Tentang Saya

27 Mei 2021

KFC yang Ekspansif di Saat Ekonomi Lesu

FAST, emiten pemilik waralaba KFC di Indonesia, selalu masuk dalam watchlist saya dalam 2 tahun belakangan, kas nya kuat, EPS yang selalu bertumbuh sebelum Covid-19 dan bahkan di saat ekonomi lesu, emiten ini tetap aktif berinovasi

Sebelum Covid-19 menyerang, setiap tahunnya Cash to Equity FAST selalu berada di atas 50%, jauh lebih tinggi di atas MAPB yang ada di sekitar 20% dan PZZA yang ada di sekitar 15%. EPS pun selalu bertumbuh dengan rata rata 11,77% setiap tahun nya dari 2014 sampai 2019.

Saat PSBB diberlakukan memang FAST terkena dampak yang parah, kuartal 2 dan kuartal 3 langsung berdarah-darah. Sebagian besar gerai memang berada di mal sehingga tidak bisa "menyambung hidup" dengan pesan-antar seperti pesaing nya McDonald's yang kebanyakan gerainya stand-alone.

Tapi di tengah pandemi emiten ini masih berinovasi, Oktober 2020 membuka "Naughty by Nature" di daerah Senopati, di mana produk ayam standar KFC dikombinasikan dengan makanan sehat. Tidak lama, bulan Desember 2020 mereka membuka gerai Taco Bell pertama di Indonesia, masih di daerah Senopati.

Pada bulan Mei 2021 FAST membuka gerai stand-alone di dekat Taman Melawai, tidak jauh dari gerai lama di Plaza Melawai. Mereka memodifikasi rumah tua menjadi gerai bergaya klasik, dinamakan "KFC Classic Store".

Gerai Taman Melawai ini menjadi satu-satunya tempat untuk membeli menu "Classic Combo", menu asli yang pertama kali ditawarkan oleh Kakek Colonel Sanders saat mendirikan KFC. Isinya satu potong ayam "Original", jagung rebus, coleslaw (salad kol), mashed potato (kentang tumbuk), dan hot roll (roti kecil) yang baunya harum.

Menu KFC 1969
Menu KFC 1969 (Sumber flickr.com)

Saat saya ke sana, gerainya penuh dengan orang-orang. Semuanya memesan "Classic Combo", padahal menu ini harganya tidak murah, yaitu Rp50.000, belum termasuk minum.

KFC Taman Melawai
KFC Taman Melawai

Ketiga gerai baru FAST tersebut memang bukan untuk "sobat misqueen", jika makan untuk dua orang biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp100.000 sampai Rp250.000. Tetapi memang di saat Covid-19, strategi ini benar, menurut saya.

Covid-19 dan lockdown nya memang bias ke atas, kelas menengah ke atas dapat bertahan dengan baik, bahkan pengeluarannya lebih kecil karena work from home (WFH). Sementara kelas menengah ke bawah harus pontang-panting mencari uang karena pasar yang biasanya ada harus ditutup karena pandemi.

Jika daya beli menurun, seperti yang terjadi di kelas menengah-bawah, tentunya kita akan mencari alternatif yang lebih murah, toh ayam goreng "jalanan" seperti Sabana dan D'Besto sudah hampir sama enaknya dengan KFC. Di sini FAST, yang harga ayamnya relatif premium, memutuskan untuk "naik kelas" dengan membuat "gerai-gerai sultan" tersebut.

Ramainya gerai sultan milik FAST juga membuktikan bahwa kelas menengah atas masih punya daya beli, tinggal bagaimana memancing mereka untuk konsumsi. Karena ini pula mungkin PBV FAST masih mahal, bertahan di atas 3x.

Akhirnya belum jadi saya beli.

--
Anton Hermansyah

19 Mei 2021

Trend Following atau Contrarian di Saat Pasar Stagnan Cenderung Bearish?

Teman saya meminta saran untuk nasabah-nasabahnya mengenai strategi yang tepat saat pasar stagnan dan malah cenderung bearish, jawabannya bisa bermacam-macam, tergantung logika dan kondisi masing-masing nasabah.

Ada dua aliran dasar yaitu "Trend Following" dan "Contrarian", keduanya benar, keduanya punya contoh sukses masing-masing tetapi bertolak belakang satu sama lain.

Sesuai namanya, dalam Trend Following pembelian dilakukan saat tren bullish sudah terkonfirmasi, contoh saat harga sudah menembus MA10, RSI di atas 50 dan MACD sudah membentuk Golden Cross. Terlambat? Memang, tapi dengan memastikan bahwa tren sudah terkonfirmasi akan meminimalisir risiko.

Pada dasarnya Trend Following adalah "meledakkan" portofolio di saat terjadi ombak besar. Karena ombak besar tidak terjadi setiap hari, maka sekalinya ada kesempatan seperti pada November-Desember 2020, keuntungan dimaksimalkan dengan menggunakan marjin.

Kalau saya trader syariah? Artinya harus menggunakan sistem pinjaman lain yang sesuai, seperti gadai syariah, begitu cair uangnya langsung dimasukkan RDN.

Pasar yang stagnan bahkan cenderung bearish seperti saat ini seringkali berujung jebakan bagi Trend Follower karena tren tidak berlangsung lama. Setelah naik 2 hari langsung jual, bahkan sering terjadi false breakout yang malah membuat rugi.

Sehingga memang saran terbaik untuk Trend Follower di saat seperti ini adalah rehat dulu, masukkan keuntungan di instrumen-instrumen yang lebih aman seperti Reksa Dana Pasar Uang sembari menunggu ombak selanjutnya. Beberapa pemain senior bahkan mempunyai prinsip "Main satu dua kali per tahun tetapi hasilnya cukup untuk hidup satu tahun".

Penganut aliran Contrarian adalah "Penangkap Pisau Jatuh" beli justru di saat merah dan jual di saat hijau. Pasar yang jatuh seperti ini justru malah membuat Contrarian senang.

Tapi bukan berarti aliran ini "anti nyangkut", Warren Buffett, salah satu Contrarian terbesar di dunia, membeli saham Goldman Sachs yang terjun bebas saat krisis finansial 2008. Buffett masuk pada September 2008 sebesar AS$5 miliar (sekitar 1,87% dari Total Aset Berkshire Hathaway waktu itu $267 miliar).

Saham Goldman Sachs memantul dari titik terendahnya pada bulan November, tetapi ternyata indeks pasar masih terus turun sampai mencapai titik terendah di Maret 2009 yang artinya masih banyak saham-saham murah lainnya setelah itu. Tetapi Buffett sudah terlanjur masuk dengan full power.

Timing Warren Buffett di Goldman Sachs
Timing Warren Buffett di Goldman Sachs

Dalam wawancara dengan CNBC tahun 2018, Buffett bilang, andaikan bisa mengulang, maka dia akan memilih menunggu dulu sampai 6 bulan.

Saat pasar sedang stagnan dan cenderung bearish bagi Contrarian ini saat nya untuk mencicil beli. Sedangkan bagi Trend Follower ini saatnya untuk rehat sejenak dari pasar.

Untuk menjualnya, baik Trend Following dan Contrarian sama-sama mesti menunggu pasar bullish kembali. Bedanya, jika Contrarian menunggu dengan keyakinan bahwa dia telah mendapatkan harga paling murah, Trend Follower menunggu dengan setumpuk cash yang "siap diledakkan".

Kembali ke saran untuk nasabah, karena latar belakang yang berbeda-beda, kita tidak bisa memaksa semua nasabah untuk mengikuti aliran yang sama. Tergantung pada status pekerjaan, ketersediaan dana darurat, dan kesabaran masing-masing.

Saya saat ini nyaman menjadi Contrarian karena masih memiliki pekerjaan tetap dan bisa menyisihkan uang gaji untuk mengisi RDN setiap bulannya. Tetapi saya tidak bisa memaksakan paham Contrarian pada nasabah saya yang pensiunan, cara pengelolaan uangnya sudah berbeda.

Pada akhirnya lebih baik memilih metode yang membuat kita nyaman.

--
Anton Hermansyah

18 Mei 2021

Menakar Cuan IPO Gojek-Tokopedia untuk ASII, TLKM dan BIRD

GoTo

Gojek dan Tokopedia sudah resmi bergabung menjadi GoTo, selanjutnya adalah IPO, jika orang-orang lain membicarakan ARTO, maka saya akan coba membahas dampak kenaikan saham GoTo setelah IPO terhadap emiten-emiten lain yang sudah berinvestasi di Gojek.

Apabila GoTo berhasil IPO dan harga sahamnya melonjak naik sampai dua kali lipat (seperti yang sudah digadang-gadang di sini), maka di atas kertas akan dicatat sebagai capital gain di Laporan Laba/Rugi emiten yang memegang sahamnya (untuk kepemilikan di bawah 50%).

Laba bersih tentu saja akan melonjak, seperti kasus HRUM, yang laba bersihnya melonjak karena harga saham Nickel Mines Ltd melonjak gila-gilaan.

Astra International - ASII

Bermula sejak 2019, sampai saat ini ASII sudah menginvestasikan AS$250 juta atau sekitar Rp3,58 triliun (kurs Rp14.300). Jumlah ini adalah 2,05% dibanding pendapatan ASII tahun 2020 yang sebesar Rp175,05 triliun.

Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) ASII tahun 2020 adalah Rp16,16 triliun, angka ini sudah dibantu oleh penjualan BNLI yang mencatatkan tambahan pendapatan Rp5,88 triliun. Apabila hasil penjualan BNLI dikeluarkan, maka Laba ASII hanya sebesar Rp10,28 triliun.

Dengan demikian, maka Marjin Laba Bersih ASII di 2020 tanpa penjualan BNLI adalah 5,87%. Jika pendapatan 2021 diasumsikan optimis naik 20% (sejauh perkiraan analis yang saya baca di sini menjadi Rp210 triliun, maka Laba Bersih 2021 adalah sekitar Rp12,33 triliun.

Apabila GoTo mampu melesat 2 kali lipat, seperti yang digadang-gadang para analis, maka ASII akan mendapatkan unrealized gain sekitar Rp3,50 triliun. Jika ditambahkan ke Laba Bersih perkiraan 2021 yang sudah di hitung sebelumnya, maka Laba Bersih ASII akan menjadi Rp15,83 triliun.

Secara kertas, Laba ini masih lebih rendah dibandingkan dengan Rp16,16 triliun di 2020, karena memang meski GoTo naik 2 kali lipat pun, capital gain yang didapat ASII masih belum sebesar hasil penjualan BNLI.

Telkom - TLKM

Telkomsel sejauh ini sudah berinvestasi $450 juta di Gojek atau sebesar Rp6,44 triliun. Dibandingkan pendapatan TLKM 2020 yang sebesar Rp136,46 triliun, investasi ini "hanya" sebesar 4,71% nya.

Laba Bersih (yang dapat diatribusikan ke entitas induk) TLKM di 2020 sebesar Rp20,80 triliun. Berarti Marjin Laba Bersih di sini adalah 15,24%.

Para analis di artikel ini memproyeksikan pendapatan TLKM di 2021 ada di kisaran Rp143 triliun atau hanya naik sekitar 4,79%.

Dengan hitungan Marjin Laba Bersih sederhana, maka Laba Bersih 2021 ada di kisaran Rp21,79 triliun. Jika TLKM mendapatkan capital gain Rp6,40 triliun dari GoTo apakah berarti Laba Bersih 2021 akan ada di Rp28,19 triliun?

Tidak juga, karena yang berinvestasi adalah Telkomsel, di mana porsi kepemilikan TLKM hanya sebesar 65%, maka angka capital gain tersebut harus dikalikan dengan persentase porsi TLKM. Sehingga gain nya hanya akan sebesar Rp4,16 triliun.

Dari sini kita mendapatkan Laba Bersih perkiraan 2021 TLKM ada di Rp25,95 triliun atau naik 24,76% dibanding 2020. Angka pertumbuhan yang fantastis untuk TLKM yang memang sudah tergolong matang.

