Tentang Saya

25 Desember 2020

Kapan NISP Akan Bagi Dividen Lagi?


Jika memegang saham ini kemungkinan kita tidak akan pernah sabar dan memang, sudah bertahun-tahun harganya tidak ke mana-mana, tanpa dividen pula.

Sudah 16 tahun bank ini tidak bagi dividen. Memang di tahun 2018 ada "Dividen Saham", tetapi justru malah membuat harga sahamnya turun dan habis itu stagnan lagi.

Tujuannya adalah naik kelas ke BUKU 4 (Modal Inti di atas Rp 30 triliun) dengan cara paling konservatif, Laba Ditahan.

Ke konservatifan ini kemungkinan karena prinsip Almarhum Karmaka Surjaudaja yang telah berjasa membesarkan bank ini. Pak Karmaka, pernah mengalami sejumlah pengalaman pahit menjadi bankir, mulai dari peristiwa Sannering 1965 yang menyebabkan bank di rush oleh nasabah sampai ancaman pembunuhan karena konflik perebutan saham di tahun 1960 an.

Jatuh-bangun mengelola bank berdampak panjang ke almarhum, liver nya rusak tahun 1997, harus transplantasi dan minum obat yang keras. Karena obat itu, ginjalnya bekerja keras dan harus diambil satu di tahun 2002.

Metode konservatif ini membuat NISP berhasil melewati krisis 1998 tanpa bantuan pemerintah, di saat bank-bank besar lain seperti BBCA, BDMN, BNGA harus masuk "ICU" Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

NISP pun tidak jor-joran promosi, yang penting adalah kepercayaan nasabah dan keberlanjutan bank.

"Bank NISP tidak mengiming-imingi nasabah dengan bunga tinggi atau hadiah. Yang penting, uang mereka aman di sini," kata Pak Karmaka dalam wawancara dengan KONTAN tahun 1999. "Mudah-mudahan (Bank NISP) terus bertahan sampai ke cucu saya," lanjutnya.

Kembali ke kebijakan tanpa dividen, hasilnya, dari 2008 sampai September 2020, saldo Laba Ditahan telah bertambah sebesar Rp 16,0 triliun, artinya bank berhasil "menabung" laba Rp 1,3 triliun setiap tahunnya. NISP juga menerbitkan obligasi dan MTN selama 2003-2018 yang bernilai total Rp 16,7 triliun.

Kombinasi ini membuat Modal Inti meningkat ke Rp 28,6 triliun di September 2020, 8 kali lipat dibanding Rp 3,5 triliun di tahun 2008.

Dengan penambahan Modal Inti sebesar Rp 2 triliun setiap tahunnya, NISP kemungkinan akan mencapai BUKU 4 tahun depan. Artinya bank ini kemungkinan akan segera bagi dividen yang telah "dirindukan" investor bertahun-tahun.

Oh ya, kisah Pak Karmaka pernah di film kan dengan judul "Love & Faith", dibintangi oleh Rio Dewanto dan Laura Basuki. Buku biografinya berjudul "Tidak Ada yang Tidak Bisa" ditulis oleh mantan menteri BUMN, Pak Dahlan Iskan.

12 November 2020

KEEN Napas Kedua bagi Keluarga Maknawi


Mencari informasi soal Keluarga Maknawi, owner PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) relatif sulit, karena perusahaan tbk keluarga ini, Kencana Agri, tidak listing di Indonesia tapi di Singapura. Sedikit sekali berita yang mengulas keluarga ini baik yang berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.

Akhirnya saya coba cari bagaimana kinerja Kencana Agri (SGX:BNE) berdasarkan data-data yang dikeluarkan oleh perusahaan. Saya mulai dari melihat pergerakan harga.

Ternyata harganya terus turun, dari puncaknya di tahun 2011 sebesar USD1,8 per lembar, saat ini harganya hanya tinggal US$0,08 per lembar. Artinya nilainya telah turun 96% dari sembilan tahun lalu.

Lanjut ke laporan keuangan, ternyata kondisinya juga tidak baik. Setelah puncak laba di tahun 2011, Kencana Agri mulai "batuk-batuk" dan sering mencatatkan rugi bersih.

Karena sering mencatatkan rugi bersih, ekuitas pun tergerus karena Accumulated Loss (lawan dari Retained Earnings), sehingga makin lama DER makin tinggi dan di saat ini levelnya sudah keterlaluan, di 3250%, tidak salah baca, "tiga ribu persen".

Mungkin KEEN adalah sekoci untuk Keluarga Maknawi. Sejak awal IPO di Singapura, Kencana Agri mempunyai anak perusahaan pembangkit listrik biomassa yaitu PT Cahaya Permata Gemilang (yang akhirnya di transfer ke KEEN tanggal 12 Desember 2019, namun entah kenapa belum dimasukkan ke dalam laporan keuangan KEEN)

Keputusannya ambil atau tidak? Memang ada risiko KEEN bisa menjadi seperti "saudara tuanya", Kencana Agri apabila dijalankan dengan sistem manajemen yang sama. Tetapi saat ini buku nya masih bagus dengan DER yang relatif rendah.

Saat ini pembangunan PLTA mikrohidro sudah rampung dan arus kas operasional sudah mulai jalan. Dengan PBV yang masih rendah sekitar 0,5x, saya memutukan untuk mencicil KEEN.

--
Anton Hermansyah

03 Agustus 2019

Beratnya Jadi Komikus Webtoon

Permohonan maaf dari author Webtoon Nusantara Droid War, Vega Mandalika saat komiknya berhenti karena masalah dengan ilustrator nya Satriaexz

Disclaimer: Saya bukan komikus Webtoon, tulisan ini dari sudut pandang saya sebagai pembaca Webtoon yang sedih kalau komik favoritnya hiatus atau berhenti di tengah jalan.

Saya tidak ingat tanggal berapa pastinya mulai membaca Webtoon --komik daring yang dibaca dengan cara menggulirkan (scroll) halaman ke bawah-- mungkin sekitar pertengahan 2015. Saat itu LINE baru memulai program Webtoon versi Indonesia.

Di masa itu memang pemerintah baik Indonesia dan negara lain sudah mulai memblokir akses ke situs-situs manga scan sejak 2011-2012. Beberapa situs memang hanya di blokir oleh pemerintah Indonesia dan masih bisa dilihat dengan menggunakan proxy tetapi banyak juga situs-situs besar seperti mangafox.com yang harus jadi almarhum karena dituntut dengan pasal pembajakan.

Di awal-awal, saya masih mau usaha, cari proxy atau unduh dengan torrent tapi lama-lama capek juga. Setelah Naruto selesai pada November 2014, intensitas membaca manga mulai berkurang, lama-kelamaan One Piece dan Detektif Conan yang belum tamat-tamat pun saya tinggalkan.

Sebagai pengalih, saya lebih banyak membuka situs 9Gag dan sesekali melihat komik-komik di Facebook seperti Tahilalats.

Pertengahan 2015 LINE, aplikasi chat dari Korea meluncurkan Webtoon, di mana terdapat komik-komik dari komikus Korea dan juga Indonesia. Semua dapat dilihat dengan gratis.

Setelah rutin membaca Webtoon, saya pun menyadari kalau ada banyak komikus Indonesia dengan gambar bagus dan jalan cerita yang bagus. Mungkin inilah titik tolak kebangkitan komik Indonesia.

Ternyata, menjadi komikus bukanlah hal yang mudah. Di LINE Webtoon, sepertinya para komikus diwajibkan untuk membuat gambar klarifikasi apabila tidak bisa menyajikan update dalam waktu yang ditentukan.

Tidak jarang, edisi klarifikasi ini menjadi ajang curhat para komikus.

Komikus Born from Death, Tan Feli misalkan, pada 15 November 2016, setelah 39 episode, mengumumkan akan hiatus selama tiga minggu karena sakit pada tangan kanannya. Belakangan Feli harus menjalani terapi untuk memulihkan tangannya.

Webtoon favorit saya Nusantara Droid War malah sempat terhenti pada 27 Agustus 2016 karena ilustrator Satria EXZ mendadak tidak bisa dihubungi oleh Vega Mandalika, sang penulis cerita. Satria ingin membuat Webtoon nya sendiri dan akhirnya pada 18 November 2016, Vega terpaksa berganti tim ilustrator yang mengakibatkan perubahan gaya gambar.

Kadang sang pengarang mempunyai masalah pribadi yang tidak bisa diungkapkan ke publik.

Webtoon No Homo harus terhenti prematur setelah hanya 12 episode karena komikus Apit No Baka mempunyai masalah pribadi. Webtoon 304th tiba-tiba di tamatkan dengan paksa setelah 80 episode padahal masih banyak jalan cerita yang belum selesai karena masalah pribadi sang komikus Felicia Huang.

Terkadang dunia Webtoon juga tidak adil, komik-komik bertema action yang memerlukan gambar detail, cerita yang bagus dan kadang plot twist di tengah cerita harus kalah jumlah like oleh Webtoon komedi dengan gambar yang sederhana dan kadang hanya empat panel.

Apapun itu, semoga dunia perkomikan Indonesia menjadi semakin maju dan menumbuhkan industri-industri hilir lainnya seperti film layar lebar, animasi dan game.

--
Anton Hermansyah

30 Juli 2018

Akhirnya Beli Chromecast 2, tapi Bekas

Setelah sekian lama berdebat berdiskusi dengan istri dan menunggu iklan di OLX yang murah dan dekat, saya memutuskan untuk membeli Google Chromecast 2 bekas.

Sebelum memutuskan untuk membeli, memang saya di debat habis-habisan oleh istri karena TV di apartemen kami saja tidak pernah dinyalakan. Nanti takutnya beli Chromecast mahal-mahal akan sia-sia.

Justru saya ingin membeli Chromecast karena acara TV sudah jarang yang menarik. Dengan Chromecast bisa nonton acara dari YouTube atau sewa film di aplikasi seperti Netflix.

Di situs belanja daring seperti Tokopedia dan Bukalapak, para penjual membandrol Chromecast 2 sekitar Rp 580.000 sampai Rp 650.000.

Ups, sebelum saya menulis lebih lanjut tentang perjuangan membeli Chromecast, harusnya saya menjelaskan apa sih benda yang saya bicarakan ini.

Sederhananya Chromecast adalah alat untuk menayangkan video dari telepon genggam ke TV. Misalkan saya membuka video di YouTube atau Netflix di telepon genggam, nanti bisa saya tayangkan di TV dengan bantuan Chromecast.

Apabila telepon genggam dan Chromecast ada di jaringan WiFi yang sama maka saat memutar video YouTube akan ada logo tambahan untuk menayangkan video di TV.

Sewaktu proses pengambilan keputusan, istri saya bertanya apakah ada alternatif lain? Ada tapi lebih mahal dan lebih repot.

Alternatif pertama, menghubungkan laptop dan TV dengan kabel HDMI tapi ini banyak makan tempat. Lagipula, untuk mengganti video saya harus berjalan ke tempat laptop untuk mengetik nama video, solusinya beli keyboard dan tetikus wireless tapi keluar uang Rp 200.000.

Alternatif kedua, membeli TV pintar atau Smart TV, tapi harganya mahal, paling murah Rp 3 juta.

Alternatif ketiga adalah Android Box, komputer mini dengan sistem operasi Android di dalamnya untuk membuat TV bodoh menjadi TV pintar. Memang banyak Android Box dengan harga sekitar Rp 500.000 tetapi spesifikasi nya rendah, mesin dengan merek bagus seperti Xiaomi Mi Box 3 harganya Rp 800.000.

Ya akhirnya tetap memutuskan beli Chromecast.

Menunggu iklan

Selanjutnya adalah mencari iklan yang tepat. Harus murah tapi juga dekat.

Beberapa orang menjual Chromecast 2 bekas mereka dengan harga yang tinggi,Rp 500.000 atau Rp 450.000. Begitu ada iklan dengan harga Rp 400.000 dalam satu-dua hari langsung laku.

Ada iklan yang murah, hanya Rp 350.000 tapi lokasinya di Semarang.

Saya sempat hampir putus asa pada dua Minggu pertama. Rasanya ingin membeli Chromecast 2 yang baru, tetapi harganya mahal, akhirnya saya urungkan niat.

Setelah tiga Minggu memperhatikan iklan di OLX setiap hari, akhirnya muncul iklan jual Chromecast 2 di Depok dengan harga Rp 300.000 pada tanggal 26 Juli.

Besoknya, tanggal 27 Juli pagi hari saya langsung kirim pesan WhatsApp ke Pak Nandi, orang yang memasang iklan. Kami janjian bertemu di Stasiun Depok Baru pukul 8.00 pagi.

Sampai di Stasiun Depok Baru dan bertemu saya tanya ke Pak Nandi, kenapa Chromecast nya mau dijual. Harganya pun relatif murah, ini jual rugi, pikir saya.

"Ini saya jual karena saya mau mencoba hidup tanpa TV, sudah dua Minggu ini TV saya jual," Pak Nandi menjawab, saya pun kaget dengan jawabannya.

Memang sih, saat ini sudah memungkinkan untuk hidup tanpa TV, seperti yang sudah pernah saya ceritakan. Kemudian Pak Nandi yang sudah berumur 41 tahun ini menceritakan bahwa dia dulu betul-betul kecanduan TV.

"Dulu TV saya ada tiga, 50 inci, 40 inci dan 32 inci. Saya betul-betul kecanduan," dia bilang.

Mendengar cerita ini, saya sempat ciut niatnya untuk melakukan transaksi Chromecast. Teringat lagi kata-kata istri saya apakah ini akan jadi sia-sia.

Tapi, ya sudahlah, saya memantapkan diri bahwa Chromecast ini akan berguna. Minimal untuk lihat film sewaan dari Google Play, Hooq, Netflix atau sejenisnya bersama istri.

Akhirnya saya bayar Chromecast nya dan saya bawa pulang ke apartemen. Saya pasang di TV dan jalan.

Untuk sementara saya masih menikmati Chromecast ini, saya gunakan untuk memutar vlog dan video klip. Semoga alat ini bertahan lama dan saya konsisten menggunakan nya.

--
Anton Hermansyah

20 Juli 2018

Masihkah Perlu TV?

Di tahun 2000-an awal, mungkin TV masih kebutuhan yang hakiki bagi setiap keluarga di Indonesia tapi sekarang sepertinya tanpa TV pun tidak masalah.

Di saat-saat itu, saya masih SMA dan rasanya dulu jika kamar kita ada TV-nya, itu merupakan suatu kebanggaan. Saya bisa nonton sendiri acara-acara MTV dan kartun tanpa harus berebut dengan orang tua.

Maju ke tahun 2004, saya memulai kuliah di Yogyakarta saat itu sudah mulai zaman komputer di kalangan mahasiswa tapi belum dengan internet. Kalau mau akses internet seperti kirim surel ya harus ke warnet, tugas pun masih dikumpulkan dengan disket.

Saat itu setiap mahasiswa yang punya komputer pasti membeli TV Tuner, agar monitor nya bisa digunakan untuk menonton TV. Saya juga sering numpang di tempat orang lain kalau mau menonton siaran langsung Formula 1 misalnya.

Internet di Yogyakarta saat itu memang belum cepat, ke warnet pun hanya untuk kirim email tugas. Main game multipemain seperti Counter Strike, ya harus bawa komputer ke tempat teman dan dihubungkan lewat router ke kabel LAN, istilahnya "LAN Party".

Tahun 2005 saya kembali ke Jakarta, keadaan belum banyak berubah. Masih banyak menonton TV terutama drama silat Cina yang ditayangkan sore-sore persis saat saya pulang kuliah.

Di rumah Pondok Cabe saat itu sudah masuk TV kabel beserta internet dari Lippo namanya Digital1. Waktu itu ada penawaran internet unlimited dan Ayah saya memutuskan untuk berlangganan, tapi saat itu belum memutus jaringan Telkom Speedy yang ada di rumah.

Digital1 saat itu saya gunakan untuk unduh film-film dengan format AVI, belum ada tren YouTube saat itu. Masalahnya adalah Digital1 ini belum bisa diandalkan, kalau mati lampu karena ada gardu atau kabel kena petir, perlu waktu dua hari sampai seminggu untuk bereskan.

Telkom Speedy yang jadi cadangan memang lebih cepat, tapi memakainya harus hati-hati karena sistem kuota. Hiburan utama masih tetap TV.

Di tahun 2007 sudah mulai ada perubahan, Digital1 di rumah re-branding menjadi First Media. Internetnya pun makin cepat, tapi untuk YouTube masih sering buffering dan saat itu konten YouTube masih sedikit.

Antara tahun 2009 sampai 2011 sudah mulai ada perubahan. Lebih banyak waktu yang saya habiskan di internet dibanding menonton TV, saat itu sudah mulai jaman media sosial dengan BlackBerry Messenger (BBM), Twitter dan Facebook.

Telepon Android sudah mulai bisa diandalkan, tetapi masih menjadi telepon kedua setelah BlackBerry.

Saat itu saya juga sudah banyak nonton YouTube tetapi lewat komputer karena telepon genggam masih belum bisa diandalkan. Dengan prosesor yang masih lemah, sehabis memutar video telepon akan terasa panas.

Periode ini juga sebetulnya adalah saat saya lebih intens melihat YouTube. Konten mulai naik karena banyak penyanyi mulai unggah klip video resmi di sana.

Pada saat itu, karena keterbatasan kemampuan telepon, saya lebih banyak unduh klip video dan saya masukkan ke telepon genggam ataupun iPod Mini. Saya masukkan yang masih berupa video ataupun hanya diambil suaranya saja dan dikonversi ke MP3.

Di saat-saat ini, mulai muncul YouTuber dengan konten gaming seperti PewDiePie dan TheRadBrad. Melihat mereka bermain seperti nostalgia waktu kecil dulu saya ke tempat Ricky melihat dia menuntaskan level di Segala Genesis dan Super Nintendo nya.

Kalau saya yang bermain sendiri, ya tidak mahir dan ujung-ujungnya tidak indah dilihat karena mati terus. Melihat gamer yang mahir itu seperti melihat pertunjukan seni lah.

PewDiePie dan TheRadBrad memang bukan gamer yang jago sebetulnya, tapi mereka membawakan video dengan baik. Saya mulai mengenal mereka karena ada game horor paling seram saat itu, "Amnesia: The Dark Descent", Brad dan PewDiePie sama-sama takut dan mati beberapa kali karena panik dikejar monster.

Tontonan TV saya sudah mulai terbatas, hanya acara-acara olahraga saja seperti MotoGP dan Formula 1. Itu pun hanya kadang-kadang, karena Formula 1 sudah mulai membosankan dan di MotoGP kemampuan Valentino Rossi yang menghibur sudah mulai dikalahkan pembalap-pembalap membosankan seperti Jorge Lorenzo dan Casey Stoner yang terlalu dominan di balapan.

Tahun 2012 saya berangkat S2 ke Korea Selatan. Di sinilah saya mengenal 4G dan juga telepon Android yang handal, Samsung Galaxy S3. Saya juga membeli Samsung Galaxy Tab, tapi saya lupa modelnya apa, mulai saat ini lah saya sering melihat YouTube dari gawai.

Sejak hidup di Korea, kehidupan saya betul-betul bebas dari TV, karena kalau lihat TV lokal, tidak ada subtitel nya sama sekali, tidak mengerti. Juga tidak ada TV Korea yang menyiarkan MotoGP, alasannya karena budaya bermotor tidak berkembang di sana, motor kebanyakan hanya digunakan untuk kirim makanan.

Pulang dari Korea tahun 2015, saya benar-benar menjadi orang yang bebas dari TV. Semenjak tinggal dengan istri dan berpisah dari orang tua di bulan Juni 2018, pada minggu-minggu awal kami tidak punya TV sama sekali di apartemen dan kami tidak merasa suatu yang hilang.

Begitupun saat saya harus dinas, baik ke luar kota maupun ke luar negeri, saya tidak pernah menyalakan TV hotel sama sekali. Era TV mungkin sudah berakhir untuk saya dan keluarga.

--
Anton Hermansyah

21 Maret 2017

Membuat Paspor di ULP Karang Tengah

Situasi di Unit Layanan Paspor (ULP) Karang Tengah

Paspor saya sudah lama habis dari Oktober 2016, karena diberi libur pengganti oleh kantor maka saya coba untuk perpanjang paspor. Daripada harus jauh-jauh ke Warung Buncit, saya memutuskan untuk ke Unit Layanan Paspor (ULP) Karang Tengah yang ada di dekat rumah.

Senin Wage, 20 Maret 2017, datang ke ULP jam 10.00 langsung ditolak satpam.

"Maaf Mas, nomor antriannya sudah habis dari jam 7.00 pagi, ini formulirnya nanti di isi, besok datang ke sini pagi ya, antrian dibuka jam 6.00," kata satpam.

Saya cuma bisa melongo.

Satpam juga berkata untuk bawa:

  1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan fotokopinya
  2. Kartu Keluarga (KK) dan fotokopinya
  3. Akta kelahiran atau ijazah sekolah dan fotokopinya
  4. Paspor lama dan fotokopinya
  5. Formulir permohonan paspor
  6. Surat pernyataan tidak akan menggunakan paspor untuk menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) + tanda tangan di atas materai

Semua fotokopi harus di kertas A4 dan jangan dipotong. Untuk materai jangan kuatir karena bisa dibeli di Indomaret seberang.

Selasa Kliwon, 21 Maret 2017, Saya bangun pagi jam 5.30, sarapan, berangkat dan sampai di sana jam 6.30. Ternyata sudah banyak yang antri, Saya pun menyerahkan fotokopi dokumen dan formulir yang sudah di isi ke satpam yang kemudian memasukkan ke map kuning.

Dalam sehari, ULP Karang Tengah hanya menerima 140 antrian, terdiri atas 120 antrian biasa dan 20 antrian prioritas yaitu orang lanjut usia di atas 60 tahun dan ibu hamil. Biarpun Saya merasa sudah datang pagi, tetapi Saya ternyata ada di urutan 94, luar biasa memang.

Saya pun baru dipanggil jam 10.30, petugas di bawah memverifikasi dokumen saya dengan aslinya.

"Langsung foto ke atas ya," petugas bilang.

Di atas harus menunggu lagi, mungkin sampai 30 menit untuk dipanggil. Petugas mengambil foto dan sidik jari Saya.

Seharusnya, nanti setelah foto Saya akan menerima resi pembayaran, nantinya resi itu akan menjadi bukti untuk membayar di Bank Negara Indonesia (BNI). Tidak boleh bayar langsung sekarang, yang menurut saya malah lebih merepotkan, meski bisa mencegah pungutan liar (pungli).

Kemudian kejadian buruk terjadi.

"Sedang ada eror pada sistem pembayaran, kalau sudah online lagi akan kami cetak resminya, tapi kami belum tahu kapan," petugas berkata.

Saya bertanya kembali, kira-kira 'kapan' itu pukul berapa?

"Mungkin besok, atau nanti datang lagi saja jam 15.00 ke sini, nanti kami titip di tempat fotokopi," jawab petugas.

