Tentang Saya

26 Juni 2008

Gelanggang Remaja & Stasiun Pasar Senen

Hari ini (26/6) saya terpaksa membatalkan "kepulangan" saya ke Jogjakarta karena ada kuliah pengganti pada hari Jumat (27/6), dengan berat hati, tiket kereta api pulang pergi yang sudah dibeli oleh tante saya harus saya batalkan.

Pergilah saya ke Stasiun Pasar Senen semenjak siang karena 2 alasan yang pertama adalah takut terkena macet, dan yang kedua takut akan
terjadi kerusuhan seperti yang ada di Atma Jaya, Sudirman kemarin (24/6) untunglah alasan yang kedua tidak terjadi, tetapi saya tetap harus menghadapi alasan yang pertama.

Setelah 1,5 jam ngendhok di dalam mobil saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Setelah urusan pembatalan tiket selesai, melihat jalan yang mulai macet (saat itu sekitar jam 16.30), saya memutuskan berkeliling stasiun ini, karena belum siap menghadapi "medan perang".

Stasiun Pasar Senen
tersambung dengan Gelanggang Remaja, di seberang Gelanggang Remaja adalah Kolam Renang Gelanggang Remaja yang dipisahkan oleh lapangan yang terlihat tidak begitu terawat tetapi masih baik untuk dilihat.

Di dalam gedung terdapat sebuah aula di mana saya lihat anak-anak sedang berlatih tarian tradisional, hal yang sudah lama saya tidak lihat semenjak masuk kuliah dan perhatian saya tersita untuk saham dan kurva. Semoga dengan ada anak-anak seperti mereka kebudayaan-kebudayaan di Indonesia tidak hilang, malah semakin berkembang.

Naik ke lantai 2, merupakan atap dari gedung aula, saya mencoba berkeliling di atas tetapi tidak menemukan pintu masuk untuk ke dalam gelanggang. Atap gedung aula ini menjadi tempat bersantai atau tempat janjian, maklum saat sore hari tidak panas, dan anginnya sepoi-sepoi dan tidak membawa asap kendaraan yang berlalu-lalang di jalan bawah.

Turun ke lapangan utama ada sebuah patung yang terletak di tengah lapangan, tidak terlalu terawat, dan di sekitar patung itu berbau pesing, mungkin banyak orang pipis sembarangan di sana, dan memang orang begitu saja berlalu-lalang mengacuhkannya. Patung yang dibangun tahun 1986 itu diberi nama "Tekad Merdeka", patung itu memang menggambarkan putera-puteri Indonesia angkatan '45 . Di salah satu sisi patung tersebut tertulis :

Tuhan, jika aku gugur dan Kau takdirkan aku hidup kembali sekali lagi Aku akan korbankan jiwaku untuk nusa dan bangsa!

Di sisi sebaliknya terdapat tulisan :


Jajaran generasi '45 mempunyai kedudukan tersendiri dalam jalannya sejarah bangsa, karena selain mendukung ide juga mengetuskan Proklamasi


Saya kira, bahwa patung ini dibuat untuk mengobarkan semangat remaja-remaja yang beraktivitas di Gelanggan Remaja seperti semangat generasi '45 terdahulu yang sudah berjuang untuk nusa dan bangsa ini.

Ahh, benar-benar terasa bangkit kembali semangat nasionalisme dengan petualangan singkat ini, memang kini kita sudah tidak menghadapi perang untuk kemerdekaan, tetapi kita menghadapi "Perang Globalisasi", bukan hanya melawan Belanda dan Jepang melainkan seluruh dunia, untuk menunjukkan prestasi dan harga diri nusa dan bangsa ini (seperti iklan kebangkitan nasional saja ya).

Saya pun kembali ke mobil dan bertekad berjuang, setidaknya untuk menghadapi macetnya Jakarta saat jam pulang kantor.

--
Anton Hermansyah


20 Juni 2008

Coba Flash di Blog

Cuma mau coba apakah flash bisa jalan di Blog, terima kasih pada Enpop yang telah menghasilkan cerita Heem Man Ini.

Klik di sini untuk mengunduh


--
Anton Hermansyah

18 Juni 2008

Pedasnya Spesial Sambal

Sore hari sehabis asistensi Manajemen Portofolio, saya bersama teman-teman saya, Aan, Adi, Angga Boz, Angga Bubu, dan Boniarga. emm sebenarnya tidak pantas menyebut mereka teman, karena hubungan kami yang begitu erat, mereka bisa saya sebut sebagai "Keluarga" bagi saya.

Oh ya, kembali ke topik, karena kami kelelahan akibat haru mengikuti kuliah ditambah asistensi (yang membuat kami harus duduk di ruangan kelas dari jam 2 sampai jam 6 sore), kami pun memutuskan untuk makan dahulu sebelum pulang ke rumah. Pilihan kami adalah Warung Spesial Sambal yang terletak tidak jauh dari kampus UI.

