Setelah saya dan teman-teman sudah mempunyai kehidupan baru di tengah kota Jakarta (baca: 'bekerja'), kami pun sadar bahwa telah mempunyai jalan sendiri-sendiri. Memang ada yang beruntung bisa satu kantor dengan teman satu perjuangan, seperti saya dan Bubu. Maka terkadang keinginan untuk berkumpul pun muncul.
Tetapi justru terlalu banya kumpul pun tidak enak, selain karena orangnya yang bisa hanya itu-itu saja hal ini malah saya capek di akhir pekan.
Sebagai kaum komuter yang harus bolak-balik antar kota antar propinsi setiap harinya, saya pun kenyang dengan macetnya Jakarta pada hari kerja. Sialnya, tidak ada tempat kumpul yang lebih baik daripada tengah kota. Dan rumah saya... Yah bilanglah itu desa.
Memang berat, apalagi sudah terserang macet di dekat rumah (Para pejabat Tangerang Selatan, mohon diperlebar jalannya), pernah saya menghabiskan waktu di jalan Pondok Cabe - Lebak Bulus selama 2 jam, padahal spanduk developer perumahan mengatakan, "hanya 10 menit dari Jakarta". Sungguh promosi kadang tidak sebanding dengan apa yang ada di kenyataan.
Seringkali saya pulang malam hari pada hari Senin- Kamis, bukan karena sibuk juga, tetapi keasyikan dengan suasana kantor sehabis Maghrib, sepi dan tenang. Sehingga pada hari Jumat saya sering merasa bersalah dan berniat 'menebus dosa' dengan pulang cepat. Sialnya, hari Jumat adalah hari yang ideal untuk berkumpul. Menjelang sore, tawaran berkumpul mulai muncul dan memang sulit untuk ditolak.
Kesimpulannya di hari Jumat?
Bukannya saya pulang sore malah hari itu saya pulang paling malam.
Sabtu-Minggu?
Katakanlah jika anda menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan kantor dari Senin sampai Jumat, artinya anda tidak mengerjakan hal lain di hari itu. Kapan saat mengerjakan hal lain? Sabtu-Minggu lah jawabannya. Membersihkan rumah, merawat kendaraan, mengurus kekasih yang mulai rewel, bahkan sampai menghadiri undangan pernikahan teman SMA yang disampaikan via event atau tag photo Facebook. Memang bukan kegiatan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan, tapi itulah kewajiban sebagai makhluk sosial, hidup bukan sekedar untung dan rugi bukan?
--
Anton Hermansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar