Jika memegang saham ini kemungkinan kita tidak akan pernah sabar dan memang, sudah bertahun-tahun harganya tidak ke mana-mana, tanpa dividen pula.
Sudah 16 tahun bank ini tidak bagi dividen. Memang di tahun 2018 ada "Dividen Saham", tetapi justru malah membuat harga sahamnya turun dan habis itu stagnan lagi.
Tujuannya adalah naik kelas ke BUKU 4 (Modal Inti di atas Rp 30 triliun) dengan cara paling konservatif, Laba Ditahan.
Ke konservatifan ini kemungkinan karena prinsip Almarhum Karmaka Surjaudaja yang telah berjasa membesarkan bank ini. Pak Karmaka, pernah mengalami sejumlah pengalaman pahit menjadi bankir, mulai dari peristiwa Sannering 1965 yang menyebabkan bank di rush oleh nasabah sampai ancaman pembunuhan karena konflik perebutan saham di tahun 1960 an.
Jatuh-bangun mengelola bank berdampak panjang ke almarhum, liver nya rusak tahun 1997, harus transplantasi dan minum obat yang keras. Karena obat itu, ginjalnya bekerja keras dan harus diambil satu di tahun 2002.
Metode konservatif ini membuat NISP berhasil melewati krisis 1998 tanpa bantuan pemerintah, di saat bank-bank besar lain seperti BBCA, BDMN, BNGA harus masuk "ICU" Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).
NISP pun tidak jor-joran promosi, yang penting adalah kepercayaan nasabah dan keberlanjutan bank.
"Bank NISP tidak mengiming-imingi nasabah dengan bunga tinggi atau hadiah. Yang penting, uang mereka aman di sini," kata Pak Karmaka dalam wawancara dengan KONTAN tahun 1999. "Mudah-mudahan (Bank NISP) terus bertahan sampai ke cucu saya," lanjutnya.
Kembali ke kebijakan tanpa dividen, hasilnya, dari 2008 sampai September 2020, saldo Laba Ditahan telah bertambah sebesar Rp 16,0 triliun, artinya bank berhasil "menabung" laba Rp 1,3 triliun setiap tahunnya. NISP juga menerbitkan obligasi dan MTN selama 2003-2018 yang bernilai total Rp 16,7 triliun.
Kombinasi ini membuat Modal Inti meningkat ke Rp 28,6 triliun di September 2020, 8 kali lipat dibanding Rp 3,5 triliun di tahun 2008.
Dengan penambahan Modal Inti sebesar Rp 2 triliun setiap tahunnya, NISP kemungkinan akan mencapai BUKU 4 tahun depan. Artinya bank ini kemungkinan akan segera bagi dividen yang telah "dirindukan" investor bertahun-tahun.
Oh ya, kisah Pak Karmaka pernah di film kan dengan judul "Love & Faith", dibintangi oleh Rio Dewanto dan Laura Basuki. Buku biografinya berjudul "Tidak Ada yang Tidak Bisa" ditulis oleh mantan menteri BUMN, Pak Dahlan Iskan.
