Tentang Saya

20 Juni 2021

Average Down atau Average Up?

Di saat pasar sedang turun biasanya banyak investor baru yang panik bertanya di forum dan jawaban yang paling sering keluar dari yang "lebih senior" adalah, "average down saja, tambah muatan", yang ternyata saat di praktekkan tidak semudah yang dikira karena melibatkan perhitungan dan mental.

Salah satu nasabah saya setiap bulan pasti bertanya, "apakah sekarang saat yang tepat untuk average down PTPP?". Karena dia tahu saya juga punya saham yang sama, beban saya pun seakan menjadi ganda, harus mencari strategi untuk diri sendiri dan nasabah.

Selain average down ada strategi lain bernama average up, yaitu menambah muatan saat harga sedang naik. Teknik average up dapat dilakukan selama harga masih ada di bawah valuasi kita.

Beberapa investor senior menyebut average up lebih "aman", dan memang, seringkali saya bermasalah saat melakukan average down terutama soal mental.

Saat harga sedang turun seringkali saya terjebak perasaan ingin segera membeli untuk memperkecil floating loss secepat mungkin dan was-was kalau-kalau "periode diskon" ini tidak berlangsung lama nantinya. Akibatnya, karena terlalu cepat average down, esoknya harga masih turun, malah lebih dalam dibanding hari saat saya tambah muatan.

Saya pernah tidak bisa mengendalikan "nafsu" tersebut, terus saja membeli apabila harga turun. Akibatnya saya kehabisan kas padahal esoknya harga masih terus turun.

Pada akhirnya kita harus sama sabarnya baik dalam menunggu harga turun maupun menunggu harga naik.

Kapan?

Saat floating gain sudah berubah menjadi floating loss tentunya kita akan mulai gatal untuk segera menambah muatan. Seharusnya memang tidak usah terburu-buru, Pak Teguh Hidayat dalam artikelnya menyarankan untuk melakukan factchecking terlebih dulu.

Hal yang harus di cek adalah situasi makroekonomi dan berita dari emiten itu sendiri. Apabila makroekonomi memburuk tetapi fundamental emiten masih baik artinya kita bisa tambah muatan, sebaliknya jika makroekonomi masih baik tetapi fundamental emiten memburuk, maka justru kita harus bersiap untuk cutloss.

Sialnya, saat ini kita dihadapkan dengan kondisi makroekonomi yang super galau, yang bahkan membuat gubernur-gubernur bank sentral bingung harus mengambil kebijakan apa. Sedikit kelengahan dalam prosedur kesehatan dampaknya akan berantai, naiknya kasus Covid-19, perlambatan pemulihan ekonomi, stimulus yang harus diperpanjang, bertambahnya defisit anggaran, hingga kenaikan pajak yang ujungnya melemahkan daya beli ke depan.

Perlambatan pemulihan ekonomi dan pelemahan daya beli ini pun ujungnya akan memukul fundamental emiten, yang sayangnya kinerjanya baru bisa kita lihat paling cepat sebulan setelah berakhirnya kuartal.

Untuk yang tidak mengerti makroekonomi bagaimana? Alternatifnya bisa dengan melakukan analisis teknikal pada chart IHSG dan indeks-indeks negara lainnya seperti S&P 500 untuk menentukan keseluruhan pasar sedang bullish atau bearish.

Saat floating loss sudah berapa kita baru mulai lakukan average down? Dari artikel Pak Teguh, saya melihat bahwa saat floating loss sudah sekitar 10%-20% adalah saat kita sudah mulai evaluasi baik untuk average down maupun cutloss.

Bagaimana?

Melakukan average up atau average down paling baik memang dengan cara mencicil. Pembelian bisa dibagi menjadi tiga atau lima kali sesuai kebutuhan, tentunya besaran tambahan muatan harus memperhatikan bobot saham di portofolio setelah pembelian.

Misalkan portofolio Rp100 juta dengan isi delapan saham dan 20% persen kas, maka rata-rata porsi per saham dalam portofolio adalah Rp10 juta per saham atau 10%. Kemudian salah satu saham harganya turun dan akan dilakukan average down dengan kas yang ada, maka usahakan porsi akhirnya di portoflolio maksimal berkisar di 15% sampai 20% atau bertambah sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta.

Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging
Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging

Sebetulnya portofolio tidak harus mempunyai bobot per saham yang serupa, tetapi bobot yang terlalu besar pada saham yang sedang lagging akan berdampak pada pertumbuhan portofolio kita secara keseluruhan.

Nantinya jika saham hasil penambahan muatan tersebut sudah naik dan menghasilkan floating gain yang cukup, porsinya dapat di kembalikan menjadi 10%. Bonusnya adalah kita punya lebih banyak kas setelah penjualan.

Bagaimana dengan orang yang sistemnya menabung saham dan selalu top up RDN per bulan? Kondisi ini artinya akan selalu ada tambahan kas per bulan, teknik awalnya mirip, yaitu dengan bobot penambahan maksimal 10 poin persentase terhadap portofolio.

Untuk normalisasi bisa dengan dua cara, dengan menjual saham apabila sudah naik cukup seperti yang sudah sebelumnya dijelaskan atau dengan cara kedua, yaitu dengan menambah bobot saham lainnya agar bobot rata-rata kembali ke 10% per saham.

Kemungkinan dalam jangka menengah bahkan sampai setahun lebih kita masih akan menghadapi situasi makroekonomi yang banyak ketidakpastian. Semoga teknik average up dan average down ini membantu kita untuk bertahan.

--
Anton Hermansyah

14 Juni 2021

Nama Reksadana di Indonesia Indah Dilihat tapi Tidak Bermakna

Contoh Nama Reksadana Saham
Contoh Nama Reksadana Saham (sumber: Bareksa)

Nama reksadana di Indonesia, terutama reksadana saham, seperti nama anak-anak kekinian, indah, terlihat keren, tetapi sayangnya tidak bermakna apa-apa berbeda dengan di luar negeri yang mencerminkan strateginya.

Saat saya pertama kali menjadi investor reksadana tahun 2011, saya menghadapi bermacam nama, mulai dari "Berkembang", "Atraktif", "Maksima", "Prestasi", juga nama-nama dari pewayangan dan bunga. Saya harus pilih satu, waktu itu reksadana masih belum se-"receh" sekarang, minimal pembelian awal Rp3 juta.

Bagaimana cara memilihnya? Ya pilih yang menang penghargaan "Reksadana Saham Terbaik". Setelah itu saya kirim surel ke manajer investasinya, minta dikirimkan formulir, setelah isi dan kirim balik via pos, saya harus melakukan transfer ke bank kustodian, bukti nya di scan, kirim via surel.

Begitulah cara investasi reksadana 10 tahun yang lalu.

Kembali ke cara memilih, sampai saat ini penghargaan dan juga artikel yang mengulas tentang "reksadana terbaik tahun ini" masih menjadi acuan investor untuk membeli reksadana. Tetapi apabila kita membuka situs luar negeri tentang "the best mutual fund", ternyata sistem kategori nya lebih "ruwet".

Berbeda dengan di Indonesia yang hanya mengkategorikan berdasarkan jenis asetnya yaitu "Saham", "Pendapatan Tetap", "Pasar Uang", dan "Campuran", reksadana di luar negeri mempunyai sub-kategori seperti "Large Cap", "Mid Cap", "Value" dan "Growth".

Kategorisasi Reksadana di AS
Kategorisasi Reksadana di AS (sumber: usnews.com)

Dari sinilah saya mulai mengenal ternyata dalam kategori aset yang sama pun ada bermacam-macam strategi penempatan. Saya akan coba bahas beberapa yang umum.

Small Cap, Mid Cap, Large Cap

Di sini alokasi aset dibagi berdasarkan kapitalisasi pasar. Reksadana yang mengaku sebagai "Large Cap" akan menempatkan dananya di saham-saham berkapitalisasi besar alias blue chip, sementara Reksadanana "Small Cap" akan berisikan saham-saham kecil.

Masing-masing ada keuntungan dan kekurangannya, saham-saham besar tentunya relatif lebih lambat pergerakannya tetapi lebih stabil di saat krisis. Sebaliknya saham-saham kecil naiknya cepat tetapi jika bearish penurunannya jauh lebih dalam dibanding pasar.

Value dan Growth

Saham yang tergolong "Value" adalah saham-saham yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan fundamentalnya. Sedangkan saham "Growth" adalah emiten yang usaha nya sedang tumbuh pesat-pesatnya baik penjualan maupun laba bersih, sehingga sahamnya "naik daun" dan menjadi incaran setiap orang tetapi harganya belum tentu murah.

Selama emiten nya masih konsisten mencetak pertumbuhan, saham "Growth" akan selalu diminati pasar meskipun mahal, tetapi jika cerita pertumbuhannya terhenti (seperti UNVR) maka akan segera ditinggalkan. Sementara saham "Value" sehari-harinya cenderung ajek tetapi saat pasar mengetahui bahwa saham-tersebut "murah" maka akan naik berkali-kali lipat.

Karena itu, bahkan membandingkan sesama reksadana saham pun bisa jadi tidak akan apple-to-apple. Misalkan, return 10% setahun bisa saja sebuah prestasi untuk reksadana "Big Cap" tetapi hal kecil untuk reksadana "Small Cap".

Berbuat curang, misalkan memasukkan saham-saham "Small Cap" ke dalam reksadana "Big Cap" dalam jumlah besar untuk mengerek pertumbuhan, atau dikenal sebagai "Style Drift", adalah pelanggaran.

Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth
Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth (sumber: usnews.com)

Di luar negeri, jenis strategi yang dipakai biasanya dimasukkan ke dalam penamaan reksadana nya. Ini akan mempermudah investor untuk memilih reksadana yang tepat.

Melihat Jenis Strategi Reksadana di Indonesia

Di Indonesia, kita harus melihat di dalam prospektus untuk memastikan strategi apa yang fund manager gunakan. Biasanya keterangan ini ada pada bab "Tujuan dan Kebijakan Investasi".

Uraian Strategi Panin Dana Maksima
Uraian Strategi Panin Dana Maksima

Sebagai contoh, dari prospektus Panin Dana Maksima, kita bisa mengetahui bahwa reksadana ini mempunyai strategy "Value" meski tidak mencantumkan masuk di saham kapitalisasi besar atau kecil. Sehingga reksadana ini lebih cocok untuk disimpan dalam jangka waktu sangat panjang.

Mungkin saat ini memang penamaan reksadana sesuai dengan strategi nya masih belum jamak di Indonesia, karena investor nya pun mungkin masih tidak peduli, "pokoknya yang naik paling tinggi itulah yang saya beli". Mungkin dengan semakin maju nya pengetahuan masyarakat tentang investasi akan membuat Fund Manager berpikir untuk menyediakan reksadana yang lebih spesifik.

--
Anton Hermansyah

10 Juni 2021

Kenangan Lampau: Tahun 1992 Bunga Tabungan masih 20% per Tahun

Bunga Bank Summa 1992

Seperti sudah takdir bahwa semakin lama imbal hasil investasi di Indonesia makin lama makin kecil, bunga deposito 5% per tahun saja sekarang sudah bahagia, tetapi lain cerita di tahun 1992, bunga tabungan mencapai 20%, dan ini bunga tabungan bukan deposito.

Angka 20% memang bukan main-main, dengan imbal hasil sebesar itu, aset kita akan menjadi dua kali lipat dalam empat tahun. Saat ini, imbal hasil tersebut hanya bisa dicapai dengan investasi di saham-saham lapis dua IHSG dan P2P Lending dengan rating "C" ke bawah.

Artikel "Terombang Ambing di Tengah Negosiasi", yang dimuat di Majalah Tempo tanggal 4 Juli 1992, menceritakan tentang perjuangan keluarga Soeryadjaya dalam menangani kasus Bank Summa. Sudah jamak bagi bank yang mau menarik nasabah kembali untuk memasang bunga tinggi, saat itu bunga simpanan Bank Summa mencapai 22-23% setahun.

Sedikit cerita tentang Summa, bank ini didirikan oleh Edward Soeryadjaya, anak pertama dari William Soeryadjaya yang dikenal sebagai pendiri Astra International (ASII). Grup Summa bukan saja bank, tetapi juga mencakup bisnis lain seperti properti, hotel dan leasing.

Summa tumbuh dengan cepat, terlalu cepat malah. Didirikan tahun 1980 dalam tiga tahun sudah memiliki operasional di Filipina, Hong Kong dan Jerman, belum lagi empat buah hotel, salah satunya di Perth, Australia dan berhektar-hektar tanah.

Seperti bank-bank lain yang bermasalah saat itu, Bank Summa banyak mengucurkan kredit ke grup sendiri. Tahun 1991 dari Rp1,5 triliun kredit yang disalurkan, Rp1,1 triliun disalurkan ke Grup Summa

Tahun 1992 kredit bermasalah Summa bengkak ke Rp1,4 triliun dan Rp500 miliar di antaranya bersumber dari Grup Summa.Mengetahui Bank Summa bermasalah, para nasabah pun berbondong-bondong menarik uangnya, yang menyebabkan turunnya Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp200 miliar.

Grup sang anak bermasalah, satu keluarga Soeryadjaya ikut urun rembuk menyelesaikan masalah Summa. Akhirnya, seperti yang kita semua tahu, penyelamatan Bank Summa menyebabkan keluarga Soeryadjaya kehilangan kepemilikan nya di ASII.

Penyelamatan tersebut tidak berhasil, 13 November 1992, Bank Summa kalah kliring Rp79 miliar dan pada 14 Desember 1992, pemerintah akhirnya memutuskan untuk menutup Bank Summa.

Sebelum ditutup, bank ini mempunyai 82 kantor yang tersebar di 16 propinsi, Total Aset Rp1,3 triliun dan Dana Pihak Ketiga (DPK) Rp887,4 miliar. Apabila dihitung dengan tingkat inflasi, maka Total Aset dan DPK Summa setara dengan Rp14,4 triliun dan Rp9,8 triliun.

Kira-kira setara dengan Bank BUKU 2 saat ini. Tetapi memang saat itu merupakan jumlah uang yang besar, karena Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) baru sebesar Rp56,1 triliun, artinya aset Summa hampir 2,5% APBN.

Kembali ke bunga simpanan, tentunya bunga 20% adalah jumlah yang sangat tinggi di jaman sekarang. Bank Bukopin (BBKP), yang pada pertengahan 2020 sempat di rush oleh nasabah-nasabahnya, "hanya" menawarkan bunga deposito sampai 9% per tahun.

Untuk bunga tabungan masih dipegang oleh Jenius (BTPN) dengan 4% per tahun, yang sebentar lagi akan disalip oleh Bank Neo Commerce (BBYB) dengan 6% per tahun. Suku bunga yang "menggiurkan" karena saat ini hanya ada tiga Reksadana Pasar Uang yang imbal hasilnya sanggup melebihi 6% (meskipun data nomor 1 dan 2 Dana Kelolaan nya naik turun dengan cepat).

RD Pasar Uang Yield Tertinggi
Reksadana Pasar Uang dengan Yield Tertinggi (Sumber: Bareksa)

Tetapi memang menabung di bank pada tahun 1990-an itu "perasaan aman" nya sangat jauh dibandingkan tahun 2020-an. Tidak ada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menggaransi sampai Rp2 miliar, belum lagi banyak pengusaha bandel yang kredit ke grup nya sendiri melebihi plafon.

Indikator kesehatan bank pun masih belum jelas, meski Basel I, yang melahirkan perhitungan wajib Modal Tier 1-3, Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Non-Performing Loan (NPL), telah ada sejak 1988, namun Indonesia masih belum menerapkannya di 1990-an. Sehingga mendeteksi gejala bank sakit pun menjadi abu-abu.

Sehingga para penabung saat itu menghadapi risiko yang lebih tinggi, bisa saja sewaktu-waktu bank nya ditutup pemerintah. Selain itu, pada dekade 1990-an inflasi masih ada di level 8-9% sehingga akan memangkas setengah keuntungan yang ada.

--
Anton Hermansyah

02 Juni 2021

Menjadi Jepang Sebelum Waktunya

Jepang adalah panutan bagi negara-negara Asia dalam hal ekonomi, dengan kekuatan industri, negara ini tumbuh luar biasa terutama pada dekade 1970-1980 an, banyak negara mencoba mereplikasi model ekonomi negara ini, tetapi juga harus menghadapi konsekuensinya.

Ekonomi Jepang maju berkat industrinya. Uniknya, dibandingkan negara-negara Barat yang berusaha untuk membuat barang dengan teknologi terkini yang bisa dijual mahal untuk mendapat marjin tinggi, Jepang fokus pada efisiensi produksi.

Sistem Kaizen yang banyak dianut oleh perusahaan Jepang memfokuskan pada perbaikan terus menerus bahkan di hal-hal detil untuk meningkatkan efisiensi. Tujuannya satu, agar dapat memproduksi barang dengan harga semurah-murahnya.

Contohnya adalah peletakan bahan baku perakitan di tempat yang lebih mudah terjangkau oleh operator perakit, sehingga untuk mengambilnya tidak perlu balik badan dan hemat waktu satu detik per operator. Meskipun hanya sedetik, tetapi apabila ada 3600 operator, maka perusahaan akan menghemat waktu satu jam setiap harinya, 30 jam setiap bulannya.

Ekspansi industri ini juga disokong oleh sifat bangsa Jepang yang gemar menabung, Marginal Prospensity of Save (MPC) rumah tangga di Jepang mencapai 20% (Horioka, 1990). Artinya setiap bulannya keluarga di Jepang menabung 20% dari penghasilannya.

Di Asia angka ini tidak spesial, MPC Indonesia pun ada di tingkat 20%, tetapi jika dibandingkan negara-negara barat seperti Amerika Serikat (AS) dan Inggris yang hanya di level 8% tentunya ini sangat tinggi.

Dengan kecenderungan masyarakat untuk menabung, bank pun jadi punya banyak uang untuk dikonversi menjadi pinjaman modal bagi perusahaan-perusahaan Jepang untuk mengembangkan bisnisnya.

Model ekonomi yang menitikberatkan pada manufaktur dengan menekan biaya dan akumulasi modal dalam negeri ini pun diadopsi oleh negara-negara tetangga, Tiongkok dan Korea Selatan (Korsel). Sama seperti Jepang, kedua negara ini pun mengalami pertumbuhan yang luar biasa.

Terlihat dari gambar bahwa kontribusi Investasi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok dan Korsel konsisten di atas 30% bahkan Tiongkok saat ini ada di atas 40%. Angka ini sama dengan Jepang di tahun 1970 an sampai 1980 an awal, saat negara matahari terbit ini sedang tumbuh pesat-pesatnya.

Struktur Ekonomi Negara Asia
Struktur Ekonomi Jepang, Tiongkok, Korea, AS dan Indonesia (Sumber: World Bank, diolah)

Bagaimana dengan Indonesia? Sama saja, kontribusi Investasi terhadap PDB konsisten di atas 30%, terutama dalam 10 tahun terakhir. Artinya, Indonesia pun sedang mengikuti jejak Jepang.

Metode Jepang memang menjanjikan pertumbuhan ekonomi yang cepat, tetapi di balik itu ada harga yang harus dibayar. Jam kerja yang tidak masuk akal sehingga menyebabkan kematian akibat kerja berlebihan atau Karoshi (過労死), masyarakat yang menua karena orang-orang yang memutuskan untuk tidak mempunyai anak bahkan tidak menikah, sampai desa yang kosong karena orang-orang muda pindah ke kota.

Masalah ini sudah terjadi di Tiongkok dan Korsel, di Indonesia pun mulai muncul satu dua kasus seperti pasangan-pasangan muda yang terang-terangan menyatakan tidak akan memiliki anak, perusahaan-perusahaan dengan jam lembur berlebihan. Pada 2013 terjadi kasus karoshi, Mita Diran (23) seorang copywriter agensi Young & Rubicam (Y&R) yang meninggal setelah lembur 30 jam.

Problematika sosio-ekonomi ini menjadi sulit untuk di selesaikan karena mengakar menjadi budaya, seperti sistem kerja 996 di Tiongkok, kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam 6 hari seminggu. Kasus karoshi sudah ada sejak 1970 di Jepang tetapi baru pada 2005 Kementerian Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Jepang memberlakukan aturan untuk mencegah lembur berlebihan (Iwasaki, Takahashi, & Nakata, 2006).

Model ekonomi yang memicu manufaktur dengan harga murah juga memerlukan syarat untuk sukses, yaitu adanya negara besar yang dapat menjadi tujuan ekspor. Jepang di tahun 1970-1980 an beruntung mempunyai Amerika Serikat (AS) yang saat itu pasarnya masih sangat liberal dan belum banyak aturan untuk menjegal impor.

Saat ini keadaan sudah banyak berubah, negara-negara dengan penduduk besar banyak menerapkan proteksionisme untuk melindungi industri lokal yang lesu karena gempuran produk asing. India misalkan, menarik diri dari Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) untuk melindungi industri lokalnya dari produk Tiongkok yang masuk dalam perjanjian dagang tersebut (Benanya, 2019).

Jika negara-negara besar jadi proteksionis, bagaimana jika hasil produksi dikonsumsi bangsa sendiri? Bisa, tetapi di sisi lain manufaktur harus menjaga upah buruh tetap rendah agar kompetitif, sehingga tidak banyak kelebihan penghasilan untuk konsumsi.

Manufaktur yang kelebihan produksi sementara tidak ada pasar ekspor yang menyerap akan mengarah ke keadaan yang lebih berat lagi, pasar gelap. Seperti kasus baja selundupan dari Tiongkok yang terjadi di Indonesia sejak 2008.

Dengan proteksionisme saat itu yang belum seketat sekarang, Jepang berhasil mencatat PDB per kapita AS$28.925 pada 1991 sebelum mengalami stagnasi dalam jangka panjang. Uang tersebut setara dengan $56.311 atau Rp805 juta pada masa sekarang.

PDB per kapita Korea Selatan pada 2020 ada di $31.494 sementara Tiongkok di $10,499. Indonesia? Ada di $3.917, semuanya masih jauh dari pencapaian Jepang pada saat itu tetapi sudah mengalami masalah-masalah sosio-ekonomi yang sama.

Apakah kita tetap harus mengejar bayang-bayang Jepang ataukah ada cara lain untuk memajukan negeri?

Ayah saya bercerita bahwa Kakek, yang bekerja di dekade 1960 an, selalu pulang ke rumah saat jam makan siang bahkan sempat tidur sebentar sebelum kembali lagi ke kantor untuk bekerja. Mungkin bukan cara untuk maju dalam standar sekarang, tetapi dengan pola seperti itu generasi tersebut mampu menghidupi banyak anak.

Referensi

Benanya, L. (2019). Keberatan India dalam memasuki Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) periode 2012-2019.

Horioka, C. Y. (1990). Why is Japan's household saving rate so high? A literature survey. Journal of the Japanese and International Economies, 4(1), 49-92.

Iwasaki, K., Takahashi, M., & Nakata, A. (2006). Health problems due to long working hours in Japan: working hours, workers' compensation (Karoshi), and preventive measures. Industrial health, 44(4), 537-540.

28 Mei 2021

Kenapa ICBP Mengganti Utang Bank Pembelian Pinehill dengan Obligasi Dolar?

Obligasi Global ICBP

Dari berita yang muncul belakangan, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) akan menerbitkan obligasi global AS$1,5 miliar untuk refinancing sebagian utang bank yang digunakan untuk membeli Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited, apakah ini langkah yang baik?

Pinehill dan Steele Lake adalah entitas British Virgin Island (BVI) yang memegang bisnis manufaktur Indomie di Timur Tengah, Afrika dan sebagian kecil Eropa. Pembelian ini menjadi kontroversial karena Pinehill dan Steele Lake juga dikendalikan oleh Grup Salim dan akusisinya terjadi di valuasi mahal, yaitu PBV 12x dan PER 23x.

Pada bulan Mei 2020, setelah RUPS-RUPS (yang anehnya tidak banyak mendapat penentangan) baik di level ICBP maupun First Pacific, pembelian Pinehill dan Steele Lake disepakati di harga $2,99 miliar. Jumlah tersebut adalah $1,53 miliar untuk 51% saham Pinehill dan $1,47 miliar untuk 49% saham Steele Lake.

Saat ini yang sudah dibayar oleh ICBP sebesar $2,35 miliar sementara sisanya $650 juta akan dibayar pada 30 April 2022. Jumlahnya bisa dikurangi apabila Laba Bersih Pinehill dan Steele Lake (yang diatribusikan pada ICBP) di 2021 tidak mencapai $128,5 juta.

Pembelian ini menggunakan utang dan di laporan akhir 2020, utang bank ICBP meningkat Rp29,07 triliun ke Rp30,77 triliun. Setidaknya ada 21 bank yang baru muncul sebagai pemberi pinjaman di 2020 mulai dari Bank of China, BNP Paribas sampai yang jarang terdengan di Indonesia seperti Norinchukin dan Fubon.

Pinjaman-pinjaman baru tersebut dalam Dolar AS dan sebagian kecil dalam Yen Jepang. Berapa bunganya? Sekitar 2,3% untuk Dolar AS dan 1,7% untuk Yen Jepang, itu bunga rata-rata paling tinggi, tidak termasuk murah tapi juga tidak mahal karena rata-rata bunga pinjaman untuk bisnis di AS berkisar di 2-3%.

Kalau ditukar dengan obligasi apakah bunga nya akan jadi lebih murah?

Di berita disebutkan kalau obligasi ICBP mendapat rating Baa3 dari Moody's dan BBB- dari Fitch Rating. Kita bisa bandingkan dengan kasus yang sama, yaitu pada Indonesia Infrastructure Finance (IIF) di mana mereka menerbitkan obligasi global 5 tahun $150 juta dan mendapatkan kupon 1,5% di bulan Februari 2021.

Pada bulan yang sama, Pertamina juga menerbitkan obligasi global 5 tahun sebesar $1 miliar, namun lebih tinggi satu noktah di atas ICBP yaitu Baa2 dan BBB. Mereka bisa mendapatkan kupon yang lebih rendah dari IIF, karena rating nya lebih tinggi, yaitu 1,4%.

Kuncinya adalah di kupon, apabila ICBP mendapatkan kupon yang relatif tinggi, bahkan di atas 2%, bisa saja dibilang tidak wajar. Jangan-jangan nanti dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri?

Sudah rahasia umum jika emiten sengaja menerbitkan obligasi dengan kupon tinggi, lalu obligasinya dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri adalah salah satu cara bagi PSP untuk kerok uang dari emitennya tanpa mau "bagi-bagi" ke pemegang saham minoritas.

Apabila kuponnya sesuai pasar? Ya saya rasa selebihnya wajar-wajar saja, karena di saat ekspektasi inflasi meningkat, tentunya suku bunga diramalkan akan meningkat dalam jangka menengah, di saat itulah lebih baik kita menukar utang bank yang punya suku bunga floating ke utang obligasi yang punya suku bunga fixed.

Lagipula, untuk Debt to Equity Ratio ICBP sebetulnya juga masih aman di 1,06x meskipun jadi dua kali lipat dibanding sebelumnya di 0,45x pada 2019. Meskipun hal ini mungkin belum bisa "mencuci dosa" yang pertama, yaitu membeli perusahaan sendiri di harga yang kelewat mahal.

--
Anton Hermansyah

27 Mei 2021

KFC yang Ekspansif di Saat Ekonomi Lesu

FAST, emiten pemilik waralaba KFC di Indonesia, selalu masuk dalam watchlist saya dalam 2 tahun belakangan, kas nya kuat, EPS yang selalu bertumbuh sebelum Covid-19 dan bahkan di saat ekonomi lesu, emiten ini tetap aktif berinovasi

Sebelum Covid-19 menyerang, setiap tahunnya Cash to Equity FAST selalu berada di atas 50%, jauh lebih tinggi di atas MAPB yang ada di sekitar 20% dan PZZA yang ada di sekitar 15%. EPS pun selalu bertumbuh dengan rata rata 11,77% setiap tahun nya dari 2014 sampai 2019.

Saat PSBB diberlakukan memang FAST terkena dampak yang parah, kuartal 2 dan kuartal 3 langsung berdarah-darah. Sebagian besar gerai memang berada di mal sehingga tidak bisa "menyambung hidup" dengan pesan-antar seperti pesaing nya McDonald's yang kebanyakan gerainya stand-alone.

Tapi di tengah pandemi emiten ini masih berinovasi, Oktober 2020 membuka "Naughty by Nature" di daerah Senopati, di mana produk ayam standar KFC dikombinasikan dengan makanan sehat. Tidak lama, bulan Desember 2020 mereka membuka gerai Taco Bell pertama di Indonesia, masih di daerah Senopati.

Pada bulan Mei 2021 FAST membuka gerai stand-alone di dekat Taman Melawai, tidak jauh dari gerai lama di Plaza Melawai. Mereka memodifikasi rumah tua menjadi gerai bergaya klasik, dinamakan "KFC Classic Store".

Gerai Taman Melawai ini menjadi satu-satunya tempat untuk membeli menu "Classic Combo", menu asli yang pertama kali ditawarkan oleh Kakek Colonel Sanders saat mendirikan KFC. Isinya satu potong ayam "Original", jagung rebus, coleslaw (salad kol), mashed potato (kentang tumbuk), dan hot roll (roti kecil) yang baunya harum.

Menu KFC 1969
Menu KFC 1969 (Sumber flickr.com)

Saat saya ke sana, gerainya penuh dengan orang-orang. Semuanya memesan "Classic Combo", padahal menu ini harganya tidak murah, yaitu Rp50.000, belum termasuk minum.

KFC Taman Melawai
KFC Taman Melawai

Ketiga gerai baru FAST tersebut memang bukan untuk "sobat misqueen", jika makan untuk dua orang biaya yang harus dikeluarkan adalah Rp100.000 sampai Rp250.000. Tetapi memang di saat Covid-19, strategi ini benar, menurut saya.

Covid-19 dan lockdown nya memang bias ke atas, kelas menengah ke atas dapat bertahan dengan baik, bahkan pengeluarannya lebih kecil karena work from home (WFH). Sementara kelas menengah ke bawah harus pontang-panting mencari uang karena pasar yang biasanya ada harus ditutup karena pandemi.

Jika daya beli menurun, seperti yang terjadi di kelas menengah-bawah, tentunya kita akan mencari alternatif yang lebih murah, toh ayam goreng "jalanan" seperti Sabana dan D'Besto sudah hampir sama enaknya dengan KFC. Di sini FAST, yang harga ayamnya relatif premium, memutuskan untuk "naik kelas" dengan membuat "gerai-gerai sultan" tersebut.

Ramainya gerai sultan milik FAST juga membuktikan bahwa kelas menengah atas masih punya daya beli, tinggal bagaimana memancing mereka untuk konsumsi. Karena ini pula mungkin PBV FAST masih mahal, bertahan di atas 3x.

