Tentang Saya

25 Mei 2009

Resume Tiga Hari

Selama tiga hari ini Sabtu, Minggu dan Senin ada beberapa pengalaman yang bisa di ceritakan, meskipun ini gara-gara nggak sempat nulis blog kemarin-kemarin sih.

Sabtu - Futsal dan Masuk Angin


Durian

Durian

Setiap dua minggu sekali saya "dipaksa" main futsal di Goals Fatmawati seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya tapi kali ini kondisinya berbeda. Pertama, yang main jauh lebih sedikit dari yang lalu jadinya nggak ada ganti atau substitusi. Kedua, kalau minggu kemarin saya makan ala binaragawan (pagi oatmeal, siang telur, dan malam buah), minggu ini makan ala Paman Gembul, apa saja dimakan, jadinya metabolisme tubuh kacau kembali (istilah trainer saya). Ketiga, pagi-pagi cuma makan Soy Joy dan perut kosong melompong.

Walhasil kalau kemarin lari-lari bak pemain American Football sekarang langsung capai, malah sempat kram perut gara-gara otot perut yang sudah susah payah dibangun minggu kemarin sudah tercampur lemak tak jenuh, gawatnya nggak ada yang mau gantian karena kurang orang jadilah harus tetap main, yah You are what you eat...baru terasa sekarang manfaatnya.

Kecapean dan keringetan langsunglah saya pulang tanpa ganti baju dulu, masih pakai baju yang untuk main tadi, naik motor pula, jadilah pas habis bangun tidur langsung masuk angin ditambah migrain, nyut-nyutan setengah kepala. Teman saya menyuruh saya minum obat tapi saya nggak berani karena pernah mengalami Tragedi Duren.

Tragedi Duren adalah cerita waktu saya kecil dan belum tahu soal obat, minum obat karena pusing di tengah perjalanan. Setelah itu rombongan keluarga besar berhenti untuk makan duren, saya dengan bodohnya ikut makan. Setelah orang tua saya tahu bahwa sebelumnya anaknya minum obat langsung mereka panik, sejak itulah saya tahu kalau obat tak boleh bercampur alkohol atau soda, dibantu Mbah A'a yang kini sudah almarhum, saya memuntahkan semua yang sudah saya makan.

Belum selesai sampai di situ, saya disuruh minum Norit untuk menyerap racun dan tak boleh tidur selama 5 jam, mereka takut kalau saya tidur mungkin tiba-tiba nggak bisa bangun lagi, padahal saat itu ngantuk sekali. Ibu saya lalu menceritakan kisah tetangganya yang meninggal gara-gara habis minum obat dia minum Sprite. Uff...sangat ampuh untuk membuat saya terjaga sampai lima jam. Untungnya Near Death Experience itu bisa terlewati, tetapi membuat saya agak takut untuk minum obat, kecuali kalau sakitnya sudah nggak tertahankan.

Minggu - Terminal Tiga dan Hanamasa


Terminal 3

Terminal 3

Ibu saya pulang dari Jambi, karena naik Mandala maka Ayah, saya dan Andi harus menjemput di Terminal Tiga bandara. Ini terminal baru dan cuma ada Mandala dan Air Asia saja yang mangkal di sini. Begitu lihat gedungnya di malam hari sih tercengang juga karena desainnya modern dan minimalis, beda dengan terminal satu dan dua yang sudah terlihat kusam. Tapi ada beberapa hal yang kurang enak di sini :
  1. Alur parkirnya bikin mumet, beberapa kali lihat tempat kosong tapi tidak bisa langsung dimasuki karena mesti putar jauh, yah...mungkin kalau ke sana akan mengerti sendiri lah.

