ini berlaku untuk individu atau untuk pasangan (gabungan penghasilan suami-istri).

Dalam skema Trump, pajak 37 persen dikenakan pada pendapatan tahunan di atas AS$518.401 untuk individual dan $622.051 untuk pasangan suami-istri yang gabung harta. Artinya, dengan batas yang lebih rendah, skema Biden akan mencakup lebih banyak orang.

Seberapa banyak orang yang akan terdampak? Di AS, hanya 1,8 persen rumah tangga menghasilkan $400.000 ke atas setahunnya, menurut survei Internal Revenue Service (IRS) alias Direktorat Jenderal Pajak pemerintah AS.

Lembaga Tax Policy Center memperkirakan pemerintahan Biden akan meraup tambahan pemasukan negara $2,1 triliun selama satu dekade ke depan dari naiknya pajak.

Tambahan yang akan meringankan anggaran yang sampai Februari 2021 sudah defisit $1,05 triliun setelah lima bulan tahun anggaran (di AS tahun fiskal dimulai pada Oktober).

Dampaknya untuk korporasi? menurut laporan Goldman Sachs, kenaikan pajak korporasi akan menurunkan laba bersih perusahaan S&P 500 sebanyak 9 persen. Riset dari UBS menyebutkan jika kenaikan pajak badan usaha bisa "ditawar" menjadi 25 persen, maka penurunan laba bersih akan sebesar 4 persen.

Riset Goldman Sachs juga menyebutkan jika memang terjadi kenaikan pajak, maka akan ada aksi ambil untung di saham untuk kemudian masuk ke obligasi. Alasannya, dengan meningkatnya pendapatan, maka pemerintah AS tidak perlu mengeluarkan surat utang banyak-banyak, sehingga yield obligasi akan jadi lebih stabil.

Apakah akan ada dana yang akan "lari" ke Indonesia?

Kemungkinan akan ada, mengingat bahkan saat Biden menang saja ada dana asing yang sudah "curi start" ke Indonesia. Besar atau tidak arusnya nanti akan ditentukan pada persentase pajak yang akan dinaikkan.

Faktor kedua, pemerintah Indonesia saat ini melakukan hal yang bertentangan dengan AS, yaitu menurunkan pajak, yang dapat menarik investasi ke dalam negeri. Salah satunya adalah pajak dividen 0 persen (sebelumnya 10 persen untuk perorangan dan 15% untuk badan usaha).

Kapan kenaikan pajak ini di sahkan menjadi undang-undang?

Kita harus kembali ke 1993, di mana Presiden Bill Clinton terpilih dan membuat proposal kenaikan pajak di bulan Januari untuk mengatasi defisit anggaran warisan Ronald Reagan dan George Bush Senior. Aturan yang bernama "Omnibus Budget Reconciliation Act of 1993" ini sah pada bulan Agustus di tahun yang sama.

Akankan terjadi "keajaiban" di bulan Agustus? Kita lihat saja.

--
Anton Hermansyah

24 Maret 2021

Lebih Baik Hold Jangka Panjang di ETF Indeks atau Fokus di Satu Saham?

Ada nasabah bertanya di grup Telegram, lebih baik mana antara menabung jangka panjang di Exchange Traded Fund (ETF) indeks atau fokus di satu saham big caps?

Berdatanganlah jawaban dari nasabah-nasabah lain, semuanya berkata, "hold satu saham saja yang berkualitas baik". Rata-rata menyebutkan saham-saham bank seperti BBCA dan BBRI atau saham barang konsumsi seperti ICBP.

Tidak salah juga sebetulnya, tapi juga tidak benar sepenuhnya. Jika kita ada di tahun 2011, lalu memilih satu dari 10 saham dengan kapitalisasi pasar terbesar pada saat itu, kemudian di hold 10 tahun, maka peluang kita adalah 50:50.

Sepuluh Besar 2011 vs LQ45
Sepuluh Besar 2011 vs LQ45

Dari 10 saham terbesar yang ada di saat itu, hanya lima saham yang memberikan return lebih besar dari indeks LQ45 apabila di hold 10 tahun. Bahkan ada tiga saham yang boncos.

Memegang saham dalam jangka panjang, katakanlah 10 tahun, memang bisa menghindarkan kita dari gejolak naik turun nya harga dalam jangka pendek, istilahnya adalah "risiko sistematis".

Tetapi jika dengan satu saham saja, kita masih akan terpapar oleh perubahan yang terjadi di fundamental perusahaan itu sendiri atau yang disebut "risiko non-sistematis".

Misalkan dalam jangka waktu 10 tahun tersebut terjadi perubahan peta industri, seperti yang dialami BIRD dan TAXI yang disaingi oleh Gojek dan Grab. Sekarang BBCA dan BBRI juga akan menghadapi era bank digital.

Perubahan manajemen juga bisa menjadi risiko. Saat ini, Dirut BBCA Pak Jahja Setiaatmadja sudah 64 tahun, apabila mengikuti pendahulunya Pak Djohan Emir Setijoso (saat ini Komut) yang pensiun di umur 69 tahun, maka kemungkinan di 2026 akan ada risiko di BBCA dari pergantian dirut.

Ada juga faktor risiko dari perubahan peraturan pemerintah, seperti kenaikan cukai beberapa tahun terakhir yang membuat HMSP dan GGRM berbalik turun ekstrim. Investor juga berbalik arah dari PGAS yang ditunjuk pemerintah untuk menyalurkan subsidi gas.

Risiko non-sistematis secara tradisional dapat di minimalisir dengan melakukan diversifikasi ke sektor-sektor yang berbeda. Sederhananya misalkan harga minyak naik, saham otomotif yang kita pegang turun, tetapi secara portofolio kita masih aman karena ada saham pengeboran minyak yang naik harganya.

Bisa juga tidak diversifikasi, dengan syarat kita sudah tahu kondisi dan siklus usaha dari emiten tersebut dan perkembangannya kita pantau terus. Seperti kata Warren Buffett, Keep all your eggs in one basket, but watch that basket closely.

Tetapi jika konteksnya adalah nasabah pemula, saya memang lebih menyarankan untuk pegang ETF indeks seperti R-LQ45X atau XIJI karena sudah otomatis terdiversifikasi, di revisi isi nya tiap enam bulan sekali, dan bisa dijual lebih cepat dari reksadana biasa.

Selain itu, saya juga tidak kuatir kalau fund manager nya digantikan orang lain seperti di reksadana biasa, ETF kan tinggal ikut indeks acuannya saja.

--
Anton Hermansyah

21 Maret 2021

Saat The Fed Membiarkan Pasar Modal Menentukan Nasibnya Sendiri

Pernyataan Federal "The Fed" Reserve pada hari Rabu 17 Maret 2021 membuat saya bingung, bank sentral AS ini menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023, namun tetap membiarkan inflasi naik tinggi, akomodatif tetapi seolah bicara "silahkan tentukan nasibmu sendiri".

Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya di "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?", yield obligasi, terutama yang tenor panjang, belakangan ini mengalami kenaikan terus menerus.

Penyebabnya kenapa?

Ekspektasi pemulihan ekonomi dalam waktu dekat makin meningkat. Sehingga perbankan, yang biasanya memegang porsi obligasi negara terbesar, mulai menjual obligasi yang mereka pegang untuk kembali menyalurkan kredit.

Memegang obligasi negara adalah "bisnis alternatif" untuk bank karena saat ekonomi tidak jalan, maka kredit juga tidak jalan, malah gagal bayar. Saat ekonomi kembali pulih, tentunya mereka akan kembali ke bisnis utamanya yang lebih menguntungkan, yaitu penyaluran kredit.

Sedangkan bagi pelaku pasar, kenaikan yield obligasi merupakan tanda bahwa inflasi akan naik. Jika inflasi naik, maka nanti suku bunga juga akan ikut naik.

Apabila bunga akan naik, logika nya biaya pinjaman akan jadi lebih mahal. Jika kita bermain dengan marjin, artinya kita harus cepat-cepat take profit dan lunasi utang marjin nya sebelum kena dobel petaka, harga saham turun dan bunga marjin juga naik.

Apa yang sebetulnya pelaku pasar harapkan dari The Fed? Secara garis besar ada dua, pertama, menegaskan bahwa suku bunga tidak akan naik, yang kedua, melakukan operation twist.

Operation twist adalah perpindahan fokus pembelian obligasi negara ke tenor-tenor panjang dari yang sebelumnya ada di tenor-tenor pendek. Dengan adanya operasi ini, kenaikan yield obligasi di tenor panjang dapat diredam.

Pada pernyataan nya di hari Rabu kemarin, The Fed memang menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai 2023. Tetapi tidak ada petunjuk sama sekali mengenai rencana operation twist.

