![]() |
| Alm. Zainuddin MZ |
Mulai bulan Ramadhan tahun ini, kebijakan masjid di kompleks saya adalah tidak setiap hari diadakan khutbah sebelum Shalat Tarawih. Mungkin kebijakan ini meghilangkan elemen tradisional yang biasa dirasakan sewaktu Tarawihan (ingat harus mencatat khutbah Tarawih sewaktu kecil dan minta tanda tangan Khatib -penceramah- ?).
Yang jelas kebijakan ini menguntungkan orang seperti saya yang jika pulang masih harus mengerjakan sesuatu di rumah. Daripada harus terkantuk-kantuk mendengar ceramah xP.
Mungkin ini sentimen saya pribadi tetapi sekedar bertanya apakah khutbah tersebut jika diadakan akan efektif?
Di masjid, setidaknya yang ada di kompleks rumah saya, yang datang ada bermacam-macam, mulai anak kecil, ABG, sampai kakek-nenek. Tingkat pemahaman, logika mereka berbeda, tentunya bahasa juga harus berbeda. Menurut saya mungkin ada sekelompok orang yang tidak mendengarkan isi khutbah tersebut, entah karena tidak mengerti, atau mungkin terlalu mengerti sehingga merasa diulang-ulang, khutbah yang ditujukan untuk anak kecil belum tentu isinya menarik bagi mahasiswa.
Saat ini pun orang, dalam berbagai tingkatan logika dan pemikiran, sudah mempunyai preferensinya masing-masing, termasuk soal penceramah. Mungkin saya lancang, tetapi menurut saya sudah bukan zamannya Da'i Sejuta Umat seperti Alm. Zainuddin M.Z. dulu.
Orang sudah tahu bahwa pangsa pasar Ustad Jeffry adalah anak-anak muda, Arifin Ilham adalah keluarga muda, Mamah Dedeh untuk orang-orang paruh baya, dan Ustad Al-Habsy adalah untuk orang yang suka dengan Logat Arab (yang terakhir ini saya kutip dari Mas Santoso).
Masing-masing perlu bahasa yang berbeda. Saya pernah mendengar khutbah di daerah kampung, isinya sederhana dan cenderung mendoktrin, berbeda dengan khutbah di kampus di mana yabg berceramah adalah dosen bahkan profesor, menarik untuk mendengarkan masalah agama dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang mereka miliki, juga lebih dalam, ya karena tinglat pendidikan mereka. Tetapi mungkin hanya mereka yang paling tidak sudah berpendidikan yang mengerti khutbah tersebut, begitu juga sebaliknya apabila orang-orang yang berpendidikan ini mendengar khutbah di kampung tadi.
Hanya sekedar opini, mungkin bisa menjadi sebuah pertimbangan, setidaknya ada indikasi bahwa pendidikan di Indonesia belum merata.
--
Anton Hermansyah

Tidak ada komentar:
Posting Komentar