Blue Bird - BIRD

Bagaimana dengan BIRD? Dari berita awal 2020, kita tahu bahwa BIRD memegang 5.941 lembar saham seri P Gojek dengan valuasi sebesar Rp2,97 miliar.

Sayangnya BIRD sedang rugi, sehingga saya tidak bisa memakai rumus Marjin Laba Bersih dan juga belum ada perkiraan target pendapatan 2021 dari analis. Sehingga harus memakai asumsi sendiri.

Dari data keuangan yang sudah ada, pendapatan kuartalan BIRD selama pandemi tidak pernah lebih dari Rp500 miliar, sementara jika normal, emiten ini bisa mendapatkan Rp1 triliun setiap kuartalnya.

Jika kita positif bahwa Covid-19 akan beres di kuartal terakhir, maka Pendapatan Kuartal 4 bisa mencapai Rp800 miliar dengan asumsi masih transisi, sehingga full year menjadi Rp2,3 triliun. Tetapi jika memang tidak tertangani sampai akhir tahun maka asumsi pendapatan menjadi Rp2 triliun saja.

BIRD dapat menekan beban (tidak termasuk pajak) ke level Rp530 miliar tiap kuartal pada saat pandemi yang berarti total beban selain pajak setahunnya ada di level Rp2,12 triliun. Sehingga dengan asumsi pertama BIRD akan menghasilkan Laba Sebelum Pajak di Rp180 miliar dan di asumsi kedua menghasilkan Rugi Sebelum Pajak di -Rp120 miliar.

Untuk beban pajak, emiten akan mendapatkan kompensasi kerugian (loss carryback) jika rugi. Dengan asumsi pajak 30%, maka asumsi pertama akan menghasilkan pajak Rp54 miliar dan asumsi kedua akan mendapatkan kompensasi kerugian sebesar Rp36 miliar.

Finalnya, asumsi pertama akan menghasilkan Laba Bersih Rp126 miliar sementara asumsi kedua akan menghasilkan Rugi Bersih -Rp84 miliar. Apabila ada capital gain dari saham GoTo, maka akan menjadikan Laba Bersih Rp128,97 miliar di asumsi pertama dan Rugi Bersih -Rp81,03 miliar, memang keduanya tidak terlalu signifikan.

Kendala

Perhitungan sederhana tersebut bisa saja meleset jauh, faktor pertama adalah jika kenaikan saham GoTo tidak sesuai harapan, faktor kedua adalah kurangnya informasi publik mengenai saham Gojek yang dimiliki oleh ASII dan TLKM.

Sejauh ini hanya BIRD yang jelas berapa lembar kepemilikan saham nya, untuk ASII, dari total investasi $250 juta, disebutkan bahwa $100 juta dimasukkan lewat Pendanaan Seri F, sisanya tidak diberikan penjelasan apakan dimasukkan ke dalam saham Gojek atau di investasikan di anak perusahan Gojek.

Bagaimana dengan TLKM? Investasi Telkomsel di Gojek tidak melalui putaran pendanaan tetapi melalui pembelian obligasi konversi (convertible bond), tidak ada informasi mengenai tenor dan kapan dapat di konversi menjadi saham. Saya pun tidak paham apakah jika harga saham GoTo naik maka harga obligasi konversi ini akan naik juga.

--
Anton Hermansyah

03 Mei 2021

Berapa Besaran Reinvestasi Dividen untuk Bebas Pajak?

Reinvestasi Dividen Dalam Negeri

Setelah sebelumnya membahas cara melaporkan reinvestasi dividen untuk bebas pajak, saatnya membahas soal besaran dividen yang harus di reinvestasikan, mungkin jadi terbalik-balik, tetapi ini karena saya mencoba mendalami aturannya per kasus yang ditanyakan di grup-grup saham.

Berapa Dividen yang Harus di Reinvestasi?

Untuk dividen dari luar negeri, batas minimal reinvestasi adalah 30% dari laba bersih pada tahun sebelumnya. Jika kita punya saham GOOG dan perusahaan ini membagikan dividen dengan payout ratio sebesar 50% di mana jika diuangkan jumlahnya AS$100, maka yang harus kita reinvestasi adalah sebesar 30%× ($100 ÷ 50%) = $60.

Sekarang, apabila Dividend Payout Ratio nya hanya sebesar 20% di mana jika di uangkan jumlahnya $100, maka dengan rumus yang sama, yang harus kita reinvestasi adalah 30%× ($100 ÷ 20%) = $150.

Loh kok lebih besar dari dividen nya sendiri? Ya itu karena PMK menghitung dari besaran Dividend Payout Ratio terhadap laba bersihnya, bukan dari besaran dividen yang kita terima.

Karena kita hanya bisa reinvestasi maksimal $100, sisa $50 nya bagaimana? Menurut PMK, itu dianggap "nombok", artinya kita harus membayar pajak 10% dari sisa $50 itu, dengan kata lain kita utang pajak $5 ke pemerintah meski kita sudah reinvestasi semua dividen.

Aneh? Ya begitulah isi peraturannya. Silahkan cek Pasal 27 dalam PMK No 18 Tahun 2021.

Reinvestasi Dividen Luar Negeri
Reinvestasi Dividen Luar Negeri

Untuk dividen dalam negeri, Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 18 Tahun 2021 malah tidak memberikan besaran minimal. Di Pasal 16, hanya tertulis bahwa selisih dari dividen yang diperoleh dikurangi dengan dividen yang diinvestasikan dikenai PPh sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Reinvestasi Dividen Dalam Negeri
Reinvestasi Dividen Dalam Negeri

Dengan kata lain (menurut interpretasi saya), kita harus reinvestasi 100% dari dividen dalam negeri. Jika hanya sebagian yang di reinvestasi, misalkan 80%, maka sisa 20% nya menjadi objek pajak dan harus kita bayar tahun depannya.

Kapan Paling Lambat Reinvestasi dan Berapa Lama?

Menurut Pasal 36, reinvestasi dilakukan paling lambat pada bulan ketiga tahun pajak berikutnya setelah dividen diterima untuk wajib pajak perorangan dan bulan keempat untuk badan usaha. Artinya apabila diterima pada tahun 2021, maka reinvestasi harus dilakukan paling lambat bulan Maret 2022 untuk perorangan dan April 2022 untuk badan usaha.

Lamanya minimal investasi adalah 3 tahun, baik dividen dalam negeri maupun dari luar negeri.

Batas Akhir Reinvestasi Dividen
Batas Akhir Reinvestasi Dividen

Bagaimana jika dividen tersebut di reinvestasikan ke saham lalu kita dapat dividen lagi? Ya artinya harus buat laporan lagi terus-menerus.

Untuk cara melaporkan dividen dan membayar utang pajak, ada di posting sebelumnya.

Kapan Utang PPh Dividen Harus Dibayar?

Menurut Pasal 40, utang pajak dividen paling lambat dibayar pada tanggal 15 bulan berikutnya setelah masa pajak dividen diterima atau diperoleh. Artinya kita harus membayar utang PPh dividen yang diterima tahun 2021 paling lambat tanggal 15 Januari tahun 2022

Ralat: pada tanggal 15 bulan berikutnya artinya jika dapat dividen tanggal 20 April 2021 maka pada tanggal 15 Mei 2021 paling lambat kita harus setor PPh terutang ke Kantor Pajak.

Pembayaran Utang PPh Dividen
Pembayaran Utang PPh Dividen

Kesimpulan

Investasi saham jadi makin repot? Jelas, karena investor, baik besar maupun kecil, dipaksa untuk terus menerus membuat laporan penerimaan dan reinvestasi dividen per tahunnya.

Kalau yang hanya fokus di beberapa saham dividen seperti di UNVR, TLKM, ICBP dan PTBA mungkin tidak banyak yang harus dicatat, tetapi jika investasinya menganut aliran Wide Diversification, berapa banyak dividen "perintilan" yang harus dimasukkan ke form?

Poin ganjil lainnya adalah perhitungan reinvestasi minimal dividen luar negeri yang didasarkan pada Dividend Payout Ratio bukan berdasarkan take home pay dividen yang diterima oleh investor.

Belum lagi pembayaran PPh terutang yang harus dilakukan pada bulan Januari, padahal reinvestasi paling lambat dilakukan pada bulan Maret-April, yang masih membingungkan saya.

Pada akhirnya, apabila ada opsi untuk meminta Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) potong PPh saja dari dividen seperti sebelum adanya PMK No 18 tahun 2021, saya akan memilih hal tersebut. Lebih baik saya berinvestasi dengan tenang tanpa harus kuatir saya punya utang pajak ke pemerintah daripada diberi diskon tapi harus direpotkan begini.

--
Anton Hermansyah

30 April 2021

Realisasi Investasi Dividen untuk Bebas Pajak Penghasilan

Dua hari belakangan di grup-grup saham banyak beredar postingan soal dividen tahun 2021 yang sudah bebas pajak, tetapi investor harus mengisi laporan re-investasi pada Maret 2022 agar tetap bebas pajak.

Setelah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 18/PMK.03/2021 keluar pada Maret 2021, dividen yang di distribusikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tidak lagi di potong pajak. Tetapi sebagai gantinya, investor harus re-investasi dividen tersebut di Indonesia selama minimal 3 tahun.

Instrumen re-investasi yang disediakan:

  1. SBN RI dan SBSN RI
  2. Obligasi atau sukuk BUMN yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  3. Obligasi atau sukuk lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  4. Investasi keuangan pada bank persepsi termasuk bank syariah
  5. Obligasi atau sukuk perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  6. Investasi infrastruktur melalui kerjasama pemerintah dengan badan usaha
  7. Investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah
  8. Penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  9. Penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  10. Kerja sama dengan lembaga pengelola investasi (LPI)
  11. Penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam NKRI
  12. Bentuk invetasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Dari pilihan-pilihan tersebut, instrumen yang bisa di akses oleh investor receh antara lain Oblogasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (Sukri) seperti di poin 1, deposito seperti di poin 4, dibelikan saham lagi seperti di poin 9, reksadana seperti di poin 10, dan P2P Lending seperti di poin 11. Sisanya saya kira lebih cocok untuk investor besar.

Nah, mulai Maret tahun depan, nanti investor harus mengisi formulir Laporan Realisasi Investasi yang menyatakan bahwa kita telah melakukan re-investasi atas dividen yang telah diterima. Contoh form yang saya sudah buat berdasarkan lampiran di PMK dapat dilihat di sini

Form ini selanjutnya di sampaikan ke kantor pajak, atau alternatifnya adalah membuka situs DJP Online (yang biasa digunakan untuk melapor SPT). Kemudian kita harus masuk ke bagian "Profil" dan masuk ke sub-menu "Aktivasi Fitur Layanan".

Aktivasi eReporting Investasi
Aktivasi eReporting Investasi

Di sub-menu tersebut, kita harus centang "eReporting Investasi" kemudian klik "Ubah Fitur Layanan". Setelah itu harus re-login.

Menu eReporting Investasi
Menu eReporting Investasi

Setelah itu di bagian "Layanan" akan muncul menu "eReporting Investasi" yang bisa kita isi sesuai dengan form Laporan Realisasi Investasi.

Apa yang terjadi kalau investor tidak lapor re-investasi dividen ini? Investor harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) 10% ini secara manual ke Kantor Pajak satu bulan setelah menerima dividen, paling lambat tanggal 15, dengan kode Akun Pajak 411128 dan kode jenis setoran 419.

Rasanya jadi tambah repot? Ya saya juga berpikir begitu, lagipula sebagai investor receh toh saya belum berpikir untuk re-investasi ke luar negeri, tapi masak mau terus-terusan jadi investor receh?

Hitung-hitung belajar untuk jadi orang kaya.

--
Anton Hermansyah

29 April 2021

Tetap Value Investor atau Pindah YPC (Yang Penting Cuan)?

Kematian Charles de Vaulx

Berita Charles de Vaulx bunuh diri semakin membuat goyah pandangan terhadap relevansi value investing di masa sekarang, pertumbuhan aset fundamental tidak seberapa, bahkan kalah dengan "aset modern", apakah harus beralih ke aliran YPC (Yang Penting Cuan)?

Charles de Vaulx adalah Chief Investment Officer (CIO) dari International Value Advisers, LLC, merupakan value investor garis keras dan tidak pernah mencoba gaya lain sepanjang karirnya. Apabila tidak menemukan "saham salah harga", de Vaulx bahkan kukuh menyimpan 40% portofolio nya di uang kas.

Tidak seperti di Indonesia, di pasar Amerika Serikat (AS), setelah jatuh di bulan Maret 2020 indeks langsung rebound dengan cepat dan mencapai titik tertinggi. Nyaris tidak ada barang salah harga dan bubble tak kunjung pecah karena otoritas moneter seperti The Fed cenderung membiarkan (baca: Saat The Fed Membiarkan Pasar Modal Menentukan Nasibnya Sendiri).

Di sisi lain, yield obligasi di AS pun hampir nol, artinya membeli obligasi di sana hampir tidak ada bedanya dengan menyimpan di bawah bantal. Para investor obligasi pun akhirnya terpaksa pindah ke saham, menyebabkan harga semakin tidak masuk akal dibanding fundamentalnya.

Di saat saham sudah mulai melambat, uang pun berpindah ke Bitcoin, sebuah instrumen yang "haram" untuk fundamentalis karena tidak bisa diukur fundamentalnya.

Hal ini membuat value investor terjepit, tidak bisa menemukan saham bagus artinya harus menyimpan lebih banyak kas, risikonya pertumbuhan portofolio jadi melambat. Di lain sisi, aset-aset yang "kopong" telah menghasilkan return gila-gilaan.

Tetapi nasabah tidak peduli proses, mereka mau hasil, akhirnya satu-per-satu modal lari dari de Vaulx. Dana Kelolaan (Asset Under Management - AUM) de Vaulx pun turun drastis dari AS$20 miliar menjadi di bawah $1 miliar.

Pada Maret 2021, de Vaulx melikuidasi fund nya dan sebulan kemudian, seperti yang sudah disebutkan di awal, dia bunuh diri dengan melompat dari kantornya di lantai 10.

Untuk investor yang sudah belajar fundamental, kita tahu bahwa aliran YPC tidak menjamin untuk survive dalam jangka panjang. Tetapi selama stimulus tidak ada habisnya dan suku bunga tetap rendah aset-aset "kopong" akan tetap melaju ke atas.

Epilog: Mati Terhormat atau Terus Hidup Sebagai Penjahat?

Akhir hidup de Vaulx memang tragis, tetapi seumur hidupnya dia tidak pernah tergoda untuk berpindah ke "sisi gelap", seperti yang dilakukan oleh Bernie Madoff.

Mengutip tulisan Bernard Madoff Si Penipu Saham Korban Dua Krisis, awalnya Madoff adalah fund manager yang jujur, namun kejatuhan pasar tahun 1987 mengubah segalanya.

Setelah kejatuhan pasar, Madoff, seperti fund manager lainnya, mengalami kegagalan untuk memenuhi ekspektasi return dari para nasabahnya. Sehingga dia mulai mengatur skema Ponzi untuk memberikan keuntungan yang stabil kepada nasabah, semua demi mempertahankan AUM.

Bisnis Ponzi Madoff runtuh saat pasar krisis tahun 2008, pada Juni 2009, dia dihukum penjara 150 tahun.

Dua anaknya, yang pernah bekerja di perusahaannya, meninggal setelah itu, si sulung Mark gantung diri pada Desember 2010 dan Andrew meninggal September 2014 karena kanker nya kambuh di 2011 akibat stress karena bapaknya dipenjara dan abangnya bunuh diri.

Bernie Madoff meninggal di penjara pada bulan April 2021, dua minggu sebelum de Vaulx bunuh diri.

--
Anton Hermansyah

27 April 2021

Investasi dan Iman

Setelah beberapa lama mempelajari teknik-teknik berinvestasi, pada saham khususnya, saya malah merasa apa yang saya pelajari mirip dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru spiritual.

Seperti investor lainnya, saat pertama kali masuk dunia saham yang saya cari adalah "Teknik Sapu Jagat". Bagaimana memilih saham yang akan menghasilkan return paling tinggi, dengan risiko penurunan paling rendah, dan waktu sesingkat-singkatnya.

Setelah mempelajari analisis teknikal klasik, modern, Fibonacci, valuasi, Graham Number, dan lain-lain, saya mulai bisa melakukan seleksi saham. Tetapi ternyata itu saja tidak cukup. Pengalaman-pengalaman seperti "baru dibeli sore nya turun", "setelah dijual malah naik", "yang naik tinggi malah yang lebih 'busuk'" menghantui perjalanan saya.

Jadi selain teknik-teknik kuantitatif perlu ada aspek kualitatif yang harus dipunyai oleh seorang investor dan menurut saya ini mirip dengan ajaran-ajaran spiritual.

Hindari Utang (Jika Mampu)

Saham adalah instrumen yang tidak bisa ditebak kapan naik dan kapan turun nya sedangkan utang sudah tentu harus dibayar cicilan nya per tahun atau malah per bulan. Jika kita menggunakan fasilitas limit dan marjin dari sekuritas keuntungan kita akan berlipat ganda, tetapi apabila rugi, maka akan berlipat ganda juga.

Charlie Munger dari Berkshire Hathaway mengatakan, "Smart men go broke three ways - liquor, ladies and leverage."

Warren Buffett dalam esai "The Superinvestors of Graham-and-Doddsville" tahun 1984 menceritakan tentang Rick Guerin, pemegang saham Berkshire Hathaway di masa lalu selain Buffett dan Munger. Buffett menceritakan bahwa Guerin sama pintarnya dengan mereka berdua tetapi memilih untuk kaya lebih cepat dengan menggunakan marjin yang berlebihan.

Akibatnya saat pasar saham jatuh tahun 1973-1974, Guerin harus menjual sahamnya di Berkshire untuk melunasi marjin nya.

Dari Indonesia, Pak Lukas Setia Atmaja dalam artikel "Jurus saham juragan beras" menceritakan bahwa Pak Sukarto Bujung, pemilik HOKI, pernah terlilit utang marjin Rp1,5 miliar setelah krisis 1998 yang membuat portofolionya anjlok. Sejak saat itu Pak Karto beralih ke metode value investing tanpa utang.

Sabar

Saham yang bergantian naik turun setiap harinya memang menggoda kita untuk mengutak-atik portofolio dan berganti saham. Tetapi setelah jual dan ganti saham, justru malah saham yang sudah dijual yang naik.

Investasi saham juga akan maksimal apabila kita mendapatkan baik dividen dan capital gain. Sehingga paling tidak, holding period minimal harus satu tahun, kasarnya.

Berpindah saham terlalu sering juga membuat kita luput dari keuntungan besar. Seperti kata Jesse Livermore, "Throughout all my years of investing I've found that the big money was never made in the buying or the selling. The big money was made in the waiting."

Merelakan yang Bukan Rejeki

Memutuskan hold dalam jangka panjang adalah sebuah "komitmen" dan di tengah jalan seringkali hal-hal yang "di luar dugaan" terjadi. Contoh, saya pegang PTPP karena keadaan keuangannya masih bagus di antara BUMN konstruksi (selain WIKA), tapi ternyata malah WSKT yang naik paling tinggi.

Begitupun dengan investor syariah, yang harus merelakan saham-saham bank naik terus dengan stabil dan tidak bisa merasakan gurih nya dividen MLBI.

Sikap Fear of Missing Out (FOMO) justru lebih sering berbalik merugikan, karena bisa saja saat kita memutuskan untuk membeli, ternyata sudah ada di pucuk.

Lo Kheng Hong pun sering berkata, "Berarti bukan rejeki saya, biarlah menjadi rejeki orang lain."

Bukan Rejeki Saya
Bukan Rejeki Saya

Saya rasa mental inilah yang harus dimiliki oleh investor jangka panjang di tengah "godaan-godaan" market. Apakah mirip dengan yang diajarkan guru spiritual kita? Menurut saya sedikit banyak mirip.

--
Anton Hermansyah