Malah The Fed juga tidak akan memperpanjang aturan Supplementary Leverage Ratio (SLR), yaitu aturan yang membuat perbankan dapat memegang obligasi negara lebih besar daripada tingkat modal mereka, aturan ini akan berakhir 31 Maret 2021. Artinya perbankan akan terus menjual obligasinya dan yield akan terus naik.

Ini seolah The Fed mengatakan pada pelaku pasar, silahkan kalian melanjutkan pembelian marjin dan meningkatkan harga saham juga bitcoin, kami akan mendukung dengan mempertahankan suku bunga. Tetapi, kalau mau take profit dan melunasi marjin juga silakan, karena kami akan membiarkan yield obligasi meningkat.

Sehingga pelaku pasar akan "lirik-lirik tetangga" sebelum mengambil keputusan. Ibarat pemilu, suara terbesarlah yang akan menang.

Bagaimana dengan pasar modal Indonesia?

Mengutip kata Pak Chatib Basri, ke depanya adalah perlombaan pemulihan ekonomi. Jika Indonesia terlambat pulih dibanding AS, maka dana asing akan "pulang" dahulu.

The Fed memproyeksikan ekonomi AS akan naik 6,2% di 2021, lebih tinggi dari perkiraan tiga bulan lalu di 4.2%. Angka Indonesia setidaknya harus sama, jika tidak ingin ada capital outflow di IHSG.

Pemulihan ekonomi juga berarti akan ada rotasi ke saham-saham sektor riil. Saya melihat sudah ada pergerakan di saham-saham seperti ASII, ICBP, RALS, dan JPFA yang memang masih belum banyak bergerak sebelumnya karena pandemi Covid-19.

--
Anton Hermansyah

18 Maret 2021

Lebih Baik Menggoda Pembeli Fortuner Daripada Pembeli Avanza

Toyota Fortuner 2021
Toyota Fortuner 2021

Saat pemerintah mengumumkan akan memperluas pembebasan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) ke kapasitas mesin 2.500 cc saya termasuk setuju, karena di segmen inilah justru banyak orang yang harus dipancing untuk konsumsi.

Di segmen sampai 2.500 cc ini terdapat dua mobil produk ASII yang sudah memenuhi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 70% ke atas, yaitu Toyota Kijang Innova dan Toyota Fortuner. Dengan harga Rp340 juta ke atas, pembeli mobil ini tentunya berasal dari kalangan menengah-atas, selain itu banyak juga digunakan untuk mobil dinas dan kantor (fleet).

Mengutip perkataan Pak Chatib Basri, "lockdown itu bias". Di saat pembeli Avanza (menengah-bawah) kebingungan mencari uang karena banyak tempat publik yang tutup, pembeli Fortuner (menengah-atas) malah berlebihan uangnya karena tidak bisa traveling, fine dining, dan kegiatan konsumtif lainnya.

Hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank yang tinggi selama 2020, seperti yang sudah pernah saya bicarakan dalam artikel "Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?". Tidak mungkin kenaikan DPK ini berasal dari kelas menengah-bawah yang tahun lalu banyak diwarnai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), pastinya sebagian besar dari menengah-atas.

Tanpa adanya konsumsi dari kelas menengah-atas maka kelas menengah-bawah pun kelimpungan, tidak ada tamu restoran yang dilayani, hotel sepi karena tidak ada seminar, sampai tidak ada orang yang naik taksi.

Di sisi lain, bursa saham, yang identik dengan orang-orang banyak duit, mengalami kenaikan yang signifikan karena diserbu segala kalangan. Kelas menengah-atas, yang memang punya pengalaman dan dana lebih banyak, mempunyai kesempatan untuk meningkatkan uangnya dengan signifikan.

Uang ini perlu dibelanjakan di sektor riil untuk memutar ekonomi kembali dan membuat kelas menengah-bawah "bernafas" lagi. Dengan memperluas insentif ke 2.500 cc akan memancing uang ini untuk "keluar".

Efeknya bagaimana ke saham?

Mungkin akan ada sebagian orang yang akan take profit di saham untuk membeli mobil. Tidak apa, karena jika sektor riil berjalan maka nantinya fundamental emiten akan makin baik dan makin banyak orang yang berinvestasi saham, sehingga bursa akan pulih dengan sendirinya.

Bubble yang kempes sedikit demi sedikit lebih baik daripada yang tiba-tiba pecah seperti roller coaster tanpa pengaman

--
Anton Hermansyah