Akhirnya belum jadi saya beli.

--
Anton Hermansyah

19 Mei 2021

Trend Following atau Contrarian di Saat Pasar Stagnan Cenderung Bearish?

Teman saya meminta saran untuk nasabah-nasabahnya mengenai strategi yang tepat saat pasar stagnan dan malah cenderung bearish, jawabannya bisa bermacam-macam, tergantung logika dan kondisi masing-masing nasabah.

Ada dua aliran dasar yaitu "Trend Following" dan "Contrarian", keduanya benar, keduanya punya contoh sukses masing-masing tetapi bertolak belakang satu sama lain.

Sesuai namanya, dalam Trend Following pembelian dilakukan saat tren bullish sudah terkonfirmasi, contoh saat harga sudah menembus MA10, RSI di atas 50 dan MACD sudah membentuk Golden Cross. Terlambat? Memang, tapi dengan memastikan bahwa tren sudah terkonfirmasi akan meminimalisir risiko.

Pada dasarnya Trend Following adalah "meledakkan" portofolio di saat terjadi ombak besar. Karena ombak besar tidak terjadi setiap hari, maka sekalinya ada kesempatan seperti pada November-Desember 2020, keuntungan dimaksimalkan dengan menggunakan marjin.

Kalau saya trader syariah? Artinya harus menggunakan sistem pinjaman lain yang sesuai, seperti gadai syariah, begitu cair uangnya langsung dimasukkan RDN.

Pasar yang stagnan bahkan cenderung bearish seperti saat ini seringkali berujung jebakan bagi Trend Follower karena tren tidak berlangsung lama. Setelah naik 2 hari langsung jual, bahkan sering terjadi false breakout yang malah membuat rugi.

Sehingga memang saran terbaik untuk Trend Follower di saat seperti ini adalah rehat dulu, masukkan keuntungan di instrumen-instrumen yang lebih aman seperti Reksa Dana Pasar Uang sembari menunggu ombak selanjutnya. Beberapa pemain senior bahkan mempunyai prinsip "Main satu dua kali per tahun tetapi hasilnya cukup untuk hidup satu tahun".

Penganut aliran Contrarian adalah "Penangkap Pisau Jatuh" beli justru di saat merah dan jual di saat hijau. Pasar yang jatuh seperti ini justru malah membuat Contrarian senang.

Tapi bukan berarti aliran ini "anti nyangkut", Warren Buffett, salah satu Contrarian terbesar di dunia, membeli saham Goldman Sachs yang terjun bebas saat krisis finansial 2008. Buffett masuk pada September 2008 sebesar AS$5 miliar (sekitar 1,87% dari Total Aset Berkshire Hathaway waktu itu $267 miliar).

Saham Goldman Sachs memantul dari titik terendahnya pada bulan November, tetapi ternyata indeks pasar masih terus turun sampai mencapai titik terendah di Maret 2009 yang artinya masih banyak saham-saham murah lainnya setelah itu. Tetapi Buffett sudah terlanjur masuk dengan full power.

Timing Warren Buffett di Goldman Sachs
Timing Warren Buffett di Goldman Sachs

Dalam wawancara dengan CNBC tahun 2018, Buffett bilang, andaikan bisa mengulang, maka dia akan memilih menunggu dulu sampai 6 bulan.

Saat pasar sedang stagnan dan cenderung bearish bagi Contrarian ini saat nya untuk mencicil beli. Sedangkan bagi Trend Follower ini saatnya untuk rehat sejenak dari pasar.

Untuk menjualnya, baik Trend Following dan Contrarian sama-sama mesti menunggu pasar bullish kembali. Bedanya, jika Contrarian menunggu dengan keyakinan bahwa dia telah mendapatkan harga paling murah, Trend Follower menunggu dengan setumpuk cash yang "siap diledakkan".

Kembali ke saran untuk nasabah, karena latar belakang yang berbeda-beda, kita tidak bisa memaksa semua nasabah untuk mengikuti aliran yang sama. Tergantung pada status pekerjaan, ketersediaan dana darurat, dan kesabaran masing-masing.

Saya saat ini nyaman menjadi Contrarian karena masih memiliki pekerjaan tetap dan bisa menyisihkan uang gaji untuk mengisi RDN setiap bulannya. Tetapi saya tidak bisa memaksakan paham Contrarian pada nasabah saya yang pensiunan, cara pengelolaan uangnya sudah berbeda.

Pada akhirnya lebih baik memilih metode yang membuat kita nyaman.

--
Anton Hermansyah