17 Oktober 2010
Telefon yang Bukan Telefon
Sudah beberapa bulan ini telefon saya jarang berbunyi. Ini ungkapan sebenarnya bukan kiasan. Jarang saya mengangkat telefon untuk berbicara kecuali kepada keluarga.
Jadi untuk apa saya harus membeli telefon?
Untuk mengirim surat elektronik, untuk mendengarkan musik, untuk berselancar di dunia maya, untuk chatting dengan teman-teman, semua bisa dilakukan oleh 'telefon'.
Aneh? Memang, karena telefon berasal dari dua kata "tele" dan "fon". Tele artinya jarak jauh dan fon artinya suara (entah bagaimana sekarang menjadi 'pon' mungkin ulah Orang Sunda). Jadi telefon hakikatnya adalah alat untuk 'mengantarkan suara dari jauh'. Tetapi unsur 'suara' itulah yang belakangan ini dilupakan.
Setidaknya itu yang terjadi pada saya.
Teman-teman saya lebih suka memberi kabar melalui messenger entah itu Blackberry Messenger, Yahoo! Messenger, Facebook Talk atau Google Talk (saya tidak pakai MSN Messenger). Kalauoun ada beberapa dengan media lain itu adalah SMS, lagi-lagi tulisan. MMS yang dahulu digadang-gadang sebagai penerus SMS pun tidak pernah terdengar lagi, dan percaya atau tidak, saya belum pernah menerima MMS sekalipun!
Telepon dengan kemampuan video call saya pun tidak pernah punya. Dulu di film-film fiksi ilmiah digambarkan bahwa jika menelefon ada gambar orang yang sedang berbicara dengan kita. Saya pikir video call adalah perwujudan dari gambaran di film. Nyatanya beberapa tahun berlalu masih jarang saya lihat orang melakukan video call ternyata perkiraan sutradara film fiksi ilmiah pun bisa meleset.
Penyebabnya apa?
Saat ini layanan operator telepon terbagi dua yaitu 'suara' dan 'data'. Sejauh ini operator menetapkan paket harga tetap tanpa batas untuk data. Dengan membayar sejumlah tertentu kita bisa menggunakan layanan data sepuasnya. Tetapi untuk layanan suara masih saja konvensional, berbasiskan waktu dan tidak ada yang betul-betul namanya paket 'berbicara sepuasnya'. Keadaan ini ditambah dengan heterogenitas operator di Indonesia, padahal yang paling mahal adalah berbicara antar operator.
Hasilnya?
Ya seperti inilah, pada akhirnya telefon menjadi tidak seperti asal katanya. Setidaknya fungsinya sebagai alat penghubung tetap terjaga.
--
Anton Hermansyah
10 Oktober 2010
Sabtu Minggu Malah Sibuk
Tetapi justru terlalu banya kumpul pun tidak enak, selain karena orangnya yang bisa hanya itu-itu saja hal ini malah saya capek di akhir pekan.
Sebagai kaum komuter yang harus bolak-balik antar kota antar propinsi setiap harinya, saya pun kenyang dengan macetnya Jakarta pada hari kerja. Sialnya, tidak ada tempat kumpul yang lebih baik daripada tengah kota. Dan rumah saya... Yah bilanglah itu desa.
Memang berat, apalagi sudah terserang macet di dekat rumah (Para pejabat Tangerang Selatan, mohon diperlebar jalannya), pernah saya menghabiskan waktu di jalan Pondok Cabe - Lebak Bulus selama 2 jam, padahal spanduk developer perumahan mengatakan, "hanya 10 menit dari Jakarta". Sungguh promosi kadang tidak sebanding dengan apa yang ada di kenyataan.
Seringkali saya pulang malam hari pada hari Senin- Kamis, bukan karena sibuk juga, tetapi keasyikan dengan suasana kantor sehabis Maghrib, sepi dan tenang. Sehingga pada hari Jumat saya sering merasa bersalah dan berniat 'menebus dosa' dengan pulang cepat. Sialnya, hari Jumat adalah hari yang ideal untuk berkumpul. Menjelang sore, tawaran berkumpul mulai muncul dan memang sulit untuk ditolak.
Kesimpulannya di hari Jumat?
Bukannya saya pulang sore malah hari itu saya pulang paling malam.
Sabtu-Minggu?
Katakanlah jika anda menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan kantor dari Senin sampai Jumat, artinya anda tidak mengerjakan hal lain di hari itu. Kapan saat mengerjakan hal lain? Sabtu-Minggu lah jawabannya. Membersihkan rumah, merawat kendaraan, mengurus kekasih yang mulai rewel, bahkan sampai menghadiri undangan pernikahan teman SMA yang disampaikan via event atau tag photo Facebook. Memang bukan kegiatan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan, tapi itulah kewajiban sebagai makhluk sosial, hidup bukan sekedar untung dan rugi bukan?
--
Anton Hermansyah
23 Juli 2010
Membeli Pulsa
Sebagai orang yang
Sekarang?
Orang jual pulsa di mana-mana, bahkan hati-hati, orang terdekat anda pun bisa jadi adalah agen pulsa hahaha. Sayangnya noiminal voucher pulsanya kecil-kecil, maksimal hanya Rp 25,000, tuntutan zaman mungkin. Voucher pulsa tersebut dijual dengan harga di atas nominalnya, biasanya Rp 27,500 atau paling murah Rp 26,000.
Kalau mau beli yang besar mas? Seratus ribu?
Wah pakai yang elektrik saja, kata penjual pulsa. Oke memang besar, tetapi perlu waktu 2 jam sampai diterima. Biayanya? Ya harga voucher yang Rp 26,000 itu dikali 4 saja. Waduh, kok malah tidak economics of scale?
Akhirnya lebih baik saya beli di ATM. Beda dengan tukang pulsa, di sini nominal minimal 50,000 (kadang ada yang 25,000). Biarpun harga akhiirnya sama dengan nilai nominal nya, tak ada diskon tak ada premium, ternyata lumayan bisa diandalkan. Pulsa baru masuk dengan cepat, lagipula bila transaksi tidak jalan, bank lebih mudah untuk menyampaikan keluhan di banding tukang pulsa pinggir jalan.
--
Anton Hermansyah
11 Juli 2010
Wordpress Mobile
Sekarang zamannya mobile, orang-orang bepergian tetapi ingin tetap terkoneksi. Jika dulu ada lirik "di tengah keramaian aku masih merasa sepi" (Dewa - Kosong), sekarang meski di tengah sendiri kita bisa merasa ramai.
Ya, dengan telepon genggam di tangan, kita bisa tahu kabar teman-teman dan handai tolan. Jika dahulu dengan SMS atau telepon, sekarang dengan jejaring sosial, Facebook, Twiter, MySpace dan lain-lain. Terutama Twitter yang lebih efektif dalam penggunaan via telepon genggam.
Tetapi update status di Facebook, atau tweet di Twitter bukanlah substitusi sempurna dari kenikmatan menulis artikel fan berekspresi di Blog. Tetapi karena lebih sering bepergian dan jarang di depan komputer, kita lebih sering update tuliasan pendek ketimbang posting artikel. Bagaimana dengan aplikasi Blogging kesayangan kita ini?
Sekarang sudah ada Wordpress Mobile, kita dapat membuat posting dari telepon genggam. Posting ini dilakukan dari Wordpress Mobile, kesan pertama? Wow.... pada awalnya... akhirnya saya cuma bisa bilang lumayan.
Sistem update post di sini bisa bentuk besar dari Twitter, atau bentuk kecil dari Wordpress Desktop. Disediakan editor kecil dengan karakter tidak terbatas. Hanya saja saya kesulitan untuk memformat huruf di sini.
Yang saya sayangkan adalah ketiadaan editor HTML di versi mobile ini. Saya membagi blogger ke dalam dua kelompok, journalist based dan IT based. Saya termasuk yang kedua, dengan basis IT, kerapihan tag merupakan hal pentinf bagi saya dibanding sekedar aebuah artikel yang bagus. Mungkin menggunakan WP Mobile akan membuat saya harus kerja dua kali karena harus merapihkan tag nya lagi via WP Desktop, tetapi inspirasi menulis datang di mana saja dan kadang hanya sekali kan?
Terakhir adalah aplikasi ini baru tersedia untuk telepon genggam dengan Operating System (saya menggunakan WP Mobile untuk Android). Saya harap versi Java yang notabene hampir semua telepon genggam punya.
Sambil menunggu perkembangan lebih lanjut, mari kita nikmati WP Mobile terlebih dahulu.
--
Anton Hermansyah
12 Juni 2010
Rumah Itu di Dada
Posting ini memang bukan untuk resensi film, tetapi ada adegan yang sebenarnya lucu tetapi juga mengesankan. Saat pasangan 'Tripplehorns', Taste (James Franco) dan Whippit (Mila Kunis) bertengkar saat akan meninggalkan rumah.
- Whippit: I don't know but maybe leaving is not such a good idea... This is our home...
- Taste: Hey... no it's not (membuka baju, menunjukkan dada yang ditato muka Whippit)... this is your home
Adegannya bisa dilihat di sini (kalau belum dihapus):
Saya mungkin bukan anak sastra apalagi redaktur bahasa, tetapi kalau boleh analisis sedikit...
Ada 2 kata dalam Bahasa Inggris yang berarti 'rumah' dalam Bahasa Indonesia yaitu 'house' dan 'home'. Ada perbedaan di antara kedua kata tersebut, house itu kata benda yang secara harafian artinya bangunan tempat tinggal. Home lebih abstrak, tidak berupa bangunan tetapi sebuah tempat untuk pulang.
Jika house lokasinya terletak di alamat bangunan tersebut, lalu di manakah letak home...??
Jawabannya ada di adegan tadi...
Rumah (home) itu ada di dada (hati).
Kita masih bisa pulang ke rumah (home) apabila masih ada hati orang-orang yang menyayangi dan mau menerima kita, meskipun belum tentu ada rumah (house) yang berwujud. Sebaliknya kita tidak bisa pulang apabila di rumah (house) apabila di sana tidak ada yang mempunyai hati untuk kita, maka tidak layak rumah itu disebut rumah (home).
Beruntunglah bagi kita yang masih mempunyai rumah.
--
Anton Hermansyah
02 Mei 2010
Kuisioner Titipan
Sekedar informasi untuk kuisioner yang akan anda isi. Ini mengenai produk-produk ramah lingkungan, dan tindakan anda sebagai pahlawan penyelamat bumi terhadap barang-barang yang anda konsumsi sekarang.
Silahkan isi kuisionernya di Sini
--
Anton
07 April 2010
Peninggalan
Harimau Mati Meninggalkan Belang
Seringkali saya iri kepada orang-orang teknik sipil atau arsitektur, kenapa? Karena mereka mempunyai peninggalan yang nyata. Keluarga besar saya secara turun temurun bergerak di bidang pembangunan, meski lebih tepatnya minimal salah satu orang dari setiap generasi ada yang menjadi arsitek atau orang sipil :-P
Pernah suatu ketika kami sekeluarga sedang menuju ada di Bandung dan mengambil jalan pintas karena jalan utama macet, di tengah perjalanan kami melewati Politeknik Ciwaruga. Tiba-tiba ayah saya berkata, "Ini dulu yang bangun Mbah Aak!". Saya memandangi bangunan itu dengan kagum, inilah prasasti modern peninggalan si Mbah dan sejak saat itu pula saya baru tahu kalau dulu si Mbah bekerja di PP (Pembangunan Perumahan), padahal saya dulu sejak kecil mengira pekerjaan si Mbah adalah Dukun :-D
Itu baru si Mbak, ada dua orang Uwak (Paman) saya yang bidangnya adalah pembangunan, satu orang sipil, satu lagi arsitek. Kemudian secara turun temurun (atau tidak sengaja) sepupu saya, Adrie meneruskan jejak keluarga dengan menjadi arsitek.
Kalau saya sebagai orang manajemen, apa yang akan saya tinggalkan? Tidak ada yang spesifik rasanya, orang-orang jurusan Ilmu Ekonomi akan meninggalkan rumus-rumus ekonomi atau kurva-kurva, orang Akuntansi (euh) meninggalkan Pedoman Standar Akuntansi(?). Yah apapun itu semoga nantinya saya bisa memberikan sesuatu dan meninggalkan sesuatu yang akan lama digunakan orang, seperti Porter Five Forces itu hehehe
--
Anton
27 Februari 2010
Bangau Bisa Menjadi Supra Tetapi Vega Tetaplah Vega
Hari ini saya baru saja membengkelkan Yamaha Vega saya. Banyak yang sudah harus diganti, mulai dari ban, gir, rantai sampai plat kopling. Seperti kata Deddy Mizwar, "Pakai Onderdil Asli", siap lah, mahal sedikit nggak papa.
Tapi setelah selesai dan saya bawa pulang ke rumah, rasanya...?? Biasa saja kok, paling rantai sudah tidak bunyi, 'tarikan' agak sedikit lebih responsif. intinya, "kembali ke normal". Jelas ini 'servis' kalau berubah ya namanya 'modifikasi'.
Tapi kalau dulu diingat-ingat saat motor pertama saya, Jialing Bangau di 'servis' besar tenaga dan performa nya langsung berubah dan jadi lebih baik. Saya cerita tentang ini kepada Ayah saya dan kami berdua tertawa.
Kenapa...??
Karena kalau si 'Bangau' harus ganti onderdil, kami berdua selalu ganti dengan onderdil Honda Supra yang notabene beberapa tingkat di atas 'Bangau'. Intinya si 'Bangau' naik kasta menjadi "Jialing Supra" atau "Honda Bangau" :-D
Tetapi 'Vega' tetaplah 'Vega', wong "pakai onderdil asli" kalau pun berubah ya sekedar balik ke asal bukan naik kasta.
--
Anton Hermansyah
25 Februari 2010
Hidup Bagai Halilintar
Kalau di Bahasa Inggris seharusnya judul ini adalah "Life is a Roller Coaster", tapi apa kata yang tepat untuk menterjemahkan "Roller Coaster" ke dalam Bahasa Indonesia? (Berhubung saya idealis yang mau menggunakan Bahasa Indonesia semaksimal mungkin dalam Blog ini).
Ternyata Roller Coaster belum pernah di-Indonesiakan, jadi saya terpaksa ambil nama dari Dunia Fantasi, permainan sejenis disebut "Halilintar" di sana. Jadinya judul ini agak aneh, tapi....yah biarlah.
Memang betul nasib kita selalu bertukar, hidup yang dahulu ramai dan banyak teman-teman, karena dahulu memang masih dunia kampus, sekarang berganti menjadi hidup yang soliter dan sepi dan semua itu terjadi dalam waktu yang cukup singkat, sekitar 4 bulan, dan saya pun kadang masih belum rela agar Sang "Halilintar" tidak turun ke bawah dahulu dengan cepatnya.
Mendaki ke atas pun lama dan menegangkan, jika sudah akan sampai di atas, saya takut akan jatuh dengan cepat lagi, itu mengerikan. Masalahnya, saya sedang berada di mana? Masih di bawah? Ataukah sudah menanjak?
Yah...jalani hidup ini saja dulu dengan sebaik-baiknya
--
Anton Hermansyah