Tentang Saya

10 Februari 2017

Kacaunya Dunia Permediaan

Rabu Wage 8 Februari 2017, sehari menjelang rapat desk bisnis di hari Kamis malam, teman-teman reporter masih memikirkan unek-unek -mungkin lebih tepatnya keluh kesah- apa yang akan disampaikan kepada para editor.

Sebulan lebih sedikit setelah proses integrasi online dan cetak, mungkin hasilnya secara statistik bagus, jumlah artikel naik signifikan karena setiap wartawan wajib menyumbang satu berita daring yang jumlahnya dibatasi 250 kata per artikel. Sore harinya barulah sibuk unruk menulis berita untuk cetak yang harus dikirimkan (sebaiknya) sebelum tenggat pukul 18:00.

Indah secara statistik, tetapi semua ini adalah hasil kerja dobel yang memang menguras tenaga.

Di tengah acara, Saya harus kerja cepat untuk ketik berita online sembari mendengarkan omongan narasumber, syukur jika satu berita dapat dikirim sebelum acara bertambah kompleks.

Setelah acara utama selesai, barulah Saya celingak-celinguk mencari narasumber tambahan untuk di wawancara. Berita cetak perlu 500-600 kata dengan jumlah narasumber lebih dari satu, tentunya dengan bahasan yang berbeda dengan artikel daring.

Kamis Kliwon 9 Februari 2017, waktu masih pukul 17.30, rapat masih jam 21.00, malas untuk langsung berangkat ke kantor Saya pun mengetik di ruang pers Bursa Efek Indonesia. Sekitar jam 18 wartawan Liputan6.com Melani datang.

Sebelumnya di bulan Desember kami bertemu di 'kandang' Liputan 6 pada saat paparan publik Elang Mahkota Teknologi (Emtek), perusaahan induk dari Liputan6.com dan media lainnya termasuk SCTV dan Indosiar.

Waktu paparan publik Saya terkesima dengan konglomerat ini, laporan keuangan nya sehat, punya banyak uang untuk ekspansi usahanya, dan mereka masih terus akan investasi di media, SCTV-nya, Indosiar-nya, Liputan6.com-nya, Vidio.com-nya, dan lain-lain. Mereka tidak punya media cetak sama sekali, daring semua.

"Enak ya di Liputan6.com nggak harus capek-capek bikin berita online dan cetak sekaligus, kepala nggak pecah," refleks Saya curhat ke Melani.

"Nggak juga, di Liputan6.com kami harus bikin konten video juga selain berita online, memang jarang untuk liputan bisnis, tapi untuk liputan nasional dan lifestyle perlu," Melani menjawab.

Oh, ternyata setiap media punya kesulitannya sendiri-sendiri, yang cetak berusaha memenuhi konten daringnya, dan yang sudah daring berusaha untuk mengejar multimedia-nya. Arahnya sama sebetulnya, transformasi ke daring yang punya konten lengkap, berita cepat, berita yang lebih panjang dan analitis, konten tulisan dan gamber hasil jurnalisme warga atau populernya citizen journalism, dan yang terakhir video, mungkin masih ada inovasi lainnya di masa depan.

Tetapi setiap media punya caranya masing-masing untuk mengejarnya dalam level operasional. Mengutip kata Bli Komang, panggilan akrab Anak Agung Gde Bagus Wahyu Dhyatmika Redaktur Pelaksana Tempo semuanya masih trial and error belum ada formula yang pasti.

Republika dan Tempo menganut sistem satu ruang berita tetapi berbeda redaktur, wartawan mereka harus kejar berita daring sebanyak-banyaknya dalam satu acara. Redakturnya dibagi, ada yang untuk daring dan cetak, nanti redaktur cetak bertugas untuk menjahit berita daring yang terpisah-pisah itu menjadi berita cetak yang lebih komprehensif.

Kompas, Media Group, dan MNC menerapkan sistem beda entitas bagi media cetak dan daringnya, bahkan perusahaan nya pun berbeda. Kompas cetak punya wartawan sendiri dan Kompas.com punya wartawan sendiri, begitu juga dengan Metrotvnews.com dengan Media Indonesia, dan Koran Sindo dengan Okezone dan Sindonews.com.

