Tentang Saya

30 Agustus 2021

Mengurangi Uang Orang Kaya Cara Tiongkok Menghindari Krisis

Redistribusi Pendapatan Tiongkok

Tidak boleh terlalu kaya di Tiongkok, tema berita-berita ekonomi terakhir saat ini, Presiden Xi Jinping memang berencana melakukan Redistribusi Kekayaan, mendorong perusahaan-perusahaan besar untuk "memberi" lebih ke masyarakat, demi menghindari risiko ekonomi yang lebih besar.

Wang Jun, Ekonom dari China Center for International Economic Exchanges mengatakan bahwa kesenjangan ekonomi mengakibatkan konsumsi menjadi stagnan. Sehingga urgensi saat ini adalah untuk meningkatkan pendapatan orang-orang dan fokus pada distribusi pendapatan yang adil.

Tidak usah jauh-jauh untuk membuktikan perkataan Wang, di Indonesia dalam keadaan pandemi saat ini, kalangan menengah ke atas bertahan dengan baik, bahkan ada yang tambah kaya. Sebaliknya kaum menengah ke bawah kesulitan untuk memutar ekonominya, padahal golongan ini populasinya paling besar.

Bukan keadaan yang baik, karena uang menggelembung di atas dan (hampir) tidak ada yang berputar di sektor riil, yang digerakkan oleh golongan menengah ke bawah. Salah-salah gelembung ini pecah, maka akan berpotensi untuk krisis ekonomi.

Krisis Sebetulnya Baik?

Sebetulnya pecahnya gelembung dan krisis ekonomi adalah hal alami di negara-negara dengan mekanisme pasar murni untuk redistribusi pendapatan. Di balik penderitaan krisis akan menumbuhkan perusahaan rising star baru yang lebih kuat, serta memudahkan investor untuk membedakan mana perusahaan bagus dan mana yang jelek.

Krisis ekonomi 1998 adalah momentum awal Chairul Tanjung untuk menjadi salah satu orang terkaya di negeri ini. Bahkan Presiden Joko "Jokowi" Widodo pun bisa jadi tidak akan di tempat seperti saat ini kalau usaha ekspor mebel nya tidak maju pesat setelah krisis.

Tetapi di negara-negara Asia, di mana kebanyakan bisnis-bisnis besar mempunyai koneksi kuat dengan pemerintah, jatuhnya ekonomi akan berisiko pada jatuhnya rezim. Wajar bagi pemerintah setempat untuk mencari solusi yang "Soft Landing".

Alternatif Meningkatkan Konsumsi

Selain Redistribusi Kekayaan, meningkatkan konsumsi masyarakat yang sebelumnya lesu dapat dilakukan dengan cara mencetak uang yang banyak, lalu diberikan kepada masyarakat. Hal ini dikenal dengan istilah "Helicopter Money".

Tetapi sejarah mengatakan bahwa Helicopter Money dapat berujung hiperinflasi dan turun nya nilai mata uang. Hal ini pernah terjadi di Perancis tahun 1795 dan Jepang pada tahun 1881 dan sejumlah negara lainnya termasuk Zimbabwe.

Sudah banyak proposal untuk menggunakan Helicopter Money untuk mengatasi kelesuan ekonomi, terutama setelah krisis finansial 2008. Namun sampai saat ini tidak ada satu pun bank sentral di dunia yang mau melaksanakan.

Sehingga saat ini yang paling umum digunakan adalah Quantitative Easing (QE) di mana pemerintah mencetak utang lalu dibeli oleh Bank Sentral menggunakan cadangan devisa yang ada, bukan uang yang dicetak baru. QE lebih aman, tetapi perlu waktu lebih lama karena ada beberapa kali "tektok" sampai dana segar bisa dikonversi menjadi stimulus.

Jeleknya QE, seringkali dalam implentasinya, uang bantuan tadi sebagian besar tidak bisa "menjamah" kelas menengah bawah. Seringkali "nyangkut di atas" untuk bail out perusahaan-perusahaan yang nyaris bangkrut, terutama Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang justru ujungnya perusahaan ini akhirnya jadi "zombie", hidup untuk bayar utang.

Redistribusi Kekayaan di Masa Lalu

Kembali ke Redistribusi Kekayaan, sebetulnya ini juga bukan barang baru sebetulnya, hanya saja di jaman dahulu bentuknya lebih kepada Reformasi Lahan.

Penelitian-penelitian seperti Gersbarch dan Siemers (2010); Aghion, Caroli, dan Garcia-Penalosa (1999); dan Maertens, Deininger, dan Olinto (2000) menunjukkan bahwa redistribusi lahan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Tetapi

Jepang pernah melakukannya tahun 1946-1950, pemerintah membeli lahan dari tuan-tuan tanah, lalu membagikannya kepada para petani pengolah. Reformasi ini dinilai sebagai salah satu yang paling sukses dalam sejarah, meskipun kemajuan bidang pertanian di Jepang lebih banyak dimotori oleh penerapan teknologi bukan dari pembagian tanah tersebut.

Bagaimana dengan Tiongkok? Pada 1946-1953 di saat Mao Zedong menjabat Ketua Partai Komunis, Tiongkok melakukan reformasi lahan. Tetapi memang berakhir brutal, karena banyak tuan tanah menjadi korban pembunuhan kelas petani, sekitar dua juta orang terbunuh, dan banyak sejarawan menyimpulkan bahwa ini hal yang disengaja oleh partai agar kelas petani dapat naik menjadi kelas menengah.

Bagaimana nantinya Redistribusi Kekayaan Tiongkok di era moderen akan terwujud? Masih harus dibuktikan oleh waktu, apabila sukses mungkin akan ditiru negara lain sebagai formula pencegah krisis.

Referensi

Aghion, P., Caroli, E., & Garcia-Penalosa, C. (1999). Inequality and economic growth: the perspective of the new growth theories. Journal of Economic literature, 37(4), 1615-1660.

Azadi, H., & Vanhaute, E. (2019). Mutual effects of land distribution and economic development: evidence from Asia, Africa, and Latin America. Land, 8(6), 96.

Gersbach, H., & Siemers, L. H. (2010). Land reforms and economic development. Macroeconomic Dynamics, 14(4), 527-547.

Maertens, M., Deininger, K., & Olinto, P. (2000). Redistribution, investment, and human capital accumulation: The Case of Agrarian Reform in the Philippines. In Annual Bank Conference on Development Economics, Date: 2000/01/01-2000/01/01, Location: Twhe World Bank, Wasington DC.

25 Agustus 2021

Bank Digital Itu Soal Ekosistem Bukan Lagi Fitur

Saat ini investor memburu saham-saham bank digital, baik yang sudah "resmi digital" atau baru mau dikonversi, mulai dari ARTO, BANK, BBHI sampai BBSI, tapi apakah bank-bank penantang ini akan survive?

Bank digital memang sedang naik daun. Bahkan sales senior di kantor menghubungi saya dan berkata bahwa nasabahnya berniat cutloss di saham UNVR dan menukarnya dengan saham bank-bank digital.

Contoh kisah sukses bank digital adalah Kakao Bank di Korea Selatan. Bank ini berdiri pada 2017 setelah pemerintah mengeluarkan ijin operasi bagi bank digital untuk beroperasi.

Pertumbuhan nya impresif, mencapai satu juta nasabah di tahun pertamanya dan di Mei 2021 sudah ada 16,5 juta nasabah, ini sudah sepertiga penduduk Korea yang total populasi nya di angka 50 juta. Padahal pesaingnya, K Bank, yang sama-sama diluncurkan tahun 2017, "hanya" mempunyai jumlah nasabah 5,4 juta di April 2021.

Kakao Bank memang membawa bendera Kakao Talk, aplikasi messaging terbesar di Korea Selatan, tahun lalu sudah ada 33 juta pengguna di Negeri Ginseng saja.

Tampilan antarmuka yang menyerupai Kakao Talk, kemudahan mengirim uang ke sesama pengguna, fitur patungan antar-nasabah, juga kartu-kartu keluaran Kakao Bank yang menggunakan maskot-maskot lucu aplikasi messaging tersebut adalah faktor penarik bagi nasabah.

Dengan sistem digital tanpa cabang, biaya operasional jadi lebih murah, Kakao Bank dapat menawarkan bunga tabungan lebih tinggi tanpa harus mengorbankan Net Interest Margin(NIM). Tahun 2020, NIM Kakao Bank ada di 1,5% setara dengan bank-bank besar di sana seperti Kookmin, Woori dan Shinhan, di Kuartal 1 tahun 2021 angka ini meningkat lagi ke 1,8%.

Dibandingkan dengan bank di Indonesia yang NIM nya ada di level 5-6% tentu terlihat kecil. Tapi untuk Korea, level 1,5% sudah dianggap sehat.

Jika suku bunga tabungan dan fitur aplikasi merupakan faktor penarik untuk orang menabung di bank digital, bagaimana dengan kemampuan "mencari uang" nya?

Umumnya penghasilan utama bank didapatkan dengan "memutar" Dana Pihak Ketiga (DPK) mereka menjadi pinjaman kepada yang membutuhkan dana atau umumnya disebut "kreditur".

Secara tradisional, kreditur ini dibagi dua, "Korporat" yang berbentuk badan usaha dan "Ritel" yang merupakan perseorangan. Kreditur Korporat meminjam dalam jumlah besar dan dengan bunga yang relatif lebih rendah, sementara Kreditur Ritel meminjam dengan jumlah sedikit tapi biasanya bunganya lebih tinggi.

Bank digital di Korea Selatan murni fokus pada Kreditur Ritel, selama lebih dari 3 tahun beroperasi, Kakao Bank sudah memegang 6% pasar Kredit Tanpa Agunan (KTA) di Korea Selatan.

Kredit Ritel di Negeri K-Pop adalah pasar yang besar, sudah rentan meledak malah, karena pada akhir 2020, angka Utang Rumah Tangga terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sudah ada di level 103,8%. Indonesia? Masih sangat rendah, di 17,8%.

Meskipun banyak orang yang mengambil pinjaman, tetapi tidak banyak kredit yang bermasalah. Non Performing Loans (NPL) di Korea ajek di angka 0,5%, sebaliknya Indonesia terus naik ke 3,2% setelah pandemi, padahal di Desember 2019 hanya sebesar 2,5%.

