Tentang Saya

30 April 2021

Realisasi Investasi Dividen untuk Bebas Pajak Penghasilan

Dua hari belakangan di grup-grup saham banyak beredar postingan soal dividen tahun 2021 yang sudah bebas pajak, tetapi investor harus mengisi laporan re-investasi pada Maret 2022 agar tetap bebas pajak.

Setelah Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 18/PMK.03/2021 keluar pada Maret 2021, dividen yang di distribusikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) tidak lagi di potong pajak. Tetapi sebagai gantinya, investor harus re-investasi dividen tersebut di Indonesia selama minimal 3 tahun.

Instrumen re-investasi yang disediakan:

  1. SBN RI dan SBSN RI
  2. Obligasi atau sukuk BUMN yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  3. Obligasi atau sukuk lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  4. Investasi keuangan pada bank persepsi termasuk bank syariah
  5. Obligasi atau sukuk perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh OJK
  6. Investasi infrastruktur melalui kerjasama pemerintah dengan badan usaha
  7. Investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah
  8. Penyertaan modal pada perusahaan yang baru didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  9. Penyertaan modal pada perusahaan yang sudah didirikan dan berkedudukan di Indonesia sebagai pemegang saham
  10. Kerja sama dengan lembaga pengelola investasi (LPI)
  11. Penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam NKRI
  12. Bentuk invetasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

Dari pilihan-pilihan tersebut, instrumen yang bisa di akses oleh investor receh antara lain Oblogasi Ritel (ORI) dan Sukuk Ritel (Sukri) seperti di poin 1, deposito seperti di poin 4, dibelikan saham lagi seperti di poin 9, reksadana seperti di poin 10, dan P2P Lending seperti di poin 11. Sisanya saya kira lebih cocok untuk investor besar.

Nah, mulai Maret tahun depan, nanti investor harus mengisi formulir Laporan Realisasi Investasi yang menyatakan bahwa kita telah melakukan re-investasi atas dividen yang telah diterima. Contoh form yang saya sudah buat berdasarkan lampiran di PMK dapat dilihat di sini

Form ini selanjutnya di sampaikan ke kantor pajak, atau alternatifnya adalah membuka situs DJP Online (yang biasa digunakan untuk melapor SPT). Kemudian kita harus masuk ke bagian "Profil" dan masuk ke sub-menu "Aktivasi Fitur Layanan".

Aktivasi eReporting Investasi
Aktivasi eReporting Investasi

Di sub-menu tersebut, kita harus centang "eReporting Investasi" kemudian klik "Ubah Fitur Layanan". Setelah itu harus re-login.

Menu eReporting Investasi
Menu eReporting Investasi

Setelah itu di bagian "Layanan" akan muncul menu "eReporting Investasi" yang bisa kita isi sesuai dengan form Laporan Realisasi Investasi.

Apa yang terjadi kalau investor tidak lapor re-investasi dividen ini? Investor harus membayar Pajak Penghasilan (PPh) 10% ini secara manual ke Kantor Pajak satu bulan setelah menerima dividen, paling lambat tanggal 15, dengan kode Akun Pajak 411128 dan kode jenis setoran 419.

Rasanya jadi tambah repot? Ya saya juga berpikir begitu, lagipula sebagai investor receh toh saya belum berpikir untuk re-investasi ke luar negeri, tapi masak mau terus-terusan jadi investor receh?

Hitung-hitung belajar untuk jadi orang kaya.

--
Anton Hermansyah

29 April 2021

Tetap Value Investor atau Pindah YPC (Yang Penting Cuan)?

Kematian Charles de Vaulx

Berita Charles de Vaulx bunuh diri semakin membuat goyah pandangan terhadap relevansi value investing di masa sekarang, pertumbuhan aset fundamental tidak seberapa, bahkan kalah dengan "aset modern", apakah harus beralih ke aliran YPC (Yang Penting Cuan)?

Charles de Vaulx adalah Chief Investment Officer (CIO) dari International Value Advisers, LLC, merupakan value investor garis keras dan tidak pernah mencoba gaya lain sepanjang karirnya. Apabila tidak menemukan "saham salah harga", de Vaulx bahkan kukuh menyimpan 40% portofolio nya di uang kas.

Tidak seperti di Indonesia, di pasar Amerika Serikat (AS), setelah jatuh di bulan Maret 2020 indeks langsung rebound dengan cepat dan mencapai titik tertinggi. Nyaris tidak ada barang salah harga dan bubble tak kunjung pecah karena otoritas moneter seperti The Fed cenderung membiarkan (baca: Saat The Fed Membiarkan Pasar Modal Menentukan Nasibnya Sendiri).

Di sisi lain, yield obligasi di AS pun hampir nol, artinya membeli obligasi di sana hampir tidak ada bedanya dengan menyimpan di bawah bantal. Para investor obligasi pun akhirnya terpaksa pindah ke saham, menyebabkan harga semakin tidak masuk akal dibanding fundamentalnya.

Di saat saham sudah mulai melambat, uang pun berpindah ke Bitcoin, sebuah instrumen yang "haram" untuk fundamentalis karena tidak bisa diukur fundamentalnya.

Hal ini membuat value investor terjepit, tidak bisa menemukan saham bagus artinya harus menyimpan lebih banyak kas, risikonya pertumbuhan portofolio jadi melambat. Di lain sisi, aset-aset yang "kopong" telah menghasilkan return gila-gilaan.

Tetapi nasabah tidak peduli proses, mereka mau hasil, akhirnya satu-per-satu modal lari dari de Vaulx. Dana Kelolaan (Asset Under Management - AUM) de Vaulx pun turun drastis dari AS$20 miliar menjadi di bawah $1 miliar.

Pada Maret 2021, de Vaulx melikuidasi fund nya dan sebulan kemudian, seperti yang sudah disebutkan di awal, dia bunuh diri dengan melompat dari kantornya di lantai 10.

Untuk investor yang sudah belajar fundamental, kita tahu bahwa aliran YPC tidak menjamin untuk survive dalam jangka panjang. Tetapi selama stimulus tidak ada habisnya dan suku bunga tetap rendah aset-aset "kopong" akan tetap melaju ke atas.

Epilog: Mati Terhormat atau Terus Hidup Sebagai Penjahat?

Akhir hidup de Vaulx memang tragis, tetapi seumur hidupnya dia tidak pernah tergoda untuk berpindah ke "sisi gelap", seperti yang dilakukan oleh Bernie Madoff.

Mengutip tulisan Bernard Madoff Si Penipu Saham Korban Dua Krisis, awalnya Madoff adalah fund manager yang jujur, namun kejatuhan pasar tahun 1987 mengubah segalanya.

Setelah kejatuhan pasar, Madoff, seperti fund manager lainnya, mengalami kegagalan untuk memenuhi ekspektasi return dari para nasabahnya. Sehingga dia mulai mengatur skema Ponzi untuk memberikan keuntungan yang stabil kepada nasabah, semua demi mempertahankan AUM.

Bisnis Ponzi Madoff runtuh saat pasar krisis tahun 2008, pada Juni 2009, dia dihukum penjara 150 tahun.

Dua anaknya, yang pernah bekerja di perusahaannya, meninggal setelah itu, si sulung Mark gantung diri pada Desember 2010 dan Andrew meninggal September 2014 karena kanker nya kambuh di 2011 akibat stress karena bapaknya dipenjara dan abangnya bunuh diri.

Bernie Madoff meninggal di penjara pada bulan April 2021, dua minggu sebelum de Vaulx bunuh diri.

--
Anton Hermansyah

27 April 2021

Investasi dan Iman

Setelah beberapa lama mempelajari teknik-teknik berinvestasi, pada saham khususnya, saya malah merasa apa yang saya pelajari mirip dengan apa yang diajarkan oleh guru-guru spiritual.

Seperti investor lainnya, saat pertama kali masuk dunia saham yang saya cari adalah "Teknik Sapu Jagat". Bagaimana memilih saham yang akan menghasilkan return paling tinggi, dengan risiko penurunan paling rendah, dan waktu sesingkat-singkatnya.