Beda entitas memang dianut oleh kelompok media yang punya uang dari bisnis lain, sehingga mereka masih kuat untuk menyokong media cetak dan daring nya. Karena dilema yang paling besar adalah masih banyak iklan masuk ke media cetak sementara daring masih belum kuat, bahkan merugi.

The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dan Kontan pernah mencoba menerapkan sistem dua entitas, tetapi dalam prakteknya antara wartawan daring dan cetak saling berebut berita, masalah lainnya klasik, uang. Bisnis bertahan 3 tahun baru berakhir sejak 2017 ini, Kontan 2 tahun berakhir sejak 2015, dan Jakarta Post 1 tahun berakhir sejak 2017, akhirnya sistem kembali lagi ke satu redaksi dengan konsekuensi kerja dua kali lipat, membuat berita cetak dan daring sekaligus.

Saya mencoba merangkum ranking Alexa dari media yang menerapkan strategi berbeda, memang tidak semuanya tergantung kepada strategi operasional di sisi redaksi, ada juga faktor seperti desain situs, segmentasi media itu sendiri, dan kecepatan server.

Nama Media - Alexa Rank
(Diambil tanggal 11 Februari 2017, ranking khusus Indonesia)

  • Daring penuh

    • Detik.com - 5

    • Liputan6.com - 9

    • Merdeka.com - 14

  • Beda entitas daring dan cetak

    • Tribunnews.com - 4

    • Kompas.com - 10

    • Okezone.com - 15

    • Sindonews.com - 38

    • Metrotvnews.com - 67
  • Satu ruang berita berbeda redaktur

    • Tempo.co - 28

    • Republika.co.id - 36
  • Satu redaksi mengerjakan keduanya

    • Bisnis.com - 149

    • Kontan.co.id - 222

    • Thejakartapost.com - 304
Media yang menerapkan pembedaan entitas ranking nya cenderung lebih tinggi dari strategi lainnya dan dengan ranking Alexa yang lebih tinggi, entitas daring akan lebih cepat mandiri karena para pengiklan tidak segan untuk masuk. Tetapi strategi ini membutuhkan uang yang jauh lebih tinggi daripada strategi lainnya.

Jika diperhatikan, media yang mengerjakan keduanya mempunyai ranking yang lebih rendah dibanding strategi lainnya, tetapi media-media ini adalah spesialis. Bisnis Indonesia adalah koran ekonomi terbaik di negeri ini, disusul oleh Kontan, The Jakarta Post adalah koran berbahasa Inggris nomor 1 di Indonesia.

Jumlah pembacanya tidak banyak, tetapi mereka rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan koran-koran ini dan buktinya ketiganya bertahan dengan baik. Terbatasnya jumlah pembaca juga yang membuat ranking Alexa mereka relatif stagnan meski sudah mencoba strategi beda entitas, Alexa stagnan, iklan pun terbatas.

Pak Ahmad Djauhar direktur Bisnis Indonesia dan Pak Endy Bayuni pemimpin redaksi The Jakarta Post sepertinya punya penantian yang sama, yaitu era di mana para pembacanya mau membayar untuk melihat artikel di situs berita. Meski hal ini sudah terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), untuk di Indonesia ini masih sulit untuk diprediksi.

--
Anton Hermansyah

01 Februari 2017

Dusun Tumang, tempat pengerajin tembaga kelas internasional

Senin Kliwon 30 Januari 2017, liputan Jokowi lagi, kali ini sang presiden meresmikan fasilitas bebas biaya impor ke usaha kecil dan menengah (UKM), lokasinya ada di Dusun Tumang, Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Dari pusat Kota Boyolali, perlu waktu setengah jam untuk ke sana, kalau pagi, lebih siang waktunya akan bertambah sekitar 15 sampai 20 menit. Dari pasar Cepogo harus lurus lagi dan akhirnya masuk lewat jalan kecil yang naik turun karena lokasinya berada di kaki Gunung Merbabu.

Di antara rombongan wartawan, banyak dari kami yang bertanya, kenapa acara presiden dilaksanakan di sini? Jauh dari mana-mana.

Begitu masuk lokasi desa, banyak rumah yang memajang kerajinan tembaga. Sewaktu Jokowi berpidato di acara, beliau bilang 18 tahun yang lalu, berarti sekitar tahun 1999 saat masih mengurus bisnis mebel, dirinya masih rutin pergi ke Dusun Tumang untuk mencari hiasan tembaga.

"Saya dulu hampir tiap hari dolan (main) nya ke sini, mungkin 17-18 tahun lalu, mungkin lebih. Jadi kalau ada 1, 2, 3, 4 (orang) yang kenal masih wajar karena tiap hari saya main ke sini," Jokowi cerita.

Oh... Ternyata pak presiden punya nostalgia di sini, pantas tempat ini terpilih.

Tetapi bukan hanya kenangan masa lalu, begitu Jokowi memanggil tiga pengerajin lokal ke panggung, barulah semakin terkuak kehebatan dusun ini. Salah satunya adalah Pak Muhroji, 62, yang sudah Jokowi kenal sejak lama.

"Saya baru selesaikan pesanan untuk ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan untuk dikirim ke Sulawesi Utara," kata Muhroji yang mempunyai usaha CV Setya Budhy bersama 20 orang karyawan nya.

Dua pengerajin lain nya pun sama, mereka telah menembus pasar AS, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Ternyata karya dusun ini telah diterima oleh dunia.

Sewaktu acara utama seperti sambutan, kunjungan lapangan, dan wawancara media selesai Saya langsung menemui Pak Muhroji untuk bertanya lebih lanjut.

Beliau bercerita bahwa dalam sebulan dia bisa mengekspor produk seperti peralatan masak, kap lampu, dan ornamen dari tembaga sebanyak 1 kontainer dengan total nilai Rp 1 miliar tiap bulan, dari situ beliau ambil keuntungan sebesar 10 sampai 20 persen.

Saya kagum mendengarnya, namun di dalam hati muncullah pertanyaan kedua, "kenapa di dusun tengah kaki gunung begini bisa berkembang sebuah industri kerajinan logam?". Belum lagi pertanyaan dari mana mereka mendapatkan tembaganya

Pak Muhroji mengatakan Dusun Tumang berdiri tahun 1614 oleh seorang putra keraton Mataram Kuno. Setelah saya cari lagi melalui internet, namanya adalah "Rogosasi", putra dari raja Mataram saat itu Amangkurat I.

Selanjutnya Dusun Tumang banyak didatangi oleh empu-empu pembuat keris. Mereka punya banyak persediaan logam, penduduk setempat memanfaatkan nya untuk membuat peralatan dapur, sejak saat itu tradisi logam Dusun Tumang dimulai.

Tahun 1939, penduduk desa bernama Pawi mendapat kesempatan untuk belajar ke Yogyakarta mengenai ukir-ukiran. Sejak saat itu penduduk desa sedikit demi sedikit mulai membuat barang kerajinan.

"Saya sendiri mengambil alih usaha dari bapak di tahun 1976 dan mulai dengan ukir-ukiran, berarti sudah 40 tahun," Pak Muhroji menjelaskan ke Saya.

Sekarang ada 500 pengerajin dan 200 pemilik usaha kerajinan logam di Dusun Tumang yang punya sekitar 7.000 penduduk.

Dari mana mereka mendapat tembaga?

Di masa lalu para empu lah yang membawa stok tembaga, di masa modern penduduk dusun mendapatkan tembaga dari limbah kabel.

"Kami membeli limbah kabel dari para pemulung yang beroperasi di Solo dan Surabaya tapi untuk produk ekspor kami perlu bahan tembaga dengan kualitas lebih baik, maka harus impor dari Taiwan dan Tiongkok," Pak Muhroji menjelaskan.

Menurut General Manager PT Out of Asia Arung Lusika yang juga bergerak di industri kerajinan, membuat plat tembaga yang baik memang sulit dilakukan, bukan berarti tidak bisa tetapi jika dikerjakan di Indonesia harganya menjadi mahal.

"Kami sudah coba untuk buat pabrik lempengan logam di Surabaya, tapi ongkos produksinya lebih mahal tiga kali lipat dibanding Taiwan dan Tiongkok," kata Arung.

--
Anton Hermansyah