Di lingkungan sekitar saya tinggal, daerah Pamulang dan Ciputat memang sudah tidak bisa dibilang Jakarta lagi, tapi kalau saya ke luar kota tetap saja disebutnya 'Orang Jakarta'.
Bicara soal Jakarta, dua daerah yang saya kagumi adalah Blok M dan Kemang, kenapa?
Dua daerah itu hidup sampai malam, dan banyak orang asing di sana. Karena banyak orang asing, tentunya ada restoran-restoran untuk memuaskan dahaga orang-orang itu terhadap makanan kampung halamannya. Bahkan di Blok M sudah banyak supermarket yang khusus menyediakan kebutuhan ekspatriat, seperti supermarket Korea dan Jepang. Pantas daerah ini dijuluki Little Tokyo.
Namun belakangan di daerah Pamulang dan Ciputat saya sudah bisa menemukan dua restoran yang menyediakan makanan asing. Di Pamulang ada restoran Jepang yaitu Take Tei ( secara harfiah artinya 'Restoran Bambu') dan di daerah Cireundeu (masih termasuk kecamatan Ciputat) ada restoran Italia, Signora Pasta (artinya 'Pasta Nyonya').
Soal masakan, Jepang dan Italia memang sudah umum dimakan oleh orang Indonesia, di kaki lima pun kita bisa menemukan masakan Jepang, Pizza dan Spaghetti di rumah pun sudah gampang dibuat. Yabg istimewa adalah kedua restoran ini dimiliki oleh orang asing yang memang asli dari negaranya, Jepang dan Italia.
Kadang saya bingung, kok bisa-bisanya mereka terdampar di daerah sejauh ini? Tetapi kehadiran mereka membuka wawasan akan masakan-masakan khas negara tersebut yang masih jarang dicoba oleh orang Indonesia.
Selama ini kita hanya mengenal masakan Jepang sebatas beef teriyaki, tempura, atau sushi. Take Tei menawarkan menu-menu rumahan seperti ikan sanma, oyakotoji (nasi di mangkuk dengan telur ayak dan ayam), dan soba (mi besar dari tepung beras). Tentunya menu-menu umum seperti katsu dan teriyaki juga disediakan (untuk mereka yang konvensional).
Signora Pasta menawarkan menu-menu otentik Italia, kita akan merasa penasaran dengan pizza margherita, tidak ada meat lover atau american favourite di sini, padahal jenis margherita inilah resep pizza paling dasar hanya ada saus tomat, keju mozarella, dan beberapa potong daging. Selain itu masih ada pasta rigatoni (mirip macaroni tapi ini ukuran besar), caneloni (daging dengan saus keju dibungkus dengan kulit roti), fusilli (pasta berbentuk spiral). Bahkan saus spaghetti pun ada macamnya, carbonara (krim susu) atau bolognaise (krim tomat).
Saya merasakan meski kedua restoran tersebut kecil tetapi keduanya rapih dan bersih. Jauh dari kesan remang-remang yang biasanya dipakai oleh restoran yang ada sejak jaman dahulu untuk menunjukkan nostalgia tetapi jadinya malah terkesan tak terawat, kedua restoran ini terang dan minimalis. Namun pilihan kursi, meja, piring, dan lantai mereka entah mengapa sudah bisa menimbulkan kesan otentik tersebut. Pemilik-pemilik reatoran tersebut juga terkadang keluar dan menyapa pengunjung dengan Bahasa Indonesia yang lumayan lancar dan masih kental logat asalnya.
Karena bukan daerah ekspatriat, konsumennya lebih banyak orang Indonesia, yah kalau masuk ke dalam ternyata banyak orang asingnya malah minder juga kan, jangan-jangan makan sushi tidak boleh pakai sendok atau table manner kita ditertawakan, tenang saja lah. Rasa cocok dengan lidah Indonesia dan harga pas.
Semoga ke depannya Pamulang dan Ciputat mempunyai lebih banyak lagi restoran semacam ini. Internasionalisasi sudah sampai ke pinggiran Jakarta ternyata.
--
Anton Hermansyah