Tentang Saya

11 Oktober 2011

Tukang Pangsit punya Xenia

Sewaktu saya pulang, saya melihat sebuah Daihatsu Xenia (maaf saya selalu menyebut merek) di tempat tukang pangsit langganan saya.

Tukang pangsit ini suami dan istri, mungkin umur mereka sudah 30 tahun lebih sekarang. Saya ingat sewaktu saya SMP, bersama pakde dan bude (orang tua si Mas Pangsit ini) mereka merintis jualan pangsit di daerah sekitar rumah saya. Setelah cukup lama, Mas dan Mbak berjualan di lokasi terpisah dari Pakde dan Bude. Ternyata lokasi itu sangat bagus, ada pabrik tekstil dan Akademi Pariwisata Sahid di dekat situ.

Cerita yang sudah berlangsung sepuluh tahun lebih, saya ingat beberapa kali si Mbak meminjam telepon rumah saya untuk menelepon orang tuanya di kampung dahulu. Saya juga melihat perkembangan warung mereka yang tadinya hanya atap yang disangkutkan ke gerobak dengan kursi dan meja ala kadarnya, sampai mereka membeli tanah di belakang tempat jualan tersebut dan membangunnya menjadi rumah, rumah itu akhirnya ditingkat. Suami istri yang tadinya berjualan berdua saja, sekarang sudah dibantu dua pegawainya.

Sampai cerita itu berlanjut di hari saya melihat Xenia di garasi (yang kalau siang menjadi restoran) mereka, dan masih akan berlanjut.

Sebuah Xenia mungkin adalah mobil sejuta umat, 10 tahun pun bukan waktu yang singkat. Tetapi bukan merek mobilnya yang saya nilai, usaha mereka yang dari nol itulah nilai kebanggaan sesungguhnya, hasil menekuni usaha pangsit.

--
Anton Hermansyah

05 September 2011

Orang Asing pun Sudah di Pinggiran

Di lingkungan sekitar saya tinggal, daerah Pamulang dan Ciputat memang sudah tidak bisa dibilang Jakarta lagi, tapi kalau saya ke luar kota tetap saja disebutnya 'Orang Jakarta'.

Bicara soal Jakarta, dua daerah yang saya kagumi adalah Blok M dan Kemang, kenapa?

Dua daerah itu hidup sampai malam, dan banyak orang asing di sana. Karena banyak orang asing, tentunya ada restoran-restoran untuk memuaskan dahaga orang-orang itu terhadap makanan kampung halamannya. Bahkan di Blok M sudah banyak supermarket yang khusus menyediakan kebutuhan ekspatriat, seperti supermarket Korea dan Jepang. Pantas daerah ini dijuluki Little Tokyo.

Namun belakangan di daerah Pamulang dan Ciputat saya sudah bisa menemukan dua restoran yang menyediakan makanan asing. Di Pamulang ada restoran Jepang yaitu Take Tei ( secara harfiah artinya 'Restoran Bambu') dan di daerah Cireundeu (masih termasuk kecamatan Ciputat) ada restoran Italia, Signora Pasta (artinya 'Pasta Nyonya').

Soal masakan, Jepang dan Italia memang sudah umum dimakan oleh orang Indonesia, di kaki lima pun kita bisa menemukan masakan Jepang, Pizza dan Spaghetti di rumah pun sudah gampang dibuat. Yabg istimewa adalah kedua restoran ini dimiliki oleh orang asing yang memang asli dari negaranya, Jepang dan Italia.

Kadang saya bingung, kok bisa-bisanya mereka terdampar di daerah sejauh ini? Tetapi kehadiran mereka membuka wawasan akan masakan-masakan khas negara tersebut yang masih jarang dicoba oleh orang Indonesia.

Selama ini kita hanya mengenal masakan Jepang sebatas beef teriyaki, tempura, atau sushi. Take Tei menawarkan menu-menu rumahan seperti ikan sanma, oyakotoji (nasi di mangkuk dengan telur ayak dan ayam), dan soba (mi besar dari tepung beras). Tentunya menu-menu umum seperti katsu dan teriyaki juga disediakan (untuk mereka yang konvensional).

Signora Pasta menawarkan menu-menu otentik Italia, kita akan merasa penasaran dengan pizza margherita, tidak ada meat lover atau american favourite di sini, padahal jenis margherita inilah resep pizza paling dasar hanya ada saus tomat, keju mozarella, dan beberapa potong daging. Selain itu masih ada pasta rigatoni (mirip macaroni tapi ini ukuran besar), caneloni (daging dengan saus keju dibungkus dengan kulit roti), fusilli (pasta berbentuk spiral). Bahkan saus spaghetti pun ada macamnya, carbonara (krim susu) atau bolognaise (krim tomat).

Saya merasakan meski kedua restoran tersebut kecil tetapi keduanya rapih dan bersih. Jauh dari kesan remang-remang yang biasanya dipakai oleh restoran yang ada sejak jaman dahulu untuk menunjukkan nostalgia tetapi jadinya malah terkesan tak terawat, kedua restoran ini terang dan minimalis. Namun pilihan kursi, meja, piring, dan lantai mereka entah mengapa sudah bisa menimbulkan kesan otentik tersebut. Pemilik-pemilik reatoran tersebut juga terkadang keluar dan menyapa pengunjung dengan Bahasa Indonesia yang lumayan lancar dan masih kental logat asalnya.

Karena bukan daerah ekspatriat, konsumennya lebih banyak orang Indonesia, yah kalau masuk ke dalam ternyata banyak orang asingnya malah minder juga kan, jangan-jangan makan sushi tidak boleh pakai sendok atau table manner kita ditertawakan, tenang saja lah. Rasa cocok dengan lidah Indonesia dan harga pas.

Semoga ke depannya Pamulang dan Ciputat mempunyai lebih banyak lagi restoran semacam ini. Internasionalisasi sudah sampai ke pinggiran Jakarta ternyata.

--
Anton Hermansyah

03 Agustus 2011

Khutbah yang Efektif

Alm. Zainuddin MZ

Mulai bulan Ramadhan tahun ini, kebijakan masjid di kompleks saya adalah tidak setiap hari diadakan khutbah sebelum Shalat Tarawih. Mungkin kebijakan ini meghilangkan elemen tradisional yang biasa dirasakan sewaktu Tarawihan (ingat harus mencatat khutbah Tarawih sewaktu kecil dan minta tanda tangan Khatib -penceramah- ?).

Yang jelas kebijakan ini menguntungkan orang seperti saya yang jika pulang masih harus mengerjakan sesuatu di rumah. Daripada harus terkantuk-kantuk mendengar ceramah xP.

Mungkin ini sentimen saya pribadi tetapi sekedar bertanya apakah khutbah tersebut jika diadakan akan efektif?

Di masjid, setidaknya yang ada di kompleks rumah saya, yang datang ada bermacam-macam, mulai anak kecil, ABG, sampai kakek-nenek. Tingkat pemahaman, logika mereka berbeda, tentunya bahasa juga harus berbeda. Menurut saya mungkin ada sekelompok orang yang tidak mendengarkan isi khutbah tersebut, entah karena tidak mengerti, atau mungkin terlalu mengerti sehingga merasa diulang-ulang, khutbah yang ditujukan untuk anak kecil belum tentu isinya menarik bagi mahasiswa.

Saat ini pun orang, dalam berbagai tingkatan logika dan pemikiran, sudah mempunyai preferensinya masing-masing, termasuk soal penceramah. Mungkin saya lancang, tetapi menurut saya sudah bukan zamannya Da'i Sejuta Umat seperti Alm. Zainuddin M.Z. dulu.

Orang sudah tahu bahwa pangsa pasar Ustad Jeffry adalah anak-anak muda, Arifin Ilham adalah keluarga muda, Mamah Dedeh untuk orang-orang paruh baya, dan Ustad Al-Habsy adalah untuk orang yang suka dengan Logat Arab (yang terakhir ini saya kutip dari Mas Santoso).

Masing-masing perlu bahasa yang berbeda. Saya pernah mendengar khutbah di daerah kampung, isinya sederhana dan cenderung mendoktrin, berbeda dengan khutbah di kampus di mana yabg berceramah adalah dosen bahkan profesor, menarik untuk mendengarkan masalah agama dari sudut pandang ilmu pengetahuan yang mereka miliki, juga lebih dalam, ya karena tinglat pendidikan mereka. Tetapi mungkin hanya mereka yang paling tidak sudah berpendidikan yang mengerti khutbah tersebut, begitu juga sebaliknya apabila orang-orang yang berpendidikan ini mendengar khutbah di kampung tadi.

