Tentang Saya

30 Juli 2018

Akhirnya Beli Chromecast 2, tapi Bekas

Setelah sekian lama berdebat berdiskusi dengan istri dan menunggu iklan di OLX yang murah dan dekat, saya memutuskan untuk membeli Google Chromecast 2 bekas.

Sebelum memutuskan untuk membeli, memang saya di debat habis-habisan oleh istri karena TV di apartemen kami saja tidak pernah dinyalakan. Nanti takutnya beli Chromecast mahal-mahal akan sia-sia.

Justru saya ingin membeli Chromecast karena acara TV sudah jarang yang menarik. Dengan Chromecast bisa nonton acara dari YouTube atau sewa film di aplikasi seperti Netflix.

Di situs belanja daring seperti Tokopedia dan Bukalapak, para penjual membandrol Chromecast 2 sekitar Rp 580.000 sampai Rp 650.000.

Ups, sebelum saya menulis lebih lanjut tentang perjuangan membeli Chromecast, harusnya saya menjelaskan apa sih benda yang saya bicarakan ini.

Sederhananya Chromecast adalah alat untuk menayangkan video dari telepon genggam ke TV. Misalkan saya membuka video di YouTube atau Netflix di telepon genggam, nanti bisa saya tayangkan di TV dengan bantuan Chromecast.

Apabila telepon genggam dan Chromecast ada di jaringan WiFi yang sama maka saat memutar video YouTube akan ada logo tambahan untuk menayangkan video di TV.

Sewaktu proses pengambilan keputusan, istri saya bertanya apakah ada alternatif lain? Ada tapi lebih mahal dan lebih repot.

Alternatif pertama, menghubungkan laptop dan TV dengan kabel HDMI tapi ini banyak makan tempat. Lagipula, untuk mengganti video saya harus berjalan ke tempat laptop untuk mengetik nama video, solusinya beli keyboard dan tetikus wireless tapi keluar uang Rp 200.000.

Alternatif kedua, membeli TV pintar atau Smart TV, tapi harganya mahal, paling murah Rp 3 juta.

Alternatif ketiga adalah Android Box, komputer mini dengan sistem operasi Android di dalamnya untuk membuat TV bodoh menjadi TV pintar. Memang banyak Android Box dengan harga sekitar Rp 500.000 tetapi spesifikasi nya rendah, mesin dengan merek bagus seperti Xiaomi Mi Box 3 harganya Rp 800.000.

Ya akhirnya tetap memutuskan beli Chromecast.

Menunggu iklan

Selanjutnya adalah mencari iklan yang tepat. Harus murah tapi juga dekat.

Beberapa orang menjual Chromecast 2 bekas mereka dengan harga yang tinggi,Rp 500.000 atau Rp 450.000. Begitu ada iklan dengan harga Rp 400.000 dalam satu-dua hari langsung laku.

Ada iklan yang murah, hanya Rp 350.000 tapi lokasinya di Semarang.

Saya sempat hampir putus asa pada dua Minggu pertama. Rasanya ingin membeli Chromecast 2 yang baru, tetapi harganya mahal, akhirnya saya urungkan niat.

Setelah tiga Minggu memperhatikan iklan di OLX setiap hari, akhirnya muncul iklan jual Chromecast 2 di Depok dengan harga Rp 300.000 pada tanggal 26 Juli.

Besoknya, tanggal 27 Juli pagi hari saya langsung kirim pesan WhatsApp ke Pak Nandi, orang yang memasang iklan. Kami janjian bertemu di Stasiun Depok Baru pukul 8.00 pagi.

Sampai di Stasiun Depok Baru dan bertemu saya tanya ke Pak Nandi, kenapa Chromecast nya mau dijual. Harganya pun relatif murah, ini jual rugi, pikir saya.

"Ini saya jual karena saya mau mencoba hidup tanpa TV, sudah dua Minggu ini TV saya jual," Pak Nandi menjawab, saya pun kaget dengan jawabannya.

Memang sih, saat ini sudah memungkinkan untuk hidup tanpa TV, seperti yang sudah pernah saya ceritakan. Kemudian Pak Nandi yang sudah berumur 41 tahun ini menceritakan bahwa dia dulu betul-betul kecanduan TV.

"Dulu TV saya ada tiga, 50 inci, 40 inci dan 32 inci. Saya betul-betul kecanduan," dia bilang.

Mendengar cerita ini, saya sempat ciut niatnya untuk melakukan transaksi Chromecast. Teringat lagi kata-kata istri saya apakah ini akan jadi sia-sia.

Tapi, ya sudahlah, saya memantapkan diri bahwa Chromecast ini akan berguna. Minimal untuk lihat film sewaan dari Google Play, Hooq, Netflix atau sejenisnya bersama istri.

Akhirnya saya bayar Chromecast nya dan saya bawa pulang ke apartemen. Saya pasang di TV dan jalan.

Untuk sementara saya masih menikmati Chromecast ini, saya gunakan untuk memutar vlog dan video klip. Semoga alat ini bertahan lama dan saya konsisten menggunakan nya.

--
Anton Hermansyah

20 Juli 2018

Masihkah Perlu TV?

Di tahun 2000-an awal, mungkin TV masih kebutuhan yang hakiki bagi setiap keluarga di Indonesia tapi sekarang sepertinya tanpa TV pun tidak masalah.

Di saat-saat itu, saya masih SMA dan rasanya dulu jika kamar kita ada TV-nya, itu merupakan suatu kebanggaan. Saya bisa nonton sendiri acara-acara MTV dan kartun tanpa harus berebut dengan orang tua.