Kemungkinan tingkat suku bunga yang rendah di Korea Selatan (rata-rata 2,8% untuk Kredit Ritel) yang menunjang rendahnya NPL tersebut. Karena biaya bunga tidak berat, maka kreditur lebih memilih untuk melunasi utangnya dibandingkan dengan mangkir atau mempailitkan diri.

Bagaimana cara bank-bank digital untuk tetap "menagih" uang kreditnya mengingat "kepatuhan" kreditur yang berbeda dengan di Korea? Strategi belakangan ini adalah menempatkan bank ke dalam bagian ekosistem besar di mana nasabah tidak perlu "keluar" untuk mencukupi kebutuhannya.

Unsur pertama ekosistem ini adalah "Job Market", tempat di mana orang-orang mendapatkan penghasilan, kemudian "Tempat Kebutuhan Hidup" agar orang bisa langsung berbelanja memenuhi kebutuhan hidupnya dengan uang yang dihasilkan. Ketiga adalah "Tempat Investasi" agar orang-orang bisa memasukkan kelebihan uang yang mereka miliki untuk mendapat imbal hasil yang lebih besar dari deposito.

Bank akan diposisikan sebagai "tempat uang lewat" dan penyedia kredit apabila orang-orang di dalam ekosistem tersebut perlu untuk membeli sesuatu yang besar. Pembayarannya nanti tinggal potong pendapatan yang dihasilkan dari Job Market tersebut sehingga mengurangi risiko tidak tertagih.

Ekosistem Bank Digital
Ekosistem Bank Digital

Sejauh ini memang terlihat ARTO masih unggul dari segi kelengkapan ekosistem. BINA (yang kalau memang benar akan masuk ke dalam skema kongsi Salim-Emtek-Grab) akan menjadi penantang kuat, karena grup ini sebetulnya punya "amunisi" yang lengkap.

Belum ada pergerakan lagi dari AGRO, tetapi mengingat jaringan BBRI yang kuat di daerah-daerah (ditambah dengan PNM dan Pegadaian), kemungkinan bank ini akan mempunyai jangkauan paling luas di antara bank digital lainnya.

--
Anton Hermansyah

29 Juli 2021

Pandemi dan Deflasi yang Membuat Investor Tidak Rasional

Bunga Tulip
Bunga Tulip, foto oleh: Catia Climovich (unsplash.com)

Meskipun saya beberapa kali bilang harga saham-saham teknologi maupun yang berbalut teknologi seperti DCII, EDGE, ARTO dan juga yang akan IPO seperti BUKA tidak rasional, tetapi saya tidak bisa bilang harganya akan turun ke nilai wajarnya dalam waktu dekat, penyebabnya adalah deflasi yang dikombinasikan dengan pandemi.

Deflasi adalah penurunan harga barang-barang, tidak hanya satu atau dua barang (kalau itu namanya flash sale) tetapi hampir semua barang secara keseluruhan. Ini merupakan kebalikan dari inflasi, di mana harga barang naik terus menerus.

Sebagai negara berkembang, Indonesia lebih akrab dengan inflasi. Bahkan seringkali hal ini di persepsikan sebagai jahat, uang kita "termakan" terus daya belinya setiap tahunnya.

Karena inflasi digambarkan sebagai jahat, maka saya pun sejak dulu menganggap deflasi itu baik, sampai saya merasakannya sendiri di era Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Ternyata deflasi pun juga jahat, dengan cara yang berbeda.

Kenyataan nya, tidak ada orang yang mau menjual dengan harga lebih murah kecuali sedang BU (butuh uang), dan apabila banyak orang tiba-tiba dalam keadaan BU, maka lahirlah deflasi.

Penjualan aset ini justru dimulai dari kelas menengah atas, mereka menjual aset yang tidak terlalu penting, rumah yang tidak ditinggali, mobil, sampai moge. Tujuannya untuk menyelamatkan uang juga mempertahankan usaha dari kelesuan ekonomi.

Dari data perbankan dapat terlihat Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus-menerus meningkat dengan kecepatan tinggi. Sebaliknya, Kredit Perbankan turun secara konstan dalam beberapa waktu.

Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020
Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020 (Sumber OJK, diolah)

Kenapa Deflasi Malah Membuat Bubble Baru?

Jika merunut kasus Lost Decades di Jepang, sejatinya Deflasi akan membuat harga-harga "kembali" ke normal. Tetapi kenapa kali ini malah membuat beberapa instrumen investasi naik tinggi?

Karena deflasi kali ini dikombinasikan dengan pandemi.

Pandemi membatasi konsumsi segala kalangan baik miskin maupun kaya dengan cara yang unik. Orang-orang miskin kehilangan penghasilan, sementara orang-orang kaya, meski masih mempunyai uang tetapi tidak bisa mengkonsumsi, pusat perbelanjaan sampai tempat wisata ditutup.

Uang yang terlalu berlimpah tersebut akhirnya tidak bisa dibelanjakan. Di satu sisi ekonomi riil sedang tidak berjalan, maka harga aset riil pun tidak segera rebound, apabila di investasikan ke properti misalkan, belum tentu harganya akan naik.

Sehingga paper asset lah yang menjadi sarana untuk spekulasi, apapun yang naik dikejar, saham, forex, sampai crypto.

Institusi keuangan seperti bank dan aset manajemen pun kebingungan karena uang yang berlimpah, sedangkan mereka harus memberikan return kepada nasabahnya.

Jadilah semuanya berbondong-bondong menciptakan bubble dari satu aset ke aset lainnya. Laporan keuangan, valuasi tidak lagi menjadi penting, yang penting di mana uang berputar di situ investor berada.

When I see a bubble forming, I rush to buy, adding fuel to the fire
--
George Soros

Bubble Aset Covid dan Tulip Mania

Gejala bubble saat pandemi ini seperti deja vu ke tahun 1637 di Negeri Belanda, saat harga tulip mencapai puncaknya dan crash akibat spekulasi di pasar berjangka. Kejadian ini dikenal dengan nama "Tulip Mania".

Harga tulip termahal saat itu dapat mencapai 5.000 Gulden. Uang sebesar itu dapat membayar rumah dengan harga tunai.

Pada saat itu, Belanda menjadi negeri yang makmur karena perdagangan rempah-rempah di Eropa. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah 30 tahun lebih berdiri, telah menguasai pusat produksi di Indonesia.

Mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2020, saat itu sedang ada wabah pes (bubonic plague) yang menyebabkan kematian. Orang-orang tiba-tiba mendapatkan warisan dari kerabatnya, sehingga mereka punya "kelebihan uang" untuk belanja tulip (Goldgar, 2008).

Setelah crash apakah terjadi krisis ekonomi? Ternyata tidak, bahkan tidak terdengar cerita orang-orang yang bunuh diri karena bangkrut.

Karena yang "bermain" pada saat itu adalah orang-orang kaya dan mereka "hanya" mempertaruhkan sebagian kecil harta mereka dalam spekulasi Tulip Mania. Sehingga biarpun kehilangan uang, itu bukan masalah bagi mereka.

Begitupun Anthoni Salim, saat membeli 11,1% saham DCII senilai Rp3,6 triliun (dihitung dari harga per saham saat transaksi 31 Mei 2021 di 13750). Uang itu hanyalah 4,2% dari total kekayaan nya yang di estimasi Forbes senilai AS$5,9 miliar (sekitar Rp85,4 triliun).

Siapa yang rentan bangkrut di sini? Investor-investor FOMO yang rela mempertaruhkan seluruh hartanya untuk mengikuti "permainan orang kaya" ini.

--
Anton Hermansyah

Referensi

Goldgar, A. (2008). Tulipmania. University of Chicago Press.

18 Juli 2021

Hal yang Melegakan dan Mengkhawatirkan di IPO Bukalapak

IPO Bukalapak (BUKA) semakin dekat, jika tidak ada kendala maka pada akhir Juli 2021 sudah bisa melakukan pemesanan, banyak investor yang langsung berminat tetapi ada juga yang masih meragukan apakah saham ini akan berhasil.

Apakah IPO ini exit strategy?

Sejauh yang saya baca dari prospektus, 25 miliyar lembar saham BUKA yang dijual pada IPO ini adalah saham-saham baru. Jadi bukan saham existing milik pemegang saham lama.

Seharusnya pemegang saham lama pun akan dilarang untuk menjual sahamnya alias di lock-up selama delapan bulan. Karena dalam setahun sebelum IPO masih ada transaksi jual-beli saham yaitu penerbitan saham Seri G kepada Naver Corp sebesar AS$10 juta pada bulan Mei 2021.

Pada halaman 39 prospektus awal, kita dapat menemukan bahwa dari 55 pemegang saham, ada 32 pemegang saham yang wajib lock-up. Namun ada tambahan 22 pemegang saham yang bersedia untuk melakukan lock-up sukarela.

Sehingga hanya tersisa satu pemegang saham lama yang dapat menjual sahamnya langsung setelah BUKA melantai, yaitu RDPT Batavia Sektoral 1. Reksa Dana ini memiliki 636,7 juta lembar atau sekitar 0,8% dari jumlah saham beredar saat ini di 77,3 miliar lembar.

Kemanakah dana IPO akan digunakan?

IPO bisa menjadi bencana bagi investor publik apabila dana hasil penawaran digunakan untuk membeli aset yang sejatinya masih milik Pemegang Saham Pengendali (PSP) atau masih terafiliasi. Wujudnya bisa berupa aset tetap seperti tanah dan bangunan atau saham di perusahaan lain milik PSP.

Tentunya harga aset ini sudah di mark up sehingga PSP dapat mengeruk keuntungan yang besar.

Di prospektus, BUKA menyatakan 66% dari dana hasil IPO akan digunakan untuk modal kerja. Sisanya sebanyak 34% akan digunakan untuk tambahan modal enam anak usahanya.

Sejauh ini dari yang Saya baca, penambahan modal bagi anak-anak usaha tersebut bukan merupakan pembelian kepemilikan dari PSP.

Apakah operasional perusahaan efisien?

Jika melihat Laporan Laba Rugi, Bukalapak memang berhasil mengurangi beban secara signifikan, terutama dari Beban Pemasaran. Tetapi secara Cash-Basis masih mengkhawatirkan.

Laporan Arus Kas Bukalapak
Laporan Arus Kas Bukalapak (Sumber: Prospektus Ringas)

Akun Arus Kas bernama "Pembayaran Kas Kepada Pemasok dan Karyawan" sangat menonjol. Arus Kas Keluar ini bahkan 10 kali lipat lebih besar dari Arus Kas Masuk lainnya.

Hal ini membuat kas Bukalapak selalu defisit apabila hanya mengandalkan operasional. Untuk membuat kas positif kembali setiap tahunnya, perusahaan harus terus disuntik modal, terlihat di akun "Arus Kas dari Aktivitas Pendanaan".

Bicara soal gaji, memang terlihat Bukalapak sangat royal. Artikel Kontan berjudul "Fantastis, Gaji Direksi Bukalapak Dua Kali Lipat Gaji Direksi Bank BUKU III" menunjukkan bahwa gaji petinggi BUKA lebih tinggi daripada gaji di perusahaan yang setara kapitalisasi pasarnya, dalam hal ini Bank Syariah Indonesia (BRIS).

Bukalapak pun masih melakukan outsource untuk beberapa fasilitas strategis seperti BukaGudang yang bekerjasama dengan PT IDCommerce dan PT Duta Daya Digital (Crewdible). Tidak seperti Shopee yang mempunyai gudang sendiri.

Untuk sistem cloud pun, BUKA menyerahkannya kepada Naver Corp dan "dibayar" dengan Saham Seri G senilai $10 juta. Belum ada keterangan kontrak cloud ini untuk berapa tahun, sehingga bisa saja nanti di "tengah jalan" akan ada biaya yang muncul dari pembaruan kontrak.

Apakah harga IPO nya wajar?

Kata "wajar" di sini memang subjektif, tergantung "mazhab" masing-masing investor. Tetapi paling tidak kita harus melakukan studi kasus dengan perusahaan sejenis.

Saat ini, Ekuitas BUKA ada di Rp1,7 triliun dan jumlah saham beredar sebanyak 77,3 miliar lembar. Sehingga Book Value per Share (BVPS) nya ada di Rp22,1 per lembar.

Harga IPO Bukalapak ditargetkan pada rentang Rp750 sampai Rp850 per lembar. Sehingga apabila kita ambil harga tengah Rp800, maka akan membuat Price-to-Book Value (PBV) nya di level 36,2x.

PBV Historis Amazon
PBV Historis Amazon (Sumber: Google, GuruFocus.com)

Sebagai perbandingan, Amazon, e-commerce terbesar di dunia, pun tidak pernah mencapai PBV setinggi itu. Dalam 13 tahun terakhir, PBV tertinggi AMZN adalah 28,0x.

PBV Historis Coupang
PBV Historis Coupang (Sumber: Google, ycharts.com)

Contoh yang terkini adalah Coupang, e-commerce dengan pangsa pasar terbesar di Korea Selatan ini baru melakukan IPO di Amerika Serikat (AS) bulan Maret 2021. PBV tertinggi CPNG sejauh ini adalah 26,1x.

Pergerakan Saham Coupang
Pergerakan Saham Coupang (Sumber: TradingView)

Itu pun hanya dicapai di hari pertama, karena setelah itu harga saham CPNG turun terus sampai mencapai titik terendah di $30,7 per lembar pada 13 Mei 2021. Sekarang sudah rebound ke $40,2 per lembar tetapi masih lebih rendah 36% dibandingkan harga IPO di $63,5 per lembar.

Saat ini Coupang diperdagangkan dengan PBV 21,3x, sementara PBV Amazon saat ini ada di level 17,4x. Apabila kita mau "realistis" dengan ambil PBV 20x maka seharusnya saham BUKA ada di harga Rp440 per lembar.

E-Commerce Terbesar Indonesia Berdasarkan Trafik
E-Commerce Terbesar Indonesia Berdasarkan Trafik (Sumber: Statista)

Baik Amazon maupun Coupang adalah raja e-commerce di negaranya masing-masing. Apakah Bukalapak dengan status sebagai tiga besar layak dihargai jauh lebih mahal?

Demikian, semoga bisa menjadi pertimbangan baik untuk diri Saya sendiri maupun investor lain.

Disclaimer: Saya sedang dalam proses untuk membeli IPO BUKA dalam porsi kecil, tidak sampai 5% dari Total Portofolio

--
Anton Hermansyah

09 Juli 2021

Tradisionalis vs Futuris di IPO Bukalapak

Presentasi Mitra Bukalapak
Presentasi Mitra Bukalapak di Mini Public Expose

Menjelang target Initial Public Offering (IPO) di akhir Agustus, Bukalapak (BUKA) pun makin terbuka, investor pun sudah bisa mendapatkan prospektus ringkas dan laporan keuangan terakhir, debat pun mulai bermunculan antara investor tradisional yang menganggap harga sudah terlalu mahal, melawan investor futuris yang menganggap bahwa cara menilai perusahan tradisional sudah kuno.

Dalam prospektus ringkasnya, Bukalapak pada Triwulan-I 2021 mempunyai Total Aset Rp2,75 triliun, yang terdiri dari Total Liabilitas Rp1,05 triliun dan Total Ekuitas Rp1,71 triliun. Untuk operasional, Bukalapak mempunyai Pendapatan Rp423,7 miliar dan Rugi Bersih Rp319,7 miliar selama tiga bulan pertama tahun ini.

Bagaimana dengan arus kas? Selama Triwulan-I 2021, Arus Kas Operasional masih negatif sebesar Rp259,2 miliar. Perusahaan masih mengandalkan setoran modal (yang masuk dalam Arus Kas Pendanaan) untuk menjaga kas nya tetap hijau, selama tiga bulan awal, BUKA masih mendapatkan setoran modal Rp418,1 miliar.

Berlanjut ke rasio keuangan, Debt to Equity Ratio BUKA di Triwulan-I 2021 ada di 61,4%, karena berbeda dengan perusahaan tradisional yang dibesarkan dengan menggunakan utang, startup dibesarkan melalui putaran pendanaan berseri. Untuk Return on Equity (ROE) dan Net Profit Margin (NPM) masih negatif karena rugi bersih, tetapi Gross Profit Margin (GPM) sangat tinggi di 81,0% karena memang ini adalah perusahaan dagang, bukan manufaktur.

Lalu apa yang menyebabkan BUKA masih rugi? Ada satu akun yang paling menonjol di Laporan Arus Kas yaitu "Pembayaran Kas Kepada Pemasok dan Karyawan", yang pada tiga bulan pertama tahun 2021 saja mencapai Rp1 triliun. Apabila disetahunkan, berarti akan mencapai Rp4 triliun.

Dalam laporan keuangan, tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai akun ini, sehingga saya hanya bisa berasumsi bahwa uangnya banyak digunakan untuk membayar gaji dan "mensubsidi" para "Pelapak" (begitu cara Bukalapak menyebut merchant mereka) terutama dalam festival belanja.

Yang memicu perdebatan adalah rasio harga, Bukalapak akan menjual 25% kepemilikan atau sebanyak 25,8 miliar lembar saham baru ke publik, artinya jumlah saham beredar akan sebanyak 103,1 miliar lembar setelah IPO. Artinya saat ini jumlah saham beredar sebelum IPO ini sebesar 103,1 miliar dikurangi 25,8 miliar yaitu sebesar 77,3 miliar lembar.

Apabila jumlah saham beredar ini kita gunakan untuk membagi Total Ekuitas, maka kita akan mendapatkan Book Value per Share (BVPS) sebesar Rp22,1 per lembar.

Angka Rp22,1 per lembar ini jauh lebih kecil daripada nilai dasar saham baru yang akan diterbitkan dalam IPO yaitu sebesar Rp50 per lembar. Artinya pemilik lama pun bila harga turun ke gocap masih bisa untung dua kali lipat.

Bukalapak menargetkan IPO bisa terjual dengan harga Rp750 sampai Rp850 per lembarnya, apabila kita mengambil harga tengah, yaitu Rp800 per lembar, maka pemilik lama dapat menjual sahamnya dengan Price-to-Book Value (PBV) fantastis di 36,2x!

(Meskipun nanti setelah IPO ekuitas akan bertambah gila-gilaan sebesar Rp20,6 triliun menjadi Rp22,3 triliun, dan dibagi dengan jumlah saham beredar 103,1 miliar lembar maka BVPS akan meningkat menjadi Rp216,4. Otomatis PBV BUKA akan menjadi "normal" ke 3,7x setelah IPO.)

PBV 36,2x memang merupakan angka yang fantastis dibandingkan saham teknologi yang lain seperti EDGE (15,9x), WIFI (4,8x), KIOS (12,2x), kecuali DCII yang PBV nya sudah selangit di 153,2x.

Lagi-lagi terjadi debat antara kaum tradisionalis dan futuris. Tradisionalis melihat secara logika, harga sudah terlalu mahal, PBV 10x saja sudah terlalu mahal untuk perusahaan di Indonesia. sementara futuris melihat bahwa harga ini wajar mengingat potensi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Kaum futuris pun berargumen bahwa nantinya apabila Bukalapak berhasil survive dan mengalahkan pesaingnya, maka pertumbuhan akan menjadi semakin pesat dan untung akan datang dengan sendirinya karena sudah tidak perlu "bakar uang".

Apabila melihat fitur, Bukalapak memang mempunyai fitur paling lengkap di Indonesia, selain e-dagang, pembayaran tagihan dan investasi, mereka juga sedang mengembangkan proyek warung digital bernama "Mitra Bukalapak" yang diunggulkan direksi menjadi sumber pertumbuhan selanjutnya.

Pada tahun 2020, kontribusi Mitra Bukalapak ini "baru" 14,7% terhadap total pendapatan, tetapi memang sudah bertumbuh dua kali lipat dibandingkan 2019.

Dengan berlarut-larutnya Pandemi Covid-19, justru menjadi saat yang tepat bagi perusahaan teknologi, apalagi dengan aturan minimalisir kontak, malah membuat transformasi digital semakin cepat. Ini merupakan stori yang tepat bagi pemegang saham BUKA untuk menjual saham mereka dengan harga mahal.

--
Anton Hermansyah

20 Juni 2021

Average Down atau Average Up?

Di saat pasar sedang turun biasanya banyak investor baru yang panik bertanya di forum dan jawaban yang paling sering keluar dari yang "lebih senior" adalah, "average down saja, tambah muatan", yang ternyata saat di praktekkan tidak semudah yang dikira karena melibatkan perhitungan dan mental.

Salah satu nasabah saya setiap bulan pasti bertanya, "apakah sekarang saat yang tepat untuk average down PTPP?". Karena dia tahu saya juga punya saham yang sama, beban saya pun seakan menjadi ganda, harus mencari strategi untuk diri sendiri dan nasabah.

Selain average down ada strategi lain bernama average up, yaitu menambah muatan saat harga sedang naik. Teknik average up dapat dilakukan selama harga masih ada di bawah valuasi kita.

Beberapa investor senior menyebut average up lebih "aman", dan memang, seringkali saya bermasalah saat melakukan average down terutama soal mental.

Saat harga sedang turun seringkali saya terjebak perasaan ingin segera membeli untuk memperkecil floating loss secepat mungkin dan was-was kalau-kalau "periode diskon" ini tidak berlangsung lama nantinya. Akibatnya, karena terlalu cepat average down, esoknya harga masih turun, malah lebih dalam dibanding hari saat saya tambah muatan.

Saya pernah tidak bisa mengendalikan "nafsu" tersebut, terus saja membeli apabila harga turun. Akibatnya saya kehabisan kas padahal esoknya harga masih terus turun.

Pada akhirnya kita harus sama sabarnya baik dalam menunggu harga turun maupun menunggu harga naik.

Kapan?

Saat floating gain sudah berubah menjadi floating loss tentunya kita akan mulai gatal untuk segera menambah muatan. Seharusnya memang tidak usah terburu-buru, Pak Teguh Hidayat dalam artikelnya menyarankan untuk melakukan factchecking terlebih dulu.

Hal yang harus di cek adalah situasi makroekonomi dan berita dari emiten itu sendiri. Apabila makroekonomi memburuk tetapi fundamental emiten masih baik artinya kita bisa tambah muatan, sebaliknya jika makroekonomi masih baik tetapi fundamental emiten memburuk, maka justru kita harus bersiap untuk cutloss.

Sialnya, saat ini kita dihadapkan dengan kondisi makroekonomi yang super galau, yang bahkan membuat gubernur-gubernur bank sentral bingung harus mengambil kebijakan apa. Sedikit kelengahan dalam prosedur kesehatan dampaknya akan berantai, naiknya kasus Covid-19, perlambatan pemulihan ekonomi, stimulus yang harus diperpanjang, bertambahnya defisit anggaran, hingga kenaikan pajak yang ujungnya melemahkan daya beli ke depan.

Perlambatan pemulihan ekonomi dan pelemahan daya beli ini pun ujungnya akan memukul fundamental emiten, yang sayangnya kinerjanya baru bisa kita lihat paling cepat sebulan setelah berakhirnya kuartal.

Untuk yang tidak mengerti makroekonomi bagaimana? Alternatifnya bisa dengan melakukan analisis teknikal pada chart IHSG dan indeks-indeks negara lainnya seperti S&P 500 untuk menentukan keseluruhan pasar sedang bullish atau bearish.

Saat floating loss sudah berapa kita baru mulai lakukan average down? Dari artikel Pak Teguh, saya melihat bahwa saat floating loss sudah sekitar 10%-20% adalah saat kita sudah mulai evaluasi baik untuk average down maupun cutloss.

Bagaimana?

Melakukan average up atau average down paling baik memang dengan cara mencicil. Pembelian bisa dibagi menjadi tiga atau lima kali sesuai kebutuhan, tentunya besaran tambahan muatan harus memperhatikan bobot saham di portofolio setelah pembelian.

Misalkan portofolio Rp100 juta dengan isi delapan saham dan 20% persen kas, maka rata-rata porsi per saham dalam portofolio adalah Rp10 juta per saham atau 10%. Kemudian salah satu saham harganya turun dan akan dilakukan average down dengan kas yang ada, maka usahakan porsi akhirnya di portoflolio maksimal berkisar di 15% sampai 20% atau bertambah sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta.

Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging
Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging

Sebetulnya portofolio tidak harus mempunyai bobot per saham yang serupa, tetapi bobot yang terlalu besar pada saham yang sedang lagging akan berdampak pada pertumbuhan portofolio kita secara keseluruhan.

Nantinya jika saham hasil penambahan muatan tersebut sudah naik dan menghasilkan floating gain yang cukup, porsinya dapat di kembalikan menjadi 10%. Bonusnya adalah kita punya lebih banyak kas setelah penjualan.

Bagaimana dengan orang yang sistemnya menabung saham dan selalu top up RDN per bulan? Kondisi ini artinya akan selalu ada tambahan kas per bulan, teknik awalnya mirip, yaitu dengan bobot penambahan maksimal 10 poin persentase terhadap portofolio.

Untuk normalisasi bisa dengan dua cara, dengan menjual saham apabila sudah naik cukup seperti yang sudah sebelumnya dijelaskan atau dengan cara kedua, yaitu dengan menambah bobot saham lainnya agar bobot rata-rata kembali ke 10% per saham.

Kemungkinan dalam jangka menengah bahkan sampai setahun lebih kita masih akan menghadapi situasi makroekonomi yang banyak ketidakpastian. Semoga teknik average up dan average down ini membantu kita untuk bertahan.

--
Anton Hermansyah

14 Juni 2021

Nama Reksadana di Indonesia Indah Dilihat tapi Tidak Bermakna

Contoh Nama Reksadana Saham
Contoh Nama Reksadana Saham (sumber: Bareksa)

Nama reksadana di Indonesia, terutama reksadana saham, seperti nama anak-anak kekinian, indah, terlihat keren, tetapi sayangnya tidak bermakna apa-apa berbeda dengan di luar negeri yang mencerminkan strateginya.

Saat saya pertama kali menjadi investor reksadana tahun 2011, saya menghadapi bermacam nama, mulai dari "Berkembang", "Atraktif", "Maksima", "Prestasi", juga nama-nama dari pewayangan dan bunga. Saya harus pilih satu, waktu itu reksadana masih belum se-"receh" sekarang, minimal pembelian awal Rp3 juta.

Bagaimana cara memilihnya? Ya pilih yang menang penghargaan "Reksadana Saham Terbaik". Setelah itu saya kirim surel ke manajer investasinya, minta dikirimkan formulir, setelah isi dan kirim balik via pos, saya harus melakukan transfer ke bank kustodian, bukti nya di scan, kirim via surel.

Begitulah cara investasi reksadana 10 tahun yang lalu.

Kembali ke cara memilih, sampai saat ini penghargaan dan juga artikel yang mengulas tentang "reksadana terbaik tahun ini" masih menjadi acuan investor untuk membeli reksadana. Tetapi apabila kita membuka situs luar negeri tentang "the best mutual fund", ternyata sistem kategori nya lebih "ruwet".

Berbeda dengan di Indonesia yang hanya mengkategorikan berdasarkan jenis asetnya yaitu "Saham", "Pendapatan Tetap", "Pasar Uang", dan "Campuran", reksadana di luar negeri mempunyai sub-kategori seperti "Large Cap", "Mid Cap", "Value" dan "Growth".

Kategorisasi Reksadana di AS
Kategorisasi Reksadana di AS (sumber: usnews.com)

Dari sinilah saya mulai mengenal ternyata dalam kategori aset yang sama pun ada bermacam-macam strategi penempatan. Saya akan coba bahas beberapa yang umum.

Small Cap, Mid Cap, Large Cap

Di sini alokasi aset dibagi berdasarkan kapitalisasi pasar. Reksadana yang mengaku sebagai "Large Cap" akan menempatkan dananya di saham-saham berkapitalisasi besar alias blue chip, sementara Reksadanana "Small Cap" akan berisikan saham-saham kecil.

Masing-masing ada keuntungan dan kekurangannya, saham-saham besar tentunya relatif lebih lambat pergerakannya tetapi lebih stabil di saat krisis. Sebaliknya saham-saham kecil naiknya cepat tetapi jika bearish penurunannya jauh lebih dalam dibanding pasar.

Value dan Growth

Saham yang tergolong "Value" adalah saham-saham yang harganya lebih rendah dibandingkan dengan fundamentalnya. Sedangkan saham "Growth" adalah emiten yang usaha nya sedang tumbuh pesat-pesatnya baik penjualan maupun laba bersih, sehingga sahamnya "naik daun" dan menjadi incaran setiap orang tetapi harganya belum tentu murah.

Selama emiten nya masih konsisten mencetak pertumbuhan, saham "Growth" akan selalu diminati pasar meskipun mahal, tetapi jika cerita pertumbuhannya terhenti (seperti UNVR) maka akan segera ditinggalkan. Sementara saham "Value" sehari-harinya cenderung ajek tetapi saat pasar mengetahui bahwa saham-tersebut "murah" maka akan naik berkali-kali lipat.

Karena itu, bahkan membandingkan sesama reksadana saham pun bisa jadi tidak akan apple-to-apple. Misalkan, return 10% setahun bisa saja sebuah prestasi untuk reksadana "Big Cap" tetapi hal kecil untuk reksadana "Small Cap".

Berbuat curang, misalkan memasukkan saham-saham "Small Cap" ke dalam reksadana "Big Cap" dalam jumlah besar untuk mengerek pertumbuhan, atau dikenal sebagai "Style Drift", adalah pelanggaran.

Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth
Contoh Penamaan Reksadana Mid Cap Growth (sumber: usnews.com)

Di luar negeri, jenis strategi yang dipakai biasanya dimasukkan ke dalam penamaan reksadana nya. Ini akan mempermudah investor untuk memilih reksadana yang tepat.

Melihat Jenis Strategi Reksadana di Indonesia

Di Indonesia, kita harus melihat di dalam prospektus untuk memastikan strategi apa yang fund manager gunakan. Biasanya keterangan ini ada pada bab "Tujuan dan Kebijakan Investasi".

Uraian Strategi Panin Dana Maksima
Uraian Strategi Panin Dana Maksima

Sebagai contoh, dari prospektus Panin Dana Maksima, kita bisa mengetahui bahwa reksadana ini mempunyai strategy "Value" meski tidak mencantumkan masuk di saham kapitalisasi besar atau kecil. Sehingga reksadana ini lebih cocok untuk disimpan dalam jangka waktu sangat panjang.

Mungkin saat ini memang penamaan reksadana sesuai dengan strategi nya masih belum jamak di Indonesia, karena investor nya pun mungkin masih tidak peduli, "pokoknya yang naik paling tinggi itulah yang saya beli". Mungkin dengan semakin maju nya pengetahuan masyarakat tentang investasi akan membuat Fund Manager berpikir untuk menyediakan reksadana yang lebih spesifik.

--
Anton Hermansyah