Hanya sekedar opini, mungkin bisa menjadi sebuah pertimbangan, setidaknya ada indikasi bahwa pendidikan di Indonesia belum merata.

--
Anton Hermansyah

01 Agustus 2011

Beramai Ramai Lapar di Malam Hari

image

Jika saya berada di 10 tahun yang lalu dan tiba-tiba merasa kelaparan jam 10 malam, kira-kira apa yang bisa saya lakukan?

Pertama mungkin mencari makanan di dapur. Kedua, mencari tukang nasi goreng atau bakso yang masih jualan di malam hari. Ketiga, ke restoran cepat saji terdekat?

Opsi ketiga mungkin tidak akan berhasil, begitu saya sampai di sana karyawan yang sedang bersih-bersih akan mengatakan, "maaf mas, sudah tutup". Ya iyalah, jam 10 malam 10 tahun yang lalu.

Definisi dari jam operasional restoran cepat saji jaman dahulu adalah jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Malah seingat saya, kita tidak akan bisa mendapatkan makanan standar jika sudah di atas jam 9. Nasi sudah dingin, ayam hanya sisa, burger pun sudah malas dibuat, jika dibuat mungkin hanya setengah hati.

Lain dulu lain sekarang, restoran siap saji pun sekarang menganut operasional 24 jam. KFC dan McDonald's sudah melakukannya. Hasilnya, memuaskan dan restoran penuh.

Sewaktu di Makassar (dahulu dikenal dengan nama "Ujungpandang") beberapa kali saya ke KFC malam hari jam 11 dan jam 12, restoran tersebut masih (atau memang sedang) ramai-ramainya.

Foto di posting ini adalah foto yang saya ambil di McDonald's di Gaplek, delat rumah saya. Foto ini diambil jam 10.30 dan percaya atau tidak, sewaktu jam 10 saat sudah mengambil makanan, saya hampir tidak kebagian tempat duduk, itu pun menumpang makan dengan orang lain.

Saya membayangkan, apabila manajer restoran tersebut masih menganut jam operasional yang tradisional maka ia akan kehilangan berpuluh-puluh pesanan dan beberapa puluh juta, dalam satu hari (ya, hitungan hari). Entah berapa opportunity cost yang lepas dalam sebulan.

Siapa Konsumennya?


Di McD tersebut saya melihat banyak didominasi para ABG dan beberapa orang paruh baya yang berkumpul, mungkin mereka sehabis malam mingguan, kegiatan klub atau apalah yang membuat mereka capai di malam hari. Sedikit heran apakah orang tua para ABG tersebut tidak memberlakukan jam malam?

Mereka perlu makanan, tidak usah terlalu berat, minuman sekadarnya dan waktu duduk yang lama. Jelas format menu restoran cepat saji yang lama tidak akan mendukung hal ini. Terlalu mahal, terlalu besar dan kurang banyak pilihan untuk sekedar camilan.

Kursi yang digunakan juga bukan tipe kursi yang nyaman untuk duduk berlama-lama, keras saya rasa sekarang pun juga masih, tetapi kursi-kursi restoran cepat saji saat ini lebih ergonomis.

Piring jelas bukan sebuah pilihan yang praktis di saat ini. Terlalu berat untuk dibawa oleh kosumen, terlalu besar untuk di meja yang kecil dan berisiko untuk pecah.

Saat ini paradigma restoran cepat saji di Indonesia, khususnya di kota besar telah berubah, konsumen bisa datang kapan saja, dan di mana ada konsumen berarti akan ada uang mengalir, termasuk di malam hari.
--
Anton Hermansyah

31 Juli 2011

Rindu Rumah

Tidak terasa saya sudah 2 minggu lebih di Bumi Sulawesi, bertualang mencari data responden (baca: "survei"). Ini petualangan terlama sekaligus terjauh yang pernah saya alami sampai saat ini. Mungkin saya merasa seperti sudah di ambang batas.

Ada sebuah perbedaan niat, misalkan, di sini saya bertemu Adi, teman saya yang oleh BNI ditempatkan di Makassar. Adi memang sudah mempersiapkan diri untuk jangka panjang di sini, niatnya beda. Saya bertugas untuk "membereskan" data di sini secepat mungkin dan membuat laporan ke kantor.

Yah, semoga semuanya akan beres secepatnya.
--
Anton Hermansyah