Senin Kliwon 30 Januari 2017, liputan Jokowi lagi, kali ini sang presiden meresmikan fasilitas bebas biaya impor ke usaha kecil dan menengah (UKM), lokasinya ada di Dusun Tumang, Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.
Dari pusat Kota Boyolali, perlu waktu setengah jam untuk ke sana, kalau pagi, lebih siang waktunya akan bertambah sekitar 15 sampai 20 menit. Dari pasar Cepogo harus lurus lagi dan akhirnya masuk lewat jalan kecil yang naik turun karena lokasinya berada di kaki Gunung Merbabu.
Di antara rombongan wartawan, banyak dari kami yang bertanya, kenapa acara presiden dilaksanakan di sini? Jauh dari mana-mana.
Begitu masuk lokasi desa, banyak rumah yang memajang kerajinan tembaga. Sewaktu Jokowi berpidato di acara, beliau bilang 18 tahun yang lalu, berarti sekitar tahun 1999 saat masih mengurus bisnis mebel, dirinya masih rutin pergi ke Dusun Tumang untuk mencari hiasan tembaga.
"Saya dulu hampir tiap hari dolan (main) nya ke sini, mungkin 17-18 tahun lalu, mungkin lebih. Jadi kalau ada 1, 2, 3, 4 (orang) yang kenal masih wajar karena tiap hari saya main ke sini," Jokowi cerita.
Oh... Ternyata pak presiden punya nostalgia di sini, pantas tempat ini terpilih.
Tetapi bukan hanya kenangan masa lalu, begitu Jokowi memanggil tiga pengerajin lokal ke panggung, barulah semakin terkuak kehebatan dusun ini. Salah satunya adalah Pak Muhroji, 62, yang sudah Jokowi kenal sejak lama.
"Saya baru selesaikan pesanan untuk ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan untuk dikirim ke Sulawesi Utara," kata Muhroji yang mempunyai usaha CV Setya Budhy bersama 20 orang karyawan nya.
Dua pengerajin lain nya pun sama, mereka telah menembus pasar AS, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Ternyata karya dusun ini telah diterima oleh dunia.
Sewaktu acara utama seperti sambutan, kunjungan lapangan, dan wawancara media selesai Saya langsung menemui Pak Muhroji untuk bertanya lebih lanjut.
Beliau bercerita bahwa dalam sebulan dia bisa mengekspor produk seperti peralatan masak, kap lampu, dan ornamen dari tembaga sebanyak 1 kontainer dengan total nilai Rp 1 miliar tiap bulan, dari situ beliau ambil keuntungan sebesar 10 sampai 20 persen.
Saya kagum mendengarnya, namun di dalam hati muncullah pertanyaan kedua, "kenapa di dusun tengah kaki gunung begini bisa berkembang sebuah industri kerajinan logam?". Belum lagi pertanyaan dari mana mereka mendapatkan tembaganya
Pak Muhroji mengatakan Dusun Tumang berdiri tahun 1614 oleh seorang putra keraton Mataram Kuno. Setelah saya cari lagi melalui internet, namanya adalah "Rogosasi", putra dari raja Mataram saat itu Amangkurat I.
Selanjutnya Dusun Tumang banyak didatangi oleh empu-empu pembuat keris. Mereka punya banyak persediaan logam, penduduk setempat memanfaatkan nya untuk membuat peralatan dapur, sejak saat itu tradisi logam Dusun Tumang dimulai.
Tahun 1939, penduduk desa bernama Pawi mendapat kesempatan untuk belajar ke Yogyakarta mengenai ukir-ukiran. Sejak saat itu penduduk desa sedikit demi sedikit mulai membuat barang kerajinan.
"Saya sendiri mengambil alih usaha dari bapak di tahun 1976 dan mulai dengan ukir-ukiran, berarti sudah 40 tahun," Pak Muhroji menjelaskan ke Saya.
Sekarang ada 500 pengerajin dan 200 pemilik usaha kerajinan logam di Dusun Tumang yang punya sekitar 7.000 penduduk.
Dari mana mereka mendapat tembaga?
Di masa lalu para empu lah yang membawa stok tembaga, di masa modern penduduk dusun mendapatkan tembaga dari limbah kabel.
"Kami membeli limbah kabel dari para pemulung yang beroperasi di Solo dan Surabaya tapi untuk produk ekspor kami perlu bahan tembaga dengan kualitas lebih baik, maka harus impor dari Taiwan dan Tiongkok," Pak Muhroji menjelaskan.
Menurut General Manager PT Out of Asia Arung Lusika yang juga bergerak di industri kerajinan, membuat plat tembaga yang baik memang sulit dilakukan, bukan berarti tidak bisa tetapi jika dikerjakan di Indonesia harganya menjadi mahal.
"Kami sudah coba untuk buat pabrik lempengan logam di Surabaya, tapi ongkos produksinya lebih mahal tiga kali lipat dibanding Taiwan dan Tiongkok," kata Arung.
--
Anton Hermansyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar