Tentang Saya

21 Maret 2017

Membuat Paspor di ULP Karang Tengah

Situasi di Unit Layanan Paspor (ULP) Karang Tengah

Paspor saya sudah lama habis dari Oktober 2016, karena diberi libur pengganti oleh kantor maka saya coba untuk perpanjang paspor. Daripada harus jauh-jauh ke Warung Buncit, saya memutuskan untuk ke Unit Layanan Paspor (ULP) Karang Tengah yang ada di dekat rumah.

Senin Wage, 20 Maret 2017, datang ke ULP jam 10.00 langsung ditolak satpam.

"Maaf Mas, nomor antriannya sudah habis dari jam 7.00 pagi, ini formulirnya nanti di isi, besok datang ke sini pagi ya, antrian dibuka jam 6.00," kata satpam.

Saya cuma bisa melongo.

Satpam juga berkata untuk bawa:

  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan fotokopinya
  2. Kartu Keluarga (KK) dan fotokopinya
  3. Akta kelahiran atau ijazah sekolah dan fotokopinya
  4. Paspor lama dan fotokopinya
  5. Formulir permohonan paspor
  6. Surat pernyataan tidak akan menggunakan paspor untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) + tanda tangan di atas materai

Semua fotokopi harus di kertas A4 dan jangan dipotong. Untuk materai jangan kuatir karena bisa dibeli di Indomaret seberang.

Selasa Kliwon, 21 Maret 2017, Saya bangun pagi jam 5.30, sarapan, berangkat dan sampai di sana jam 6.30. Ternyata sudah banyak yang antri, Saya pun menyerahkan fotokopi dokumen dan formulir yang sudah di isi ke satpam yang kemudian memasukkan ke map kuning.

Dalam sehari, ULP Karang Tengah hanya menerima 140 antrian, terdiri atas 120 antrian biasa dan 20 antrian prioritas yaitu orang lanjut usia di atas 60 tahun dan ibu hamil. Biarpun Saya merasa sudah datang pagi, tetapi Saya ternyata ada di urutan 94, luar biasa memang.

Saya pun baru dipanggil jam 10.30, petugas di bawah memverifikasi dokumen saya dengan aslinya.

"Langsung foto ke atas ya," petugas bilang.

Di atas harus menunggu lagi, mungkin sampai 30 menit untuk dipanggil. Petugas mengambil foto dan sidik jari Saya.

Seharusnya, nanti setelah foto Saya akan menerima resi pembayaran, nantinya resi itu akan menjadi bukti untuk membayar di Bank Negara Indonesia (BNI). Tidak boleh bayar langsung sekarang, yang menurut saya malah lebih merepotkan, meski bisa mencegah pungutan liar (pungli).

Kemudian kejadian buruk terjadi.

"Sedang ada eror pada sistem pembayaran, kalau sudah online lagi akan kami cetak resminya, tapi kami belum tahu kapan," petugas berkata.

Saya bertanya kembali, kira-kira 'kapan' itu pukul berapa?

"Mungkin besok, atau nanti datang lagi saja jam 15.00 ke sini, nanti kami titip di tempat fotokopi," jawab petugas.

Ternyata memang jam 15.00 masih belum selesai, saya pun baru bisa ambil besok pagi nya, di hari Rabu Legi, 22 Maret 2017 jam 8.00. Saya ambil di tempat fotokopi, tanda tangan paspor dan pulang membawa paspor baru.

--
Anton Hermansyah

10 Februari 2017

Kacaunya Dunia Permediaan

Rabu Wage 8 Februari 2017, sehari menjelang rapat desk bisnis di hari Kamis malam, teman-teman reporter masih memikirkan unek-unek -mungkin lebih tepatnya keluh kesah- apa yang akan disampaikan kepada para editor.

Sebulan lebih sedikit setelah proses integrasi online dan cetak, mungkin hasilnya secara statistik bagus, jumlah artikel naik signifikan karena setiap wartawan wajib menyumbang satu berita daring yang jumlahnya dibatasi 250 kata per artikel. Sore harinya barulah sibuk unruk menulis berita untuk cetak yang harus dikirimkan (sebaiknya) sebelum tenggat pukul 18:00.

Indah secara statistik, tetapi semua ini adalah hasil kerja dobel yang memang menguras tenaga.

Di tengah acara, Saya harus kerja cepat untuk ketik berita online sembari mendengarkan omongan narasumber, syukur jika satu berita dapat dikirim sebelum acara bertambah kompleks.

Setelah acara utama selesai, barulah Saya celingak-celinguk mencari narasumber tambahan untuk di wawancara. Berita cetak perlu 500-600 kata dengan jumlah narasumber lebih dari satu, tentunya dengan bahasan yang berbeda dengan artikel daring.

Kamis Kliwon 9 Februari 2017, waktu masih pukul 17.30, rapat masih jam 21.00, malas untuk langsung berangkat ke kantor Saya pun mengetik di ruang pers Bursa Efek Indonesia. Sekitar jam 18 wartawan Liputan6.com Melani datang.

Sebelumnya di bulan Desember kami bertemu di 'kandang' Liputan 6 pada saat paparan publik Elang Mahkota Teknologi (Emtek), perusaahan induk dari Liputan6.com dan media lainnya termasuk SCTV dan Indosiar.

Waktu paparan publik Saya terkesima dengan konglomerat ini, laporan keuangan nya sehat, punya banyak uang untuk ekspansi usahanya, dan mereka masih terus akan investasi di media, SCTV-nya, Indosiar-nya, Liputan6.com-nya, Vidio.com-nya, dan lain-lain. Mereka tidak punya media cetak sama sekali, daring semua.

"Enak ya di Liputan6.com nggak harus capek-capek bikin berita online dan cetak sekaligus, kepala nggak pecah," refleks Saya curhat ke Melani.

"Nggak juga, di Liputan6.com kami harus bikin konten video juga selain berita online, memang jarang untuk liputan bisnis, tapi untuk liputan nasional dan lifestyle perlu," Melani menjawab.

Oh, ternyata setiap media punya kesulitannya sendiri-sendiri, yang cetak berusaha memenuhi konten daringnya, dan yang sudah daring berusaha untuk mengejar multimedia-nya. Arahnya sama sebetulnya, transformasi ke daring yang punya konten lengkap, berita cepat, berita yang lebih panjang dan analitis, konten tulisan dan gamber hasil jurnalisme warga atau populernya citizen journalism, dan yang terakhir video, mungkin masih ada inovasi lainnya di masa depan.

Tetapi setiap media punya caranya masing-masing untuk mengejarnya dalam level operasional. Mengutip kata Bli Komang, panggilan akrab Anak Agung Gde Bagus Wahyu Dhyatmika Redaktur Pelaksana Tempo semuanya masih trial and error belum ada formula yang pasti.

Republika dan Tempo menganut sistem satu ruang berita tetapi berbeda redaktur, wartawan mereka harus kejar berita daring sebanyak-banyaknya dalam satu acara. Redakturnya dibagi, ada yang untuk daring dan cetak, nanti redaktur cetak bertugas untuk menjahit berita daring yang terpisah-pisah itu menjadi berita cetak yang lebih komprehensif.

Kompas, Media Group, dan MNC menerapkan sistem beda entitas bagi media cetak dan daringnya, bahkan perusahaan nya pun berbeda. Kompas cetak punya wartawan sendiri dan Kompas.com punya wartawan sendiri, begitu juga dengan Metrotvnews.com dengan Media Indonesia, dan Koran Sindo dengan Okezone dan Sindonews.com.

Beda entitas memang dianut oleh kelompok media yang punya uang dari bisnis lain, sehingga mereka masih kuat untuk menyokong media cetak dan daring nya. Karena dilema yang paling besar adalah masih banyak iklan masuk ke media cetak sementara daring masih belum kuat, bahkan merugi.

The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dan Kontan pernah mencoba menerapkan sistem dua entitas, tetapi dalam prakteknya antara wartawan daring dan cetak saling berebut berita, masalah lainnya klasik, uang. Bisnis bertahan 3 tahun baru berakhir sejak 2017 ini, Kontan 2 tahun berakhir sejak 2015, dan Jakarta Post 1 tahun berakhir sejak 2017, akhirnya sistem kembali lagi ke satu redaksi dengan konsekuensi kerja dua kali lipat, membuat berita cetak dan daring sekaligus.

Saya mencoba merangkum ranking Alexa dari media yang menerapkan strategi berbeda, memang tidak semuanya tergantung kepada strategi operasional di sisi redaksi, ada juga faktor seperti desain situs, segmentasi media itu sendiri, dan kecepatan server.

Nama Media - Alexa Rank
(Diambil tanggal 11 Februari 2017, ranking khusus Indonesia)

  • Daring penuh

    • Detik.com - 5

    • Liputan6.com - 9

    • Merdeka.com - 14

  • Beda entitas daring dan cetak

    • Tribunnews.com - 4

    • Kompas.com - 10

    • Okezone.com - 15

    • Sindonews.com - 38

    • Metrotvnews.com - 67
  • Satu ruang berita berbeda redaktur

    • Tempo.co - 28

    • Republika.co.id - 36
  • Satu redaksi mengerjakan keduanya

    • Bisnis.com - 149

    • Kontan.co.id - 222

    • Thejakartapost.com - 304
Media yang menerapkan pembedaan entitas ranking nya cenderung lebih tinggi dari strategi lainnya dan dengan ranking Alexa yang lebih tinggi, entitas daring akan lebih cepat mandiri karena para pengiklan tidak segan untuk masuk. Tetapi strategi ini membutuhkan uang yang jauh lebih tinggi daripada strategi lainnya.

Jika diperhatikan, media yang mengerjakan keduanya mempunyai ranking yang lebih rendah dibanding strategi lainnya, tetapi media-media ini adalah spesialis. Bisnis Indonesia adalah koran ekonomi terbaik di negeri ini, disusul oleh Kontan, The Jakarta Post adalah koran berbahasa Inggris nomor 1 di Indonesia.

Jumlah pembacanya tidak banyak, tetapi mereka rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan koran-koran ini dan buktinya ketiganya bertahan dengan baik. Terbatasnya jumlah pembaca juga yang membuat ranking Alexa mereka relatif stagnan meski sudah mencoba strategi beda entitas, Alexa stagnan, iklan pun terbatas.

Pak Ahmad Djauhar direktur Bisnis Indonesia dan Pak Endy Bayuni pemimpin redaksi The Jakarta Post sepertinya punya penantian yang sama, yaitu era di mana para pembacanya mau membayar untuk melihat artikel di situs berita. Meski hal ini sudah terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), untuk di Indonesia ini masih sulit untuk diprediksi.

--
Anton Hermansyah

01 Februari 2017

Dusun Tumang, tempat pengerajin tembaga kelas internasional

Senin Kliwon 30 Januari 2017, liputan Jokowi lagi, kali ini sang presiden meresmikan fasilitas bebas biaya impor ke usaha kecil dan menengah (UKM), lokasinya ada di Dusun Tumang, Desa Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Dari pusat Kota Boyolali, perlu waktu setengah jam untuk ke sana, kalau pagi, lebih siang waktunya akan bertambah sekitar 15 sampai 20 menit. Dari pasar Cepogo harus lurus lagi dan akhirnya masuk lewat jalan kecil yang naik turun karena lokasinya berada di kaki Gunung Merbabu.

Di antara rombongan wartawan, banyak dari kami yang bertanya, kenapa acara presiden dilaksanakan di sini? Jauh dari mana-mana.

Begitu masuk lokasi desa, banyak rumah yang memajang kerajinan tembaga. Sewaktu Jokowi berpidato di acara, beliau bilang 18 tahun yang lalu, berarti sekitar tahun 1999 saat masih mengurus bisnis mebel, dirinya masih rutin pergi ke Dusun Tumang untuk mencari hiasan tembaga.

"Saya dulu hampir tiap hari dolan (main) nya ke sini, mungkin 17-18 tahun lalu, mungkin lebih. Jadi kalau ada 1, 2, 3, 4 (orang) yang kenal masih wajar karena tiap hari saya main ke sini," Jokowi cerita.

Oh... Ternyata pak presiden punya nostalgia di sini, pantas tempat ini terpilih.

Tetapi bukan hanya kenangan masa lalu, begitu Jokowi memanggil tiga pengerajin lokal ke panggung, barulah semakin terkuak kehebatan dusun ini. Salah satunya adalah Pak Muhroji, 62, yang sudah Jokowi kenal sejak lama.

"Saya baru selesaikan pesanan untuk ekspor ke Amerika Serikat (AS) dan untuk dikirim ke Sulawesi Utara," kata Muhroji yang mempunyai usaha CV Setya Budhy bersama 20 orang karyawan nya.

Dua pengerajin lain nya pun sama, mereka telah menembus pasar AS, Inggris, Jepang, dan Korea Selatan. Ternyata karya dusun ini telah diterima oleh dunia.

Sewaktu acara utama seperti sambutan, kunjungan lapangan, dan wawancara media selesai Saya langsung menemui Pak Muhroji untuk bertanya lebih lanjut.

Beliau bercerita bahwa dalam sebulan dia bisa mengekspor produk seperti peralatan masak, kap lampu, dan ornamen dari tembaga sebanyak 1 kontainer dengan total nilai Rp 1 miliar tiap bulan, dari situ beliau ambil keuntungan sebesar 10 sampai 20 persen.

Saya kagum mendengarnya, namun di dalam hati muncullah pertanyaan kedua, "kenapa di dusun tengah kaki gunung begini bisa berkembang sebuah industri kerajinan logam?". Belum lagi pertanyaan dari mana mereka mendapatkan tembaganya

Pak Muhroji mengatakan Dusun Tumang berdiri tahun 1614 oleh seorang putra keraton Mataram Kuno. Setelah saya cari lagi melalui internet, namanya adalah "Rogosasi", putra dari raja Mataram saat itu Amangkurat I.

Selanjutnya Dusun Tumang banyak didatangi oleh empu-empu pembuat keris. Mereka punya banyak persediaan logam, penduduk setempat memanfaatkan nya untuk membuat peralatan dapur, sejak saat itu tradisi logam Dusun Tumang dimulai.

Tahun 1939, penduduk desa bernama Pawi mendapat kesempatan untuk belajar ke Yogyakarta mengenai ukir-ukiran. Sejak saat itu penduduk desa sedikit demi sedikit mulai membuat barang kerajinan.

"Saya sendiri mengambil alih usaha dari bapak di tahun 1976 dan mulai dengan ukir-ukiran, berarti sudah 40 tahun," Pak Muhroji menjelaskan ke Saya.

Sekarang ada 500 pengerajin dan 200 pemilik usaha kerajinan logam di Dusun Tumang yang punya sekitar 7.000 penduduk.

Dari mana mereka mendapat tembaga?

Di masa lalu para empu lah yang membawa stok tembaga, di masa modern penduduk dusun mendapatkan tembaga dari limbah kabel.

"Kami membeli limbah kabel dari para pemulung yang beroperasi di Solo dan Surabaya tapi untuk produk ekspor kami perlu bahan tembaga dengan kualitas lebih baik, maka harus impor dari Taiwan dan Tiongkok," Pak Muhroji menjelaskan.

Menurut General Manager PT Out of Asia Arung Lusika yang juga bergerak di industri kerajinan, membuat plat tembaga yang baik memang sulit dilakukan, bukan berarti tidak bisa tetapi jika dikerjakan di Indonesia harganya menjadi mahal.

"Kami sudah coba untuk buat pabrik lempengan logam di Surabaya, tapi ongkos produksinya lebih mahal tiga kali lipat dibanding Taiwan dan Tiongkok," kata Arung.

--
Anton Hermansyah

27 Januari 2017

Meliput Antasari Azhar


Kamis Legi 26 Januari 2017, padahal sebetulnya tidak ada acara yang bertemakan bisnis di Istana Presiden tapi Saya harus ke sana karena Haeril, wartawan desk nasional sedang sakit. Agenda hari ini besar untuk desk nasional karena ada mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Antasari Azhar datang ke istana menemui Presiden Jokowi.
Jadwal Antasari adalah pukul 16.00, sebelumnya jam 14.00, Kapolda Metro Jaya Mochamad Iriawan atau Iwan Bule datang dipanggil Jokowi.

Instruksi editor desk nasional adalah, "fokus pada Antasari, tanya dia mau minta tolong apa pada Jokowi".

"Oke mas, berarti Kapolda skip ya, langsung ke Antasari," jawab Saya.

Jam 14.30 bapaknya datang, tetapi tidak mau bicara banyak. "Saya ke sini cuma untuk terima kasih kok, karena sudah diberikan grasi oleh presiden," jawabnya sewaktu ditanya.

Grasi yang diberikan presiden tanggal 23 Januari memang berharga untuk Antasari karena bebas dari keharusan lapor karena status bebas bersyarat.

Dihukum 18 tahun penjara di 2010, Antasari sudah menjalani kurungan selama 7 tahun 6 bulan. Kalau ditambah 4 tahun 6 bulan remisi yang diterima selama masih masa tahanan artinya Antasari sudah menjalani hukuman selama 12 tahun atau sepertiga masa hukuman.

Setelah sepertiga masa hukuman, Antasari bebas bersyarat di November 2016 tapi tetap harus lapor tiap bulan sampai 2022. Dengan adanya grasi 6 tahun artinya Antasari bebas penuh.

Tapi tim pengacara Antasari masih mau untuk mengajukan peninjauan kembali (PK) ke Mahkamah Agung dan minta ke polisi agar barang bukti untuk dibuka kembali.

Kapolda keluar jam 15.30 tapi Saya tidak gubris, fokus tetap di Antasari. Beberapa wartawan yang sudah wawancara Kapolda hanya bilang bahwa Kapolda ditanya Jokowi soal pengamanan kota.

Setelah berpindah-pindah tempat mencegat dari Istana Merdeka, ke Kantor Presiden, lalu ke teras Istana Negara, jaraknya memang dekat tapi capek juga, Saya bersama wartawan lain tunggu Antasari keluar.

Antasari keluar pukul 16.45, tidak mau berbicara apa-apa selain:
Sssst, kamu mau tau aja

Kemudian langsung naik mobil tanpa penjelasan lebih lanjut.

Saya tulis berita seadanya bahwa Antasari bungkam. Tapi setelah saya kirim berita, Mbak Arien, redaktur desk Nasional yang bertugas edit berita Saya bertanya.

"Ada foto reserse bawa buku sampul merah tebal dan ada muka Antasari di sampulnya, Lo liat itu nggak?" Mbak Arien tanya.

"Tadi cuma fokus di Antasari saja, makanya tidak lihat rombongan Kapolda. Tapi memang tadi ada yang sebar foto itu sih," Saya jawab.

Mbak Arien kemudian memberikan saya tautan dari berita Kompas, bahwa kedatangan Kapolda ada hubungannya dengan Antasari. Di tahun 2009 dan 2010, Iwan Bule masih menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, dialah yang menangani kasus Antasari.

"Alamak, coba tahu sejarah kasus ini dari awal," pikir Saya sembari menyesal tidak ikut wawancara Kapolda.

Mbak Arien menyuruh saya untuk tidak pulang dulu padahal sudah jam 19.30, kontak orang istana, Juru Bicara Presiden Johan Budi dan pengacara Antasari Boyamin Saiman, tanya kenapa Antasari datang dan apa isi pembicaraan. Keduanya sewaktu di telepon hanya ada sibuk, Johan Budi akhirnya menjawab WhatsApp saya jam 19.59.

"Mas Anton..saya tdk tahu karena tdk ikut," jawabnya, saya pun lesu.
Mbak Arien tetap ngotot harus ada keterangan, akhirnya setelah mencoba berkali-kali dan menemui nada sibuk, Boyamin mengangkat telepon Saya jam 20.45.

"Mas Anton, saya diperintahkan Pak Antasari untuk tidak bicara soal pertemuan ini, yang saya bisa katakan adalah pertemuan ini adalah untuk berterima kasih karena grasi yang diberikan," jawaban Boyamin di awal pembicaraan.

Setelah di pancing sedikit apa maksud presiden juga memanggil Iwan Bule pada saat bersamaan, Boyamin sedikit lebih terbuka. Menjelaskan bahwa pihaknya sedang butuh bantuan polisi untuk membuka lagi barang bukti.

"Dulu kan Iwan Bule yang tangani kasus Pak Antasari, mungkin Pak Jokowi mikirnya sekalian saja dipanggil keduanya," jawabnya.

Saya sampaikan ke Mbak Arien dan dia puas dengan itu. Pukul 21.30 akhirnya Saya bisa pulang ke rumah.

--
Anton Hermansyah