Tentang Saya

09 Maret 2021

Yield Obligasi Naik Waktunya Pindah ke Saham Sektor Riil?

Belakangan ini pergerakan IHSG tersendat, penyebabnya karena imbal hasil (yield) obligasi yang terus naik, ini pertanda apa dan apa yang mesti kita lakukan?

Saya bukan investor obligasi, bahkan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) pun saya tidak punya. Tapi dari hasil baca-baca dan bertanya ke beberapa teman yang memang bergelut di fixed income, kenaikan yield ini artinya pasar berekspektasi inflasi akan naik.

Yield obligasi itu berbanding terbalik dengan harga. Konsepnya sama dengan dividen yield, kalau ada dividen Rp50 per saham dan harga saham nya saat itu ada di 500, maka yield nya adalah 10% (50 ÷ 500) , tetapi jika harga sahamnya naik jadi 800 maka yield nya turun menjadi 6,25% (50 ÷ 800)

Kalau yield naik, artinya harga jatuh, kalau harga jatuh artinya banyak yang jualan obligasi. Pertanyaan berikutnya, kenapa banyak yang jualan obligasi?

Kemungkinan yang banyak menjual obligasi adalah bank, di mana institusi ini biasanya merupakan pemegang obligasi negara terbesar setelah bank sentral. Di Indonesia, bank memegang sekitar 35% obligasi negara yang beredar selama 2020

Obligasi untuk bank adalah "sampingan", pendapatan utamanya ya dari memberikan kredit. Tetapi pada 2020, pertumbuhan kredit tidak bergerak, bahkan menjadi negatif di bulan-bulan akhir akibat Covid-19, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) terus naik karena orang-orang tidak belanja, mereka simpan uangnya

Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020
Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020

Di saat bisnis utamanya mandek, bank banyak memegang obligasi negara, agar uangnya tetap berputar dan dapat membayar bunga (bagi hasil untuk bank syariah) kepada para penabung.

Dengan perkembangan saat ini, program vaksinasi mulai berjalan, kasus harian sudah mulai menurun, artinya bisnis-bisnis sektor riil pun akan mulai menggeliat kembali. Bank sudah harus mulai bersiap-siap kembali ke bisnis penyaluran kredit, sehingga mulai berjualan obligasi, hal ini lah yang menyebabkan yield naik.

Inflasi adalah pertanda sektor riil sudah jalan, tetapi bagi para pemain keuangan, meningkatnya inflasi juga berarti meningkatnya suku bunga. Jika suku bunga meningkat para trader harus segera take profit, melunasi marjin sebelum terkena bunga yang lebih besar.

Dapat dilihat belakangan ini di luar negeri, aksi ambil untung sudah terjadi di saham-saham teknologi yang naik ketinggian seperti Tesla sementara saham-saham sektor riil seperti Citigroup mulai naik.

Citigroup dan Tesla
Citigroup dan Tesla

Bagaimana dengan di Indonesia? Sepertinya perkembangan pemulihan ekonomi di sini masih belum se ekspansif di AS, tetapi sepertinya sudah ada yang mengumpulkan saham-saham sektor riil seperti JPFA, RALS, dan MAPI.

--
Anton Hermansyah

07 Maret 2021

Tradevestor Fundateknikal

Saat saya mengajar dasar-dasar analisa fundamental ke nasabah-nasabah baru, ada yang bertanya ke saya, "Pak Anton, saya kan trader, apakah saya perlu belajar ini?".

Sudah tradisi di mana-mana jika orang baru datang di dunia saham, pertanyaan dari para senior adalah, "mau jadi investor atau trader?". Jika jawabannya adalah investor maka akan di suruh belajar analisa fundamental, jika trader maka belajar teknikal.

Tapi apakah seorang trader perlu tahu analisa fundamental dan sebaliknya investor perlu tahu analisa teknikal?

Tidak selalu perlu, tapi berdasarkan pengalaman saya, pada akhirnya pemain saham akan mengetahui keduanya. Paling tidak menguasai dasarnya.

