24 Desember 2012
결헌 Tentang Perkawinan
오늘 숙재는 결혼 이다. 생각에 걸혼계획 아긱 없다 -__-. 토요일에 어눞 하고 아잠은 선생님 결혼 갔다. 그레, 그 사람들 에게 저 결혼식 가 처움 한국 결헌식 보기 이다. 나도 보고 싶은데 고무하고 사촌가 서울 있기때문에 서울 가야 됐다.
--
Anton
08 November 2012
어눞 씨 왜요??
네 방친구 어눕 씨가 기쁘지 않고 실쁘지 도 않아요. 최종시훔가 가까우니까 우리가 열심히 공부해요. 어제 제 하고 어눕씨가 넞게 가물 잤어요. 그레서 비곤해요. 제 보다 어눞씨가 더 비곤해요. 아까에 어눕 씨 처음 고기를 사기 예요. 배가 고펐요.
네 생각에 어눞 씨 가 찰 열시히 공부 해서 아주 비곤해요. 저금 쉬기 가 좋아요.
--
안톤
14 Oktober 2012
Dingin di Jeonju
오늘은 날씨가 예쁘지만 시원어요. 전주에 아침에 추워요. 제 하고 반친구는 자주 운동을 했어요 하지만 요즘 운도ㅇ을 해지요.
네 방친구, 어눕씨는 검퓨터가 샀어요. Dell 입니다. 저가 좋아지만 영말없어요. Dell Service Center 원이 월요일 에 오겠습니다. Windows 7 English Edition 인스탈 하겠습니다.
--
헤르만샤흐 안톤
10 Oktober 2012
저는 안톤 입니다
저는 안톤 입니다, 저는 인도네시아 사람 입니다. 저 "저는 하고 사람" 를 오늘는 우리반 에서 공보했어요.
한국어는 재미있어요. 지금 저는 전주 대학교에서 한국어를 베워요. 날마다 수업이 있지만 토요일하고 금요일이 없어요. 숙제가 많아요. 저는 가끔 숙제를 해지 않았어요. 저는 피곤 했어요.
요기 오늘른, 네일 포스트 다시.
안녕히가세요!!
--
Anton Hermansyah
헤르만샤흐 안톤
11 Oktober 2011
Tukang Pangsit punya Xenia
Sewaktu saya pulang, saya melihat sebuah Daihatsu Xenia (maaf saya selalu menyebut merek) di tempat tukang pangsit langganan saya.
Tukang pangsit ini suami dan istri, mungkin umur mereka sudah 30 tahun lebih sekarang. Saya ingat sewaktu saya SMP, bersama pakde dan bude (orang tua si Mas Pangsit ini) mereka merintis jualan pangsit di daerah sekitar rumah saya. Setelah cukup lama, Mas dan Mbak berjualan di lokasi terpisah dari Pakde dan Bude. Ternyata lokasi itu sangat bagus, ada pabrik tekstil dan Akademi Pariwisata Sahid di dekat situ.
Cerita yang sudah berlangsung sepuluh tahun lebih, saya ingat beberapa kali si Mbak meminjam telepon rumah saya untuk menelepon orang tuanya di kampung dahulu. Saya juga melihat perkembangan warung mereka yang tadinya hanya atap yang disangkutkan ke gerobak dengan kursi dan meja ala kadarnya, sampai mereka membeli tanah di belakang tempat jualan tersebut dan membangunnya menjadi rumah, rumah itu akhirnya ditingkat. Suami istri yang tadinya berjualan berdua saja, sekarang sudah dibantu dua pegawainya.
Sampai cerita itu berlanjut di hari saya melihat Xenia di garasi (yang kalau siang menjadi restoran) mereka, dan masih akan berlanjut.
Sebuah Xenia mungkin adalah mobil sejuta umat, 10 tahun pun bukan waktu yang singkat. Tetapi bukan merek mobilnya yang saya nilai, usaha mereka yang dari nol itulah nilai kebanggaan sesungguhnya, hasil menekuni usaha pangsit.
--
Anton Hermansyah
05 September 2011
Orang Asing pun Sudah di Pinggiran
Bicara soal Jakarta, dua daerah yang saya kagumi adalah Blok M dan Kemang, kenapa?
Dua daerah itu hidup sampai malam, dan banyak orang asing di sana. Karena banyak orang asing, tentunya ada restoran-restoran untuk memuaskan dahaga orang-orang itu terhadap makanan kampung halamannya. Bahkan di Blok M sudah banyak supermarket yang khusus menyediakan kebutuhan ekspatriat, seperti supermarket Korea dan Jepang. Pantas daerah ini dijuluki Little Tokyo.
Namun belakangan di daerah Pamulang dan Ciputat saya sudah bisa menemukan dua restoran yang menyediakan makanan asing. Di Pamulang ada restoran Jepang yaitu Take Tei ( secara harfiah artinya 'Restoran Bambu') dan di daerah Cireundeu (masih termasuk kecamatan Ciputat) ada restoran Italia, Signora Pasta (artinya 'Pasta Nyonya').
Soal masakan, Jepang dan Italia memang sudah umum dimakan oleh orang Indonesia, di kaki lima pun kita bisa menemukan masakan Jepang, Pizza dan Spaghetti di rumah pun sudah gampang dibuat. Yabg istimewa adalah kedua restoran ini dimiliki oleh orang asing yang memang asli dari negaranya, Jepang dan Italia.
