Tentang Saya

15 Agustus 2008

Tooltip dan Javascript di Blogger

Akhirnya bisa juga masukin Javascript tooltip di Blogger, sebelumnya sempat frustrasi karena template yang sudah saya ubah tidak mau disimpan, karena alasan "Tag belum menutup sempurna", padahal di Project Hermansyah JS-nya jalan dengan lancar. Frustrasi, terpaksa saya memakai tag "title" untuk memunculkan tooltip sederhana.

Usut punya usut, ternyata JS jangan dimasukkan langsung di HTML blogger, tapi harus dibuat file yang terpisah lalu di link dengan menggunakan tag :

<script src='http:/lokasi file Javascript.js'
type='text/javascript'/>

Baru setelah itu JS siap digunakan.

Bagaimana untuk menggunakan JS dalam posting?

Masukkan saja perintah Javascript di dalam posting, tetapi pasti ada pesan error seperti :

KESALAHAN

HTML Anda tidak bisa diterima : Tags cannot enclose tags area shape="poly" coords="0,166,20,78,152,125,196,129,220,116,236,0,236,0,234,0,211" alt="Anton Hermansyah" onmouseover="ddrivetip('<b"


Jangan takut, centang saja "checkbox" tersebut, lalu nikmatilah posting dengan Javascript buatan anda.

Contoh (gerakkan mouse anda di dalam gambar) :



--
Anton Hermansyah

Rambut Anton
Mata Anton
Hidung Anton
Mulut Anton
Dagu Anton

08 Agustus 2008

Project Hermansyah

Musim liburan, biasanya orang-orang melewati waktu bebasnya dengan berlibur, atau melakukan kegiatan-kegiatan yang menyenangkan, atau mencari kesibukan seperti magang, atau ikut kegiatan-kegiatan sosial, daripada berdiam diri terus di rumah.

Saya sedikit "sebaliknya", pada liburan ini saya menjadi seorang "IT Freak" (sebutan dari saya sendiri) yang tergila-gila pada kode HTML dan Javascript.

Awalnya sih dari tidak sengaja masuk ke blognya Christian Sugiono, saya melihat blognya bagus sekali dan banyak tampilan tampilan keren yang dibuat dengan Javascript. Tertarik untuk mencontoh Tian, saya mencoba memasukkan beberapa kode untuk animasi Javascript di blog ini, tapi kok tidak bisa-bisa, blogspot tidak menerima kode Javascript yang saya masukkan, sudah dicoba berkali-kali tapi saya tetap tidak bisa.

Alih-alih menyerah, malah membuat saya nekat untuk membuat situs sendiri. Awalnya saya mencoba memakai jasa Google Sites, tetapi ternyata halamannya tidak bisa dimodifikasi secara bebas, saya malah bingung untuk menaruh kode Javascript di situs yang saya buat.

Saya beralih ke Geocities, di sana saya bisa membuat HTML semau saya, tapi saya "terpaksa" belajar bahasa-bahasa HTML, CSS dan Javascript (ini belum mengisi webnya lho, baru layout).

Web itu saya beri nama "Project Hermansyah" isi nya sih nggak nyambung sama namanya, karena saya bingung mau isi apa jadilah Three in One yang saya ceritakan.

Sekarang sih belum ada isi apa-apa, tapi kalau mau lihat silakan klik link ini.


--
Anton Hermansyah

06 Agustus 2008

Three in One

Three in One adalah tiga sahabat yang menjalin persahabatan sejak masih kecil. Selain saya ada Ecah dan Kiki. Dua orang ini adalah teman pertama saya sewaktu saya pindah ke rumah di Pondok Cabe. Jadi saya mengenal mereka sejak sekitar umur 3 tahun.

Three in One di Jembatan Kota Intan
gerakkan mouse anda di gambar untuk mengetahui Three in One lebih lanjut

Sewaktu masih SD, kami adalah penggemar sepeda. Sering sekali berpetualang (untuk ukuran anak SD) mengendarai sepeda bertiga. Entah itu menyusuri "jalan-jalan tikus" atau pergi ke kompleks lain. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh dan medannya tidak terlalu berat(kalau naik kendaraan bermotor). Karena kami masih SD dan naik sepeda jadi serasa melakukan ALTO (offroad ringan dengan mobil berpenggerak 2 roda) karena kami seringkali melewati jalan yang tak lazim.

Ketiga sahabat ini sudah jarang sekali bisa berkumpul, terutama sejak Kiki kuliah di Solo, dan jika kami bertiga sudah berkumpul (biasanya 6 bulan sekali), diadakanlah petualangan kecil-kecilan (tapi naik mobil), hitung-hitung reuni kami bertiga, jika tahun kemarin kami pergi ke TMII, tahun ini kami pergi "menjelajahi" Jakarta. Antara lain ke Kota Tua, Pantai Ancol dan Taman Menteng, mungkin detilnya akan saya tulis suatu saat.

Semoga "petualangan" berikutnya akan lebih seru lagi.

--
Anton Hermansyah

Anton Hermansyah
Riza Fahlavi Putra
Rizki Fajar Mulyo Haswanto

25 Juli 2008

Sepeda Kuning di Kampus Kuning

Setelah menunggu sekian lama, akhirnya di Kampus UI Depok kita dapat menikmati fasilitas sepeda kuning. Jalur sepedanya sendiri telah dibuat sekitar enam bulan yang lalu, tapi sepedanya kok tidak muncul-muncul juga?Baru kemarin (21/7), sewaktu pulang dari kampus saya menemukan beberapa orang sedang mengayuh sepeda kuning di jalur sepeda tersebut. Di antara orang-orang yang saya lihat, ada dua makhluk yang sepertinya saya kenal yaitu teman-teman saya Indra dan Hoyrul. Dari cerita mereka saya mengetahui kalau meminjam sepeda kuning prosesnya mudah dan praktis, yaitu :
  1. Pergi ke tempat penitipan sepeda (ada di Asrama Mahasiswa, Masjid Kampus, Stasiun, dan Fakultas Psikologi).
  2. Tunjukkan KTM kepada petugas penjaga di sana, nomor KTM anda akan dicatat.
  3. Anda sudah bisa mengendarai sepeda kuning.
  4. Jika sudah selesai, sepeda dapat dikembalikan ke tempat penitipan yang mana saja, tidak usah tempat penitipan yang sama saat mengambil. (misalkan, meminjam di Fakultas Psikologi tapi mengembalikan di Asrama)
Sepeda kuning ini dapat menjadi alternatif untuk anak-anak UI menjelajahi Kampus UI Depok selain menggunakan bis kuning. Lebih sehat dan lebih cepat (jika anda seorang Lance Armstrong) juga membantu mengurangi polusi di bumi ini.

Ironisnya, sampai saat ini saya belum pernah mencobanya, semoga dalam waktu dekat ini saya dapat mencoba sepeda kuning ini.

--
Anton Hermansyah

10 Juli 2008

Tak Direncanakan; Bag II : Masjid Kubah Emas

Pada artikel sebelumnya, diceritakan bahwa saya bersama, Alet, Mitha dan Yura pergi ke Situ Babakan. Pada artikel ini petulangan berlanjut ke Masjid Kubah Emas di daerah Meruyung, Depok, Jawa Barat.

Beginilah Ceritanya :

Sewaktu kami pulang dari Situ Babakan, saat itu sudah sekitar jam lima sore. Merasa masih kurang puas dengan pengalaman yang didapat di hari itu, kami semua berkeinginan untuk pergi ke sebuah tempat lagi, kemudian Mitha menyarankan kami untuk pergi Salat Maghrib ke Masjid Kubah Emas karena letaknya tidak jauh dari Situ Babakan dan sekalian jalan pulang ke arah UI lagi (Mitha dan Yura memang tinggal di daerah sekitar UI). Saya, Alet dan Yura memang belum pernah pergi ke sana dan sangat penasaran akan kemegahan masjidnya.
Kami pun mulai menelusuri jalan-jalan kecil seputaran Jagakarsa, Cinere dan Meruyung. Ternyata perlu sedikit perjuangan untuk menuju ke sana, terutama bagi Yura dan mobilnya, karena jalannya kecil, padat dan berlubang, makin parah jika sudah masuk daerah Meruyung. Ada satu buah truk kecil yang terperosok di parit dapat membuat macet jalan yang jika dilewati membutuhkan waktu sekitar 10 menit, karena hanya tersedia satu lajur untuk masing-masing arah.

Membutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk menuju Masjid Kubah Emas dari Situ Babakan. Begitu masuk kami harus membayar Rp. 3.000 untuk biaya perawatan masjid dan Rp. 2.000 untuk parkir mobil, lingkungan luar masjid ini seperti tempat wisata, ada pasar cindera mata begitu pula dengan penjual makanan dan minuman, masjid pun tid
ak buka setiap waktu, ditutup pada jam 20.00 dan dibuka lagi jam 4.00.

Begitu masuk ke masjid ini, kami langsung terkagum-kagum, rasanya seperti ada di dunia lain, setelah melewati jalan Meruyung yang jelek, kami dihadapkan dengan sebuah masjid yang megah dengan taman bergaya timur tengah. Sedangkan Masjid Kubah Emas terlihat megah di malam hari (saat itu sekitar pukul 18.30)

Kami pun parkir di dalam kompleks masjid, dan mulai berpisah karena tempat masuk pria dan wanita berbeda (dan cukup jauh pula). Saya dan Yura memasuki masjid dari pintu pria, di situ memang diarahkan oleh pembatas jalan agar masuk ke tempat wudhu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam masjid. Tempat wudhunya terletak di bawah tanah dan sangat megah, temboknya dihias dengan batu-batuan (saya tidak tahu itu batu apa, mungkin marmer), toiletnya pun sangat bersih. Saya pun maski penasaran, jika tempat wudhunya seperti ini, bagaimana di dalam masjidnya ya?

Saya dan Yura memasuki pintu masuk masjid yang besar, ruangan masjid yang megah pun menyambut kami. Dihiasi oranamen putih dan tiang-tiang yang besar, bagian dalam kubah dihiasi dengan lukisan langit dan terdapat lampu gantung kristal yang mewah.

Saya pun berkeliling, melihat pintu masjid di sebelah utara (kami masuk dari selatan), di sebelah utara masjid terdapat sebuah rumah yang megah dan besar, mungkin itu adalah rumah ibu Dian, pemilik kompleks masjid ini.

Setelah menjalani shalat isya berjamaah dengan "suasana Arab", kami berempat berkumpul di mobil Yura untuk bersiap-siap pulang ke Depok. Tetapi Alet dan Mitha ingin pergi ke kamar kecil, ternyata kamar kecil untuk wanita tidak terletak di tempat wudhunya, tetapi di bangunan terpisah dari masjid dan letaknya agak jauh dari masjid. Kami agak kesulitan menemukannya, tanpa sadar sudah pukul 19.40, saat itu pengurus masjid sudah berkeliling membunyikan sirine dari toa-nya karena masjid akan ditutup.

Jalan pulang kembali ke Depok untungnya tidak separah jalan pergi ke masjid, setelah sampai di Depok, kami pulang ke rumah masing-masing, berakhirlah sudah perjalanan yang hanya berawal dari kata "bosan" ini.

--
Anton Hermansyah

09 Juli 2008

Rien Maulana Sarjana Ekonomi

Kemarin (8/7), akhirnya Rien Maulana mantan Ketua Dewan Pengawas KpME-FEUI telah lulus dan menjadi seorang SE setelah melewati ujian komprehensif. Sesuai tradisi yang ada di FEUI, setiap orang yang lulus harus diceburkan ke Kolam Makara yang berada di tengah-tengah fakultas.

SELAMAT UNTUK RIEN

Foto-foto pada saat itu :


Video sewaktu Rien diceburkan ke kolam makara :

05 Juli 2008

Tak Direncanakan; Bag I : Situ Babakan

Bagi saya sering kali suatu hal tidak terlaksana kalau direncanakan, seperti niat saya ingin pergi ke Kanekes atau bahkan rencana menonton film di bioskop tidak jadi-jadi terlaksana.