  2. Tempat menunggu keberangkatan ada di luar ruangan, meskipun ada atapnya tapi tetap saja bisa masuk angin.

  3. Kurang tempat jajanan, masa cuma ada CFC sama J.CO, di dalam pun masih kosong melompong, memang yang terakhir ini kurang penting sih
Pulangnya kami makan di Hanamasa di Mal Pondok Indah, sengaja memilih di sana karena minumnya bisa tambah sepuasnya, tetapi kami (tepatnya Ayah, saya dan Andi) terpancing untuk membeli jus yang ditawarkan oleh pelayannya, yang mungkin dengan sengaja cepat ditawarkan sebelum pengunjung tahu bahwa tambah minum itu gratis. Ibu pun marah-marah, dan saya tidak bisa bilang apa-apa selain maaf, apalagi begitu tahu Es Kopyor yang saya pesan harganya Rp 24,000, mana nggak enak pula. Jadi bagi yang mau makan Hanamasa, berhati-hatilah jangan terpancing godaan membeli jus buah..!!

Senin - Uang Kembalian dan Vienna


Hari ini saya merasakan pentingnya uang receh, pagi-pagi saya sudah bermasalah dengan pembayaran denda buku di perpus, dendanya Rp 18,000 dan saya hanya membawa uang Rp 50,000, bapak penjaga pun menyuruh saya kembali lagi karena tidak ada stok uang kembalian. Sampai siang gocap itu belum juga pecah sampai saya dan Radit diajak Fajar ke Fakultas Psikologi karena mau bertemu Mbake sing paling apik dhewe di sana. Dan baru kali ini saya merasakan bahwa Pom Bensin dan Jalan Tol itu hebat dalam menyediakan uang, karena di Kantin Psikologi saya di Ping-Pong antara penjual makanan dan penjual minuman.

Di Penjual Minuman, Ga ada uang kecil bang...?? Ya udah ntar aja bang...abis makan aja, nggak ada kembaliannya.

Sesudah makan...

Di Penjual Makanan, Walah gede amat, nggak ada tukerannya nih...!!! Bayar yang lain dulu ya...

Di Penjual Minuman, Yah, belom ada kembaliannya, bayar makanan dulu gih...!!!

arrggghhhh....!!!!!

***


Hari ini memang nggak begitu enak sih...terutama buat Fajar yang tidak berhasil ketemu Mbake sing paling apik dhewe, meskipun untuk saya lumayan karena bisa melihat "Pemandangan" yang lumayan di Kantin Psikologi. Nggak tahu lah mereka melihat saya seperti apa...mungkin mereka melihat saya dan sebenarnya mau menghampiri saya sambil bilang "I Love You" "Maaf mas, mau nggak jadi objek penelitian skripsi saya...??--karena mas terlihat seperti orang kelainan jiwa"

Untuk si Gocap akhirnya uang itu pecah untuk membeli Cheese Stick lapis coklat di 2nd Bite (baca : Second Bite) sebagai pemuas lapar karena Cheese Stick yang kemarin dibawa Nia nggak enak >-< bentuk Cheese Stick nya menarik.

Untuk Fajar yang malang, saya persembahkan lagu dari Billy Joel judulnya Vienna, karena ini saya pikir cocok dengan keadaannya saat ini.

Billy Joel - Vienna (Song from Breakfast at Tiffany's)
Slow down, you crazy child
you're so ambitious for a juvenile
But then if you're so smart, tell me
Why are you still so afraid?

Where's the fire, what's the hurry about?
You'd better cool it off before you burn it out
You've got so much to do and
Only so many hours in a day

But you know that when the truth is told..
That you can get what you want or you get old
You're gonna kick off before you even
Get halfway through
When will you realize, Vienna waits for you?




--
Anton Hermansyah

22 Mei 2009

Belasungkawa Tragedi Hercules dan Andai-Andai

Terbangun pagi, internetan sambil melihat (lebih tepatnya mendengar) TV, acara berita kebetulan menayangkan jatuhnya pesawat Hercules. Memang sih sudah nggak membahas teknis bagaimana pesawat jatuh dan bla...bla...bla-nya tetapi sudah masuk ke adegan isak tangis keluarga dan situasi-situasi lainnya yang masih berhubungan seperti batalnya resepsi nikah karena ayahnya jadi korban sehabis jadi wali nikah anaknya, pemakaman para korban baik militer maupun sipil, sampai Presiden SBY dan Wapresnya JK berebut memberikan simpati kepada para korban.

Suatu hal yang beberapa kali disebut di berita ini adalah masalah anggaran, dicertakan kalau dari anggaran militer yang ada, TNI-AU mendapatkan anggaran yang paling kecil di sini, jadi "wajar" saja kalau perawatan pesawat agak kurang, bukan masalah pesawat Hercules yang ternyata usianya sudah 29 tahun, bahkan berita menyebutkan "yang terpenting bukanlah usia pesawat tetapi perawatannya". Yah...apa saja lah yang bisa dikata.

Saya pun menghayal akan membuat perusahaan penerbangan yang mengakomodir penerbangan-penerbangan perintis tapi aman dan murah, yah...seperti Adam Air Northwest Airlines lah yang nantinya bisa membantu memajukan perekonomian dan pembangunan daerah timur seperti Papua, karena yang naik pesawat saya dari kalangan biasa sampai businessman.

Tetapi...

Kalau misalkan saya berandai-andai lain mungkin ini yang saya lakukan :

Andaikan jadi Pak Habibie


Pak Habudi

Pak Habibie Habudi

Saya akan berpikir untuk merancang pesawat dirgantara canggih buatan negeri sendiri untuk menggantikan Hercules-Hercules yang sudah mulai uzur mungkin bakal diberi nama Samson eh tapi jangan-jangan diprotes sama Band Samsons lagi hehehe.

Andaikan jadi Caleg


Caleg

Caleg

Ngapain juga diurusin tuh korban bencana wong sudah selesai Pemilunya kok, duit saya sudah habis nih untuk kampanye, malah waktunya mikirin balik modal hahaha.

Andaikan jadi Capres


Si Butet Yogya

(Calon) Presiden SBY

Saya akan menyempatkan diri untuk berkunjung langsung ke tempat kejadian, memberikan dukungan kepada para korban, dan membayar sejumlah uang untuk belasungkawa juga ganti rugi. Tujuannya adalah agar televisi meliput saya dan saya dikenal sebagai calon presiden yang baik hati ups

***

Memang cuma bercanda sih andai-andainya, namanya juga khayalan. Tetapi saya juga turut mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk korban jatuhnya Pesawat Hercules, semoga mereka yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

--
Anton Hermansyah

20 Mei 2009

Kesal pun Nulis

Teman Belajar

Teman Belajar

Ok, berakhir satu UAS di hari ini, dengan perjuangan dan emosi saya kerjain soal PRK ini. Perjuangan sih iya...tapi kenapa mesti ada kata-kata emosi...?

Begini ceritanya, sewaktu hari senin (18/5) saya dan Fajar ikut rombongan anak-anak yang sedang sibuk fotokopi bahan ujian. Karena sudah terlalu sore saya juga harus pulang, saya dan Fajar menitipkan bahan itu kepada Mr. R (bukan nama sebenarnya) untuk difotokopi dan rencananya akan diambil hari selasa siang, yah...sekitar jam dua belas deh.

Besoknya, runtutan kejadian adalah seperti ini :

  • 12.00 - 16.00 Saya menunggu di perpustakaan tapi Fajar tak kunjung datang karena ada kuliah

  • 16.00 - 16.30 Akhirnya Fajar datang tapi tak membawa fotokopian yang dijanjikan, sembari memberi tahu saya bahwa fotokopian dibawa oleh Mr. R, saya kaget karena Mr. R ini orangnya super sibuk (lebih tepatnya sok sibuk).

  • 16.30 - 17.00 Setelah ditelfon, Mr. R berjanji akan membawa fotokopian tersebut ke kos Fajar. "Kenopo ra nang kampus ae (Kenapa tidak di kampus saja)..??", Saya tanya ke Fajar. "Ra gelem wonge, sibuk deweke (Nggak mau orangnya, sibuk dia)" Jawab Fajar.

  • 17.00 - 17.30 Memutuskan pergi dan tunggu di kosnya Fajar, padahal sedang hujan dan kebetulan saya sedang membawa motor.

  • 17.30 - 18.00 Proses menunggu, dan akhirnya menelpon Mr. R kembali tapi tidak diangkat-angkat

  • 18.00 - 19.00 Masih menunggu, tapi kali ini kami seperti Tour Guide Gembira Loka (Kebun Binatang di Jogja) spesialis binatang non-halal, maksudnya mengumpat-umpat pakai Bahasa Jawa. Dan akhrinya saya pulang dengan menitip salam tonjok untuk Mr. R pada Fajar.

Yup akhirnya saya pulang dengan tangan hampa dan berharap Fajar dapat bahan-bahan itu entah malam-malam atau pagi buta, sebenarnya dia lebih butuh, belum belajar sama sekali dan nggak tahu apa saja poin-poin yang penting.

Esoknya (maksudnya hari ini)...

Sebelum masuk ujian, seperti tradisi anak-anak belajar dahulu di depan kelas, di situ ada Fajar juga dan saya tanya soal bahan ujian...ternyata Mr. R tidak datang sama sekali ke kos dia. Hebatnya si Mr. R cunguk ini duduk di dekat Fajar (yah...radius 5 meter lah agak jauh, mungkin si Fajar yang menjauh) sambil belajar dengan tenangnya. Saya menenangkan diri lalu tanya ke Mr. R :

  • Saya : Mau bengi endhi kowe dienteni (Tadi malam kamu ke mana ditungguin)...??...!!

  • Mr. R : Sori, lagi sibuk kemarin, baru pulang jam 9 ke kontrakan, saktenane aku arep ngomong ora iso wingi (Sebenarnya saya mau ngomong nggak bisa kemarin...)

Hanya dengan kata-kata Sori dan Sibuk yang dengan enak keluar dari mulut setelah membuat dua orang tidak bisa belajar karena kurang bahan...!!!...???

Lagi pula kami berdua sudah menelpon Mr. R secara estafet malam itu dan lebih dari 5 kali telepon, kenapa dia tidak konfirmasi lebih awal...??...!!

Yah...
Inilah kisah gondok di penghujung masa kuliah. Yup terutama buat Angga Bubu yang baru saja mengalami UAS terakhirnya dan coba mengingat-ingat apa yang terjadi dari Semester I sampai sekarang. Dia pula yang menjadi "penyelamat" Fajar dengan mengajarkan bahan-bahan yang ada. Tapi, kalau cuma setengah jam saja, nggak banyak yang bisa masuk kan...??

Kenapa kisah begini ditulis juga...?? Ada beberapa alasan...

Pertama, jangan suatu kesibukan itu membuat anda menyusahkan atau sampai menghianati teman anda apalagi kalau saat kritis dan benar-benar butuh seperti kasus Mr. R ini. Kedua, jangan mau pula mempercayakan sesuatu kepada orang yang seperti ini. Ketiga, menulis ini sebagai bentuk pelampiasan dan kreativitas, "Tulislah selagi kamu masih memiliki emosi tentang sesuatu", dan benar, tulisan ini jadi cepat selesai dan saya bersemangat untuk menulisnya, meski hati ini sedang kesal.

Yap, waktunya untuk belajar lagi...siap-siap ujian berikutnya...

--
Anton Hermansyah

17 Mei 2009

Mie Holic

Mie Instan

Mie Instan

Mungkin itu yang orang-orang bakal bilang kalau lihat belanjaan yang saya bawa. Yup tadi baru aja saya dan ayah saya pergi belanja bulanan, kenapa cuma berdua, humm karena ibu saya sedang di Bandung dan adik saya tewas kecapean. Coba bayangkan aja, dari enam kantong belanja yang dibawa 50% alias tiga kantong itu isinya Mie nggak bohong kok, ada rasa kari ayam, ayam spesial, sampai ke rasa aneh-aneh seperti ikan cakalang, sop apalah saya juga lupa. Semua itu dibeli dengan jumlah yang kalau disumbangin ke korban bencana alam bakal nggak habis dalam seminggu.

Memang begitulah yang terjadi kalau kalian hidup di keluarga pemakan segala, apa saja asal enak dimakan, dan hukum alam yang berlaku. Misalkan ada suatu kejadian, di mana ayah saya pulang membawa martabak telur dua bungkus, dan kebetulan saya pulang kemalaman, dan ibu saya memberi tahu kalau ada martabak.