Kadang saya bingung, kok bisa-bisanya mereka terdampar di daerah sejauh ini? Tetapi kehadiran mereka membuka wawasan akan masakan-masakan khas negara tersebut yang masih jarang dicoba oleh orang Indonesia.
Selama ini kita hanya mengenal masakan Jepang sebatas beef teriyaki, tempura, atau sushi. Take Tei menawarkan menu-menu rumahan seperti ikan sanma, oyakotoji (nasi di mangkuk dengan telur ayak dan ayam), dan soba (mi besar dari tepung beras). Tentunya menu-menu umum seperti katsu dan teriyaki juga disediakan (untuk mereka yang konvensional).
Signora Pasta menawarkan menu-menu otentik Italia, kita akan merasa penasaran dengan pizza margherita, tidak ada meat lover atau american favourite di sini, padahal jenis margherita inilah resep pizza paling dasar hanya ada saus tomat, keju mozarella, dan beberapa potong daging. Selain itu masih ada pasta rigatoni (mirip macaroni tapi ini ukuran besar), caneloni (daging dengan saus keju dibungkus dengan kulit roti), fusilli (pasta berbentuk spiral). Bahkan saus spaghetti pun ada macamnya, carbonara (krim susu) atau bolognaise (krim tomat).
Saya merasakan meski kedua restoran tersebut kecil tetapi keduanya rapih dan bersih. Jauh dari kesan remang-remang yang biasanya dipakai oleh restoran yang ada sejak jaman dahulu untuk menunjukkan nostalgia tetapi jadinya malah terkesan tak terawat, kedua restoran ini terang dan minimalis. Namun pilihan kursi, meja, piring, dan lantai mereka entah mengapa sudah bisa menimbulkan kesan otentik tersebut. Pemilik-pemilik reatoran tersebut juga terkadang keluar dan menyapa pengunjung dengan Bahasa Indonesia yang lumayan lancar dan masih kental logat asalnya.
Karena bukan daerah ekspatriat, konsumennya lebih banyak orang Indonesia, yah kalau masuk ke dalam ternyata banyak orang asingnya malah minder juga kan, jangan-jangan makan sushi tidak boleh pakai sendok atau table manner kita ditertawakan, tenang saja lah. Rasa cocok dengan lidah Indonesia dan harga pas.
Semoga ke depannya Pamulang dan Ciputat mempunyai lebih banyak lagi restoran semacam ini. Internasionalisasi sudah sampai ke pinggiran Jakarta ternyata.
--
Anton Hermansyah
03 Agustus 2011
Khutbah yang Efektif
![]() |
| Alm. Zainuddin MZ |
Mulai bulan Ramadhan tahun ini, kebijakan masjid di kompleks saya adalah tidak setiap hari diadakan khutbah sebelum Shalat Tarawih. Mungkin kebijakan ini meghilangkan elemen tradisional yang biasa dirasakan sewaktu Tarawihan (ingat harus mencatat khutbah Tarawih sewaktu kecil dan minta tanda tangan Khatib -penceramah- ?).
Yang jelas kebijakan ini menguntungkan orang seperti saya yang jika pulang masih harus mengerjakan sesuatu di rumah. Daripada harus terkantuk-kantuk mendengar ceramah xP.
Mungkin ini sentimen saya pribadi tetapi sekedar bertanya apakah khutbah tersebut jika diadakan akan efektif?
Di masjid, setidaknya yang ada di kompleks rumah saya, yang datang ada bermacam-macam, mulai anak kecil, ABG, sampai kakek-nenek. Tingkat pemahaman, logika mereka berbeda, tentunya bahasa juga harus berbeda. Menurut saya mungkin ada sekelompok orang yang tidak mendengarkan isi khutbah tersebut, entah karena tidak mengerti, atau mungkin terlalu mengerti sehingga merasa diulang-ulang, khutbah yang ditujukan untuk anak kecil belum tentu isinya menarik bagi mahasiswa.
Saat ini pun orang, dalam berbagai tingkatan logika dan pemikiran, sudah mempunyai preferensinya masing-masing, termasuk soal penceramah. Mungkin saya lancang, tetapi menurut saya sudah bukan zamannya Da'i Sejuta Umat seperti Alm. Zainuddin M.Z. dulu.
Orang sudah tahu bahwa pangsa pasar Ustad Jeffry adalah anak-anak muda, Arifin Ilham adalah keluarga muda, Mamah Dedeh untuk orang-orang paruh baya, dan Ustad Al-Habsy adalah untuk orang yang suka dengan Logat Arab (yang terakhir ini saya kutip dari Mas Santoso).
Masing-masing perlu bahasa yang berbeda. Saya pernah mendengar khutbah di daerah kampung, isinya sederhana dan cenderung mendoktrin, berbeda dengan khutbah di kampus di mana yabg berceramah adalah dosen bahkan profesor, menarik untuk mendengarkan masalah agama dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang mereka miliki, juga lebih dalam, ya karena tinglat pendidikan mereka. Tetapi mungkin hanya mereka yang paling tidak sudah berpendidikan yang mengerti khutbah tersebut, begitu juga sebaliknya apabila orang-orang yang berpendidikan ini mendengar khutbah di kampung tadi.
Hanya sekedar opini, mungkin bisa menjadi sebuah pertimbangan, setidaknya ada indikasi bahwa pendidikan di Indonesia belum merata.
--
Anton Hermansyah