Perjalanan kali ini bermula dari sebuah kata yaitu "Bosan". Saya bersama 3 orang teman saya Alet, Yura dan Mitha (yang kami "culik" saat sedang menunggu bis untuk pulang) pergi ke Situ Babakan tempat Cagar Budaya Betawi

Situ Babakan terletak tidak begitu jauh dari Kampus UI Depok, tepatnya di daerah Jagakarsa dan untuk memasuki Situ Babakan harus melalui jalan-jalan yang relatif kecil, karena bukan jalan raya. Sampai di sana anda akan disambut oleh pintu gerbang bergaya Betawi. Jalan di dalamnya emm, bisa dibilang kecil dan sempit, mungkin untuk membuat suasana seperti di "kampung".

Kami langsung masuk ke dalam kawasan situ, pilihan pertama kami adalah naik bebek-bebekan yang ada di sana, kami harus membayar Rp. 8.000 per "bebek". Karena 1 "bebek" bisa ditumpangi 2 orang, maka satu orang harus membayar Rp. 4.000

Cukup murah dan cukup senang, kami bersepeda air selama hampir setengah jam. Kaki rasanya sudah lelah mengayuh. Saya sudah capai tapi Mitha bilang "Utilitasnya belum maksimal!", suatu bahasa anak FE yang artinya "Belum puas!"

Setelah selesai main di air, kami mulai mencari makan, kami pun langsung mencari tempat duduk yang memang sudah disediakan di sepanjang situ. Yura yang berasal dari Riau, ingin mencoba makanan khas Betawi, yahh, kalau begitu pilihan pertama jatuh kepada makanan khas Betawi yang paling populer, Kerak Telor.

Saya dan Mitha memesan Kerak Telor memakai telur bebek, sedangkan Yura dan Alet memakai telur ayam. Ternyata tidak ada beda harga antara keduanya, tetap Rp. 7.000 baik untuk telur ayam maupun telur bebek. Biasanya Kerak Telor dengan telur bebek lebih mahal Rp. 1.000 dibandingkan yang telor ayam, tetapi keunggulan yang memakai telur bebek adalah Kerak Telor lebih mengembang dan berisi, mungkin karena faktor telur bebek yang ukurannya memang lebih besar dari telur ayam.

Belum puas, saya memesan Toge Goreng, jajanan yang sudah lama tidak lewat rumah saya. Harganya Rp. 5.000, rasanya pedas tetapi segar, karena bumbu kacang dan togenya meresap sempurna Maknyus!

Untuk minumnya saya dari dulu penasaran dengan minuman Bir Pletok, memang sudah sering saya lihat di TV tetapi belum pernah saya coba sendiri. Ternyata saya harus membeli 1 botol, kira-kira sebesar botol sirup, harganya Rp. 10.000, akhirnya saya patungan dengan Yura, yang penasaran juga dengan rasa Bir Pletok. Kami meminumnya dengan es batu agar minumannya dingin. Rasa Bir Pletok seperti sirup rozen, tetapi tidak terlalu manis, serta ada rasa-rasa hangat seperti wedang jahe, begitu masuk ke perut rasanya hangat. Mungkin karena untuk menghangatkan badan, makanya ada embel-embel "bir" di nama minuman ini.

Mitha dan Alet memesan Es Kelapa Muda lengkap dengan batoknya, harganya Rp. 5.000, sebenarnya masih banyak jajanan lainnya di Situ Babakan, kebanyakan jajanannya sudah "punah" di sekitar rumah seperti Laksa, Arum Manis dan Kue Rangi. Tetapi kami sudah kenyang.



Sebelum kami pergi dari Situ Babakan, saya sempatkan diri berfoto di mobil Jeep Willys kepunyaan warga setempat, orang-orang di sini sangat ramah dan ceplas-ceplos. Tanpa ragu-ragu saya mengambil pose di Jip, benar-benar gagah!


Petualangan kami tidak berakhir sampai di sini, episode berikutnya, Masjid Kubah Emas

--
Anton Hermansyah

p.s = Alet, Yura dan Mitha, ini slideshow foto-foto di sana :