Ambil contoh diri saya sendiri, di kantor saya ditugaskan menjadi analis teknikal, tetapi untuk portofolio pribadi, saya seorang investor.

Lho kok bisa?

Awalnya saya trading, tetapi dengan makin bertambahnya nasabah, makin bertambah pula kesibukan. Saat pasar ramai, saya bisa diminta mengerjakan 10 gambar teknikal yang memakan waktu 1 jam, begitu selesai saya sudah ketinggalan momentum atau tidak sempat cutloss.

Kesibukan tersebut tiap hari berulang, membuat saya tidak sempat trading. Akhirnya memutuskan menjadi investor, meski tiap hari masih harus mengerjakan analisa teknikal untuk nasabah.

Pemahaman akan analisis teknikal membantu saya sebagai investor. Jadi tidak hanya sekedar memilih saham berfundamental bagus, tetapi juga bisa menentukan titik masuk, terutama bila harga menyentuh support.

Jika ada floating loss tarikan garis support dapat membantu saya untuk menentukan titik-titik average down. Tetapi memang selama ini saya masih belum membuat sistem money management saya sendiri, seperti berapa target harga rata-rata yang harus dicapai dengan average down dan berapa kali average down harus dilakukan untuk mencapai harga tersebut.

Kembali ke pertanyaan nasabah yang paling awal, apakah analisa fundamental berguna untuk trader? Jawab saya iya, misalkan untuk alokasi trading, jika saham naik dengan perbaikan fundamental maka bisa all out, tetapi jika memang hanya bergerak tanpa kenaikan fundamental atau malah turun, alokasinya sedikit, untuk "cuan kilat" saja.

Melakukan trading dengan memperhatikan price-earnings ratio (PER) dan price to book value (PBV) juga akan membantu menentukan berapa lama kita harus hold saham tersebut. Terkadang saya juga menggunakan Book Value per Share alias PBV 1x sebagai resistance di dalam chart, terutama untuk saham-saham yang PBV nya masih di bawah 1x.

Book Value sebagai Resistance
Book Value sebagai Resistance

Beberapa memang jalan, seperti ELSA di atas yang memantul tepat setelah menyentuh PBV 1x.

Resistance Book Value di BIRD
Resistance Book Value di BIRD

Sebagian lainnya tidak, seperti contoh kasus di BIRD di mana harga berbalik arah sebelum mencapai PBV 1x nya.

Terlepas dari perdebatan "analisa mana yang lebih sakti", saya melihat teknik analisa sebagai alat untuk membantu dalam pengambilan keputusan. Tapi berdasarkan pengalaman, saya merasa sebagai pemain saham kita harus luwes karena tidak semua kejadian dan pola dapat dijelaskan dengan satu analisis saja.

--
Anton Hermansyah

05 Maret 2021

Berburu Dividen di 2021

Bulan Maret adalah waktunya untuk mulai berburu dividen, di mana emiten-emiten sudah mulai menggelar rapat umum pemegang saham (RUPS) yang nanti menentukan berapa besar dividen yang akan dibagikan

Menjelang RUPS, saham-saham yang biasa membagikan dividen besar harganya akan mulai naik, apalagi setelah besaran dividen diumumkan dan disetujui. Meskipun banyak emiten baru menggelar RUPS pada April dan Mei, investor-investor veteran sudah mulai mengumpulkan saham dividen sejak Maret, sehingga mendapatkan dua keuntungan, yaitu kenaikan harga dan dividen tunai itu sendiri

Gunakan Indeks IDXHIDIV20 Sebagai Panduan

Di bursa sudah ada indeks IDXHIDIV20 yang berisi saham-saham yang secara historis rajin memberikan dividen. Daftar saham ini dapat di unduh di situs IDX bagian indeks saham, pilih IDXHDIV20 lalu unduh file zip nya yang berisi daftar saham indeks tersebut.

Daftar Saham Indeks IDXHIDIV20
Daftar Saham Indeks IDXHIDIV20

Perhatikan DPR dan Dividen Yield

Untuk memilih saham-saham dividen ada dua rasio yang harus diperhatikan, Dividend Payout Ratio (DPR) dan Dividen Yield. Dividend Payout Ratio adalah rasio jumlah dividen terhadap laba perusahaan, sementara Dividen Yield adalah persentase dividen per saham terhadap harga perolehan saham kita.

DPR adalah alat pertama, investor dividen cenderung melihat saham-saham dengan DPR historis yang besar. Berapa minimalnya? Sekitar 50 persen, bahkan ada emiten-emiten yang DPR nya mencapai 100 persen

DPR dapat dilihat di aplikasi RTI di bagian "Key Statistics"

Tampilan Dividend Payout di RTI
Tampilan Dividend Payout di RTI

Dari DPR rata-rata di tahun-tahun sebelumnya, kita dapat memperkirakan berapa besaran dividen di tahun ini setelah data laba bersih keluar. Caranya tinggal mengkalikan DPR rata-rata tersebut dengan Earnings per Share (EPS) alias Laba per Saham nya

Misalkan DPR ICBP rata-rata adalah 49% dan kita memperkirakan EPS tahun 2020 nya ada di kisaran Rp450. Sehingga Dividen per Saham nya adalah sekitar 49% × Rp450 = Rp220,5

Kemudian yang perlu dilakukan adalah membagi Dividen per Saham tersebut dengan harga saham saat ini sehingga didapatkan Dividen Yield. Untuk ICBP, Dividen Yield nya adalah Rp220,5 ÷ Rp8.525 = 2,59%.

Dari sini kita bisa menentukan seberapa "ganteng" dividen tersebut. Patokannya? Ya bunga deposito, sekarang di bank-bank besar ada di kisaran 2,75 sampai 3,00 persen, sehingga 2,59 persen itu ya masih relatif sama dan kurang sedikit dengan bunga deposito

Apakah Dividen Tahun Ini Akan Ganteng?

Menggunakan data historikal dari RTI, saya coba hitung perkiraan dividen yield untuk saham-saham yang ada di indeks IDXHIDIV20. Hasilnya bisa dilihat di gambar di bawah.

Dividen IDXHDIV20
Dividen IDXHIDIV20

Ternyata memang besarannya tidak tinggi. Ada dua kemungkinan, pertama, karena banyak perusahaan mengalami penurunan laba dan kedua, banyak yang harga sahamnya sudah tinggi karena aksi spekulasi.

Selamat berburu dividen.

--
Anton Hermansyah

04 Maret 2021

Investasi Secuil-Secuil

Sejak 2020 saya sudah memulai ritual baru, yaitu investasi sedikit-demi sedikit, setiap hari saya transfer Rp30.000-50.000 ke Rekening Dana Nasabah (RDN).

Saya menganggap tiap hari punya "uang jajan" sebesar itu untuk membeli kudapan atau kopi. Apabila saya tidak minum kopi, artinya uang tersebut bisa dipakai untuk berinvestasi.

Metode ini saya sebut sebagai "Cappuccino Investing".

Saham memang bukan hal baru bagi saya yang sudah memulai tahun 2017. Sayangnya, saat itu masih belum dibekali pengetahuan apa-apa dan "kesombongan" sebagai Sarjana Ekonomi yang menganggap sudah tahu segalanya soal memilih perusahaan yang baik.

Hasilnya, saham-saham yang saya pilih pun turun 50%. Untung tidak all-out, kalau tidak saya sudah nangis darah.

Semenjak bekerja di perusahaan sekuritas dan ditugaskan sebagai analis teknikal yang juga harus keliling mengajar pada nasabah-nasabah baru, saya pun lebih menseriusi saham. Malu dong, masa jadi trainer tapi sendirinya tidak investasi.

