Hari ini (26/6) saya terpaksa membatalkan "kepulangan" saya ke Jogjakarta karena ada kuliah pengganti pada hari Jumat (27/6), dengan berat hati, tiket kereta api pulang pergi yang sudah dibeli oleh tante saya harus saya batalkan.Pergilah saya ke Stasiun Pasar Senen semenjak siang karena 2 alasan yang pertama adalah takut terkena macet, dan yang kedua takut akan terjadi kerusuhan seperti yang ada di Atma Jaya, Sudirman kemarin (24/6) untunglah alasan yang kedua tidak terjadi, tetapi saya tetap harus menghadapi alasan yang pertama.
Setelah 1,5 jam ngendhok di dalam mobil saya sampai di Stasiun Pasar Senen. Setelah urusan pembatalan tiket selesai, melihat jalan yang mulai macet (saat itu sekitar jam 16.30), saya memutuskan berkeliling stasiun ini, karena belum siap menghadapi "medan perang".
Stasiun Pasar Senen tersambung dengan Gelanggang Remaja, di seberang Gelanggang Remaja adalah Kolam Renang Gelanggang Remaja yang dipisahkan oleh lapangan yang terlihat tidak begitu terawat tetapi masih baik untuk dilihat.
Di dalam gedung terdapat sebuah aula di mana saya lihat anak-anak sedang berlatih tarian tradisional, hal yang sudah lama saya tidak lihat semenjak masuk kuliah dan perhatian saya tersita untuk saham dan kurva. Semoga dengan ada anak-anak seperti mereka kebudayaan-kebudayaan di Indonesia tidak hilang, malah semakin berkembang.Naik ke lantai 2, merupakan atap dari gedung aula, saya mencoba berkeliling di atas tetapi tidak menemukan pintu masuk untuk ke dalam gelanggang. Atap gedung aula ini menjadi tempat bersantai atau tempat janjian, maklum saat sore hari tidak panas, dan anginnya sepoi-sepoi dan tidak
membawa asap kendaraan yang berlalu-lalang di jalan bawah.Turun ke lapangan utama ada sebuah patung yang terletak di tengah lapangan, tidak terlalu terawat, dan di sekitar patung itu berbau pesing, mungkin banyak orang pipis sembarangan di sana, dan memang orang begitu saja berlalu-lalang mengacuhkannya. Patung yang dibangun tahun 1986 itu diberi nama "Tekad Merdeka", patung itu memang menggambarkan putera-puteri Indonesia angkatan '45 . Di salah satu sisi patung tersebut tertulis :
Di sisi sebaliknya terdapat tulisan :



Saya kira, bahwa patung ini dibuat untuk mengobarkan semangat remaja-remaja yang beraktivitas di Gelanggan Remaja seperti semangat generasi '45 terdahulu yang sudah berjuang untuk nusa dan bangsa ini.
Ahh, benar-benar terasa bangkit kembali semangat nasionalisme dengan petualangan singkat ini, memang kini kita sudah tidak menghadapi perang untuk kemerdekaan, tetapi kita menghadapi "Perang Globalisasi", bukan hanya melawan Belanda dan Jepang melainkan seluruh dunia, untuk menunjukkan prestasi dan harga diri nusa dan bangsa ini (seperti iklan kebangkitan nasional saja ya).
Saya pun kembali ke mobil dan bertekad berjuang, setidaknya untuk menghadapi macetnya Jakarta saat jam pulang kantor.
--
Anton Hermansyah
