Mencari informasi soal Keluarga Maknawi, owner PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN) relatif sulit, karena perusahaan tbk keluarga ini, Kencana Agri, tidak listing di Indonesia tapi di Singapura. Sedikit sekali berita yang mengulas keluarga ini baik yang berbahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris.
Akhirnya saya coba cari bagaimana kinerja Kencana Agri (SGX:BNE) berdasarkan data-data yang dikeluarkan oleh perusahaan. Saya mulai dari melihat pergerakan harga.
Ternyata harganya terus turun, dari puncaknya di tahun 2011 sebesar USD1,8 per lembar, saat ini harganya hanya tinggal US$0,08 per lembar. Artinya nilainya telah turun 96% dari sembilan tahun lalu.
Lanjut ke laporan keuangan, ternyata kondisinya juga tidak baik. Setelah puncak laba di tahun 2011, Kencana Agri mulai "batuk-batuk" dan sering mencatatkan rugi bersih.
Karena sering mencatatkan rugi bersih, ekuitas pun tergerus karena Accumulated Loss (lawan dari Retained Earnings), sehingga makin lama DER makin tinggi dan di saat ini levelnya sudah keterlaluan, di 3250%, tidak salah baca, "tiga ribu persen".
Mungkin KEEN adalah sekoci untuk Keluarga Maknawi. Sejak awal IPO di Singapura, Kencana Agri mempunyai anak perusahaan pembangkit listrik biomassa yaitu PT Cahaya Permata Gemilang (yang akhirnya di transfer ke KEEN tanggal 12 Desember 2019, namun entah kenapa belum dimasukkan ke dalam laporan keuangan KEEN)
Keputusannya ambil atau tidak? Memang ada risiko KEEN bisa menjadi seperti "saudara tuanya", Kencana Agri apabila dijalankan dengan sistem manajemen yang sama. Tetapi saat ini buku nya masih bagus dengan DER yang relatif rendah.
Saat ini pembangunan PLTA mikrohidro sudah rampung dan arus kas operasional sudah mulai jalan. Dengan PBV yang masih rendah sekitar 0,5x, saya memutukan untuk mencicil KEEN.
--Anton Hermansyah
