Tentang Saya

10 Juni 2009

Lima Syarat Satria Jawa

Arjuna

Arjuna

Hari selasa kemarin (9/6) sehabis saya pulang dari Bogor, ada notes Facebook dari Juragan Prana yang bertanya "Saat punya penghasilan berapa kalian siap untuk melamar cewe?". Sebuah pertanyaan iseng tapi saya kira cukup nyangkut di hati para pria yang hidup di jaman yang semakin matere sulit. Benar saja, di bawah begitu saya periksa kolom komentar, angka-angka pun bermunculan 10 juta per bulan lah, 15 juta per bulan dan lain-lain. Meski saya percaya kalau mau melamar sih lamar saja, mau hidup sengsara dahulu ya tak apa, sekalian menge-test apakah anda punya istri yang tabah dan bisa diandalkan hehehe, mau hidup sejahtera dari awal ya syukur, toh rejeki datang dari Tuhan dan Tuhan selalu menolong.

Sehabis itu sebelum tidur saya lanjutkan membaca Bumi Manusia, dan saya menemukan hal yang masih satu tema dengan pembicaraan sebelumnya, di bab 18 ada dialog sang tokoh utama Minke dengan ibunya sebelum resepsi pernikahannya. Salah satunya yang menarik perhatian saya adalah Lima Syarat Satria Jawa yaitu wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga.
  1. Wisma (Rumah), maksud rumah di sini bukan sekedar alamat, tetapi sebagai tempat untuk kembali dan kepercayaan bagi semua yang meninggali. Artinya dia harus bisa menjadi tempat bersandar dan kepercayaan bagi orang-orang di sekitarnya.

  2. Wanita, adalah lambang kesuburan, penghidupan dan kehidupan, kemakmuran serta kesejahteraan, seorang satria harus memandang wanita sebagai sumbu pada semua, di mana kehidupan dan penghidupan berasal. Tidak hanya kepada istri, tetapi juga pada ibu dan bagaimana kita mempersiapkan anak-anak perempuan kita.

  3. Turangga (Kuda), adalah lambang kendaraan, berupa ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian dan kemajuan. Tanpa kendaraan kita tidak akan bisa melangkah jauh dan pendek pengelihatan (mungkin di sini maksudnya adalah visi).

  4. Kukila (Burung), adalah lambang keindahan dan hobi, dalam melakukan sesuatu terlepas dari untuk menyambung hidup haruslah ada sebuah kepuasan batin pribadi dan menikmati segala sesuatu, sehingga kita akan menjalani hidup dengan semangat.

  5. Curiga (Keris), sebagai lambang kewaspadaan, kesiagaan dan keperwiraan, sebuah alat untuk mempertahankan empat hal sebelumnya agar tidak binasa
Memang tidak hanya sebatas materi saja yang kita harus punya dalam mempersiapkan diri menjadi seorang pria yang berkeluarga, tetapi juga sikap. Memang di sini erat kaitannya dengan satu etnis saja yaitu Jawa, tetapi dapat berlaku universal, dan saya yakin etnis-etnis lain pun mempunyai wejangan dan falsafah semacam ini.

Hum...dua buah pelajaran di hari yang sama. Jurangan Pran dengan ajaran moderennya dan Jurangan Pram (Pramoedya Ananta Toer) dengan ajaran kunonya (tetapi masih berguna). Terima kasih untuk kalian berdua...!!!

--
Anton Hermansyah

08 Juni 2009

Menerawang

Berangan-Angan

Berangan-Angan


Hari minggu kemarin saya kembali bertemu dengan mantan-mantan petinggi KpME dalam rangka pencanangan Arisan KpME. Senang sih melihat mereka-mereka mantan bos saya sewaktu masih jadi kroco di organisasi.

Saya sebagai satu-satunya anggota arisan yang masih mahasiswa melihat bahwa mereka semua yang rata-rata sudah kerja minimal 1 tahun sudah lumayan berubah. Kenapa "lumayan"? Karena secara fisik saya masih mengenal "bentuk" mereka karena memang belum banyak berubah cuma makin "makmur" saja. Haris misalnya, dari segi muka sih tidak berubah, tapi coba lihat agak ke bawah, pasti akan melihat perut buncit khas bapak-bapak, lucu juga mukanya tetap kurus tapi perutnya buncit. Wahyu sebenarnya tidak membuncit...tetapi badannya makin bulat..!!! Mereka berdua langsung jadi bahan tertawaan, yang lainnya sih tidak berubah, tetap sama, jadi lumayan tidak banyak berubah kan.

Tetapi, saya juga bisa bilang sudah lumayan banyak berubah. Karena begitu masuk ke dalam sesi cerita barulah saya bisa mengerti, Ibu Wulan misalnya, dia bercerita bagaimana dia harus mengundurkan diri dari kantor lamanya karena sedang hamil bayi Naura, Wahyu yang sedang menimbang-nimbang untuk membeli rumah atau mobil lebih dahulu, Rien yang tanpa kami sadari telah punya cincin tunangan di jari manis kirinya dan sudah mentargetkan bahwa umur 26 tahun, dia akan menikah (yang berarti tiga tahun lagi) sampai Tika yang sudah hamil tiga bulan dan sewaktu pulang dijemput oleh suaminya (bukan pacarnya atau tunangannya).

Saya pun agak kaget di dalam hati...benarkah ini orang-orang yang tiga tahun lalu masih haha-hihi bersama saya di Sekre KpME...???

Dengan masuk dunia kerja sepertinya seseorang akan mendapatkan suatu fase baru di dalam hidupnya, mereka yang secara fisik masih belum terlalu berubah, tetapi dari jalan pikiran, jauh berbeda dengan saya. Mereka berpikir tentang bagaimana mesti melamar tunangannya, bagaimana anaknya nanti sewaktu ditinggal kerja atau nanti akan pindah kerja ke mana, sedangkan saya masih berpikir malam minggu nanti harus jalan dengan siapa hahaha....

Apakah saya nanti akan mempunyai jalan pikiran seperti itu...??? Sejauh ini sih saya bisa bilang pasti, karena bisa saja jalan hidup saya berubah, misalkan harus menjadi peneliti yang hanya peduli pada objek penelitiannya, atau menjadi tahanan yang prioritas utama adalah bebas secepat mungkin...yah sepertinya contohnya terlalu ekstrim hehehe.

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

--
Anton Hermansyah

25 Mei 2009

Resume Tiga Hari

Selama tiga hari ini Sabtu, Minggu dan Senin ada beberapa pengalaman yang bisa di ceritakan, meskipun ini gara-gara nggak sempat nulis blog kemarin-kemarin sih.

Sabtu - Futsal dan Masuk Angin


Durian

Durian

Setiap dua minggu sekali saya "dipaksa" main futsal di Goals Fatmawati seperti yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya tapi kali ini kondisinya berbeda. Pertama, yang main jauh lebih sedikit dari yang lalu jadinya nggak ada ganti atau substitusi. Kedua, kalau minggu kemarin saya makan ala binaragawan (pagi oatmeal, siang telur, dan malam buah), minggu ini makan ala Paman Gembul, apa saja dimakan, jadinya metabolisme tubuh kacau kembali (istilah trainer saya). Ketiga, pagi-pagi cuma makan Soy Joy dan perut kosong melompong.

Walhasil kalau kemarin lari-lari bak pemain American Football sekarang langsung capai, malah sempat kram perut gara-gara otot perut yang sudah susah payah dibangun minggu kemarin sudah tercampur lemak tak jenuh, gawatnya nggak ada yang mau gantian karena kurang orang jadilah harus tetap main, yah You are what you eat...baru terasa sekarang manfaatnya.

Kecapean dan keringetan langsunglah saya pulang tanpa ganti baju dulu, masih pakai baju yang untuk main tadi, naik motor pula, jadilah pas habis bangun tidur langsung masuk angin ditambah migrain, nyut-nyutan setengah kepala. Teman saya menyuruh saya minum obat tapi saya nggak berani karena pernah mengalami Tragedi Duren.

Tragedi Duren adalah cerita waktu saya kecil dan belum tahu soal obat, minum obat karena pusing di tengah perjalanan. Setelah itu rombongan keluarga besar berhenti untuk makan duren, saya dengan bodohnya ikut makan. Setelah orang tua saya tahu bahwa sebelumnya anaknya minum obat langsung mereka panik, sejak itulah saya tahu kalau obat tak boleh bercampur alkohol atau soda, dibantu Mbah A'a yang kini sudah almarhum, saya memuntahkan semua yang sudah saya makan.

Belum selesai sampai di situ, saya disuruh minum Norit untuk menyerap racun dan tak boleh tidur selama 5 jam, mereka takut kalau saya tidur mungkin tiba-tiba nggak bisa bangun lagi, padahal saat itu ngantuk sekali. Ibu saya lalu menceritakan kisah tetangganya yang meninggal gara-gara habis minum obat dia minum Sprite. Uff...sangat ampuh untuk membuat saya terjaga sampai lima jam. Untungnya Near Death Experience itu bisa terlewati, tetapi membuat saya agak takut untuk minum obat, kecuali kalau sakitnya sudah nggak tertahankan.

Minggu - Terminal Tiga dan Hanamasa


Terminal 3

Terminal 3

Ibu saya pulang dari Jambi, karena naik Mandala maka Ayah, saya dan Andi harus menjemput di Terminal Tiga bandara. Ini terminal baru dan cuma ada Mandala dan Air Asia saja yang mangkal di sini. Begitu lihat gedungnya di malam hari sih tercengang juga karena desainnya modern dan minimalis, beda dengan terminal satu dan dua yang sudah terlihat kusam. Tapi ada beberapa hal yang kurang enak di sini :
  1. Alur parkirnya bikin mumet, beberapa kali lihat tempat kosong tapi tidak bisa langsung dimasuki karena mesti putar jauh, yah...mungkin kalau ke sana akan mengerti sendiri lah.

  2. Tempat menunggu keberangkatan ada di luar ruangan, meskipun ada atapnya tapi tetap saja bisa masuk angin.

  3. Kurang tempat jajanan, masa cuma ada CFC sama J.CO, di dalam pun masih kosong melompong, memang yang terakhir ini kurang penting sih
Pulangnya kami makan di Hanamasa di Mal Pondok Indah, sengaja memilih di sana karena minumnya bisa tambah sepuasnya, tetapi kami (tepatnya Ayah, saya dan Andi) terpancing untuk membeli jus yang ditawarkan oleh pelayannya, yang mungkin dengan sengaja cepat ditawarkan sebelum pengunjung tahu bahwa tambah minum itu gratis. Ibu pun marah-marah, dan saya tidak bisa bilang apa-apa selain maaf, apalagi begitu tahu Es Kopyor yang saya pesan harganya Rp 24,000, mana nggak enak pula. Jadi bagi yang mau makan Hanamasa, berhati-hatilah jangan terpancing godaan membeli jus buah..!!

Senin - Uang Kembalian dan Vienna


Hari ini saya merasakan pentingnya uang receh, pagi-pagi saya sudah bermasalah dengan pembayaran denda buku di perpus, dendanya Rp 18,000 dan saya hanya membawa uang Rp 50,000, bapak penjaga pun menyuruh saya kembali lagi karena tidak ada stok uang kembalian. Sampai siang gocap itu belum juga pecah sampai saya dan Radit diajak Fajar ke Fakultas Psikologi karena mau bertemu Mbake sing paling apik dhewe di sana. Dan baru kali ini saya merasakan bahwa Pom Bensin dan Jalan Tol itu hebat dalam menyediakan uang, karena di Kantin Psikologi saya di Ping-Pong antara penjual makanan dan penjual minuman.

Di Penjual Minuman, Ga ada uang kecil bang...?? Ya udah ntar aja bang...abis makan aja, nggak ada kembaliannya.

Sesudah makan...

