Dari berita yang muncul belakangan, Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP) akan menerbitkan obligasi global AS$1,5 miliar untuk refinancing sebagian utang bank yang digunakan untuk membeli Pinehill Corpora Limited dan Steele Lake Limited, apakah ini langkah yang baik?
Pinehill dan Steele Lake adalah entitas British Virgin Island (BVI) yang memegang bisnis manufaktur Indomie di Timur Tengah, Afrika dan sebagian kecil Eropa. Pembelian ini menjadi kontroversial karena Pinehill dan Steele Lake juga dikendalikan oleh Grup Salim dan akusisinya terjadi di valuasi mahal, yaitu PBV 12x dan PER 23x.
Pada bulan Mei 2020, setelah RUPS-RUPS (yang anehnya tidak banyak mendapat penentangan) baik di level ICBP maupun First Pacific, pembelian Pinehill dan Steele Lake disepakati di harga $2,99 miliar. Jumlah tersebut adalah $1,53 miliar untuk 51% saham Pinehill dan $1,47 miliar untuk 49% saham Steele Lake.
Saat ini yang sudah dibayar oleh ICBP sebesar $2,35 miliar sementara sisanya $650 juta akan dibayar pada 30 April 2022. Jumlahnya bisa dikurangi apabila Laba Bersih Pinehill dan Steele Lake (yang diatribusikan pada ICBP) di 2021 tidak mencapai $128,5 juta.
Pembelian ini menggunakan utang dan di laporan akhir 2020, utang bank ICBP meningkat Rp29,07 triliun ke Rp30,77 triliun. Setidaknya ada 21 bank yang baru muncul sebagai pemberi pinjaman di 2020 mulai dari Bank of China, BNP Paribas sampai yang jarang terdengan di Indonesia seperti Norinchukin dan Fubon.
Pinjaman-pinjaman baru tersebut dalam Dolar AS dan sebagian kecil dalam Yen Jepang. Berapa bunganya? Sekitar 2,3% untuk Dolar AS dan 1,7% untuk Yen Jepang, itu bunga rata-rata paling tinggi, tidak termasuk murah tapi juga tidak mahal karena rata-rata bunga pinjaman untuk bisnis di AS berkisar di 2-3%.
Kalau ditukar dengan obligasi apakah bunga nya akan jadi lebih murah?
Di berita disebutkan kalau obligasi ICBP mendapat rating Baa3 dari Moody's dan BBB- dari Fitch Rating. Kita bisa bandingkan dengan kasus yang sama, yaitu pada Indonesia Infrastructure Finance (IIF) di mana mereka menerbitkan obligasi global 5 tahun $150 juta dan mendapatkan kupon 1,5% di bulan Februari 2021.
Pada bulan yang sama, Pertamina juga menerbitkan obligasi global 5 tahun sebesar $1 miliar, namun lebih tinggi satu noktah di atas ICBP yaitu Baa2 dan BBB. Mereka bisa mendapatkan kupon yang lebih rendah dari IIF, karena rating nya lebih tinggi, yaitu 1,4%.
Kuncinya adalah di kupon, apabila ICBP mendapatkan kupon yang relatif tinggi, bahkan di atas 2%, bisa saja dibilang tidak wajar. Jangan-jangan nanti dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri?
Sudah rahasia umum jika emiten sengaja menerbitkan obligasi dengan kupon tinggi, lalu obligasinya dibeli oleh Pemegang Saham Pengendali (PSP) nya sendiri adalah salah satu cara bagi PSP untuk kerok uang dari emitennya tanpa mau "bagi-bagi" ke pemegang saham minoritas.
Apabila kuponnya sesuai pasar? Ya saya rasa selebihnya wajar-wajar saja, karena di saat ekspektasi inflasi meningkat, tentunya suku bunga diramalkan akan meningkat dalam jangka menengah, di saat itulah lebih baik kita menukar utang bank yang punya suku bunga floating ke utang obligasi yang punya suku bunga fixed.
Lagipula, untuk Debt to Equity Ratio ICBP sebetulnya juga masih aman di 1,06x meskipun jadi dua kali lipat dibanding sebelumnya di 0,45x pada 2019. Meskipun hal ini mungkin belum bisa "mencuci dosa" yang pertama, yaitu membeli perusahaan sendiri di harga yang kelewat mahal.
--Anton Hermansyah









