Sewaktu saya pulang, saya melihat sebuah Daihatsu Xenia (maaf saya selalu menyebut merek) di tempat tukang pangsit langganan saya.
Tukang pangsit ini suami dan istri, mungkin umur mereka sudah 30 tahun lebih sekarang. Saya ingat sewaktu saya SMP, bersama pakde dan bude (orang tua si Mas Pangsit ini) mereka merintis jualan pangsit di daerah sekitar rumah saya. Setelah cukup lama, Mas dan Mbak berjualan di lokasi terpisah dari Pakde dan Bude. Ternyata lokasi itu sangat bagus, ada pabrik tekstil dan Akademi Pariwisata Sahid di dekat situ.
Cerita yang sudah berlangsung sepuluh tahun lebih, saya ingat beberapa kali si Mbak meminjam telepon rumah saya untuk menelepon orang tuanya di kampung dahulu. Saya juga melihat perkembangan warung mereka yang tadinya hanya atap yang disangkutkan ke gerobak dengan kursi dan meja ala kadarnya, sampai mereka membeli tanah di belakang tempat jualan tersebut dan membangunnya menjadi rumah, rumah itu akhirnya ditingkat. Suami istri yang tadinya berjualan berdua saja, sekarang sudah dibantu dua pegawainya.
Sampai cerita itu berlanjut di hari saya melihat Xenia di garasi (yang kalau siang menjadi restoran) mereka, dan masih akan berlanjut.
Sebuah Xenia mungkin adalah mobil sejuta umat, 10 tahun pun bukan waktu yang singkat. Tetapi bukan merek mobilnya yang saya nilai, usaha mereka yang dari nol itulah nilai kebanggaan sesungguhnya, hasil menekuni usaha pangsit.
--
Anton Hermansyah