Tentang Saya

17 Oktober 2010

Telefon yang Bukan Telefon

[picapp align="center" wrap="false" link="term=hand+phone&iid=7290251" src="http://view.picapp.com/pictures.photo/image/7290251/mid-adult-woman-and-young/mid-adult-woman-and-young.jpg?size=500&imageId=7290251" width="380" height="253" /]

Sudah beberapa bulan ini telefon saya jarang berbunyi. Ini ungkapan sebenarnya bukan kiasan. Jarang saya mengangkat telefon untuk berbicara kecuali kepada keluarga.

Jadi untuk apa saya harus membeli telefon?

Untuk mengirim surat elektronik, untuk mendengarkan musik, untuk berselancar di dunia maya, untuk chatting dengan teman-teman, semua bisa dilakukan oleh 'telefon'.

Aneh? Memang, karena telefon berasal dari dua kata "tele" dan "fon". Tele artinya jarak jauh dan fon artinya suara (entah bagaimana sekarang menjadi 'pon' mungkin ulah Orang Sunda). Jadi telefon hakikatnya adalah alat untuk 'mengantarkan suara dari jauh'. Tetapi unsur 'suara' itulah yang belakangan ini dilupakan.

Setidaknya itu yang terjadi pada saya.

Teman-teman saya lebih suka memberi kabar melalui messenger entah itu Blackberry Messenger, Yahoo! Messenger, Facebook Talk atau Google Talk (saya tidak pakai MSN Messenger). Kalauoun ada beberapa dengan media lain itu adalah SMS, lagi-lagi tulisan. MMS yang dahulu digadang-gadang sebagai penerus SMS pun tidak pernah terdengar lagi, dan percaya atau tidak, saya belum pernah menerima MMS sekalipun!

Telepon dengan kemampuan video call saya pun tidak pernah punya. Dulu di film-film fiksi ilmiah digambarkan bahwa jika menelefon ada gambar orang yang sedang berbicara dengan kita. Saya pikir video call adalah perwujudan dari gambaran di film. Nyatanya beberapa tahun berlalu masih jarang saya lihat orang melakukan video call ternyata perkiraan sutradara film fiksi ilmiah pun bisa meleset.

Penyebabnya apa?

Saat ini layanan operator telepon terbagi dua yaitu 'suara' dan 'data'. Sejauh ini operator menetapkan paket harga tetap tanpa batas untuk data. Dengan membayar sejumlah tertentu kita bisa menggunakan layanan data sepuasnya. Tetapi untuk layanan suara masih saja konvensional, berbasiskan waktu dan tidak ada yang betul-betul namanya paket 'berbicara sepuasnya'. Keadaan ini ditambah dengan heterogenitas operator di Indonesia, padahal yang paling mahal adalah berbicara antar operator.

Hasilnya?

Ya seperti inilah, pada akhirnya telefon menjadi tidak seperti asal katanya. Setidaknya fungsinya sebagai alat penghubung tetap terjaga.

--
Anton Hermansyah

10 Oktober 2010

Sabtu Minggu Malah Sibuk

Setelah saya dan teman-teman sudah mempunyai kehidupan baru di tengah kota Jakarta (baca: 'bekerja'), kami pun sadar bahwa telah mempunyai jalan sendiri-sendiri. Memang ada yang beruntung bisa satu kantor dengan teman satu perjuangan, seperti saya dan Bubu. Maka terkadang keinginan untuk berkumpul pun muncul.

Tetapi justru terlalu banya kumpul pun tidak enak, selain karena orangnya yang bisa hanya itu-itu saja hal ini malah saya capek di akhir pekan.

Sebagai kaum komuter yang harus bolak-balik antar kota antar propinsi setiap harinya, saya pun kenyang dengan macetnya Jakarta pada hari kerja. Sialnya, tidak ada tempat kumpul yang lebih baik daripada tengah kota. Dan rumah saya... Yah bilanglah itu desa.

Memang berat, apalagi sudah terserang macet di dekat rumah (Para pejabat Tangerang Selatan, mohon diperlebar jalannya), pernah saya menghabiskan waktu di jalan Pondok Cabe - Lebak Bulus selama 2 jam, padahal spanduk developer perumahan mengatakan, "hanya 10 menit dari Jakarta". Sungguh promosi kadang tidak sebanding dengan apa yang ada di kenyataan.

Seringkali saya pulang malam hari pada hari Senin- Kamis, bukan karena sibuk juga, tetapi keasyikan dengan suasana kantor sehabis Maghrib, sepi dan tenang. Sehingga pada hari Jumat saya sering merasa bersalah dan berniat 'menebus dosa' dengan pulang cepat. Sialnya, hari Jumat adalah hari yang ideal untuk berkumpul. Menjelang sore, tawaran berkumpul mulai muncul dan memang sulit untuk ditolak.

Kesimpulannya di hari Jumat?

Bukannya saya pulang sore malah hari itu saya pulang paling malam.

Sabtu-Minggu?

Katakanlah jika anda menghabiskan waktu mengerjakan pekerjaan kantor dari Senin sampai Jumat, artinya anda tidak mengerjakan hal lain di hari itu. Kapan saat mengerjakan hal lain? Sabtu-Minggu lah jawabannya. Membersihkan rumah, merawat kendaraan, mengurus kekasih yang mulai rewel, bahkan sampai menghadiri undangan pernikahan teman SMA yang disampaikan via event atau tag photo Facebook. Memang bukan kegiatan yang menghasilkan atau mendatangkan keuntungan, tapi itulah kewajiban sebagai makhluk sosial, hidup bukan sekedar untung dan rugi bukan?

--
Anton Hermansyah