Setelah beberapa lama mempelajari teknik-teknik berinvestasi, pada saham khususnya, saya malah merasa apa yang saya pelajari mirip dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru spiritual.
Seperti investor lainnya, saat pertama kali masuk dunia saham yang saya cari adalah "Teknik Sapu Jagat". Bagaimana memilih saham yang akan menghasilkan return paling tinggi, dengan risiko penurunan paling rendah, dan waktu sesingkat-singkatnya.
Setelah mempelajari analisis teknikal klasik, modern, Fibonacci, valuasi, Graham Number, dan lain-lain, saya mulai bisa melakukan seleksi saham. Tetapi ternyata itu saja tidak cukup. Pengalaman-pengalaman seperti "baru dibeli sore nya turun", "setelah dijual malah naik", "yang naik tinggi malah yang lebih 'busuk'" menghantui perjalanan saya.
Jadi selain teknik-teknik kuantitatif perlu ada aspek kualitatif yang harus dipunyai oleh seorang investor dan menurut saya ini mirip dengan ajaran-ajaran spiritual.
Hindari Utang (Jika Mampu)
Saham adalah instrumen yang tidak bisa ditebak kapan naik dan kapan turun nya sedangkan utang sudah tentu harus dibayar cicilan nya per tahun atau malah per bulan. Jika kita menggunakan fasilitas limit dan marjin dari sekuritas keuntungan kita akan berlipat ganda, tetapi apabila rugi, maka akan berlipat ganda juga.
Charlie Munger dari Berkshire Hathaway mengatakan, "Smart men go broke three ways - liquor, ladies and leverage."
Warren Buffett dalam esai "The Superinvestors of Graham-and-Doddsville" tahun 1984 menceritakan tentang Rick Guerin, pemegang saham Berkshire Hathaway di masa lalu selain Buffett dan Munger. Buffett menceritakan bahwa Guerin sama pintarnya dengan mereka berdua tetapi memilih untuk kaya lebih cepat dengan menggunakan marjin yang berlebihan.
Akibatnya saat pasar saham jatuh tahun 1973-1974, Guerin harus menjual sahamnya di Berkshire untuk melunasi marjin nya.
Dari Indonesia, Pak Lukas Setia Atmaja dalam artikel "Jurus saham juragan beras" menceritakan bahwa Pak Sukarto Bujung, pemilik HOKI, pernah terlilit utang marjin Rp1,5 miliar setelah krisis 1998 yang membuat portofolionya anjlok. Sejak saat itu Pak Karto beralih ke metode value investing tanpa utang.
Sabar
Saham yang bergantian naik turun setiap harinya memang menggoda kita untuk mengutak-atik portofolio dan berganti saham. Tetapi setelah jual dan ganti saham, justru malah saham yang sudah dijual yang naik.
Investasi saham juga akan maksimal apabila kita mendapatkan baik dividen dan capital gain. Sehingga paling tidak, holding period minimal harus satu tahun, kasarnya.
Berpindah saham terlalu sering juga membuat kita luput dari keuntungan besar. Seperti kata Jesse Livermore, "Throughout all my years of investing I've found that the big money was never made in the buying or the selling. The big money was made in the waiting."
Merelakan yang Bukan Rejeki
Memutuskan hold dalam jangka panjang adalah sebuah "komitmen" dan di tengah jalan seringkali hal-hal yang "di luar dugaan" terjadi. Contoh, saya pegang PTPP karena keadaan keuangannya masih bagus di antara BUMN konstruksi (selain WIKA), tapi ternyata malah WSKT yang naik paling tinggi.
Begitupun dengan investor syariah, yang harus merelakan saham-saham bank naik terus dengan stabil dan tidak bisa merasakan gurih nya dividen MLBI.
Sikap Fear of Missing Out (FOMO) justru lebih sering berbalik merugikan, karena bisa saja saat kita memutuskan untuk membeli, ternyata sudah ada di pucuk.
Lo Kheng Hong pun sering berkata, "Berarti bukan rejeki saya, biarlah menjadi rejeki orang lain."
![]() |
| Bukan Rejeki Saya |
Saya rasa mental inilah yang harus dimiliki oleh investor jangka panjang di tengah "godaan-godaan" market. Apakah mirip dengan yang diajarkan guru spiritual kita? Menurut saya sedikit banyak mirip.
--Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar