Tentang Saya

03 Agustus 2011

Khutbah yang Efektif

Alm. Zainuddin MZ

Mulai bulan Ramadhan tahun ini, kebijakan masjid di kompleks saya adalah tidak setiap hari diadakan khutbah sebelum Shalat Tarawih. Mungkin kebijakan ini meghilangkan elemen tradisional yang biasa dirasakan sewaktu Tarawihan (ingat harus mencatat khutbah Tarawih sewaktu kecil dan minta tanda tangan Khatib -penceramah- ?).

Yang jelas kebijakan ini menguntungkan orang seperti saya yang jika pulang masih harus mengerjakan sesuatu di rumah. Daripada harus terkantuk-kantuk mendengar ceramah xP.

Mungkin ini sentimen saya pribadi tetapi sekedar bertanya apakah khutbah tersebut jika diadakan akan efektif?

Di masjid, setidaknya yang ada di kompleks rumah saya, yang datang ada bermacam-macam, mulai anak kecil, ABG, sampai kakek-nenek. Tingkat pemahaman, logika mereka berbeda, tentunya bahasa juga harus berbeda. Menurut saya mungkin ada sekelompok orang yang tidak mendengarkan isi khutbah tersebut, entah karena tidak mengerti, atau mungkin terlalu mengerti sehingga merasa diulang-ulang, khutbah yang ditujukan untuk anak kecil belum tentu isinya menarik bagi mahasiswa.

Saat ini pun orang, dalam berbagai tingkatan logika dan pemikiran, sudah mempunyai preferensinya masing-masing, termasuk soal penceramah. Mungkin saya lancang, tetapi menurut saya sudah bukan zamannya Da'i Sejuta Umat seperti Alm. Zainuddin M.Z. dulu.

Orang sudah tahu bahwa pangsa pasar Ustad Jeffry adalah anak-anak muda, Arifin Ilham adalah keluarga muda, Mamah Dedeh untuk orang-orang paruh baya, dan Ustad Al-Habsy adalah untuk orang yang suka dengan Logat Arab (yang terakhir ini saya kutip dari Mas Santoso).

Masing-masing perlu bahasa yang berbeda. Saya pernah mendengar khutbah di daerah kampung, isinya sederhana dan cenderung mendoktrin, berbeda dengan khutbah di kampus di mana yabg berceramah adalah dosen bahkan profesor, menarik untuk mendengarkan masalah agama dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang mereka miliki, juga lebih dalam, ya karena tinglat pendidikan mereka. Tetapi mungkin hanya mereka yang paling tidak sudah berpendidikan yang mengerti khutbah tersebut, begitu juga sebaliknya apabila orang-orang yang berpendidikan ini mendengar khutbah di kampung tadi.

Hanya sekedar opini, mungkin bisa menjadi sebuah pertimbangan, setidaknya ada indikasi bahwa pendidikan di Indonesia belum merata.

--
Anton Hermansyah

01 Agustus 2011

Beramai Ramai Lapar di Malam Hari

image

Jika saya berada di 10 tahun yang lalu dan tiba-tiba merasa kelaparan jam 10 malam, kira-kira apa yang bisa saya lakukan?

Pertama mungkin mencari makanan di dapur. Kedua, mencari tukang nasi goreng atau bakso yang masih jualan di malam hari. Ketiga, ke restoran cepat saji terdekat?

Opsi ketiga mungkin tidak akan berhasil, begitu saya sampai di sana karyawan yang sedang bersih-bersih akan mengatakan, "maaf mas, sudah tutup". Ya iyalah, jam 10 malam 10 tahun yang lalu.

Definisi dari jam operasional restoran cepat saji jaman dahulu adalah jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Malah seingat saya, kita tidak akan bisa mendapatkan makanan standar jika sudah di atas jam 9. Nasi sudah dingin, ayam hanya sisa, burger pun sudah malas dibuat, jika dibuat mungkin hanya setengah hati.

Lain dulu lain sekarang, restoran siap saji pun sekarang menganut operasional 24 jam. KFC dan McDonald's sudah melakukannya. Hasilnya, memuaskan dan restoran penuh.

Sewaktu di Makassar (dahulu dikenal dengan nama "Ujungpandang") beberapa kali saya ke KFC malam hari jam 11 dan jam 12, restoran tersebut masih (atau memang sedang) ramai-ramainya.

Foto di posting ini adalah foto yang saya ambil di McDonald's di Gaplek, delat rumah saya. Foto ini diambil jam 10.30 dan percaya atau tidak, sewaktu jam 10 saat sudah mengambil makanan, saya hampir tidak kebagian tempat duduk, itu pun menumpang makan dengan orang lain.

Saya membayangkan, apabila manajer restoran tersebut masih menganut jam operasional yang tradisional maka ia akan kehilangan berpuluh-puluh pesanan dan beberapa puluh juta, dalam satu hari (ya, hitungan hari). Entah berapa opportunity cost yang lepas dalam sebulan.

Siapa Konsumennya?


Di McD tersebut saya melihat banyak didominasi para ABG dan beberapa orang paruh baya yang berkumpul, mungkin mereka sehabis malam mingguan, kegiatan klub atau apalah yang membuat mereka capai di malam hari. Sedikit heran apakah orang tua para ABG tersebut tidak memberlakukan jam malam?

Mereka perlu makanan, tidak usah terlalu berat, minuman sekadarnya dan waktu duduk yang lama. Jelas format menu restoran cepat saji yang lama tidak akan mendukung hal ini. Terlalu mahal, terlalu besar dan kurang banyak pilihan untuk sekedar camilan.

Kursi yang digunakan juga bukan tipe kursi yang nyaman untuk duduk berlama-lama, keras saya rasa sekarang pun juga masih, tetapi kursi-kursi restoran cepat saji saat ini lebih ergonomis.

Piring jelas bukan sebuah pilihan yang praktis di saat ini. Terlalu berat untuk dibawa oleh kosumen, terlalu besar untuk di meja yang kecil dan berisiko untuk pecah.

Saat ini paradigma restoran cepat saji di Indonesia, khususnya di kota besar telah berubah, konsumen bisa datang kapan saja, dan di mana ada konsumen berarti akan ada uang mengalir, termasuk di malam hari.
--
Anton Hermansyah