Tentang Saya

10 Juni 2009

Lima Syarat Satria Jawa

Arjuna

Arjuna

Hari selasa kemarin (9/6) sehabis saya pulang dari Bogor, ada notes Facebook dari Juragan Prana yang bertanya "Saat punya penghasilan berapa kalian siap untuk melamar cewe?". Sebuah pertanyaan iseng tapi saya kira cukup nyangkut di hati para pria yang hidup di jaman yang semakin matere sulit. Benar saja, di bawah begitu saya periksa kolom komentar, angka-angka pun bermunculan 10 juta per bulan lah, 15 juta per bulan dan lain-lain. Meski saya percaya kalau mau melamar sih lamar saja, mau hidup sengsara dahulu ya tak apa, sekalian menge-test apakah anda punya istri yang tabah dan bisa diandalkan hehehe, mau hidup sejahtera dari awal ya syukur, toh rejeki datang dari Tuhan dan Tuhan selalu menolong.

Sehabis itu sebelum tidur saya lanjutkan membaca Bumi Manusia, dan saya menemukan hal yang masih satu tema dengan pembicaraan sebelumnya, di bab 18 ada dialog sang tokoh utama Minke dengan ibunya sebelum resepsi pernikahannya. Salah satunya yang menarik perhatian saya adalah Lima Syarat Satria Jawa yaitu wisma, wanita, turangga, kukila dan curiga.
  1. Wisma (Rumah), maksud rumah di sini bukan sekedar alamat, tetapi sebagai tempat untuk kembali dan kepercayaan bagi semua yang meninggali. Artinya dia harus bisa menjadi tempat bersandar dan kepercayaan bagi orang-orang di sekitarnya.

  2. Wanita, adalah lambang kesuburan, penghidupan dan kehidupan, kemakmuran serta kesejahteraan, seorang satria harus memandang wanita sebagai sumbu pada semua, di mana kehidupan dan penghidupan berasal. Tidak hanya kepada istri, tetapi juga pada ibu dan bagaimana kita mempersiapkan anak-anak perempuan kita.

  3. Turangga (Kuda), adalah lambang kendaraan, berupa ilmu pengetahuan, keterampilan, keahlian dan kemajuan. Tanpa kendaraan kita tidak akan bisa melangkah jauh dan pendek pengelihatan (mungkin di sini maksudnya adalah visi).

  4. Kukila (Burung), adalah lambang keindahan dan hobi, dalam melakukan sesuatu terlepas dari untuk menyambung hidup haruslah ada sebuah kepuasan batin pribadi dan menikmati segala sesuatu, sehingga kita akan menjalani hidup dengan semangat.

  5. Curiga (Keris), sebagai lambang kewaspadaan, kesiagaan dan keperwiraan, sebuah alat untuk mempertahankan empat hal sebelumnya agar tidak binasa
Memang tidak hanya sebatas materi saja yang kita harus punya dalam mempersiapkan diri menjadi seorang pria yang berkeluarga, tetapi juga sikap. Memang di sini erat kaitannya dengan satu etnis saja yaitu Jawa, tetapi dapat berlaku universal, dan saya yakin etnis-etnis lain pun mempunyai wejangan dan falsafah semacam ini.

Hum...dua buah pelajaran di hari yang sama. Jurangan Pran dengan ajaran moderennya dan Jurangan Pram (Pramoedya Ananta Toer) dengan ajaran kunonya (tetapi masih berguna). Terima kasih untuk kalian berdua...!!!

--
Anton Hermansyah

08 Juni 2009

Menerawang

Berangan-Angan

Berangan-Angan


Hari minggu kemarin saya kembali bertemu dengan mantan-mantan petinggi KpME dalam rangka pencanangan Arisan KpME. Senang sih melihat mereka-mereka mantan bos saya sewaktu masih jadi kroco di organisasi.

Saya sebagai satu-satunya anggota arisan yang masih mahasiswa melihat bahwa mereka semua yang rata-rata sudah kerja minimal 1 tahun sudah lumayan berubah. Kenapa "lumayan"? Karena secara fisik saya masih mengenal "bentuk" mereka karena memang belum banyak berubah cuma makin "makmur" saja. Haris misalnya, dari segi muka sih tidak berubah, tapi coba lihat agak ke bawah, pasti akan melihat perut buncit khas bapak-bapak, lucu juga mukanya tetap kurus tapi perutnya buncit. Wahyu sebenarnya tidak membuncit...tetapi badannya makin bulat..!!! Mereka berdua langsung jadi bahan tertawaan, yang lainnya sih tidak berubah, tetap sama, jadi lumayan tidak banyak berubah kan.

Tetapi, saya juga bisa bilang sudah lumayan banyak berubah. Karena begitu masuk ke dalam sesi cerita barulah saya bisa mengerti, Ibu Wulan misalnya, dia bercerita bagaimana dia harus mengundurkan diri dari kantor lamanya karena sedang hamil bayi Naura, Wahyu yang sedang menimbang-nimbang untuk membeli rumah atau mobil lebih dahulu, Rien yang tanpa kami sadari telah punya cincin tunangan di jari manis kirinya dan sudah mentargetkan bahwa umur 26 tahun, dia akan menikah (yang berarti tiga tahun lagi) sampai Tika yang sudah hamil tiga bulan dan sewaktu pulang dijemput oleh suaminya (bukan pacarnya atau tunangannya).

Saya pun agak kaget di dalam hati...benarkah ini orang-orang yang tiga tahun lalu masih haha-hihi bersama saya di Sekre KpME...???

Dengan masuk dunia kerja sepertinya seseorang akan mendapatkan suatu fase baru di dalam hidupnya, mereka yang secara fisik masih belum terlalu berubah, tetapi dari jalan pikiran, jauh berbeda dengan saya. Mereka berpikir tentang bagaimana mesti melamar tunangannya, bagaimana anaknya nanti sewaktu ditinggal kerja atau nanti akan pindah kerja ke mana, sedangkan saya masih berpikir malam minggu nanti harus jalan dengan siapa hahaha....

Apakah saya nanti akan mempunyai jalan pikiran seperti itu...??? Sejauh ini sih saya bisa bilang pasti, karena bisa saja jalan hidup saya berubah, misalkan harus menjadi peneliti yang hanya peduli pada objek penelitiannya, atau menjadi tahanan yang prioritas utama adalah bebas secepat mungkin...yah sepertinya contohnya terlalu ekstrim hehehe.

Que sera sera
Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que sera sera

--
Anton Hermansyah