Sesuai namanya, warung ini mengandalkan rasa pedas sebagai daya tariknya, juga variasi sambal yang luar biasa banyak. Dari pilihan itu kami memilih sambal udang, bawang, dan terasi segar sebagai pendamping lauk (saya lupa sambal yang lainnya) ditambah sambal bajak sebagai bonus dari Warung SS. Sambal terasi segar dan bawang adalah sambal terpedas yang dipunyai SS.


Sebagai hasil dari pedasnya sambal bibir kami memerah seperti pakai lipstick, keringat mengucur deras, memesan minuman tambahan, mengambil kerupuk banyak-banyak (sebagai penetral rasa pedas, empat bakul nasi yang ada di meja kami pun ludes.

Reaksi-reaksi prib
adi :
  • Adi memesan minuman dan mengambil kerupuk berkali-kali dan hidungnya meler
  • Angga Boz berulang kali mengatakan "Ini sambal setan!!" setelah mencoba sambal bawang dan terasi segar dengan bibir yang memerah
  • Angga Bubu menjadi "pancuran hidup", banjir keringat
  • Saya sendiri nyaris menghabiskan satu bakul nasi, mengambil 2 kerupuk, dan memesan minuman tambahan (ditambah sumbangan es batu dari minuman yang lainnya), hidung meler dan kepala berkunang-kunang karena mencoba menghabiskan sambal terasi segar
  • Boni dan Aan sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera handphone mereka

Benar-benar pengalaman yang "pedas" tetapi tidak membuat kami kapok. Malah kami berencana mengajak teman-teman yang lainnya untuk merasakan pengalaman yang kami rasakan. Tentunya kami juga ingin melihat reaksi mereka kalau kepedasan!!

--
Anton Hermansyah


17 Juni 2008

Kos-Kosan Fakhrul

Kos ini adalah milik Fakhrul Fulvian, mahasiswa FEUI jurusan IE angkatan 2005. Kos ini terletak di Gang Kober dekat UI, nama gangnya saya tidak tahu, mempunyai luas sekitar 4x3 meter dan kamar mandinya terletak di luar kamar.

Udaranya lembab, mungkin lebih pantas disebut pengap, setidaknya itulah yang sering saya rasakan pada saat berada di kos ini, itu karena udara di kamar yang kecil ini pernah sering dipakai oleh saya dan 2 orang sahabat saya yaitu Fajar Indra dan sang empu kos ini yaitu Fakhrul Fulvian. Kami bertiga selama sekitar 2 bulan dari akhir Desember 2007 sampai akhir Januari 2008 bersama-sama mengerjakan soal-soal pertandingan The 8th L'Oreal e-Strat Challenge. tidak menang sih, tetapi kami mendapatkan hubungan persahabatan, sebuah hubungan yang saya pikir sulit di cari di kehidupan di Jakarta, tempat d mana egoisme begitu tinggi.

Khusus bagi saya, kos ini telah membawa saya kembali mengingat kehidupan sewaktu masih kos di Jogjakarta. Suasana jauh dari orang tua, makan harus di irit sesuai kiriman bulanan, tak luopa yang paling penting adalah aroma kebebasan yang semerbak. Aroma yang sudah 2 tahun saya tidak rasakan setelah pulang kembali ke Jakarta (mungkin suatu saat akan saya ceritakan mengenai Jogja dan Jakarta ini) Pernah kami tidur bertiga, berbagi tempat dan udara di kamar ini setelah selesai mengerjakan perhitungan e-Strat berbagi ruang ada udara yang terasa terbatas pada saat itu, ada yang tidur di lantai, ada yang tidur di kasur sempit berduaan, saat itu sedang panas-panasnya. Di kamar ini pula kami sering berdiskusi dan berdebat, dari suasana akrab sampai berantem pernah dialami, dan ada kalanya kami saling berhutang untuk membiayai makan masing-masing. Memang saat-saat itu adalah saat -saat "susah" tetapi saya percaya nant semua itu akan menjadi kenangan pada saatnya nanti kami berkumpul kembali di masa depan.

--
Anton Hermansyah

16 Juni 2008

Perkenalan

Sugeng Rawuh,

Perkenalkan nama saya Anton Hermansyah dan saya baru pertama kali menggunakan Blog. Semoga Blog ini menjadi berguna bagi saya dan juga teman-teman saya sekalian.

Pertama-tama dalam membuat blog ini saya harus berterima kasih kepada teman saya Fajar Indra karena tanpa undangan dari dia untuk mengisi Blognya saya tidak akan memulai untuk membuat Blog saya sendiri, saya benar-benar takut untuk mencoba, matur nuwun sanget Mas Fajar.

Terima kasih yang kedua saya tujukan kepada pak Ridwan Sanjaya yang telah membuat buku "Membuat Blog dengan Blogspot" buku yang akan menjadi panduan saya dalam ber-Blog ria.

Sekian dulu posting kali ini semoga Blog ini dapat berjalan dengan aman dan sejahtera Amiin.

--
Anton Hermansyah