Ternyata memang jam 15.00 masih belum selesai, saya pun baru bisa ambil besok pagi nya, di hari Rabu Legi, 22 Maret 2017 jam 8.00. Saya ambil di tempat fotokopi, tanda tangan paspor dan pulang membawa paspor baru.

--
Anton Hermansyah

10 Februari 2017

Kacaunya Dunia Permediaan

Rabu Wage 8 Februari 2017, sehari menjelang rapat desk bisnis di hari Kamis malam, teman-teman reporter masih memikirkan unek-unek -mungkin lebih tepatnya keluh kesah- apa yang akan disampaikan kepada para editor.

Sebulan lebih sedikit setelah proses integrasi online dan cetak, mungkin hasilnya secara statistik bagus, jumlah artikel naik signifikan karena setiap wartawan wajib menyumbang satu berita daring yang jumlahnya dibatasi 250 kata per artikel. Sore harinya barulah sibuk unruk menulis berita untuk cetak yang harus dikirimkan (sebaiknya) sebelum tenggat pukul 18:00.

Indah secara statistik, tetapi semua ini adalah hasil kerja dobel yang memang menguras tenaga.

Di tengah acara, Saya harus kerja cepat untuk ketik berita online sembari mendengarkan omongan narasumber, syukur jika satu berita dapat dikirim sebelum acara bertambah kompleks.

Setelah acara utama selesai, barulah Saya celingak-celinguk mencari narasumber tambahan untuk di wawancara. Berita cetak perlu 500-600 kata dengan jumlah narasumber lebih dari satu, tentunya dengan bahasan yang berbeda dengan artikel daring.

Kamis Kliwon 9 Februari 2017, waktu masih pukul 17.30, rapat masih jam 21.00, malas untuk langsung berangkat ke kantor Saya pun mengetik di ruang pers Bursa Efek Indonesia. Sekitar jam 18 wartawan Liputan6.com Melani datang.

Sebelumnya di bulan Desember kami bertemu di 'kandang' Liputan 6 pada saat paparan publik Elang Mahkota Teknologi (Emtek), perusaahan induk dari Liputan6.com dan media lainnya termasuk SCTV dan Indosiar.

Waktu paparan publik Saya terkesima dengan konglomerat ini, laporan keuangan nya sehat, punya banyak uang untuk ekspansi usahanya, dan mereka masih terus akan investasi di media, SCTV-nya, Indosiar-nya, Liputan6.com-nya, Vidio.com-nya, dan lain-lain. Mereka tidak punya media cetak sama sekali, daring semua.

"Enak ya di Liputan6.com nggak harus capek-capek bikin berita online dan cetak sekaligus, kepala nggak pecah," refleks Saya curhat ke Melani.

"Nggak juga, di Liputan6.com kami harus bikin konten video juga selain berita online, memang jarang untuk liputan bisnis, tapi untuk liputan nasional dan lifestyle perlu," Melani menjawab.

Oh, ternyata setiap media punya kesulitannya sendiri-sendiri, yang cetak berusaha memenuhi konten daringnya, dan yang sudah daring berusaha untuk mengejar multimedia-nya. Arahnya sama sebetulnya, transformasi ke daring yang punya konten lengkap, berita cepat, berita yang lebih panjang dan analitis, konten tulisan dan gamber hasil jurnalisme warga atau populernya citizen journalism, dan yang terakhir video, mungkin masih ada inovasi lainnya di masa depan.

Tetapi setiap media punya caranya masing-masing untuk mengejarnya dalam level operasional. Mengutip kata Bli Komang, panggilan akrab Anak Agung Gde Bagus Wahyu Dhyatmika Redaktur Pelaksana Tempo semuanya masih trial and error belum ada formula yang pasti.