Di Penjual Makanan, Walah gede amat, nggak ada tukerannya nih...!!! Bayar yang lain dulu ya...

Di Penjual Minuman, Yah, belom ada kembaliannya, bayar makanan dulu gih...!!!

arrggghhhh....!!!!!

***


Hari ini memang nggak begitu enak sih...terutama buat Fajar yang tidak berhasil ketemu Mbake sing paling apik dhewe, meskipun untuk saya lumayan karena bisa melihat "Pemandangan" yang lumayan di Kantin Psikologi. Nggak tahu lah mereka melihat saya seperti apa...mungkin mereka melihat saya dan sebenarnya mau menghampiri saya sambil bilang "I Love You" "Maaf mas, mau nggak jadi objek penelitian skripsi saya...??--karena mas terlihat seperti orang kelainan jiwa"

Untuk si Gocap akhirnya uang itu pecah untuk membeli Cheese Stick lapis coklat di 2nd Bite (baca : Second Bite) sebagai pemuas lapar karena Cheese Stick yang kemarin dibawa Nia nggak enak >-< bentuk Cheese Stick nya menarik.

Untuk Fajar yang malang, saya persembahkan lagu dari Billy Joel judulnya Vienna, karena ini saya pikir cocok dengan keadaannya saat ini.

Billy Joel - Vienna (Song from Breakfast at Tiffany's)
Slow down, you crazy child
you're so ambitious for a juvenile
But then if you're so smart, tell me
Why are you still so afraid?

Where's the fire, what's the hurry about?
You'd better cool it off before you burn it out
You've got so much to do and
Only so many hours in a day

But you know that when the truth is told..
That you can get what you want or you get old
You're gonna kick off before you even
Get halfway through
When will you realize, Vienna waits for you?




--
Anton Hermansyah

22 Mei 2009

Belasungkawa Tragedi Hercules dan Andai-Andai

Terbangun pagi, internetan sambil melihat (lebih tepatnya mendengar) TV, acara berita kebetulan menayangkan jatuhnya pesawat Hercules. Memang sih sudah nggak membahas teknis bagaimana pesawat jatuh dan bla...bla...bla-nya tetapi sudah masuk ke adegan isak tangis keluarga dan situasi-situasi lainnya yang masih berhubungan seperti batalnya resepsi nikah karena ayahnya jadi korban sehabis jadi wali nikah anaknya, pemakaman para korban baik militer maupun sipil, sampai Presiden SBY dan Wapresnya JK berebut memberikan simpati kepada para korban.

Suatu hal yang beberapa kali disebut di berita ini adalah masalah anggaran, dicertakan kalau dari anggaran militer yang ada, TNI-AU mendapatkan anggaran yang paling kecil di sini, jadi "wajar" saja kalau perawatan pesawat agak kurang, bukan masalah pesawat Hercules yang ternyata usianya sudah 29 tahun, bahkan berita menyebutkan "yang terpenting bukanlah usia pesawat tetapi perawatannya". Yah...apa saja lah yang bisa dikata.

Saya pun menghayal akan membuat perusahaan penerbangan yang mengakomodir penerbangan-penerbangan perintis tapi aman dan murah, yah...seperti Adam Air Northwest Airlines lah yang nantinya bisa membantu memajukan perekonomian dan pembangunan daerah timur seperti Papua, karena yang naik pesawat saya dari kalangan biasa sampai businessman.

Tetapi...

Kalau misalkan saya berandai-andai lain mungkin ini yang saya lakukan :

Andaikan jadi Pak Habibie


Pak Habudi

Pak Habibie Habudi

Saya akan berpikir untuk merancang pesawat dirgantara canggih buatan negeri sendiri untuk menggantikan Hercules-Hercules yang sudah mulai uzur mungkin bakal diberi nama Samson eh tapi jangan-jangan diprotes sama Band Samsons lagi hehehe.

Andaikan jadi Caleg


Caleg

Caleg

Ngapain juga diurusin tuh korban bencana wong sudah selesai Pemilunya kok, duit saya sudah habis nih untuk kampanye, malah waktunya mikirin balik modal hahaha.