Ibu : Tuh kak, ada martabak tadi ayah bawa
Saya : Disisain kan bu?
Ibu : (menjawab dengan ragu-ragu) Iya tuh... (menunjuk piring kecil yang di atasnya terdapat dua potong martabak telor)

Langsung saya teriak-teriak kesal nggak karuan masa dari dua bungkus besar cuma tersisa dua potong...???...!!!! Dan orang-orang rumah pun menjawab, "yang penting kan udah disisain". Duhhh...!!!

Hidup ini memang keras, apalagi kalau berada di keluarga seperti ini...

Ini cuma tulisan iseng saja sih, yah hitung-hitung pemanasan sebelum saya mengetik bab 3 hehehe...

--
Anton Hermansyah

09 Mei 2009

Futsal dan Lagu Mellow

Logo Goals Fatmawati
Hari ini saya diajak ikut main futsal di Goals Fatmawati, Ini juga karena diajak si Aan, sebelumnya harus mengucapkan happy birthday to Adi Gemilang yang ultahnya jatuh di hari ini, tapi nggak ada kabarnya maupun update tentang traktiran, keasyikan pacaran kali.

Oke balik lagi ke soal futsal, asyik aja sih ada kegiatan di akhir minggu dan dunia lelaki pula (tak ada wanita kecuali ibu penjual minuman di situ --sumpah). Dasar bukan pecinta sepak bola jadi saya nggak punya sepatu futsal sama sekali, yang ada cuma sepatu sendal nggak bisa pula dipakai main, jadilah harus telanjang kaki alias Nyeker.

Tapi ternyata enak juga main futsal, biar kata teman-teman saya main kayak American Football, nabrak-nabrak orang mulu kerjaannya. Saya lari-lari terus dengan semangat seperti pejuang kita melawan penjajah....akibatnya pas pulang kaki ini pegel-pegel, dan kalau harus angkat paha rasanya sakit banget mana ditambah melepuh pula.

Yah, dua minggu lagi mesti main, kalau kabur tak beralasan di denda lima ribu katanya.

***


Hari ini dapet lagi satu lagu yang sesuai dengan theme song saya akhir-akhir ini, setelah sukses dengan Anggie - Ke Mana Kau, hari ini ada satu lagu Jazzy yang diputar di radio, setelah dicari-cari lagu itu Ariss - Biarkanlah Cinta, kayaknya sih bukan Aris Idol, wong suaranya aja beda, untuk liriknya sih begini :

Kulabuhkan hatiku hanya untuk dirinya
Tak tau mengapa aku jatuh cinta
Ku tau hati ini tak mungkin memilikinya
Kau telah berdua bahagia dengannya

Reff :
Dan biarkanlah cinta
Tumbuh dan mewangi di dalam hatiku
Walaupun tak sewangi yang aku rasa
Tetapi engkau memang kucinta

Dan biarkanlah cinta
Menjadi teman sepi dalam perihku
Karena ku tak bisa mengungkapkan padanya


Yah lumayan lah...cocok sama tema saya akhir-akhir ini.


***


Sebagai penutup, teman saya Retha menulis cerita ini di notes Facebooknya, ini ceritanya :

Cinta dan Perkawinan


Seorang murid bertanya pada gurunya, "Apakah itu cinta?"

Sang guru menjawab, "Pergilah ke sawah dan carilah padi terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah -- kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.

Murid itu pun pergi ke sawah dan mulai mencari padi terbesar.

Pada baris pertama dia melihat sebuah padi yang besar tetapi dia berpikir mungkin nanti dia akan menemukan yang lebih besar, kemudian dia mencari lagi dan menemukan yang lebih besar, apabila dia mencari terus mungkin ada yang jauh lebih besar lagi. Setelah dia mencari lebih dari setengah sawah dia menyadari tidak ada yang lebih besar seperti yang dia lihat sebelumnya. Dia sadar bahwa dia telah melewatkan yang paling besar dan menyesali perbuatannya.

Sang murid pun kembali dengan tangan hampa.

Sang guru menerangkan bahwa inilah cinta, kamu bersikeras mencari yang lebih baik, tetapi kemudian kamu menyadari bahwa telah melewatkan yang terbaik.

Sang murid bertanya lagi, "Jadi, apakah itu pernikahan?"

Sang guru menjawab, "Pergilah ke ladang dan carilah bonggol jagung terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah -- kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.

Murid itu pergi ke ladang dan mencari.

Tak mau mengulangi kesalahannya, sampai di tengah ladang dia telah memetik jagung berukuran sedang yang dia rasa telah memenuhi kriterianya, lalu dia kembali kepada gurunya.

Sang guru mengatakan, "kali ini kamu kembali dengan jagung, kamu telah memilih yang baik, kamu yakin dan percaya bahwa inilah yang terbaik yang bisa didapat inilah pernikahan."

Bersikaplah ramah pada setiap orang, tetapi lakukan yang lebih intim dengan beberapa orang dan yang beberapa itu haruslah dipahami cukup baik sebelum kamu memberikan kepercayaan padanya.

--
Anton Hermansyah

05 Mei 2009

Tak Perlu ke Mana-Mana

Mau makan nasi gudeg (Jogja)
Bukan berarti harus ke (Jogja)
Cukup ada di sini, tempat kita sendiri
Semua ada di sini

--
Eno Lerian - Semua Ada di Sini

Semua anak Indonesia yang pernah merasakan masa kecilnya di tahun 90-an pasti masih inget sama lagu tersebut. Lagu itu bercerita bahwa di Indonesia (mungkin lebih tepatnya adalah Jakarta) kita tidak perlu jauh-jauh pergi hanya untuk makan makanan khas daerah lain, misalkan kalau mau masakan Manado kita nggak perlu ke jauh-jauh Manado cukup ke restoran Manado saja (yang di Kelapa Gading lumayan banyak).

Dua hari libur ini saya merasakan hal yang diceritakan oleh lirik itu (lagi), meskipun kali ini skalanya internasional. Nggak usah bertele-tele lagi, ceritanya hari Sabbath (Sesuai yang diajarkan Bapa Fajar) saya dan keluarga pergi ke Restoran Jepang namanya "Take", belum genap satu minggu, di hari Ahad kami sekeluarga makan di restoran belanda namanya "HEMA".

Take


Japanese Food
Teman les Bahasa Jepang saya memberi tahu bahwa ada restoran Jepang yang baru dibuka di Pamulang, dan katanya yang punya adalah orang Jepang asli. Sayangnya di hari itu saya belum punya waktu untuk ke sana, lagipula yang terbayang adalah masakan-masakan Jepang standar yang sudah banyak beredar di Resto atau Kaki Lima di Indonesia, macam Katsu, Teriyaki dan Tempura.

Dua minggu kemudian, ayah saya memberi tahu kalau sewaktu dia keliling Ruko Pamulang Permai, dia melihat ada restoran Jepang, langsung saya teringat informasi dari teman saya. Langsung kami bertiga, saya, ayah dan adik saya pergi makan di sana.

Begitu disuguhkan menu, kami kaget dengan variasi menu yang ada. Masakan sehari-hari di Jepang persis seperti yang sering saya baca di komik-komik Jepang seperti sashimi, sushi, kari, donburi, ramen, sanma bakar, dan syabu-syabu bahkan kalau kita memesan Menu Set maka makanan tersebut disuguhkan lengkap dengan chawan mushi dan sup miso. Ada juga menu onigiri dengan ayam sayap goreng tepung untuk sarapan.

Harga yang ada bervariasi, mulai dari Rp 10,000 sampai 50,000 kalau kita membeli Menu Set. Harga tersebut sesuai dengan porsinya yang JUMBO di mana saya sendiri kepayahan untuk menghabiskannya.

Ruangannya bersih, dan apabila kita ke sana maka akan disuguhi lagi-lagu Jepang yang bervariasi mulai dari pop sampai rock. Di ruangan tersebut kalau mau merokok boleh-boleh saja, sebab ada kipas ventilasi yang siap menyedot asap (mungkin karena beberapa menu seperti syabu-syabu dan sanma bakar menghasilkan asap).

Pada kesempatan kedua ke sana, kami sekeluarga memesan menu syabu-syabu, karena ini menu baru, sang koki (mungkin juga merangkap pemiliknya) keluar dari dapurnya, dan dia menjelaskan dengan bahasa Indonesia (meskipun logat Jepangnya masih terasa), tentang bagaimana cara merebus bahan bahan yang ada seperti ikan, daging dan sayuran. Yup ini memang restoran yang ramah terhadap pengunjungnya, sayang saya lupa menanyakan nama orang Jepang itu.

Jika anda berkesempatan ke sana, restoran ini ada di Ruko Pamulang Permai, alamat pastinya saya tak tahu, tetapi cobalah cari di sekitar Super Indo Pamulang.

HEMA


Dutch Food
Sewaktu kami sekeluarga melewati Jalan Radio Dalam, perut kami sudah mulai memberi sinyal-sinyal lapar. Ibu saya memberi tahu bahwa temannya pernah bercerita ada restoran Belanda di sini. Begitu saya melihat restoran tersebut, kami pun berhenti untuk makan.

Di dalam HEMA kami langsung disambut dengan nuansa Belanda, mulai dari dinding bata, poster-poster yang bercerita tentang negeri Belanda, hiasan keramik, sepatu kelom sampai pelayan wanita yang berdandan ala Dutch Lady.

Untuk menunya tersedia pilihan-pilihan seperti steak, burger, sandwich, ikan dan kue-kue. Sepintas menu-menu ini "biasa-biasa saja" seperti Klappertart, Rissoles, Sirloin, Mashed Potato dan Zuppa Soup atau mungkin karena masakan Belanda sebenarnya sudah lama eksis di Indonesia sehingga kita tidak merasakan masakan ini sebagai masakan yang asing dan ekslusif.

Untuk menu yang disediakan sebenarnya harganya agak mahal, tetapi sebenarnya hanya berbeda Rp 2,000-5,000 dari harga makanan tersebut pada umumnya. Rasanya memang enak, dan patut dicoba adalah minuman Strawberry Lime Squash di mana sirup stroberi dicampur dengan jeruk nipis dan soda, rasanya segar sekali.

Restoran ini sangat cocok untuk kumpul keluarga dan reuni ketimbang hanya mampir sebentar untuk makan karena suasana di sini sangatlah unik dan membuat betah untuk berlama-lama. Jika ingin mampir restoran ini terletak di Kebayoran Baru, tepatnya di samping Cafe Tomodachi di dekat Sekolah Labschool.

Memang benar kata Eno Lerian, semua ada di sini, bahkan untuk merasakan masakan luar negeri pun kita tidak harus ke luar negeri.

--
Anton Hermansyah

01 Mei 2009

Kelas Kosong

Kelas KosongHari ini, seperti yang sudah saya tulis di Twitter Saya adalah hari kuliah pagi untuk pertama kalinya di tahun ini. Kuliah pengganti sih...biasanya kuliahnya siang.

Karena permasalahan absen yang sudah mentok hari ini makanya harus masuk ke kelas, bela-belain mandi pagi-pagi, karena mandinya kelamaan, saya terpaksa naik motor, padahal masih trauma dengan badai semalam di mana saya harus mengarungi badai gila itu dengan MOTOR.

Sampai di kampus, ternyata udah telat 20 menit langsung buru-buru ke papan pengumuman, lihat kelasnya ada di ruang mana, ternyata kelasnya ada di lantai 3, dan karena di kampus tercinta ini belum ada lift jadilah harus naik tangga, menyiksa paha yang seharusnya dilatih di ruang fitness.

Tapi sampai di sana....
  • Buka pintu...ckrekkk

  • Pintu terbuka

  • Tada...dammm...KELASNYA KOSOOONGG

  • Saya berteriak "Anybody Home..!!..??", tapi tak ada yang menjawab, kalaupun ada palingan jin penjaga ruangan itu
Ya Tuhan, di mana keadilan....hu...hu...hu... Jangan sampai hal yang lebih buruk menimpaku hari ini...

--
Anton Hermansyah