Setelah mempelajari analisis teknikal klasik, modern, Fibonacci, valuasi, Graham Number, dan lain-lain, saya mulai bisa melakukan seleksi saham. Tetapi ternyata itu saja tidak cukup. Pengalaman-pengalaman seperti "baru dibeli sore nya turun", "setelah dijual malah naik", "yang naik tinggi malah yang lebih 'busuk'" menghantui perjalanan saya.

Jadi selain teknik-teknik kuantitatif perlu ada aspek kualitatif yang harus dipunyai oleh seorang investor dan menurut saya ini mirip dengan ajaran-ajaran spiritual.

Hindari Utang (Jika Mampu)

Saham adalah instrumen yang tidak bisa ditebak kapan naik dan kapan turun nya sedangkan utang sudah tentu harus dibayar cicilan nya per tahun atau malah per bulan. Jika kita menggunakan fasilitas limit dan marjin dari sekuritas keuntungan kita akan berlipat ganda, tetapi apabila rugi, maka akan berlipat ganda juga.

Charlie Munger dari Berkshire Hathaway mengatakan, "Smart men go broke three ways - liquor, ladies and leverage."

Warren Buffett dalam esai "The Superinvestors of Graham-and-Doddsville" tahun 1984 menceritakan tentang Rick Guerin, pemegang saham Berkshire Hathaway di masa lalu selain Buffett dan Munger. Buffett menceritakan bahwa Guerin sama pintarnya dengan mereka berdua tetapi memilih untuk kaya lebih cepat dengan menggunakan marjin yang berlebihan.

Akibatnya saat pasar saham jatuh tahun 1973-1974, Guerin harus menjual sahamnya di Berkshire untuk melunasi marjin nya.

Dari Indonesia, Pak Lukas Setia Atmaja dalam artikel "Jurus saham juragan beras" menceritakan bahwa Pak Sukarto Bujung, pemilik HOKI, pernah terlilit utang marjin Rp1,5 miliar setelah krisis 1998 yang membuat portofolionya anjlok. Sejak saat itu Pak Karto beralih ke metode value investing tanpa utang.

Sabar

Saham yang bergantian naik turun setiap harinya memang menggoda kita untuk mengutak-atik portofolio dan berganti saham. Tetapi setelah jual dan ganti saham, justru malah saham yang sudah dijual yang naik.

Investasi saham juga akan maksimal apabila kita mendapatkan baik dividen dan capital gain. Sehingga paling tidak, holding period minimal harus satu tahun, kasarnya.

Berpindah saham terlalu sering juga membuat kita luput dari keuntungan besar. Seperti kata Jesse Livermore, "Throughout all my years of investing I've found that the big money was never made in the buying or the selling. The big money was made in the waiting."

Merelakan yang Bukan Rejeki

Memutuskan hold dalam jangka panjang adalah sebuah "komitmen" dan di tengah jalan seringkali hal-hal yang "di luar dugaan" terjadi. Contoh, saya pegang PTPP karena keadaan keuangannya masih bagus di antara BUMN konstruksi (selain WIKA), tapi ternyata malah WSKT yang naik paling tinggi.

Begitupun dengan investor syariah, yang harus merelakan saham-saham bank naik terus dengan stabil dan tidak bisa merasakan gurih nya dividen MLBI.

Sikap Fear of Missing Out (FOMO) justru lebih sering berbalik merugikan, karena bisa saja saat kita memutuskan untuk membeli, ternyata sudah ada di pucuk.

Lo Kheng Hong pun sering berkata, "Berarti bukan rejeki saya, biarlah menjadi rejeki orang lain."

Bukan Rejeki Saya
Bukan Rejeki Saya

Saya rasa mental inilah yang harus dimiliki oleh investor jangka panjang di tengah "godaan-godaan" market. Apakah mirip dengan yang diajarkan guru spiritual kita? Menurut saya sedikit banyak mirip.

--
Anton Hermansyah