Andaikan jadi Capres


Si Butet Yogya

(Calon) Presiden SBY

Saya akan menyempatkan diri untuk berkunjung langsung ke tempat kejadian, memberikan dukungan kepada para korban, dan membayar sejumlah uang untuk belasungkawa juga ganti rugi. Tujuannya adalah agar televisi meliput saya dan saya dikenal sebagai calon presiden yang baik hati ups

***

Memang cuma bercanda sih andai-andainya, namanya juga khayalan. Tetapi saya juga turut mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya untuk korban jatuhnya Pesawat Hercules, semoga mereka yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.

--
Anton Hermansyah

20 Mei 2009

Kesal pun Nulis

Teman Belajar

Teman Belajar

Ok, berakhir satu UAS di hari ini, dengan perjuangan dan emosi saya kerjain soal PRK ini. Perjuangan sih iya...tapi kenapa mesti ada kata-kata emosi...?

Begini ceritanya, sewaktu hari senin (18/5) saya dan Fajar ikut rombongan anak-anak yang sedang sibuk fotokopi bahan ujian. Karena sudah terlalu sore saya juga harus pulang, saya dan Fajar menitipkan bahan itu kepada Mr. R (bukan nama sebenarnya) untuk difotokopi dan rencananya akan diambil hari selasa siang, yah...sekitar jam dua belas deh.

Besoknya, runtutan kejadian adalah seperti ini :

  • 12.00 - 16.00 Saya menunggu di perpustakaan tapi Fajar tak kunjung datang karena ada kuliah

  • 16.00 - 16.30 Akhirnya Fajar datang tapi tak membawa fotokopian yang dijanjikan, sembari memberi tahu saya bahwa fotokopian dibawa oleh Mr. R, saya kaget karena Mr. R ini orangnya super sibuk (lebih tepatnya sok sibuk).

  • 16.30 - 17.00 Setelah ditelfon, Mr. R berjanji akan membawa fotokopian tersebut ke kos Fajar. "Kenopo ra nang kampus ae (Kenapa tidak di kampus saja)..??", Saya tanya ke Fajar. "Ra gelem wonge, sibuk deweke (Nggak mau orangnya, sibuk dia)" Jawab Fajar.

  • 17.00 - 17.30 Memutuskan pergi dan tunggu di kosnya Fajar, padahal sedang hujan dan kebetulan saya sedang membawa motor.

  • 17.30 - 18.00 Proses menunggu, dan akhirnya menelpon Mr. R kembali tapi tidak diangkat-angkat

  • 18.00 - 19.00 Masih menunggu, tapi kali ini kami seperti Tour Guide Gembira Loka (Kebun Binatang di Jogja) spesialis binatang non-halal, maksudnya mengumpat-umpat pakai Bahasa Jawa. Dan akhrinya saya pulang dengan menitip salam tonjok untuk Mr. R pada Fajar.

Yup akhirnya saya pulang dengan tangan hampa dan berharap Fajar dapat bahan-bahan itu entah malam-malam atau pagi buta, sebenarnya dia lebih butuh, belum belajar sama sekali dan nggak tahu apa saja poin-poin yang penting.

Esoknya (maksudnya hari ini)...

Sebelum masuk ujian, seperti tradisi anak-anak belajar dahulu di depan kelas, di situ ada Fajar juga dan saya tanya soal bahan ujian...ternyata Mr. R tidak datang sama sekali ke kos dia. Hebatnya si Mr. R cunguk ini duduk di dekat Fajar (yah...radius 5 meter lah agak jauh, mungkin si Fajar yang menjauh) sambil belajar dengan tenangnya. Saya menenangkan diri lalu tanya ke Mr. R :

  • Saya : Mau bengi endhi kowe dienteni (Tadi malam kamu ke mana ditungguin)...??...!!

  • Mr. R : Sori, lagi sibuk kemarin, baru pulang jam 9 ke kontrakan, saktenane aku arep ngomong ora iso wingi (Sebenarnya saya mau ngomong nggak bisa kemarin...)

Hanya dengan kata-kata Sori dan Sibuk yang dengan enak keluar dari mulut setelah membuat dua orang tidak bisa belajar karena kurang bahan...!!!...???

Lagi pula kami berdua sudah menelpon Mr. R secara estafet malam itu dan lebih dari 5 kali telepon, kenapa dia tidak konfirmasi lebih awal...??...!!

Yah...
Inilah kisah gondok di penghujung masa kuliah. Yup terutama buat Angga Bubu yang baru saja mengalami UAS terakhirnya dan coba mengingat-ingat apa yang terjadi dari Semester I sampai sekarang. Dia pula yang menjadi "penyelamat" Fajar dengan mengajarkan bahan-bahan yang ada. Tapi, kalau cuma setengah jam saja, nggak banyak yang bisa masuk kan...??

Kenapa kisah begini ditulis juga...?? Ada beberapa alasan...

Pertama, jangan suatu kesibukan itu membuat anda menyusahkan atau sampai menghianati teman anda apalagi kalau saat kritis dan benar-benar butuh seperti kasus Mr. R ini. Kedua, jangan mau pula mempercayakan sesuatu kepada orang yang seperti ini. Ketiga, menulis ini sebagai bentuk pelampiasan dan kreativitas, "Tulislah selagi kamu masih memiliki emosi tentang sesuatu", dan benar, tulisan ini jadi cepat selesai dan saya bersemangat untuk menulisnya, meski hati ini sedang kesal.

Yap, waktunya untuk belajar lagi...siap-siap ujian berikutnya...

--
Anton Hermansyah

17 Mei 2009

Mie Holic

Mie Instan

Mie Instan

Mungkin itu yang orang-orang bakal bilang kalau lihat belanjaan yang saya bawa. Yup tadi baru aja saya dan ayah saya pergi belanja bulanan, kenapa cuma berdua, humm karena ibu saya sedang di Bandung dan adik saya tewas kecapean. Coba bayangkan aja, dari enam kantong belanja yang dibawa 50% alias tiga kantong itu isinya Mie nggak bohong kok, ada rasa kari ayam, ayam spesial, sampai ke rasa aneh-aneh seperti ikan cakalang, sop apalah saya juga lupa. Semua itu dibeli dengan jumlah yang kalau disumbangin ke korban bencana alam bakal nggak habis dalam seminggu.

Memang begitulah yang terjadi kalau kalian hidup di keluarga pemakan segala, apa saja asal enak dimakan, dan hukum alam yang berlaku. Misalkan ada suatu kejadian, di mana ayah saya pulang membawa martabak telur dua bungkus, dan kebetulan saya pulang kemalaman, dan ibu saya memberi tahu kalau ada martabak.

Ibu : Tuh kak, ada martabak tadi ayah bawa
Saya : Disisain kan bu?
Ibu : (menjawab dengan ragu-ragu) Iya tuh... (menunjuk piring kecil yang di atasnya terdapat dua potong martabak telor)

Langsung saya teriak-teriak kesal nggak karuan masa dari dua bungkus besar cuma tersisa dua potong...???...!!!! Dan orang-orang rumah pun menjawab, "yang penting kan udah disisain". Duhhh...!!!

Hidup ini memang keras, apalagi kalau berada di keluarga seperti ini...

Ini cuma tulisan iseng saja sih, yah hitung-hitung pemanasan sebelum saya mengetik bab 3 hehehe...

--
Anton Hermansyah

09 Mei 2009

Futsal dan Lagu Mellow

Logo Goals Fatmawati
Hari ini saya diajak ikut main futsal di Goals Fatmawati, Ini juga karena diajak si Aan, sebelumnya harus mengucapkan happy birthday to Adi Gemilang yang ultahnya jatuh di hari ini, tapi nggak ada kabarnya maupun update tentang traktiran, keasyikan pacaran kali.

Oke balik lagi ke soal futsal, asyik aja sih ada kegiatan di akhir minggu dan dunia lelaki pula (tak ada wanita kecuali ibu penjual minuman di situ --sumpah). Dasar bukan pecinta sepak bola jadi saya nggak punya sepatu futsal sama sekali, yang ada cuma sepatu sendal nggak bisa pula dipakai main, jadilah harus telanjang kaki alias Nyeker.

Tapi ternyata enak juga main futsal, biar kata teman-teman saya main kayak American Football, nabrak-nabrak orang mulu kerjaannya. Saya lari-lari terus dengan semangat seperti pejuang kita melawan penjajah....akibatnya pas pulang kaki ini pegel-pegel, dan kalau harus angkat paha rasanya sakit banget mana ditambah melepuh pula.

Yah, dua minggu lagi mesti main, kalau kabur tak beralasan di denda lima ribu katanya.

***


Hari ini dapet lagi satu lagu yang sesuai dengan theme song saya akhir-akhir ini, setelah sukses dengan Anggie - Ke Mana Kau, hari ini ada satu lagu Jazzy yang diputar di radio, setelah dicari-cari lagu itu Ariss - Biarkanlah Cinta, kayaknya sih bukan Aris Idol, wong suaranya aja beda, untuk liriknya sih begini :

Kulabuhkan hatiku hanya untuk dirinya
Tak tau mengapa aku jatuh cinta
Ku tau hati ini tak mungkin memilikinya
Kau telah berdua bahagia dengannya

Reff :
Dan biarkanlah cinta
Tumbuh dan mewangi di dalam hatiku
Walaupun tak sewangi yang aku rasa
Tetapi engkau memang kucinta

Dan biarkanlah cinta
Menjadi teman sepi dalam perihku
Karena ku tak bisa mengungkapkan padanya


Yah lumayan lah...cocok sama tema saya akhir-akhir ini.


***


Sebagai penutup, teman saya Retha menulis cerita ini di notes Facebooknya, ini ceritanya :

Cinta dan Perkawinan


Seorang murid bertanya pada gurunya, "Apakah itu cinta?"

Sang guru menjawab, "Pergilah ke sawah dan carilah padi terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah -- kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.

Murid itu pun pergi ke sawah dan mulai mencari padi terbesar.

Pada baris pertama dia melihat sebuah padi yang besar tetapi dia berpikir mungkin nanti dia akan menemukan yang lebih besar, kemudian dia mencari lagi dan menemukan yang lebih besar, apabila dia mencari terus mungkin ada yang jauh lebih besar lagi. Setelah dia mencari lebih dari setengah sawah dia menyadari tidak ada yang lebih besar seperti yang dia lihat sebelumnya. Dia sadar bahwa dia telah melewatkan yang paling besar dan menyesali perbuatannya.

Sang murid pun kembali dengan tangan hampa.

Sang guru menerangkan bahwa inilah cinta, kamu bersikeras mencari yang lebih baik, tetapi kemudian kamu menyadari bahwa telah melewatkan yang terbaik.

Sang murid bertanya lagi, "Jadi, apakah itu pernikahan?"

Sang guru menjawab, "Pergilah ke ladang dan carilah bonggol jagung terbesar lalu bawalah ke sini, tetapi peraturannya adalah -- kamu hanya boleh satu kali melaluinya, tidak boleh berputar lagi dan mengambilnya.

Murid itu pergi ke ladang dan mencari.

Tak mau mengulangi kesalahannya, sampai di tengah ladang dia telah memetik jagung berukuran sedang yang dia rasa telah memenuhi kriterianya, lalu dia kembali kepada gurunya.

Sang guru mengatakan, "kali ini kamu kembali dengan jagung, kamu telah memilih yang baik, kamu yakin dan percaya bahwa inilah yang terbaik yang bisa didapat inilah pernikahan."

Bersikaplah ramah pada setiap orang, tetapi lakukan yang lebih intim dengan beberapa orang dan yang beberapa itu haruslah dipahami cukup baik sebelum kamu memberikan kepercayaan padanya.

--
Anton Hermansyah