Di saat pasar sedang turun biasanya banyak investor baru yang panik bertanya di forum dan jawaban yang paling sering keluar dari yang "lebih senior" adalah, "average down saja, tambah muatan", yang ternyata saat di praktekkan tidak semudah yang dikira karena melibatkan perhitungan dan mental.
Salah satu nasabah saya setiap bulan pasti bertanya, "apakah sekarang saat yang tepat untuk average down PTPP?". Karena dia tahu saya juga punya saham yang sama, beban saya pun seakan menjadi ganda, harus mencari strategi untuk diri sendiri dan nasabah.
Selain average down ada strategi lain bernama average up, yaitu menambah muatan saat harga sedang naik. Teknik average up dapat dilakukan selama harga masih ada di bawah valuasi kita.
Beberapa investor senior menyebut average up lebih "aman", dan memang, seringkali saya bermasalah saat melakukan average down terutama soal mental.
Saat harga sedang turun seringkali saya terjebak perasaan ingin segera membeli untuk memperkecil floating loss secepat mungkin dan was-was kalau-kalau "periode diskon" ini tidak berlangsung lama nantinya. Akibatnya, karena terlalu cepat average down, esoknya harga masih turun, malah lebih dalam dibanding hari saat saya tambah muatan.
Saya pernah tidak bisa mengendalikan "nafsu" tersebut, terus saja membeli apabila harga turun. Akibatnya saya kehabisan kas padahal esoknya harga masih terus turun.
Pada akhirnya kita harus sama sabarnya baik dalam menunggu harga turun maupun menunggu harga naik.
Kapan?
Saat floating gain sudah berubah menjadi floating loss tentunya kita akan mulai gatal untuk segera menambah muatan. Seharusnya memang tidak usah terburu-buru, Pak Teguh Hidayat dalam artikelnya menyarankan untuk melakukan factchecking terlebih dulu.
Hal yang harus di cek adalah situasi makroekonomi dan berita dari emiten itu sendiri. Apabila makroekonomi memburuk tetapi fundamental emiten masih baik artinya kita bisa tambah muatan, sebaliknya jika makroekonomi masih baik tetapi fundamental emiten memburuk, maka justru kita harus bersiap untuk cutloss.
Sialnya, saat ini kita dihadapkan dengan kondisi makroekonomi yang super galau, yang bahkan membuat gubernur-gubernur bank sentral bingung harus mengambil kebijakan apa. Sedikit kelengahan dalam prosedur kesehatan dampaknya akan berantai, naiknya kasus Covid-19, perlambatan pemulihan ekonomi, stimulus yang harus diperpanjang, bertambahnya defisit anggaran, hingga kenaikan pajak yang ujungnya melemahkan daya beli ke depan.
Perlambatan pemulihan ekonomi dan pelemahan daya beli ini pun ujungnya akan memukul fundamental emiten, yang sayangnya kinerjanya baru bisa kita lihat paling cepat sebulan setelah berakhirnya kuartal.
Untuk yang tidak mengerti makroekonomi bagaimana? Alternatifnya bisa dengan melakukan analisis teknikal pada chart IHSG dan indeks-indeks negara lainnya seperti S&P 500 untuk menentukan keseluruhan pasar sedang bullish atau bearish.
Saat floating loss sudah berapa kita baru mulai lakukan average down? Dari artikel Pak Teguh, saya melihat bahwa saat floating loss sudah sekitar 10%-20% adalah saat kita sudah mulai evaluasi baik untuk average down maupun cutloss.
Bagaimana?
Melakukan average up atau average down paling baik memang dengan cara mencicil. Pembelian bisa dibagi menjadi tiga atau lima kali sesuai kebutuhan, tentunya besaran tambahan muatan harus memperhatikan bobot saham di portofolio setelah pembelian.
Misalkan portofolio Rp100 juta dengan isi delapan saham dan 20% persen kas, maka rata-rata porsi per saham dalam portofolio adalah Rp10 juta per saham atau 10%. Kemudian salah satu saham harganya turun dan akan dilakukan average down dengan kas yang ada, maka usahakan porsi akhirnya di portoflolio maksimal berkisar di 15% sampai 20% atau bertambah sebesar Rp5 juta sampai Rp10 juta.
![]() |
| Bobot Sebelum dan Sesudah Averaging |
Sebetulnya portofolio tidak harus mempunyai bobot per saham yang serupa, tetapi bobot yang terlalu besar pada saham yang sedang lagging akan berdampak pada pertumbuhan portofolio kita secara keseluruhan.
Nantinya jika saham hasil penambahan muatan tersebut sudah naik dan menghasilkan floating gain yang cukup, porsinya dapat di kembalikan menjadi 10%. Bonusnya adalah kita punya lebih banyak kas setelah penjualan.
Bagaimana dengan orang yang sistemnya menabung saham dan selalu top up RDN per bulan? Kondisi ini artinya akan selalu ada tambahan kas per bulan, teknik awalnya mirip, yaitu dengan bobot penambahan maksimal 10 poin persentase terhadap portofolio.
Untuk normalisasi bisa dengan dua cara, dengan menjual saham apabila sudah naik cukup seperti yang sudah sebelumnya dijelaskan atau dengan cara kedua, yaitu dengan menambah bobot saham lainnya agar bobot rata-rata kembali ke 10% per saham.
Kemungkinan dalam jangka menengah bahkan sampai setahun lebih kita masih akan menghadapi situasi makroekonomi yang banyak ketidakpastian. Semoga teknik average up dan average down ini membantu kita untuk bertahan.
--Anton Hermansyah







