![]() |
| Bunga Tulip, foto oleh: Catia Climovich (unsplash.com) |
Meskipun saya beberapa kali bilang harga saham-saham teknologi maupun yang berbalut teknologi seperti DCII, EDGE, ARTO dan juga yang akan IPO seperti BUKA tidak rasional, tetapi saya tidak bisa bilang harganya akan turun ke nilai wajarnya dalam waktu dekat, penyebabnya adalah deflasi yang dikombinasikan dengan pandemi.
Deflasi adalah penurunan harga barang-barang, tidak hanya satu atau dua barang (kalau itu namanya flash sale) tetapi hampir semua barang secara keseluruhan. Ini merupakan kebalikan dari inflasi, di mana harga barang naik terus menerus.
Sebagai negara berkembang, Indonesia lebih akrab dengan inflasi. Bahkan seringkali hal ini di persepsikan sebagai jahat, uang kita "termakan" terus daya belinya setiap tahunnya.
Karena inflasi digambarkan sebagai jahat, maka saya pun sejak dulu menganggap deflasi itu baik, sampai saya merasakannya sendiri di era Pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Ternyata deflasi pun juga jahat, dengan cara yang berbeda.
Kenyataan nya, tidak ada orang yang mau menjual dengan harga lebih murah kecuali sedang BU (butuh uang), dan apabila banyak orang tiba-tiba dalam keadaan BU, maka lahirlah deflasi.
Penjualan aset ini justru dimulai dari kelas menengah atas, mereka menjual aset yang tidak terlalu penting, rumah yang tidak ditinggali, mobil, sampai moge. Tujuannya untuk menyelamatkan uang juga mempertahankan usaha dari kelesuan ekonomi.
Dari data perbankan dapat terlihat Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terus-menerus meningkat dengan kecepatan tinggi. Sebaliknya, Kredit Perbankan turun secara konstan dalam beberapa waktu.
![]() |
| Pertumbuhan Kredit dan DPK 2020 (Sumber OJK, diolah) |
Kenapa Deflasi Malah Membuat Bubble Baru?
Jika merunut kasus Lost Decades di Jepang, sejatinya Deflasi akan membuat harga-harga "kembali" ke normal. Tetapi kenapa kali ini malah membuat beberapa instrumen investasi naik tinggi?
Karena deflasi kali ini dikombinasikan dengan pandemi.
Pandemi membatasi konsumsi segala kalangan baik miskin maupun kaya dengan cara yang unik. Orang-orang miskin kehilangan penghasilan, sementara orang-orang kaya, meski masih mempunyai uang tetapi tidak bisa mengkonsumsi, pusat perbelanjaan sampai tempat wisata ditutup.
Uang yang terlalu berlimpah tersebut akhirnya tidak bisa dibelanjakan. Di satu sisi ekonomi riil sedang tidak berjalan, maka harga aset riil pun tidak segera rebound, apabila di investasikan ke properti misalkan, belum tentu harganya akan naik.
Sehingga paper asset lah yang menjadi sarana untuk spekulasi, apapun yang naik dikejar, saham, forex, sampai crypto.
Institusi keuangan seperti bank dan aset manajemen pun kebingungan karena uang yang berlimpah, sedangkan mereka harus memberikan return kepada nasabahnya.
Jadilah semuanya berbondong-bondong menciptakan bubble dari satu aset ke aset lainnya. Laporan keuangan, valuasi tidak lagi menjadi penting, yang penting di mana uang berputar di situ investor berada.
When I see a bubble forming, I rush to buy, adding fuel to the fire
--
George Soros
Bubble Aset Covid dan Tulip Mania
Gejala bubble saat pandemi ini seperti deja vu ke tahun 1637 di Negeri Belanda, saat harga tulip mencapai puncaknya dan crash akibat spekulasi di pasar berjangka. Kejadian ini dikenal dengan nama "Tulip Mania".
Harga tulip termahal saat itu dapat mencapai 5.000 Gulden. Uang sebesar itu dapat membayar rumah dengan harga tunai.
Pada saat itu, Belanda menjadi negeri yang makmur karena perdagangan rempah-rempah di Eropa. Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang sudah 30 tahun lebih berdiri, telah menguasai pusat produksi di Indonesia.
Mirip dengan apa yang terjadi di tahun 2020, saat itu sedang ada wabah pes (bubonic plague) yang menyebabkan kematian. Orang-orang tiba-tiba mendapatkan warisan dari kerabatnya, sehingga mereka punya "kelebihan uang" untuk belanja tulip (Goldgar, 2008).
Setelah crash apakah terjadi krisis ekonomi? Ternyata tidak, bahkan tidak terdengar cerita orang-orang yang bunuh diri karena bangkrut.
Karena yang "bermain" pada saat itu adalah orang-orang kaya dan mereka "hanya" mempertaruhkan sebagian kecil harta mereka dalam spekulasi Tulip Mania. Sehingga biarpun kehilangan uang, itu bukan masalah bagi mereka.
Begitupun Anthoni Salim, saat membeli 11,1% saham DCII senilai Rp3,6 triliun (dihitung dari harga per saham saat transaksi 31 Mei 2021 di 13750). Uang itu hanyalah 4,2% dari total kekayaan nya yang di estimasi Forbes senilai AS$5,9 miliar (sekitar Rp85,4 triliun).
Siapa yang rentan bangkrut di sini? Investor-investor FOMO yang rela mempertaruhkan seluruh hartanya untuk mengikuti "permainan orang kaya" ini.
--Anton Hermansyah
Referensi
Goldgar, A. (2008). Tulipmania. University of Chicago Press.