Saya membaca ulang buku analisis teknikal, mengikuti kursus (untungnya dibayar kantor) dan masuk ke komunitas-komunitas saham yang ternyata menjamur di Telegram. Ada banyak yang saya ikuti, mulai dari Investor Saham Pemula, Tetra (Teman Trader), Trikcuan Mbah Giso, Rivan Kurniawan, Teguh Hidayat, dan Analisa Fundamental Saham Indonesia (AFSI).

Di sana rata-rata saya hanya sebagai silent reader tetapi cukup untuk memberikan inspirasi dalam memilih saham dan bermain saham.

Awalnya saya mencoba trading baik trend following berdasarkan analisis teknikal maupun one day trading (ODT) atau lebih populer di Indonesia dengan nyopet. Awalnya lancar, tetapi akhirnya saya menemui kendala.

Trading menuntut keaktifan lebih di saat pasar ramai, tetapi di saat itu pula banyak nasabah yang meminta analisis, bahkan sampai meminta 10 gambar teknikal dalam sehari, menyelesaikan nya saja perlu waktu satu jam. Akhirnya portofolio saya jebol karena tidak sempat cutloss

Akhirnya saya coba beralih ke investasi, bermodal membaca bahan-bahan dari Teguh Hidayat, Rivan Kurniawan dan Swedish Investor. Aneh memang, analis teknikal sekuritas kok investasi? Ya memang keadaan nya tidak memungkinkan untuk saya trading.

Pembelian pun tidak sekaligus, melainkan bertahap, dari situlah saya mulai melakukan transfer uang sedikit-sedikit ke RDN. Bu Sulis dari bagian akuntansi (yang memang salah satu pekerjaan nya mencatat transfer nasabah, termasuk saya) pun tertawa.

"Biasanya aku lihat nasabah transfer satu juta, sepuluh juta, ini tiba-tiba ada yang transfer lima puluh ribu, sudah pasti si Anton nih," kata Bu Sulis.

Mau bagaimana lagi, model transfer seperti itu yang membuat saya lebih nyaman. Pertama, saya tidak merasa "kehilangan" uang dalam jumlah banyak, kedua, kalau misalkan harga sahamnya turun saya tidak begitu menyesal karena besok ada uang untuk beli lagi.

Kelemahannya? Jelas ada, untuk membeli saham-saham yang berharga lebih dari Rp500 per lembar, saya harus menunggu beberapa hari sampai uang saya terkumpul dan perlu waktu lama untuk mengumpulkan saham sampai menjadi bukit.

Yang penting nyaman, bermain saham tidak harus stres.

--
Anton Hermansyah

25 Desember 2020

Kapan NISP Akan Bagi Dividen Lagi?


Jika memegang saham ini kemungkinan kita tidak akan pernah sabar dan memang, sudah bertahun-tahun harganya tidak ke mana-mana, tanpa dividen pula.

Sudah 16 tahun bank ini tidak bagi dividen. Memang di tahun 2018 ada "Dividen Saham", tetapi justru malah membuat harga sahamnya turun dan habis itu stagnan lagi.

Tujuannya adalah naik kelas ke BUKU 4 (Modal Inti di atas Rp 30 triliun) dengan cara paling konservatif, Laba Ditahan.

Ke konservatifan ini kemungkinan karena prinsip Almarhum Karmaka Surjaudaja yang telah berjasa membesarkan bank ini. Pak Karmaka, pernah mengalami sejumlah pengalaman pahit menjadi bankir, mulai dari peristiwa Sannering 1965 yang menyebabkan bank di rush oleh nasabah sampai ancaman pembunuhan karena konflik perebutan saham di tahun 1960 an.

Jatuh-bangun mengelola bank berdampak panjang ke almarhum, liver nya rusak tahun 1997, harus transplantasi dan minum obat yang keras. Karena obat itu, ginjalnya bekerja keras dan harus diambil satu di tahun 2002.

Metode konservatif ini membuat NISP berhasil melewati krisis 1998 tanpa bantuan pemerintah, di saat bank-bank besar lain seperti BBCA, BDMN, BNGA harus masuk "ICU" Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

NISP pun tidak jor-joran promosi, yang penting adalah kepercayaan nasabah dan keberlanjutan bank.

"Bank NISP tidak mengiming-imingi nasabah dengan bunga tinggi atau hadiah. Yang penting, uang mereka aman di sini," kata Pak Karmaka dalam wawancara dengan KONTAN tahun 1999. "Mudah-mudahan (Bank NISP) terus bertahan sampai ke cucu saya," lanjutnya.

Kembali ke kebijakan tanpa dividen, hasilnya, dari 2008 sampai September 2020, saldo Laba Ditahan telah bertambah sebesar Rp 16,0 triliun, artinya bank berhasil "menabung" laba Rp 1,3 triliun setiap tahunnya. NISP juga menerbitkan obligasi dan MTN selama 2003-2018 yang bernilai total Rp 16,7 triliun.

Kombinasi ini membuat Modal Inti meningkat ke Rp 28,6 triliun di September 2020, 8 kali lipat dibanding Rp 3,5 triliun di tahun 2008.

Dengan penambahan Modal Inti sebesar Rp 2 triliun setiap tahunnya, NISP kemungkinan akan mencapai BUKU 4 tahun depan. Artinya bank ini kemungkinan akan segera bagi dividen yang telah "dirindukan" investor bertahun-tahun.

Oh ya, kisah Pak Karmaka pernah di film kan dengan judul "Love & Faith", dibintangi oleh Rio Dewanto dan Laura Basuki. Buku biografinya berjudul "Tidak Ada yang Tidak Bisa" ditulis oleh mantan menteri BUMN, Pak Dahlan Iskan.

12 November 2020

KEEN Napas Kedua bagi Keluarga Maknawi


Mencari informasi soal Keluarga Maknawi, owner PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) relatif sulit, karena perusahaan tbk keluarga ini, Kencana Agri, tidak listing di Indonesia tapi di Singapura. Sedikit sekali berita yang mengulas keluarga ini baik yang berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Akhirnya saya coba cari bagaimana kinerja Kencana Agri (SGX:BNE) berdasarkan data-data yang dikeluarkan oleh perusahaan. Saya mulai dari melihat pergerakan harga.

Ternyata harganya terus turun, dari puncaknya di tahun 2011 sebesar USD1,8 per lembar, saat ini harganya hanya tinggal US$0,08 per lembar. Artinya nilainya telah turun 96% dari sembilan tahun lalu.

Lanjut ke laporan keuangan, ternyata kondisinya juga tidak baik. Setelah puncak laba di tahun 2011, Kencana Agri mulai "batuk-batuk" dan sering mencatatkan rugi bersih.

Karena sering mencatatkan rugi bersih, ekuitas pun tergerus karena Accumulated Loss (lawan dari Retained Earnings), sehingga makin lama DER makin tinggi dan di saat ini levelnya sudah keterlaluan, di 3250%, tidak salah baca, "tiga ribu persen".

Mungkin KEEN adalah sekoci untuk Keluarga Maknawi. Sejak awal IPO di Singapura, Kencana Agri mempunyai anak perusahaan pembangkit listrik biomassa yaitu PT Cahaya Permata Gemilang (yang akhirnya di transfer ke KEEN tanggal 12 Desember 2019, namun entah kenapa belum dimasukkan ke dalam laporan keuangan KEEN)

Keputusannya ambil atau tidak? Memang ada risiko KEEN bisa menjadi seperti "saudara tuanya", Kencana Agri apabila dijalankan dengan sistem manajemen yang sama. Tetapi saat ini buku nya masih bagus dengan DER yang relatif rendah.

Saat ini pembangunan PLTA mikrohidro sudah rampung dan arus kas operasional sudah mulai jalan. Dengan PBV yang masih rendah sekitar 0,5x, saya memutukan untuk mencicil KEEN.

--
Anton Hermansyah

03 Agustus 2019

Beratnya Jadi Komikus Webtoon

Permohonan maaf dari author Webtoon Nusantara Droid War, Vega Mandalika saat komiknya berhenti karena masalah dengan ilustrator nya Satriaexz

Disclaimer: Saya bukan komikus Webtoon, tulisan ini dari sudut pandang saya sebagai pembaca Webtoon yang sedih kalau komik favoritnya hiatus atau berhenti di tengah jalan.

Saya tidak ingat tanggal berapa pastinya mulai membaca Webtoon --komik daring yang dibaca dengan cara menggulirkan (scroll) halaman ke bawah-- mungkin sekitar pertengahan 2015. Saat itu LINE baru memulai program Webtoon versi Indonesia.

Di masa itu memang pemerintah baik Indonesia dan negara lain sudah mulai memblokir akses ke situs-situs manga scan sejak 2011-2012. Beberapa situs memang hanya di blokir oleh pemerintah Indonesia dan masih bisa dilihat dengan menggunakan proxy tetapi banyak juga situs-situs besar seperti mangafox.com yang harus jadi almarhum karena dituntut dengan pasal pembajakan.

Di awal-awal, saya masih mau usaha, cari proxy atau unduh dengan torrent tapi lama-lama capek juga. Setelah Naruto selesai pada November 2014, intensitas membaca manga mulai berkurang, lama-kelamaan One Piece dan Detektif Conan yang belum tamat-tamat pun saya tinggalkan.

Sebagai pengalih, saya lebih banyak membuka situs 9Gag dan sesekali melihat komik-komik di Facebook seperti Tahilalats.

Pertengahan 2015 LINE, aplikasi chat dari Korea meluncurkan Webtoon, di mana terdapat komik-komik dari komikus Korea dan juga Indonesia. Semua dapat dilihat dengan gratis.

Setelah rutin membaca Webtoon, saya pun menyadari kalau ada banyak komikus Indonesia dengan gambar bagus dan jalan cerita yang bagus. Mungkin inilah titik tolak kebangkitan komik Indonesia.

Ternyata, menjadi komikus bukanlah hal yang mudah. Di LINE Webtoon, sepertinya para komikus diwajibkan untuk membuat gambar klarifikasi apabila tidak bisa menyajikan update dalam waktu yang ditentukan.

Tidak jarang, edisi klarifikasi ini menjadi ajang curhat para komikus.

Komikus Born from Death, Tan Feli misalkan, pada 15 November 2016, setelah 39 episode, mengumumkan akan hiatus selama tiga minggu karena sakit pada tangan kanannya. Belakangan Feli harus menjalani terapi untuk memulihkan tangannya.

Webtoon favorit saya Nusantara Droid War malah sempat terhenti pada 27 Agustus 2016 karena ilustrator Satria EXZ mendadak tidak bisa dihubungi oleh Vega Mandalika, sang penulis cerita. Satria ingin membuat Webtoon nya sendiri dan akhirnya pada 18 November 2016, Vega terpaksa berganti tim ilustrator yang mengakibatkan perubahan gaya gambar.

Kadang sang pengarang mempunyai masalah pribadi yang tidak bisa diungkapkan ke publik.

Webtoon No Homo harus terhenti prematur setelah hanya 12 episode karena komikus Apit No Baka mempunyai masalah pribadi. Webtoon 304th tiba-tiba di tamatkan dengan paksa setelah 80 episode padahal masih banyak jalan cerita yang belum selesai karena masalah pribadi sang komikus Felicia Huang.

Terkadang dunia Webtoon juga tidak adil, komik-komik bertema action yang memerlukan gambar detail, cerita yang bagus dan kadang plot twist di tengah cerita harus kalah jumlah like oleh Webtoon komedi dengan gambar yang sederhana dan kadang hanya empat panel.

Apapun itu, semoga dunia perkomikan Indonesia menjadi semakin maju dan menumbuhkan industri-industri hilir lainnya seperti film layar lebar, animasi dan game.

--
Anton Hermansyah