Republika dan Tempo menganut sistem satu ruang berita tetapi berbeda redaktur, wartawan mereka harus kejar berita daring sebanyak-banyaknya dalam satu acara. Redakturnya dibagi, ada yang untuk daring dan cetak, nanti redaktur cetak bertugas untuk menjahit berita daring yang terpisah-pisah itu menjadi berita cetak yang lebih komprehensif.

Kompas, Media Group, dan MNC menerapkan sistem beda entitas bagi media cetak dan daringnya, bahkan perusahaan nya pun berbeda. Kompas cetak punya wartawan sendiri dan Kompas.com punya wartawan sendiri, begitu juga dengan Metrotvnews.com dengan Media Indonesia, dan Koran Sindo dengan Okezone dan Sindonews.com.

Beda entitas memang dianut oleh kelompok media yang punya uang dari bisnis lain, sehingga mereka masih kuat untuk menyokong media cetak dan daring nya. Karena dilema yang paling besar adalah masih banyak iklan masuk ke media cetak sementara daring masih belum kuat, bahkan merugi.

The Jakarta Post, Bisnis Indonesia dan Kontan pernah mencoba menerapkan sistem dua entitas, tetapi dalam prakteknya antara wartawan daring dan cetak saling berebut berita, masalah lainnya klasik, uang. Bisnis bertahan 3 tahun baru berakhir sejak 2017 ini, Kontan 2 tahun berakhir sejak 2015, dan Jakarta Post 1 tahun berakhir sejak 2017, akhirnya sistem kembali lagi ke satu redaksi dengan konsekuensi kerja dua kali lipat, membuat berita cetak dan daring sekaligus.

Saya mencoba merangkum ranking Alexa dari media yang menerapkan strategi berbeda, memang tidak semuanya tergantung kepada strategi operasional di sisi redaksi, ada juga faktor seperti desain situs, segmentasi media itu sendiri, dan kecepatan server.

Nama Media - Alexa Rank
(Diambil tanggal 11 Februari 2017, ranking khusus Indonesia)

  • Daring penuh

    • Detik.com - 5

    • Liputan6.com - 9

    • Merdeka.com - 14

  • Beda entitas daring dan cetak

    • Tribunnews.com - 4

    • Kompas.com - 10

    • Okezone.com - 15

    • Sindonews.com - 38

    • Metrotvnews.com - 67
  • Satu ruang berita berbeda redaktur

    • Tempo.co - 28

    • Republika.co.id - 36
  • Satu redaksi mengerjakan keduanya

    • Bisnis.com - 149

    • Kontan.co.id - 222

    • Thejakartapost.com - 304
Media yang menerapkan pembedaan entitas ranking nya cenderung lebih tinggi dari strategi lainnya dan dengan ranking Alexa yang lebih tinggi, entitas daring akan lebih cepat mandiri karena para pengiklan tidak segan untuk masuk. Tetapi strategi ini membutuhkan uang yang jauh lebih tinggi daripada strategi lainnya.

Jika diperhatikan, media yang mengerjakan keduanya mempunyai ranking yang lebih rendah dibanding strategi lainnya, tetapi media-media ini adalah spesialis. Bisnis Indonesia adalah koran ekonomi terbaik di negeri ini, disusul oleh Kontan, The Jakarta Post adalah koran berbahasa Inggris nomor 1 di Indonesia.

Jumlah pembacanya tidak banyak, tetapi mereka rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan koran-koran ini dan buktinya ketiganya bertahan dengan baik. Terbatasnya jumlah pembaca juga yang membuat ranking Alexa mereka relatif stagnan meski sudah mencoba strategi beda entitas, Alexa stagnan, iklan pun terbatas.

Pak Ahmad Djauhar direktur Bisnis Indonesia dan Pak Endy Bayuni pemimpin redaksi The Jakarta Post sepertinya punya penantian yang sama, yaitu era di mana para pembacanya mau membayar untuk melihat artikel di situs berita. Meski hal ini sudah terjadi di negara maju seperti Amerika Serikat (AS), untuk di Indonesia ini masih sulit untuk diprediksi.

--
Anton Hermansyah