Maju ke tahun 2004, saya memulai kuliah di Yogyakarta saat itu sudah mulai zaman komputer di kalangan mahasiswa tapi belum dengan internet. Kalau mau akses internet seperti kirim surel ya harus ke warnet, tugas pun masih dikumpulkan dengan disket.

Saat itu setiap mahasiswa yang punya komputer pasti membeli TV Tuner, agar monitor nya bisa digunakan untuk menonton TV. Saya juga sering numpang di tempat orang lain kalau mau menonton siaran langsung Formula 1 misalnya.

Internet di Yogyakarta saat itu memang belum cepat, ke warnet pun hanya untuk kirim email tugas. Main game multipemain seperti Counter Strike, ya harus bawa komputer ke tempat teman dan dihubungkan lewat router ke kabel LAN, istilahnya "LAN Party".

Tahun 2005 saya kembali ke Jakarta, keadaan belum banyak berubah. Masih banyak menonton TV terutama drama silat Cina yang ditayangkan sore-sore persis saat saya pulang kuliah.

Di rumah Pondok Cabe saat itu sudah masuk TV kabel beserta internet dari Lippo namanya Digital1. Waktu itu ada penawaran internet unlimited dan Ayah saya memutuskan untuk berlangganan, tapi saat itu belum memutus jaringan Telkom Speedy yang ada di rumah.

Digital1 saat itu saya gunakan untuk unduh film-film dengan format AVI, belum ada tren YouTube saat itu. Masalahnya adalah Digital1 ini belum bisa diandalkan, kalau mati lampu karena ada gardu atau kabel kena petir, perlu waktu dua hari sampai seminggu untuk bereskan.

Telkom Speedy yang jadi cadangan memang lebih cepat, tapi memakainya harus hati-hati karena sistem kuota. Hiburan utama masih tetap TV.

Di tahun 2007 sudah mulai ada perubahan, Digital1 di rumah re-branding menjadi First Media. Internetnya pun makin cepat, tapi untuk YouTube masih sering buffering dan saat itu konten YouTube masih sedikit.

Antara tahun 2009 sampai 2011 sudah mulai ada perubahan. Lebih banyak waktu yang saya habiskan di internet dibanding menonton TV, saat itu sudah mulai jaman media sosial dengan BlackBerry Messenger (BBM), Twitter dan Facebook.

Telepon Android sudah mulai bisa diandalkan, tetapi masih menjadi telepon kedua setelah BlackBerry.

Saat itu saya juga sudah banyak nonton YouTube tetapi lewat komputer karena telepon genggam masih belum bisa diandalkan. Dengan prosesor yang masih lemah, sehabis memutar video telepon akan terasa panas.

Periode ini juga sebetulnya adalah saat saya lebih intens melihat YouTube. Konten mulai naik karena banyak penyanyi mulai unggah klip video resmi di sana.

Pada saat itu, karena keterbatasan kemampuan telepon, saya lebih banyak unduh klip video dan saya masukkan ke telepon genggam ataupun iPod Mini. Saya masukkan yang masih berupa video ataupun hanya diambil suaranya saja dan dikonversi ke MP3.

Di saat-saat ini, mulai muncul YouTuber dengan konten gaming seperti PewDiePie dan TheRadBrad. Melihat mereka bermain seperti nostalgia waktu kecil dulu saya ke tempat Ricky melihat dia menuntaskan level di Segala Genesis dan Super Nintendo nya.

Kalau saya yang bermain sendiri, ya tidak mahir dan ujung-ujungnya tidak indah dilihat karena mati terus. Melihat gamer yang mahir itu seperti melihat pertunjukan seni lah.

PewDiePie dan TheRadBrad memang bukan gamer yang jago sebetulnya, tapi mereka membawakan video dengan baik. Saya mulai mengenal mereka karena ada game horor paling seram saat itu, "Amnesia: The Dark Descent", Brad dan PewDiePie sama-sama takut dan mati beberapa kali karena panik dikejar monster.

Tontonan TV saya sudah mulai terbatas, hanya acara-acara olahraga saja seperti MotoGP dan Formula 1. Itu pun hanya kadang-kadang, karena Formula 1 sudah mulai membosankan dan di MotoGP kemampuan Valentino Rossi yang menghibur sudah mulai dikalahkan pembalap-pembalap membosankan seperti Jorge Lorenzo dan Casey Stoner yang terlalu dominan di balapan.

Tahun 2012 saya berangkat S2 ke Korea Selatan. Di sinilah saya mengenal 4G dan juga telepon Android yang handal, Samsung Galaxy S3. Saya juga membeli Samsung Galaxy Tab, tapi saya lupa modelnya apa, mulai saat ini lah saya sering melihat YouTube dari gawai.

Sejak hidup di Korea, kehidupan saya betul-betul bebas dari TV, karena kalau lihat TV lokal, tidak ada subtitel nya sama sekali, tidak mengerti. Juga tidak ada TV Korea yang menyiarkan MotoGP, alasannya karena budaya bermotor tidak berkembang di sana, motor kebanyakan hanya digunakan untuk kirim makanan.

Pulang dari Korea tahun 2015, saya benar-benar menjadi orang yang bebas dari TV. Semenjak tinggal dengan istri dan berpisah dari orang tua di bulan Juni 2018, pada minggu-minggu awal kami tidak punya TV sama sekali di apartemen dan kami tidak merasa suatu yang hilang.

Begitupun saat saya harus dinas, baik ke luar kota maupun ke luar negeri, saya tidak pernah menyalakan TV hotel sama sekali. Era TV mungkin sudah berakhir untuk saya dan keluarga.

--
Anton Hermansyah